Open Source" dan Wajah Warnet Nusantara

Agus, demikian ia mengenalkan diri, di siang terik itu langsung
gugup ketika ditemui di warung internetnya yang baru beroperasi
dua bulan. Kegugupannya makin menjadi ketika pembicaraan
menyinggung isu razia penggunaan peranti lunak bajakan di
warnet-warnet.

Semula ia menolak berbincang lebih jauh dan merujuk warnet
lain, tetapi setelah dibujuk-bujuk akhirnya dia mau juga dengan
berbagai persyaratan. ”Jangan sebut nama saya maupun warnetnya
ya,” katanya.

Belakangan ketahuan, sumber kegugupan Agus adalah beberapa
aplikasi peranti lunak di enam unit komputernya adalah hasil
bajakan. Ia mengaku hanya dua yang berperanti lunak berlisensi.

Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Semua itu dilakukan
untuk segera menambah modal karena ia harus mengembalikan
tanggungan kerugian puluhan juta rupiah akibat tempat usahanya
itu dibobol maling. ”Baru jalan dua bulan sudah ada razia,
waswas juga saya,” ucapnya.

Ia sebenarnya sudah berusaha mematuhi ketentuan dengan
bermigrasi ke aplikasi berbasis open source seperti Linux.
”Tapi pelanggan saya pada pergi,” katanya.

Ia masih mengaplikasikan beberapa program berbasis open source
seperti Mozilla browser dan aplikasi perkantoran open office.
Agar pelanggan warnetnya tidak kaget, aplikasi perkantoran itu
di tampilan komputernya ia tulis ”gantinya ms word”, ”gantinya
power point”, atau ”gantinya excel”.

Cermin situasi

Kekhawatiran Agus bisa jadi ”wajah” ribuan pengelola warnet di
seluruh Nusantara. Sebagai bisnis kelas kecil dan menengah,
modal sudah tentu terbatas. Untuk bertahan, kreativitas seperti
menggunakan peranti lunak bajakan atau mengopi tanpa izin jamak
dilakukan. Siapa mau merugi?

Di Semarang, kondisi ber-”ilegal ria” itu malah sudah
dimanfaatkan sejumlah oknum. Dengan alasan sudah ada
undang-undangnya, polisi menggerebek warnet yang dianggap
mengomersialkan aplikasi komputer tanpa izin. Malah mereka juga
menyita puluhan komputer dan untuk menebusnya, si pemilik harus
menyerahkan sejumlah uang. ”Tidak ada perintah operasi khusus
dari kami,” kata Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol)
Soenarko D Ardanto ketika dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Perintah khusus memang tidak ada, tetapi peristiwa di lapangan
telanjur menimbulkan korban dan menebar kekhawatiran. Padahal
tak terhitung pelajar, mahasiswa, karyawan, dan masyarakat umum
yang banyak bergantung kepada keberadaan warnet.

Ingin bukti? Lihat saja warnet-warnet di sekitar kampus pada
hari biasa, apalagi masa libur. Tak sedikit para pengguna yang
harus patungan untuk menyiasati keterbatasan uang saku mereka.

Ketua Umum Federasi Teknologi Informasi Indonesia Teddy Sukardi
mengatakan, mahalnya harga produk peranti lunak, di antaranya
buatan Microsoft, terkait dengan cost of ownership. Oleh karena
itu, menggunakan peranti lunak bajakan tetaplah melanggar
hukum.

Persoalannya kini jalan keluar harus diupayakan demi ribuan
tenaga kerja yang bergantung pada usaha warnet serta jutaan
pelajar dan mahasiswa yang menggunakannya.

”Open source”

Aplikasi berbasis open source merupakan jawaban atas persoalan
yang kembali muncul. ”Selain perlu ada contoh warnet open
source, harus diciptakan pula infrastruktur untuk
replikasinya,” kata Teddy.

Pakar teknologi komunikasi dan informasi Onno W Purbo
berpendapat, open source harus dikenalkan sejak jenjang
SMP/SMA.

Menurut dia, tidak sedikit orang Indonesia terkenal di kalangan
komunitas open source. Sebagian aktif mengisi situs web open
source.

”Mewujudkan aplikasi komputer yang murah sebenarnya mudah,
tergantung pemerintahnya saja,” paparnya.

Salah satu yang disayangkan, pemimpin negeri ini justru
mendekatkan diri dengan industri peranti lunak dunia yang
mengklaim hak kepemilikan (proprietary) yang bermarkas di
Redmont, Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia perlu belajar
dari Thailand, yang intensif mengembangkan produk aplikasi
komputer berbasis open source.

Kalau saja Agus tinggal di Thailand, ia tidak perlu lagi pucat
mendengar kata ”razia”.(Gesit Ariyanto)

---
If you need an office in Surabaya you don't have to invest
on furnitures, ac etc. Use our 'virtual' office offerings,
visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or email
[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs.


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke