Sukses Operator Ada pada Pelanggan

Buyung Wijaya Kusuma

Pengguna telepon seluler yang semakin selektif dan pandai
memilih produk ataupun layanan yang dibutuhkan dipastikan akan
membuat persaingan di tahun 2006 menjadi semakin ketat. Dengan
demikian, setiap operator dituntut untuk dapat memberikan nilai
tambah dan diferensiasi dalam tiap layanan.

Selain itu, hadirnya para pemain baru yang mendapat lisensi 3G
akan membuat persaingan semakin menarik setelah operator
menyelesaikan uji coba tahun ini. Bahkan, persaingan yang
semakin ketat jika mengikutkan para pemain CDMA untuk bersaing
dengan pemain GSM.

Pada saat ini, terdapat empat operator GSM, yaitu Telkomsel,
Indosat, XL, dan Natrindo, ditambah delapan operator CDMA,
yaitu Mobile-8, WIN, CAC, Mandara, Primasel, Flexi, StarOne,
dan Esia. Sesuai dengan data Asosiasi Telepon Seluler Indonesia
(ATSI), pendapatan operator telekomunikasi Indonesia, baik
penyelenggara telepon saluran tetap maupun seluler,
diperkirakan tumbuh 20 persen hingga 25 persen pada tahun 2005.

Dengan pertumbuhan sebesar itu, pendapatan diperkirakan
mencapai Rp 40 triliun, sedangkan untuk pelanggan hingga akhir
tahun tumbuhnya di atas 50 persen, yakni sekitar 30 juta nomor
atau bertambah 12 juta pelanggan baru.

Salah satu operator, yakni Indosat, memilih konsisten
memberikan layanan yang berkualitas sebagai strategi utamanya,
baik dalam hal kualitas jaringan maupun dalam layanan
purnajual.

Direktur Utama Indosat Hasnul Suhaimi mengakui, peluang bisnis
telekomunikasi pada tahun 2006 menjanjikan meskipun beberapa
pengamat ekonomi memperkirakan kondisi makro belum menunjukkan
pemulihan secara signifikan. Tingkat penetrasi seluler yang
masih rendah membuka peluang bisnis. Indosat akan memanfaatkan
peluang untuk memenangi persaingan itu.

Untuk bisa menang, Indosat tetap fokus pada peningkatan
kualitas jaringan, selain terus memperluas jangkauan pelayanan,
khususnya di luar Jawa. Komitmen itu dibuktikan dari 85 persen
total belanja modalnya pada tahun 2006 digunakan untuk
pengembangan kualitas seluler. Sektor ini masih menjadi
pendorong pendapatan dan bisnis inti perusahaan.

Pasar menengah-bawah

Hasnul mengemukakan, kecenderungan pasar saat ini mengarah ke
level menengah-bawah. Indosat berusaha menyesuaikan fokus ke
pasar tersebut melalui layanan baru. Misalnya, rencana
meluncurkan layanan CDMA di 15 kota di luar yang telah ada
sekarang, yaitu di Jabodetabek, Surabaya, dan sekitarnya, serta
Medan dan sekitarnya.

Target penambahan jumlah pelanggan sementara ini masih terus
kami evaluasi mengingat ada beberapa perkembangan regulasi
dalam telekomunikasi, seperti registrasi prabayar. Namun,
Indosat tetap optimistis paling tidak tiga atau empat juta
penambahan pelanggan dapat dicapai pada tahun 2006.

Untuk memperbesar jumlah pelanggan, Indosat melakukan
peningkatan kualitas dan perluasan jaringan, layanan yang lebih
baik, dan penambahan titik-titik pelayanan dan fitur-fitur
bernilai tambah, peluncuran produk dan layanan yang lebih fokus
ke pasar menengah ke bawah. Indosat juga berencana memperluas
jaringan yang terfokus di luar Jawa yang diarahkan pada
peningkatan kualitas dan kapasitas, khususnya di kota-kota
besar.

Indosat cukup beruntung karena sudah melaksanakan program
pendanaan di tahun 2005 pada saat suku bunga rendah dan stabil.
Lebih dari 95 persen pinjaman Indosat menggunakan suku bunga
tetap sehingga tidak terpengaruh fluktuasi suku bunga. Selain
itu, pada tahun 2006 nanti belum merencanakan program pendanaan
baru.

Sampai dengan triwulan ketiga 2005, 92 persen dari belanja
modal telah digunakan untuk investasi di seluler. Di tahun
2006, rencana belanja modal sebesar 670 juta dollar AS, 85
persen difokuskan pada pengembangan seluler.

Di bisnis CDMA juga menunjukkan pertumbuhan pendapatan operator
yang relatif besar. Salah satunya PT Telkom yang mencatat
pendapatan dari pelanggan telepon tetap tanpa kabel dengan
layanan Flexi pada semester pertama tahun 2005 tumbuh 366,6
persen daripada periode kurun waktu yang sama pada tahun
sebelumnya.

Pada semester pertama tahun 2004, tercatat pendapatan dari
Flexi hanya Rp 741 juta. Semester pertama 2005 naik menjadi Rp
3,458 miliar. Padahal, pendapatan dari telepon tetap hanya
tumbuh 2,5 persen dengan jumlah pendapatan pada semester
pertama tahun 2004 sebesar Rp 8,428 miliar dan pada tahun 2005
naik menjadi Rp 8,638 miliar.

Secara nasional, jumlah pelanggan Flexi mencapai sekitar 3,7
juta satuan sambungan. Rinciannya, 2,8 juta pelanggan prabayar
dan sisanya merupakan pelanggan pascabayar. Telkom terus
melakukan investasi untuk menambah pelanggan.

Namun, yang perlu dipahami di sini adalah bisnis telekomunikasi
sangat erat dengan target teledensitas (kepadatan telepon per
100 penduduk) yang dikejar pemerintah. Daya tarik dari bisnis
ini memberikan rasa optimistis bagi kalangan pengusaha bahwa
Indonesia mampu meningkatkan teledensitas yang saat ini hanya
sekitar 4 persen.

Bahkan, sebagian kalangan menilai, jika pemerintah mengatur
dengan baik persaingan antaroperator, target teledensitas
sebesar 50 persen pada tahun 2015 dapat dicapai. Optimisme itu
cukup beralasan karena pemerintah sudah menunjukkan arah yang
benar dalam membuat dasar kebijakan menuju era pasar terbuka.

Ada kepastian hukum

Ketua Komite Tetap Telematika Kadin Indonesia Anindya N Bakrie
mengatakan, pemerintah hanya perlu memberikan kepastian hukum
dalam industri telekomunikasi agar teledensitas sebesar 50
persen dapat dicapai. Target tersebut sesuai dengan perhitungan
dalam World Summit on The Information Society.

Jika aturan main baik, pelaku usaha bisa leluasa membangun
infrastruktur telekomunikasi bersama pemerintah. Apabila
berkembang dengan baik, maka dapat memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan ekonomi, ujar Anindya, yang juga Presiden
Direktur PT Bakrie Telecom.

Seluler memang bisa diandalkan untuk meningkatkan angka
teledensitas di Indonesia. Kini, jumlah pengguna telepon
seluler membengkak luar biasa, dalam kurun waktu hanya 12 tahun
telah mencapai sekitar 35 juta, dengan pangsa pasar terbesar
Telkomsel sekitar 53 persen.

Perkembangan jumlah pelanggan seluler di Tanah Air cukup
fantastis karena baru 12 tahun, Telkom yang sudah puluhan tahun
hanya mampu membangun telepon kabel tetap sekitar 9,5 juta
sambungan. Telkom bahkan dikabarkan bakal berniat menghentikan
pembangunan telepon kabel dan menggantinya dengan penggelaran
fixed wireless access (FWA). Para pemain FWA, baik Esia, Flexi,
maupun StarOne, tentu akan mempertimbangkan investasi yang
murah.

Program USO

Sebenarnya pemerintah telah membangun prasarana telekomunikasi
pada tahun 2003 dan sudah dilaksanakan pada 3.010 desa. Tahun
2004 sebanyak 3.800 desa, dan tahun 2005 ditargetkan sebanyak
4.500 desa.

Khusus program universal service obligation (USO) tahun 2006,
Departemen Komunikasi dan Informatika menargetkan membangun
telekomunikasi di 10.269 desa, dengan kapasitas 27.974 satuan
sambungan telepon. Untuk itu, anggaran yang disiapkan sekitar
Rp 461,01 miliar, di antaranya sebanyak Rp 322,5 miliar berasal
dari dana USO.

Fasilitas telekomunikasi USO bertujuan mendorong pertumbuhan
ekonomi di daerah dengan cara membuka akses informasi keluar.
Oleh karena itu, pembangunan telekomunikasi di pedesaan
merupakan indikator terbukanya daerah tersebut untuk
perkembangan industri, dan investasi setelah infrastruktur
telekomunikasi tersedia.

Oleh karena itu, pemerintah akan mengkaji kenaikan pungutan
dana USO atau kewajiban pelayanan universal pada tahun 2006
dari 0,75 persen menjadi 1 persen dari pendapatan operator
telepon. Apabila persentase dana USO dari pendapatan operator
telepon dinaikkan menjadi 1 persen pada tahun 2006, dana USO
yang dapat dikumpulkan menjadi Rp 600 miliar. Dana tersebut
akan dipakai untuk membangun sambungan telepon pedesaan
sebanyak 27.000 satuan sambungan telepon di 10.000 desa.

Namun, bersinarnya bisnis seluler justru meredupkan usaha PT
Pos Indonesia karena kemudahan berkirim pesan singkat SMS
melalui ponsel GSM atau CDMA. Korban lain adalah bisnis radio
panggil untuk umum (RPUU) atau lebih dikenal dengan sebutan
pager dan pelayanan telepon umum.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Most low income homes are not online. Make a difference this holiday season!
http://us.click.yahoo.com/5UeCyC/BWHMAA/TtwFAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke