Said Jenie dan Keinsinyuran Indonesia

Rabu, 16 Juli 2008 | 01:44 WIB 
Oleh NINOK LEKSONO

"Jangan pernah mengaku insinyur jika tidak punya kemampuan dan
pengalaman merancang karya teknologi." (Alm Said Djauharsjah Jenie,
seperti dikenang Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman, 11/7/2008)

Sosok Said Djauharsjah Jenie, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT), yang tutup usia pada Jumat (11/7), tak diragukan sarat
dengan aura dan komitmen terhadap sains dan teknologi. Jenazahnya
diterbangkan dari Bandung ke Yogyakarta dengan pesawat CN-235 yang dia
ikut berperan dalam perancangannya. Komitmen diperlihatkan dengan
memimpin BPPT dari Senin sampai Jumat, dan—seperti dikemukakan saudara
kembarnya, Umar A Jenie, yang juga Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia— Sabtu kembali ke Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat
Said menjadi guru besar teknologi penerbangan, serta Minggu terlibat
dalam masalah penerbangan di PT Dirgantara Indonesia (DI).

Keterlibatan pada ilmu boleh jadi tertanam karena nasihat sang ibu, yang
mendorong anak- anaknya sejak dini mencintai ilmu daripada mencari uang.
Sikap nasionalis Said, yang menurut Umar, tampak ketika menolak tawaran
Malaysia tahun 2002 dan 2003. Said lebih suka di Indonesia mengembangkan
rekayasa, seperti kapal bersayap Wings in Surface Effect dan pesawat
udara nirawak (Puna).

Selaku Kepala BPPT, Said pun tampak di berbagai forum. Setahun lalu, ia
menjelaskan prototipe jembatan dengan desain konstruksi baru kepada
Wapres di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek)
Serpong dan bulan silam bersama Duta Besar Amerika Serikat meresmikan
pemanfaatan pelampung untuk deteksi tsunami. Menteri Sekretaris Negara
Hatta Rajasa ketika melayat juga mengenang, bidang utama Said memang
kedirgantaraan, tetapi ia juga menaruh perhatian pada wahana benam
(cikal bakal kapal selam).

Dengan segala kiprah di bidang teknik dan keinsinyuran, mendiang Said
Jenie mencerminkan berbagai sisi pekerjaan yang mungkin bisa dilakukan
seorang insinyur, mulai yang berlingkup manajemen birokrasi hingga
rekayasa teknik, selain pendidikan-pengajaran. Dengan kepergian Said
Jenie, Indonesia memang kehilangan seorang insinyur terkemuka.

Melanjutkan kiprah

Deputi Kepala Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT
Surjatin Wiriadidjaja mengatakan, BPPT kini punya tantangan besar untuk
melanjutkan riset strategis yang sebelum ini menjadi salah satu
perhatian Said. Surjatin berpendapat, rekayasa merupakan kunci sebuah
peradaban dan kemajuan negara.

Makna Said tentu lebih besar karena ia juga aktif di bidang lain,
termasuk ilmu falak/astronomi, seperti ia perlihatkan ketika memberikan
pemikiran untuk mengakhiri perselisihan penentuan tanggal 1 Syawal.

Namun, bidang keinsinyuran jelas yang paling utama dari sosok Said
Jenie. Seperti dikemukakan Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman, Jumat
(11/7), Said Jenie memegang teguh profesi keinsinyuran. Kutipan di awal
tulisan ini mencerminkan keyakinan di atas. Said memegang teguh
kata-kata tersebut dan menerapkannya, baik sebagai dosen maupun sebagai
perekayasa di BPPT dan PT DI.

Insinyur modern

Sebagai sosok yang menggeluti bidang rekayasa dan keinsinyuran, mendiang
Said yang masuk ITB (angkatan) 1969 (bukan lulus tahun 1969 seperti
berita Kompas, Sabtu, 12 Juli), Said memiliki keyakinan bahwa bangsa
Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju dan mandiri bila mau berusaha.
Seperti dikemukakan rekan almarhum dalam tim penggodokan jabatan
perekayasa, Erzi Agson-Gani, Said melihat di Indonesia banyak potensi
dan teknologi yang belum dikembangkan.

Khususnya bagi para insinyur, abad ke-21 memberi berbagai peluang, baik
dalam penemuan maupun inovasi. Dalam hal ini anggota senior Institute of
Electrical and Electronic Engineers asal India, TR Gopalakrishnan Nair,
pernah mengatakan, insinyur modern yang bertanggung jawab dalam
pembuatan produk yang relevan harus memiliki visi dan wawasan global
mengenai jenis produk dan kebutuhan dunia baru yang tumbuh (The Hindu
Business Line, 27/8/2004)

Dalam hal ini, bidang yang digeluti Said Jenie mencakup wahana
transportasi. Namun, ia juga mengusung tema teknologi nano,
bioteknologi, dan TIK. Ini tentu berbeda dengan tren yang muncul di
beberapa dekade terakhir abad silam, di mana bidang keinsinyuran favorit
adalah mesin, sipil, dan elektro.

Oleh karena itu, Nair mengimbau dilakukannya perubahan persepsi guna
mencapai keunggulan (excellence) dalam bidang keinsinyuran. Sistem
pendidikan pun perlu diorientasikan kembali dengan arah global dan
peluang karier. Ditekankan pula perlunya insinyur berpikir keluar batas
geografis dan kekangan kultural. Insinyur harus tetap menghormati etik
dan mempertahankan sistem nilai agar selaras dengan masyarakatnya.

”Technopreneurship”

Satu hal lagi pelengkap qualities yang ditinggalkan Said Jenie adalah
technopreneurship. Bila uraian di atas relevan untuk pengasuh lembaga
pendidikan keinsinyuran, technopreneurship lebih relevan untuk lembaga
profesi.

Sekarang isu ini lazim dibicarakan, tetapi pada masa lalu tokoh seperti
Iskandar Alisjahbana, Soemarjato Kajatmo, juga AR Adiwoso telah dikenal
sebagai insinyur yang menjalankan elemen ini dalam profesinya. Sikap itu
sendiri pada awalnya kontroversial di lingkungan akademik, seperti di
ITB pada dekade 1970-an.

Kini, organisasi insinyur, terutama Persatuan Insinyur Indonesia (PII),
tentu juga telah menyegarkan orientasi profesi bagi anggotanya. Seperti
muncul dalam diskusi panel Kongres PII tiga tahun silam, diingatkan oleh
peserta bahwa tugas insinyur tidak semata to build (membuat), tetapi
juga to sell (menjual).

Bagi Indonesia yang masih terus terbelenggu krisis, peranan insinyur
sangat besar. Bakat bertebaran di berbagai jalur swasta maupun
pemerintahan, tetapi sebegitu jauh kontribusinya dalam upaya perbaikan
taraf hidup bangsa dan kemajuan rekayasa dalam negeri dinilai masih
minim. Jangankan mobil, untuk motor yang lebih simpel pun negeri ini
masih dibanjiri produk asing tanpa sedikit pun bangsa ini bisa berkutik.

Semoga peninggalan mendiang Said Jenie dapat terus disempurnakan dan
sikap keinsinyurannya dapat dilengkapi para insinyur Indonesia.


-- 
Surabaya Office: Tersedia ruang kantor siap pakai di kota 
Surabaya. Ukuran 50 & 12 m2. Fasilitas lengkap, 3km dari 
pusat kota. Hubungi 031-5013570, HP: 0852 3008 3510 atau
email: mailto:[EMAIL PROTECTED]


------------------------------------

[Warnet2000] is a moderated list. Ads will only avail in signature 
forms or footnotes. Contact the moderator if you want to put your 
ad for a small amount donated to BCA account no 064 100 2762 in IDR. 
Your ads will appear as footnotes.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke