Proteknologi Vs Proteledensitas Rene Pattiradjawane
Sepanjang tahun 2005 persoalan teknologi komunikasi informasi terfokus pada isu penataan frekuensi 3G (baca: triji) yang berkepanjangan dan merembet pada pemindahan beberapa frekuensi yang sudah dimiliki operator seluler dari pemerintahan sebelumnya. Penataan frekuensi ini memang menimbulkan tanda tanya, bukan hanya dari sisi teknologi saja, tetapi juga bagi perkembangan jaringan infrastruktur akses jaringan data berkecepatan tinggi di Indonesia di masa depan. Kontroversi penataan frekuensi seluler generasi baru dimulai ketika para operator asing masuk ke dalam industri seluler Indonesia, dimulai dengan pembelian saham PT Excelcomindo oleh Telekom Malaysia sebanyak 27,3 persen seharga 314 juta dollar AS pada akhir tahun 2004. Sebulan kemudian (Januari 2005), perusahaan Malaysia lainnya, Maxis Communications Bhd, sepakat membeli saham sebesar 51 persen milik PT Natrindo Telepon Seluler (Lippotel) yang beroperasi di Surabaya, dengan harga 100 juta dollar AS. Pada bulan Maret 2005 Hutchison Telecom Ltd asal Hongkong mengakuisisi 60 persen saham Cyber Access Communications milik Charoen Pokphand Group Indonesia, seharga 120 juta dollar AS. Baik Lippo maupun Cyber Access sama-sama memiliki lisensi nasional untuk teknologi seluler 2G dan 3G, dengan spektrum 10 MHz di frekuensi 1.800 MHz dan, 15 MHz di frekuensi 1.900 MHz. Proses akuisisi pun akan terus berlanjut dengan masuknya Grup Sinar Mas untuk membeli saham Mobile-8 milik Grup Bimantara yang menggunakan teknologi CDMA. Yang menarik dari proses akuisisi Mobile-8 ini adalah masuknya eksekutif Smart Communication Inc (perusahaan seluler terbesar di Filipina, yang sahamnya juga dimiliki oleh Anthoni Salim), seperti Anastacio Martinez yang membawa beberapa eksekutif lainnya yang akan menyemarakkan industri telekomunikasi Indonesia. Kelas menengah Semua proses ini akan memengaruhi perkembangan teknologi komunikasi informasi yang memang sedang terseok-seok mencari bentuk agar bisa dinikmati oleh seluruh rakyat. Dari keseluruhan masalah 3G ini, jelas kalau regulator tidak memiliki strategi dan condong membenarkan bahwa telekomunikasi (dan juga teknologi informasi) merupakan sebuah teknologi bagi kelas menengah, berada di luar jangkauan rakyat kebanyakan. Sekarang ini ada lebih dari 40.000 desa di seluruh Indonesia yang tidak memiliki akses teleponi. Karena itu, sebenarnya isu lisensi 3G selama tahun 2005 benar-benar merupakan proses mubazir dan masih tidak jelas kelanjutannya di tahun 2006. Dampak yang diakibatkan adalah tergusurnya seluruh pemegang lisensi pada frekuensi 1.920-1.980 MHz karena kebijakan pemberian lisensi yang tidak memperhitungkan kemajuan teknologi, khususnya kehadiran 3G yang lisensinya dipegang oleh Cyber Access dan Lippotel (lihat Grafik Frekuensi). Anehnya, penataan frekuensi ini juga berdampak kepada pemegang lisensi di luar frekuensi 1.920-1.980 MHz, yang tidak memiliki kejelasan apakah lisensi yang dipegangnya dibatalkan, dipindahkan, atau lainnya. Keberpihakan Dampak ketidakjelasan penataan ulang frekuensi 3G ini juga merembet ke operator lain yang dipaksa untuk saling berunding menduduki alokasi frekuensi 800 MHz. Indosat dengan Star One harus berunding dengan Esia yang dimiliki Kelompok Bakrie, PT Telkom dengan Flexi harus berunding dengan Mobile-8 untuk berbagi alokasi frekuensi. Keruwetan ini jelas berdampak terhadap proses akuisisi Grup Sinar Mas yang berharap bisa memperoleh alokasi frekuensi utuh dan tidak terpecah dengan operator lain yang tergusur dari frekuensi 1.900 MHz. Ketidakpastian dan keruwetan penataan frekuensi menimbulkan pertanyaan apakah pemerintah sebenarnya berpihak kepada teknologi saja dengan hanya memperbolehkan teknologi IMT 2000 dengan Wideband CDMA yang merupakan turunan GSM untuk menggelar teknologi 3G? Bukankah untuk kondisi Indonesia, regulator berkewajiban untuk berpihak kepada teledensitas yang memang masih kecil penetrasinya, terutama di daerah pedesaan? Banyak perdebatan yang muncul, mulai dari isu teknologi karena terjadinya interferensi, penghematan frekuensi yang memang terbatas, sampai argumentasi para pemilik teknologi yang menyebutkan Indonesia akan diisolasi dari komunitas seluler bergerak di Asia kalau menerapkan kebijakan frekuensi campuran (mixed band). Yang pasti, proses yang dimulai dari kekesalan terhadap calo lisensi telah menyebabkan kerugian tidak terhingga dan berdampak lebih dalam kepada keseluruhan industri telekomunikasi seandainya rencana tender ulang frekuensi yang direncanakan tidak diminati peserta tender karena kekhawatiran intervensi pemerintah yang terlalu jauh akan mengganggu prospek investasi yang sudah ditanamkan. Proteledensitas Banyak hal akan terjadi dan berdampak memengaruhi industri telekomunikasi di Indonesia pada tahun 2006. Proses penataan frekuensi seluler (untuk teknologi 3G maupun operator yang tergusur) yang berkepanjangan sudah pasti akan berdampak terhadap peningkatan teledensitas karena terhentinya pembangunan infrastruktur tradisional menyediakan sambungan tetap telekomunikasi (PSTN) yang mahal. Bersamaan dengan ini, kewajiban operator untuk melakukan registrasi para pelanggan prabayar akan menunjukkan jumlah sesungguhnya para pelanggan operator yang selama ini menyebutkan jumlah pelanggan mereka mencapai 43,6 juta pengguna jasa seluler. Banyak pengamat menganggap jumlah sebenarnya tidak mencapai angka sebesar itu dan kemungkinan hanya setengahnya saja. Realitas ini dengan sendirinya memacu persaingan yang semakin ketat di antara operator GSM maupun CDMA, merebut pangsa pasar Indonesia yang memang sangat mendikte harga yang ditawarkan oleh para operator. Menurunkan denominasi isi ulang, misalnya, sampai pada tingkat yang terendah, Rp 1.000 sampai dengan Rp 5.000, bisa menjadi pemicu perang harga senjata kompetitif karena kondisi perekonomian yang tidak menentu setelah kenaikan harga BBM. Kita sendiri berharap kebijakan proteledensitas menjadi dasar bagi pengembangan industri telekomunikasi yang memang secara liar diserbu berbagai teknologi dari luar negeri. Karena sampai sekarang kita masih percaya industri telekomunikasi akan mendorong kemajuan teknologi informasi yang pada gilirannya akan berdampak untuk menjadi mesin pertumbuhan bagi pembangunan nasional. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Most low income homes are not online. Make a difference this holiday season! http://us.click.yahoo.com/5UeCyC/BWHMAA/TtwFAA/IHFolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
