Proyek "Open Source", Mendobrak Citra Individualistik dan Hobi 

Nawa Tunggal

Asia Source II merupakan sarana pertemuan bagi para pengembang piranti
lunak komputer berbasis teknologi terbuka, atau kini lebih sering
disebut open source. Secara individual, para pengembang open source itu
turut dalam berbagai komunitas lembaga swadaya masyarakat maupun
pengembang usaha kecil dan menengah di Asia. 

Setidaknya, dari salah satu peserta, yaitu Idaman Andarmosoko, latar
belakang ketertarikan terhadap open source cukup menarik. Yaitu, tidak
memiliki banyak uang dan berada pada struktur ketidakmapanan. Ia menjadi
salah satu dari 127 peserta Asia Source II dari 27 negara Asia yang
berlangsung di Sukabumi, Jawa Barat, 22-30 Januari 2007. 

Sebelumnya, selama 12 tahun, ia berkecimpung menangani masalah teknologi
informasi di salah satu universitas di Yogyakarta. Sejak 1999, Idaman ke
Jakarta dan aktif dalam kegiatan berbagai LSM. Salah satunya, sampai
sekarang dia aktif di Institute for Global Justice. 

Peserta lainnya, seperti Cheekay Cinco dari Filipina, adalah aktivis
jender yang juga memanfaatkan open source bagi aplikasi internetnya
untuk berbagai pelatihan dan publikasi kebijakan serta advokasi masalah
jender. Kong Sidaroth dari Kamboja juga menjadi pengembang open source
di negaranya. Ia merupakan koordinator media pada Open Institute, LSM
yang turut memopulerkan open source. 

Tharaka Weerasekara, peserta Asia Source II dari Sri Lanka, mengaku
mengenal open source sejak enam tahun silam. Ia bergabung dengan
Lankenet (Gte) Ltd, organisasi yang sukses memperkenalkan Linux Thin
Client System untuk berbagai kegiatan LSM di Sri Lanka. 

Individu-individu seperti itulah yang bergabung dalam kegiatan Asia
Source II di Sukabumi. Mereka saling berbagi pengalaman dalam
pengembangan open source di wilayah kerja masing-masing. 

Piranti lunak komputer open source memang menarik. Seperti dikatakan
Idaman, mengadopsi teknologi ini terkait dengan finansial yang dipandang
relatif murah. Begitupula soal ketidakmapanan bagi individu
pengembangnya. Biasanya, struktur yang mapan cenderung menggunakan
piranti lunak komputer yang bukan berbasis teknologi terbuka. 

Tidak komersial 

Piranti lunak komputer berbasis teknologi terbuka atau open source dapat
dipahami sebagai tawaran untuk aplikasi komputer yang tidak komersial.
Contohnya, produk Linux dengan aplikasi open office yang meniru
microsoft office dari Microsoft, milik Bill Gates itu. 

Open office tidak komersial atau tidak menuntut pembelian lisensi atau
royalti hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Untuk mengadopsi microsoft
office, dipersyaratkan adanya pembayaran lisensi, sampai-sampai penegak
hukum belakangan getol merazia perusahaan atau institusi bisnis lainnya
yang mengaplikasikan piranti lunak Microsoft secara ilegal, tanpa
membayar lisensi. 

Untuk jangka panjang, piranti lunak open source, seperti pada software
Linux yang tidak komersial, bisa menjadi ancaman bagi Microsoft.
Berbagai macam aplikasi Linux juga sudah menjadi semacam tiruan berbagai
aplikasi Microsoft sekarang. 

Selain tidak komersial, piranti lunak open source juga memiliki
keunikan: dapat dimodifikasi. Kelebihan inilah yang mendorong berbagai
kalangan, bahkan komunitas, yang bermigrasi pada aplikasi open source.
Fenomena ini pula yang melatarbelakangi kegiatan Asia Source II di
Sukabumi, yang dibuka dan ditutup secara resmi oleh Menteri Negara Riset
dan Teknologi Kusmayanto Kadiman. 

Bagi penggiat open source seperti Onno W Purbo, mantan akademisi dari
Institut Teknologi Bandung (ITB), penggunaan open source sangat murah.
"Pembelian satu perangkat lunak berlisensi, seperti Microsoft beserta
aplikasi office-nya, bisa menghabiskan 700 dollar AS. Namun, penggunaan
perangkat lunak berbasis open source seperti Linux hanya membutuhkan
biaya Rp 50.000," kata Onno W Purbo. 

Pandangan Onno bernada penghematan ini ternyata ditepis Menneg Ristek
Kusmayanto. "Ini bukan hanya persoalan penghematan. Tetapi, bagaimana
kita bisa menjawab tantangan zaman dengan membuat dan menggunakan
aplikasi yang lebih cocok," ujar Kusmayanto. 

Bagi Onno, pengembangan open source menjadi bagian dari paradigma
kebebasan yang telah merambat ke segala aspek informasi dan pengetahuan. 

Menneg Ristek Kusmayanto melihat, selama ini penggunaan open source
masih terbatas dan memiliki citra individualistik serta hobi. Hanya
sedikit saja orang yang suka memanfaatkan open source, padahal teknologi
aplikasi komputer yang ditawarkan memiliki kelebihan, seperti mampu
dimodifikasi untuk menjawab berbagai keperluan. 

"Yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana menggeser citra
tersebut untuk mengungkapkan kegunaan-kegunaan open source, baik secara
bisnis maupun tugas-tugas kepemerintahan," tuturnya. 

Sekarang, lanjut Kusmayanto, yang perlu dilakukan adalah mendobrak citra
open source yang masih individualistik dan sebagai kegemaran semata.
Kelangsungan teknologi open source masih perlu terus diperjuangkan.
Kementerian Ristek bahkan baru-baru ini secara nyata telah meluncurkan
aplikasi open source berupa IGOS Nusantara. IGOS Nusantara juga sebagai
aplikasi tiruan microsoft office berbasis bahasa Indonesia untuk
memudahkan komunikasi dan interaksi dengan pengguna di Tanah Air. 

Bagi beberapa kalangan, IGOS Nusantara memang memudahkan dari segi
penggunaan bahasa Indonesia. Namun, ke depan, IGOS Nusantara dituntut
lebih menampilkan fitur-fitur yang lebih menarik dan makin lengkap. 

"Baru saja Mahkamah Konstitusi diberi pelatihan untuk penggunaan
teknologi open source ini," kata Kusmayanto. 

Kusmayanto, Rabu lalu, juga bertolak ke Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) untuk kepentingan yang sama. Provinsi NAD diharapkan
nantinya menjadi provinsi pertama yang menggunakan open source sampai di
tingkat pemerintahan kecamatan. 

"Sekarang tugas pemerintah menyediakan peluang untuk memenuhi kebutuhan
kerja dengan open source. Bagi kelembagaan pemerintah yang telanjur
menggunakan aplikasi bukan open source diajak menerapkan insentif untuk
bermigrasi. Tapi, bagaimanapun, penggunaan teknologi open source ini
sekadar pilihan," ungkap Kusmayanto. 

Saat ini, komputer sudah tidak asing lagi digunakan untuk berbagai
tujuan di berbagai organisasi pemerintah maupun nonpemerintah. Di dalam
perangkat keras komputer tentu dilengkapi perangkat lunak yang terdiri
atas berbagai macam aplikasi untuk digunakan sesuai kebutuhan. Ketika
pencetus aplikasi itu sudah tidak lagi "bersahabat" dan meminta bayaran
bagi setiap penggunanya, kini muncul fenomena open source untuk
mendobrak itu semua. 

Namun, meski open source sudah bertahun-tahun ada dan sudah dikembangkan
di berbagai negara lainnya, berbagai kalangan di Indonesia justru
kebanyakan masih merasa asing. Terbukti, pembajakan aplikasi komputer
bukan dari teknologi open source tak jarang masih dijadikan sebagai
pilihan. Nah! 


-- 
Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, 
juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa 
dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages



If you like this list, the moderator will be thankful
if you would transfer some amounts to BCA account no.
064 100 2762.  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke