Peta Konflik Antar Partai Politik
detikcom, Jakarta-Inilah peta konflik antarparpol dalam musim kampanye Pemilu
1999. Menurut Crisis Center (CC) yang memetakan konflik itu, konflik terberat
terjadi antara pendukung partai status quo melawan partai antistatus quo.
Peta konflik itu sendiri disiarkan CC dalam jumpa pers di Ruang Adam Malik, kantor
YLBHI, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (18/05/1999). Hadir pada kesempatan
itu Koordinator CC, Dr Thamrin Amal Tamagola dan Munir SH, anggota CC.
Menurut Thamrin, ada 4 bentuk kekerasan antarkelompok yang bakal terjadi dalam
Pemilu 1999. Pertama adalah konflik vertikal aparat dengan rakyat. Kedua konflik
antarkelompok masyarakat dengan basis agama, suku, ras. Ketiga, konflik adu domba,
Keempat, konflik perlawanan yang sumber daya masyarakatnya diambil kelompok lain.
Parpol yang bertikai terbagi dalam 2 kelompok besar. Yaitu kelompok status quo
terdiri dari Golkar, PPP,PDI Budi Hardjono. Lawannya adalah partai anti status
quo terdiri dari PAN, PKB, PDI Perjuangan.
"Jadi, menurut peta ini, Golkar bisa bertarung dengan PAN, PKB dan PDI Perjuangan.
PPP juga bisa begitu. Sedang PDI Budi dapat bertarung dengan saudaranya sendiri,
yaitu PDI Perjuangan," kata Thamrin.
Thmarin juga mengingatkan bahwa partai kecil juga bisa berbahaya. "Partai kecil
dapat berbahaya karena akan mengumpulkan suaranya untuk pihak status quo," tambah
Thamrin. Sedangkan peta konflik berdasar lokasinya adalah sbb:
Pulau Sumatera:
Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Lampung.
Pulau Kalimantan:
Hampir seluruh wilayah berpotensi konflik. Disebabkan adanya kekerasan struktural
yang 23 tahun terpendam.
Pulau Jawa:
Meliputi daerah pantai utara, yaitu Pekalongan, Semarang, Brebes, Tegal. Dapat
juga terjadi di Sragen, Solo, Klaten, Yogya, Cilacap, dan Gombong. Jawa Barat:
Ciamis dan Pangandaran.
Peta lainnya yang disampaikan CC adalah:
Bali:
Golkar berhadapan dengan PDI Perjuangan.
NTT:
konflik muncul dimainkan elit nasional untuk mencari kesinambungan.
Irian Jaya:
Tidak berpotensi konflik, tapi PDI Perjuangan dengan partai Islam seperti PPP
bisa berhadapan.
Maluku:
Maluku Tenggara PDI Perjuangan kuat. Di Maluku Tengah, PBB kuat berhadapan dengan
PKB. PPP berhadapan dengan PKB juga bisa terjadi.
Maluku Utara:
Golkar berhadapan dengan PBB. PBB dengan PAN. Bisa juga PAN dengan PKB.
Sulawesi Utara:
PDI Perjuangan punya basis kuat. Gorontalo dikuasai Golkar.
Sedang isu yang bisa menjadi pemicu konflik, terbagi menjadi dua. Yaitu untuk
wilayah perkotaan dan daerah.
"Isu yang akan muncul di perkotaan adalah sembako, transportasi, PHK, politik,
dan pelanggaran nilai agama. Sedang isu di daerah pedesaan adalah di pabrik
pengolahan,
perkebunan, pertambangan," kata Thamrin.
Pada kesempatan itu, Thamrin memberikan himbauannya pada Golkar. "Golkar sebaiknya
low profile, serendah-rendahnya. Jangan pamer kekayaan. Karena selama ini dinilai
banyak melakukan kesalahan dan dosa. Itu banyak membuat masyarakat jijik sehingga
balas dendam," pesan Thamrin.
Himbauan lainnya, kepada parpol yang sudah tahu peta kerusuhan tersebut, diharap
untuk menghindari pertemuan iring-iringan massa antarbasis massa empat 4 parpol.
Yaitu PDI Perjuangan, PPP, PKB, dan Golkar.
CC juga merekomendasikan masing-masing parpol untuk mengkoordinir basis massanya.
"Parpol harus merumuskan kebijakan untuk mencegah dan menghadapi provokator.
Partai jangan percaya pada isu dan provokasi, hendaknya dikonfirmasikan dengan
parpol yang bersangkuta," tegas Thamrin.
Peta DKI Jakarta
Bagaimana dengan DKI Jakarta sendiri? Menurut Thamrin, konflik bisa terjadi di
daerah kumuh. "Jalan Thamrin dan Sudirman yang menjadi pusat Jakarta, tidak akan
aman. Karena di belakang kawasan itu banyak terdapat daerah kumuh yang gampang
dimasuki provokator," jelas Thamrin.
Hal yang sama juga terjadi di daerah Tanjung Priok. "Di Tanjung Priok terdapat
orang yang berasal dari suku-suku keras. Misalnya Madura, Banten, Maluku Utara,
dan Bugis. Selain itu, banyak daerah kumuh di situ," tambah Thamrin.
Munir menambahkan, bahwa menurut pengalaman Pemilu 19997, kekerasan dapat juga
terjadi di Otista, Mampang, Cawang, dan Tebet. Yang menjadi pemicu pertikaian
adalah perbedaan atribut, simbol, dan tokoh-tokoh partai.
Sedangkan bentuk provokasi adalah massa mendatangi atau menyerang acara yang
diadakan oleh suatu parpol. "Penurunan bendera/atribut parpol juga bisa membangkitkan
balas dendam," kata Munir. Hal lainnya bisa dipicu lewat selebaran gelap atau
pun selebaran yang dikirim lewat faksimili.
Temuan Lainnya
Perbedaan kepentingan antarmassa pendukung parpol selama ini menyebabkan pertikaian.
Yang sempat dicatat CC adalah konflik yang terjadi antara massa yang beratribut
PDI Perjuangan dengan PPP di Yogya.
Konflik massa yang beratribut PDI Perjuangan dan Golkar terjadi di Manado, Brebes,
Purbalingga, kebumen, Kudus, DKI Jakarta, Madiun, dan Jember.
Konflik massa yang beratribut PAN dengan massa atribut PPP di Solo, dan Klaten.
Perpaduan konflik antarmassa terjadi juga di daerah Pantura dan tapal kuda Jatim,
yaitu Pemalang, Madura, Banyuwangi, Situbondo.
------------------------------------------
This message was sent to you by
Name: Henry E. P.
Email Address: [EMAIL PROTECTED]
IP Address: dyn2096a.dialin.rad.net.id
------------------------------------------
Using Aureate Group Mail Free Edition
Find out more about this product and try it
for free at: http://www.group-mail.com/1
Layanan Pertukaran Banner - http://www.indobanner.co.id
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com