Dewan TI Versus Kesenjangan Digital Di Bogor, Senin (13/11), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan pembentukan Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional atau DTIKN. Setiap kali muncul lembaga baru, dalam bidang apa pun, lazimnya disertai harapan, kiranya ia bisa memberikan manfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Seperti sudah sering kita dengar, banyak kalangan mencitacitakan bangsa Indonesia menjadi masyarakat yang cerdas, bahkan tak cukup hanya cerdas, tetapi juga tercerahkan (enlightened). Dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan, memang banyak di antara orang Indonesia yang pintar dan cerdas. Tercerahkan tetap diperlukan sebagai pendamping, karena dengan menjadi insan tercerahkan, mudahlah seseorang menyadari bahwa untuk memajukan Indonesia antara lain tetap harus mempertimbangkan kebhinnekaan yang ada di negeri ini, ada tingkat kesenjangan yang akut, sehingga setiap langkah membutuhkan kearifan, kebijaksanaan. Misalnya, bagaimana mengombinasikan secara pas tingkat pertumbuhan dan pemerataan, dan sebagainya. DTIKN diharapkan bisa mentransformasikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat informasi berbasis pengetahuan. Kalau benar itu yang dimaksud, yang diharapkan berarti satu hari nanti bangsa Indonesia akan menjadi knowledge-based information society. Baiklah. Tetapi hal yang tak bisa dilupakan adalah bahwa untuk mencapai cita-cita tinggi, ada upayanya, dan perlu kerja keras serta konsistensi. Presiden sendiri, Senin lalu, menyatakan saat ini Indonesia harus membangun jaringan komunikasi untuk 43.000 desa. Jaringan tersebut, seperti dikutip Koran Tempo (14/11), juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas komunikasi di pemerintah. Merinci lebih lanjut, untuk sektor pendidikan yang perlu dibangun adalah jaringan komunikasi untuk 13.000 SMP dan SMA, serta 2.428 perguruan tinggi, dan untuk sektor kesehatan jaringan yang diperlukan adalah 28.000 untuk pusat kesehatan (rumah sakit, rumah sakit bersalin, dan puskesmas). Bayangan yang segera muncul adalah dengan jaringan yang ada, masyarakat Indonesia sampai tingkat desa dapat memperoleh akses informasi secara mudah dan murah. 100 juta situs web Cita-cita membangun masyarakat informasi tentu saja sah karena pada zaman sekarang informasi (yang membentuk pengetahuan) adalah daya atau kuasa (ingat semboyan knowledge is power), sementara yang terjadi di Indonesia situasi dan kondisi yang ada masih memprihatinkan. Dari data World Intel Economic on World Best Adaptor of IT, tingkat pemahaman TI Indonesia ada di peringkat ke-51 dari 104 negara, di bawah Malaysia (27) dan Thailand (36). Berdasarkan data Departemen Komunikasi dan Informatika, tingkat penetrasi komputer personal di Indonesia hanya 11 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 23 juta PC (Warta Kota, 10/11). Untuk menanggulangi tingkat penetrasi PC yang rendah ini, pemerintah perlu kreatif. Masyarakat mungkin bisa bertanya lagi kepada Presiden, bagaimana misalnya hasil pertemuan dengan Bill Gates beberapa waktu lalu. Mengapa negara seperti Libya bisa membuat terobosan signifikan, misalnya dengan bisa menandatangani persetujuan dengan yayasan nirlaba AS, One Laptop Per Child, yang memungkinkan setiap murid sekolah di Libya yang berjumlah 1,2 juta orang bisa mendapatkan laptop mulai Juni 2008 (IHT, 12/10/2006). Proyek memberikan komputer untuk anak-anak di negara berkembang ini digagas peneliti Nicholas Negroponte dari Massachusetts Institute of Technology tahun 2005. Yang disasar adalah laptop seharga 100 dollar AS (sekitar Rp 900.000), bisa untuk melakukan koneksi nirkabel untuk akses internet, yang kini menjadi gudang informasi dan pengetahuan. Memang, dewasa ini, informasi tak bisa dipisahkan dari internet, yang merupakan buah perkawinan teknologi—informasi dan telekomunikasi—yang paling mengubah peradaban modern. Keterbelakangan satu bangsa, dengan demikian, tidak saja cukup diperlihatkan oleh tingkat kepemilikan atau penetrasi PC, tetapi juga tingkat penetrasi internet. Untuk internet, pengguna di Indonesia sekarang ini diperkirakan 18 juta atau sekitar 8 persen dari jumlah penduduk. Ini pun masih harus ditambah dengan penjelasan, selain penetrasi, di sana-sini kualitas akses masih rendah. Sementara bangsa-bangsa lain sudah bisa menikmati akses cepat (memanfaatkan pita lebar, broad band), di sini hal semacam itu masih amat terbatas karena harga bandwidth masih mahal (ini hal yang amat sulit dipahami, lebih-lebih bila mengingat sewa bandwidth di Indonesia lebih mahal daripada harga di negara maju, dan bahkan dari India) (Kompas, 25/8). Ini tentu hal yang pertama-tama harus ditanggulangi DTIKN, karena tanpa itu, kecillah harapan untuk mewujudkan masyarakat informasi berbasis pengetahuan yang dicita-citakan. Selain memalukan, hal ini juga bisa dikatakan "mengganjal" upaya pencerdasan bangsa Indonesia. Bandingkan apa yang terjadi di Indonesia dan di negara lain. Kalau bangsa Eropa bisa menikmati akses broadband dengan biaya langganan 20-an euro (sekitar Rp 300.000), tak heran bila mereka lalu menjadi bangsa yang paling terkoneksi dengan jaringan informasi global ini. Dari negara tetangga, Singapura mulai tahun depan akan menyediakan akses internet nirkabel gratis broadband di kawasan publik selama dua tahun. PM Lee Hsien Loong menyampaikan hal itu ketika menyampaikan visinya mengenai arah yang akan ditempuh negaranya ke depan, bagaimana bisnis bisa tumbuh dan lapangan pekerjaan bisa diciptakan (Channel News Asia, 10/10/2006). Pemimpin Singapura bertekad, semua orang harus bisa menikmati berkah TI dan perhatian akan secara khusus diberikan kepada tiga kelompok, yakni siswa, kalangan cacat, dan orang tua. Jadi, kalau yang terjadi di Indonesia terus terjadi, boro-boro mengatasi "kesenjangan digital", yang mungkin terjadi justru "yang kaya makin kaya, yang pintar makin pintar; sebaliknya yang miskin tambah miskin, dan yang bodoh tambah bodoh". Ini lah pekerjaan rumah pertama untuk DTIKN. Dalam hasil survei lembaga penelitian Inggris, Netcraft, disebutkan bahwa dengan perkembangan jurnal internet yang dikenal dengan sebutan blog, juga toko-toko virtual kecil, maka jumlah situs internet (website) awal November ini telah melewati angka 100 juta (Oktober lalu jumlah situs masih 97,9 juta dan memasuki November jumlah tersebut mencapai sedikit di atas 101 juta). Tahun 2006 saja situs internet bertambah 27,4 juta, sementara tahun 2005 pertambahan hanya 17 juta (AFP/Jakarta Post, 4/11). Itu artinya internet untuk berbagai keperluan akan terus berkembang, bahkan berkembang dengan pesat. Perkembangan ini ditopang pula oleh perkembangan komunikasi seluler, yang antara lain semakin bersemangat menyediakan ponsel yang harganya semakin terjangkau. Digabung dengan sejumlah skenario ke depan yang akan menjadikan internet sebagai anjungan (platform) untuk media, termasuk koran dan televisi (sehingga dikenal IPTV/Internet-Protocol TV), maka semakin banyaklah informasi yang akan tersedia di jaringan global ini. Sukses DTIKN adalah secara nyata menghadirkan informasi seperti yang dilakukan Pemerintah Singapura dan negara-negara lain, pertama-tama dengan memberantas inefisiensi yang sejauh ini masih ada di jagat telekomunikasi di Tanah Air. -- Kuliner Indonesia, milis tentang makanan dan tempat makan di dalam, juga dari luar negeri. Disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Daftar ke mailto:[EMAIL PROTECTED] Arsipnya bisa dibaca di http://groups.yahoo.com/group/kuliner_ind/messages ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Check out the new improvements in Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/IHFolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> If you like this list, the moderator will be thankful if you would transfer some amounts to BCA account no. 064 100 2762. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
