Nuansa Nusantara 

Pekan lalu Menkominfo mengeluarkan sebuah surat pengumuman tentang
kewajiban pendaftaran penggunaan satelit di Indonesia. Ancaman hukum
akan diberlakukan bagi mereka yang tidak memenuhi pengumuman ini. 

Pengumuman ini mengisyaratkan dua hal. Pertama, Depkominfo tidak tahu
berapa banyak satelit yang digunakan di Indonesia, terutama yang
digunakan masyarakat untuk kepentingan akses internet. 

Kedua, penataan penggunaan satelit ini dikaitkan dengan kehadiran
teknologi baru yang disebut sebagai WiMAX (Worldwide Interoperability
for Microwave Access), akses nirkabel pita lebar (broadband) yang
diperkirakan akan menjadi teknologi akses masa depan yang akan digelar
Intel Corp dalam waktu dekat. 

Persoalannya, antara WiMAX dan penggunaan frekuensi satelit ini akan
mengalami interferensi karena sepertinya Intel Corp merencanakan untuk
menggunakan chipset yang menggunakan frekuensi yang sama dengan yang
digunakan satelit. Akibatnya bisa dibayangkan, satelit yang sedang
beroperasi di Indonesia akan mati total. 

Ada beberapa hal harus dipertimbangkan Depkominfo ketika ingin menata
frekuensi akibat kehadiran teknologi baru. Pertama, tidak semua
teknologi baru dibutuhkan Indonesia karena yang sudah digelar pun belum
maksimal digunakan. 

Kedua, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari 17.000-an pulau
mengharuskan bangsa ini memilih teknologi yang andal, mudah digelar, dan
terjangkau bagi keseluruhan rakyat. Ketika satelit Palapa dipilih pada
tahun 1976, dampak ekonomi, politik, dan sosial akibat penggelaran
teknologi komunikasi menggunakan satelit menjadi luar biasa. 

Artinya, warisan pemikiran penggunaan satelit ini harus dipelihara
karena memiliki dampak strategis jangka panjang sehingga tidak bisa
serta-merta diganti karena ada teknologi baru yang datang dan begitu
menjanjikan. Artinya lagi, kita harus mencari teknologi yang bernuansa
Nusantara melintas laut ke ribuan pulau dan WiMAX pasti bukan sebuah
teknologi yang bernuansa Nusantara. 

Ketiga, standardisasi menjadi penting karena berbagai ragam standar
menyebabkan terjadi fragmentasi pasar dan mendorong biaya tinggi bagi
penggunanya. Lihat perbandingan Eropa dan AS, yang satu memiliki
fragmentasi geografi, sedangkan lainnya fragmentasi teknologi. 

Hasilnya, penetrasi telekomunikasi bergerak mencapai 92,3 persen di
Eropa, sedangkan di AS hanya mencapai 65,4 persen. Maka, pertanyaannya
adalah apakah Indonesia membutuhkan WiMAX di tengah-tengah banyaknya
pilihan teknologi broadband sekarang ini?



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

If you like this list, the moderator will be thankful
if you would transfer some amounts to BCA account no.
064 100 2762. The moderator identity will be revealed. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke