Mona Darwich: Puisi dari Cangu

Bre Redana

Selama beberapa tahun dia bekerja bersama Pemerintah Indonesia
dalam berbagai proyek teknologi informasi yang dibiayai Bank
Dunia. Lalu, dalam satu tahun terakhir ini dia memutuskan untuk
menyepi di Bali, melakukan ”perjalanan ke dalam” untuk
menemukan diri sendiri.

Banjar Padang Linjong, Cangu, Badung, Bali. Dia melakukan
retretnya selama setahun (akan berakhir Desember nanti) dengan
tinggal di sebuah bungalo di tengah sawah, tak jauh dari
kawasan terkenal Oberoi. Sehari-hari yang dikerjakan adalah
meditasi, sembahyang, selain membaca, melukis, bermain piano,
jembe (sejenis perkusi tradisional), menulis puisi, memasak,
mempraktikkan yoga, mengamati bunga mekar, melihat matahari
tenggelam, dan lain-lain yang semuanya memanjakan jiwa.

Sekitar bulan Ramadhan lalu dia membantu penyelenggaraan
pameran kaligrafi Arab di sebuah galeri di Jakarta, oleh
temannya pelukis dari Irak yang kini tinggal di Australia, Saif
Al-Murayati. Di situ dia menyumbangkan ayat-ayat yang diambil
misalnya dari surat Al-Baqara dan Al-Qasas, berikut
terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Mengambil inspirasi dari surat-surat suci itu pula, dia
membikin sajaknya sendiri, misalnya ini: Bali’s Fullmoon. ”The
moon shining tonight/In grace and beauty/The light fills my
eyes/With joy and delight/My heart soaring in ecstasy/Dancing
with the stars.../My soul trapped in slavery/To this majestic
image of You...” (Purnama Bali. ”Bulan bersinar malam ini/Dalam
rahmat dan keindahan/Cahayanya memancar ke mata saya/Dengan
kesenangan dan kegembiraan/Hatiku membubung dalam
ekstasi/Menari bersama bintang-bintang.../Jiwaku terperangkap
dalam penghambaan/Pada citra kebesaran-Mu...)

Dikuntit bom

Yang kita bicarakan ini adalah Mona Darwich, wanita Lebanon
yang lima tahun terakhir tinggal di Indonesia karena profesi
yang berhubungan dengan spesialisasinya di bidang komunikasi
dan informasi. Fasih berbahasa Inggris, Perancis, dan Arab
(yang terakhir ini terasa merdu dia ucapkan, maklum itu memang
bahasa ibunya), dia akan sangat antusias berbicara mengenai
dunia batinnya.

”Kalau Anda tanya di mana basis tempat tinggal saya sekarang,
jawabannya sederhana: saya tidak punya basis. Saya tercerabut
dari Lebanon pada tahun 1988. Dalam umur 18 tahun, saat saya
pergi ke Perancis untuk studi. Perang pada saat itu mencapai
puncaknya di jantung Beirut, yang menjadikan mustahil belajar
di Lebanon. Sejak itu saya hidup seperti gipsi, berpindah dari
satu tempat ke tempat lain,” katanya. Dalam perjalanannya itu
dia pernah bekerja pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di
Geneva, lalu dengan berbagai badan PBB di Beirut, Baghdad, dan
Sahara Barat, ikut dalam operasi perdamaian di New York,
sebelum kemudian pindah ke Jakarta.

Pada tahun-tahun itu, dia mengaku menyaksikan kehancuran
negerinya, Timur Tengah, serta kematian teman-temannya di
Beirut dan Baghdad. ”Gelombang terorisme adalah konflik lain
lagi yang menambah luka-luka berdarah saya. Bom terus mengikuti
saya dari Beirut, Baghdad, sampai Jakarta, sampai Bali,”
katanya. ”Sebutlah itu nasib.”

Agama cinta

Dari berbagai pengalaman pribadi, kemudian tak ada yang lebih
menarik baginya selain melihat manusia pada tingkat
hakiki—bukan formalisme. ”Apa yang saya pelajari dari Timur
Tengah?” ucapnya mengulang pertanyaan yang ditujukan padanya.
”Saya jawab terus terang: tidak ada. Saya tidak ingin
berkhotbah untuk gagasan tertentu ataupun melobi untuk sebuah
sayap politik entah apa. Saya coba ceritakan sedikit pengalaman
saya, ini pun jangan dianggap saya sedang memberi ceramah atau
pelajaran,” tutur wanita yang tata bahasanya beres, dan pilihan
kata-katanya kadang seperti kristal ini.

Katanya dia berusia lima tahun ketika perang pecah di Lebanon
tahun 1975. ”Kami dibombardir oleh masyarakat kami sendiri,
beberapa kali oleh tetangga kami. Perang sipil yang mengerikan.
Semua kelompok, Muslim, Kristen, Yahudi, berpartisipasi dan
mencari kesenangan dengan membenci dan menghancurkan yang
lain...,” ceritanya.

Ia mengenang, sebagai anak-anak waktu itu dia sudah
mempertanyakan, ”bagaimana kami bisa disebut beragama?” ”Lama,
lama sekali saya baru bisa menemukan bahwa sebenarnya tidak ada
yang salah dengan agama-agama. Yang tidak beres adalah kita,”
ucapnya.

Pada titik ini, Mona dengan fasih (dan merdu) akan mengutip
berbagai ayat untuk menunjukkan kebersamaan manusia, meskipun
akan dilanjutkannya dengan buru-buru sambil tertawa, ”Saya
bukan ustadz lho...” Betapapun, dia adalah keturunan keluarga
di Timur Tengah yang melahirkan mufti, menteri agama (minister
of awqaf), serta banyak sheik dan pemimpin agama di Lebanon,
Syria, dan Jordania. ”Almarhum paman saya adalah Abdel Sattar
Al-Sayed, otoritas agama tertinggi di Syria. Saya tinggal
bersamanya di masa kecil di kota kelahirannya, Tartous.”

Jadi agama Anda apa? Anda punya guru? Pertanyaan ini kami
tujukan di tengah perbincangan dengannya di sebuah kafe, sambil
minum wine.

”Saya juga ingin jawab sederhana, saya hanya percaya pada agama
cinta, sebagaimana penyair Sufi Ibn Arabi berkata: ”I believe
in the Religion of Love, whatever directions it’s caravans may
take, for love is my faith and my religion',” katanya.

Terjemahannya kurang lebih: ”Saya percaya pada agama cinta,
kemana pun arah yang ditempuh oleh karavannya, karena cinta
adalah kepercayaan dan agama saya.”



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Fair play? Video games influencing politics. Click and talk back!
http://us.click.yahoo.com/T8sf5C/tzNLAA/TtwFAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke