----- Original Message -----
From: ikhwan
Sent: Saturday, April 02, 2005 11:33 PM
Subject: Cahaya Hati (* Fwd: [Sains_Islami] Dibalik Sains Modern (3)

From: "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 12 Jan 2005 04:49:18 -0000
Subject: [Sains_Islami] Dibalik Sains Modern (3)


(3) "Sesuatu yang lebih baik" itu, tidak dapat diketahui dengan cara yang biasa dilakukan

Biasanya, para saintis atau ilmuwan, menggambarkan atas besaran yang sukar dibayangkan di atas, dengan kata  mengagumkan". Siapa yang bisa membayangkan angka bermilyar-milyar di atas? Tetapi sebenarnya ini baru permulaan, yang belum apa-apa. Karena kajian sains belakangan ini mengemukakan sesuatu yang tidak dapat diterka oleh pikiran kita. Inilah yang terjadi pada teori relativitas dan mekanika kwantum.

Selama abad keduapuluh ini, penemuan-penemuan fisika modern telah meruntuhkan paradigma Newtonian. Runtuhnya paradigma ini, terjadi akibat perkembangan teori relativitas Einstein dan mekanika kwantum. Teori relativitas, yang merupakan fisika kecepatan tinggi pada jarak-jarak yg besar, yang membantah asumsi Newton tentang ruang dan waktu absolut, telah menguasai pandangan kita sehari-hari kita tentang dunia. Ruang dan waktu direlatifkan oleh Einstein, ketika unsur kecepatan cahaya menajdi variable dari gerak. Dengan demikian, panjang ruang dan panjang waktu adalah sesuatu yang relatif, tergantung keadaan pengukurnya.

Sementara mekanika kwantum - yang merupakan fisika tentang dunia mikro subatomik - merombak total pandangan tentang materi. Asumsi lama bahwa, atom-atom dunia mikroskopik adalah versi berskala kecil dari dunia sehari-hari, harus segera ditinggalkan. Mesin deterministik Newton digantikan oleh alam yang diatur dengan hukum sebab akibat yang memberikan kepastian. Perkembangan itu mengakibatkan "terbukanya ruang mistik dalam penjelasan fisika", juga menjadi fenomena yang tak pernah terduga, karena fisika sebelumnya sangat bersifat materialistik dan sekular dalam melihat kenyataan alam.

Pernyataan paling revolusioner dari fisika kwantum mengenai hakikat kenyataan alam tentang sifat dualitas sub atomik. Contoh paling terkenal tentang sifat ini adalah cahaya, yang bisa teramati sebagai gelombang elektro-magnetik atau prtikel-partikel foton, tergantung dari rancangan percobaan yang diterapkan padanya. Niels Bohr menjelaskan ini melalui konsep konplementaritas. Prinsip ini mengatakan bahwa, gambaran dunia sub-atomik sebagai partikel dan gelombang merupakan dua penjelasan yang saling melengkapi tentang suatu kenyataan sama, kendati kita tidak bisa memperolehnya secara sekaligus. Percobaan ini dirancang untuk mendeteksi gelombang hanya dapat mengukur aspek gelombang dari elektron. Sedangkan percobaan yang dirancang untuk untuk mendeteksi artikel, hanya dapat mengukur aspek partikelnya. Sebuah percobaan tak mungkin mengukur kedua aspek itu secara serempak.

Prinsip ini mempunyai efek epistemologis berkaitan dengan obyektifitas yang selama ini dijunjung setinggi langit oleh fisika. "Tidak benar bahwa fisika adalah tentang alam sebagaimana kita ketahui," kata Bohr mengomentari implikasi dari prinsip komplementaritas.

(4) bersambung


Do you Yahoo!?
Better first dates. More second dates. Yahoo! Personals

---------------------------------------------------------------------------------
Cahaya Hati Mailing List ([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ/SHADAQAH anda melalui Cahaya Hati, Peduli Anak Negeri
Bank Mandiri Jkt Thamrin, Rekening No.: 103-0091565685
Bank BCA KCP Sabang, Rekening No. : 0281319328
Telp. informasi : 021-7407234




Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                       
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke