Setelah Penataan Frekuensi, Giliran Siaran TV Digital Oleh: AW Subarkah
Di tengah suasana bersih-bersih frekuensi, yang juga menarik adalah bagaimana mengefisiensikan pemakaiannya. Seperti pemakaian sebuah pita frekuensi untuk aktivitas siaran televisi yang masih analog sekarang ini, ternyata untuk satu stasiun analog bisa digunakan lima atau enam program siaran secara digital. Memang untuk kondisi seperti Indonesia masih berkisar mengatur jam tayang, sehingga efisiensi pemakaian listrik bagi pemirsanya bisa lebih tinggi. Namun, alangkah bijaksananya apabila masalah efisiensi juga dibuatkan jalur antisipasinya, mengingat negeri ini lebih banyak bersifat sebagai konsumen teknologi. Apa yang terjadi di Amerika Serikat, di mana mulai akhir tahun 2006 seluruh siaran televisi di AS harus dilakukan secara digital, perlu dicermati. Bagaimanapun untuk bisa menyiarkan program secara digital, perangkat pemancar memang harus diganti dengan perangkat baru yang memiliki sistem modulasi frekuensi secara digital. Berarti ini memerlukan biaya untuk investasi baru, selain juga memikirkan bagaimana membuang perangkat yang ada. Sementara pengoperasian sebuah pemancar digital juga memerlukan masa transisi, karena para pemirsanya juga harus siap dengan perangkat penerima siaran digital. Berarti juga ada biaya yang harus dikeluarkan para pemilik televisi, paling tidak harus menambahkan perangkat penerima siaran digital. Perangkat penerima digital yang lazim disebut set-top box ini akan menerima siaran secara digital. Selanjutnya perangkat ini mengubahnya menjadi sinyal analog untuk bisa diterima pesawat televisi konvensional. Untuk kondisi seperti di Indonesia, isu penggantian pemancar digital ini pernah mencuat pada saat awal berdirinya stasiun-stasiun televisi swasta. Persoalan yang mengemuka waktu itu terutama pada penggantian pesawat TV, bagaimana harus mengganti pesawat sementara alasan belum jelas. Tidak mulus Sementara bagi AS sendiri tidaklah mulus begitu saja, tantangan terutama datang dari para produsen TV, meski mereka tetap konsisten melaksanakannya. Menurut National Association of Broadcasters (NAB), di AS sekarang ini ada sekitar 1.500 dari 1.700 stasiun lokal yang memancarkan sinyal digital HDTV (televisi berdefinisi tinggi). Namun, hanya 5 persen rumah tangga yang memiliki TV yang bisa menerima konten digital dan sedikitnya 73 juta pesawat tidak bisa menangkap sinyal digital. Saat ini yang sedang dibicarakan adalah adanya subsidi bagi konsumen yang akan membeli konverter digital ke analog atau TV baru. Seluruh pemancar di AS akan mengudara dengan hanya sinyal televisi digital pada akhir tahun 2006 atau ketika 85 persen sudah bisa menangkap sinyal digital. Pihak Federal Communications Commission (FCC), yang mengurus soal perpindahan ke siaran digital di AS, bahkan sudah mensyaratkan separuh dari TV baru berlayar sedang (25-36 inci) harus sudah digital per 1 Maret tahun depan. Sedangkan TV berlayar besar (lebih dari 36 inci harus dilengkapi tuner digital mulai 1 Juli mendatang. Selanjutnya Juli 2007 pesawat dengan lebar 13 inci atau yang lebih besar, termasuk perekam DVR dan VCR yang memiliki tuner, harus sudah siap menerima DTV (Digital TV) 1 Juli 2007. Sementara TV berukuran saku atau TV arloji tidak disyaratkan untuk memiliki tuner digital, sekalipun saat ini banyak TV berukuran sekitar 7 inci yang banyak digunakan di dalam kendaraan. Tantangan baru Perubahan penerapan teknologi digital pada sistem pemancaran program televisi bagaimanapun akan mengubah cara orang menikmati siaran televisi. Secara fungsional sebenarnya tayangan video digital baru dinikmati segelintir orang yang berlangganan melalui satelit dan kabel saja. Namun, selanjutnya selain oleh ketiga jenis stasiun pendistribusi yang konvensional ini, tayangan video digital juga bisa dilakukan oleh distributor yang lebih luas lagi. Termasuk di antaranya perusahaan penyedia layanan telekomunikasi yang merupakan salah satu yang bisa memanfaatkan perkembangan zaman ini. Dengan menerapkan teknologi DSL (Digital Subscriber Line) memungkinkan saluran kabel tembaga bisa menyalurkan citra digital, selain melalui jaringan serat optik yang lebih mahal. Tentu hal ini tetap menjadi solusi menarik bagi PT Telkom yang menguasai jaringan telepon tetap (fixed-line) di negeri ini. Sekalipun kesannya telepon tetap (fixed-phone) ditinggalkan, sebenarnya kontribusi jaringan fixed-line tetap tinggi dan tetap memberikan penghasilan yang besar, terutama pada hubungan lokal. Dalam konsep yang dikembangkan perusahaan seperti Siemens Communications dari Jerman, sebuah pesawat televisi bukan lagi perangkat yang pasif. Selain tetap bisa menikmati hiburan, bisa juga menjadi sarana yang aktif untuk mengakses internet. Ponsel TV Bahkan bukan hanya layar gelas yang cukup luas, perusahaan telekomunikasi seluler juga menawarkan teknologi untuk kebutuhan layar LCD yang kecil, seperti layar ponsel dan PDA. Tentu saja untuk bisa mendistribusikan citra bergerak ini dibutuhkan layanan jaringan generasi ketiga (3G). Selain ada ponsel yang menjejalkan perangkat receiver dari pemancar televisi biasa pada sebuah ponsel, yang sekarang berkembang sedikitnya ada dua teknologi khusus untuk ponsel TV. Kedua teknologi tersebut masing-masing adalah DVB-H (Digital Video Broadcasting for Handsets) dan yang sekarang masih dalam perkembangan adalah DMB (Digital Multimedia Broadcasting). Namun, yang tidak kalah menariknya adalah layanan tayangan televisi melalui internet. Hal ini berarti bisa diselenggarakan oleh penyedia layanan internet atau ISP maupun pengelola sebuah portal di internet. Pengiriman citra tayangan televisi melalui web atau juga disebut IPTV (Internet Protocol Television) bahkan sudah menjadi bagian dari bisnis di internet. Bahkan perusahaan seperti Google dan Yahoo mengembangkan mesin pencari video untuk mendapatkan pertunjukan TV favorit di web. Perkembangan seperti ini pasti tidak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi negeri ini sebagai negeri yang menganut keterbukaan, apalagi globalisasi. Hanya soal waktu, cepat atau lambat semua teknologi ini akan menguji regulasi yang ada di negeri ini. --- If you need an office in Surabaya you don't have to invest on furnitures, ac etc. Use our 'virtual' office offerings, visit http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or email [EMAIL PROTECTED] for enquiry that suit your needs. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h5sqded/M=362335.6886445.7839731.1510227/D=groups/S=1705005512:TM/Y=YAHOO/EXP=1124967056/A=2894361/R=0/SIG=13jmebhbo/*http://www.networkforgood.org/topics/education/digitaldivide/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide!</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
