----- Original Message -----
Sent: Friday, May 27, 2005 1:50 AM
Subject: [Indocommunity] Cerpen: Mari Berkorupsi!

 
Mari Berkorupsi!

Cerpen Adji Subela

Ketika larangan itu anjuran, saat hukuman cuma senyum kecil di bibir manis
dan tatkala dosa dan neraka cuma kata-kata kempis di mimbar khotbah, maka
Tengul berteriak-teriak di Bundaran di depan Hotel Indonesia, di bawah
lambaian Patung Selamat Datang, melambai orang-orang lewat untuk
menggalakkan hidup berkorupsi.
 

Sewaktu seorang sahabatnya menyebutnya gila dan bisa dituntut karena
menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum, Tengul cuma nyengir
menangkis: "Siapa sih manusia yang paling bersih di negeri kita? Hayo?"
 

Belakangan ini gejolak batin Tengul memang tak terkira-kira besarnya. Sering
ia merasa eneg hendak muntah mendengar tuntutan setiap detik setiap hari
agar korupsi diberantas hingga ke akar-akarnya. Berpuluh-puluh organisasi
antikorupsi didirikan orang, dan diberi nama gagah-gagah dengan tujuan luhur
dunia akhirat: memberantas korupsi dan menciptakan pemerintahan yang bersih
dan berwibawa, selalu memikirkan dan berpihak kepada wong cilik!
 

"Siapa yang menjamin sih, kalau korupsi lantas berkurang? Siapa yang berani
bertanggung jawab kalau organisasi-organisasi itu nanti tidak korup
 sendiri?" ia tetap bertahan pada prinsipnya.
 

Di depan teman-temannya ia selalu serius berpidato bahwa di zaman Orde Lama,
pemerintah tak menyuapi rakyatnya pakai makanan, tapi menyekokinya dengan
Tujuh Bahan Indoktrinasi alias Tubapi. Rakyat tetap tak berubah, masih saja
kelaparan sambil mendengarkan pidato-pidato. Di zaman Orde Baru, rakyat
makan setengah kenyang, sambil melihat pejabat-pejabat dan keluarganya
berkorupsi sembari dicekoki Penataran P4, dengan lauk harian berupa
peringatan-peringatan, ancaman dan intimidasi. Korupsi menjadi-jadi gilanya,
dan orang malah bangga menjadi koruptor, lalu korupsi telah menjadi
penghasilan sampingan yang lebih utama. Hasilnya dipamerkan ke mana-mana.
 

Zaman reformasi ini, Tengul menamainya sebagai Orde Bingung, orang seperti
kethek ditulup (1). Kebobrokan peninggalan Orde Baru terlalu banyak, sulit
dituntasi seketika. Penguasa seperti tak ada, lantaran mereka sendiri
bingung mana yang benar dan mana yang salah. Tengul melihat, yang banyak
cumalah kebingungan dan keluhan, tuntutan, teriak-teriak tak menentu,
kritikan konstruktif maupun yang ngawur asal bunyi, dan juga muncul
komentar-komentar bodoh sementara korupsi malah disebutnya tidak marak sama
sekali!
 

"Ah, bohooong," seorang temannya tak percaya.
"Sungguh! Tidak marak! Tapi korupsi sudah jadi way of life masing-masing
individu warga negara dan sudah meresap dalam darah dagingnya dan jadi
acuan-tindak untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tinggal
menunggu adanya pejabat yang berkata - darah daging saya koruptor, itu
 saja." Korupsi telah jadi bukan persoalan, dan yang berteriak-teriak
antikorupsi bagi Tengul cuma orang yang kurang pekerjaan saja.
 

Resep yang paling baik, adalah menganjurkan setiap orang untuk berkorupsi
sedapat-dapat dan semampu-mampunya. Malahan diharuskan. Tengul tetap percaya bahwa kalau semakin dilarang, orang Indonesia akan diam-diam mengerjakannya.
 

Sedangkan kalau dianjurkan, malah tidak dikerjakan!
 

Dalam sebuah diskusi kecil di ruangan mewah hotel berbintang lima, Tengul
meyakinkan para peserta bahwa anjuran berkorupsi harus dituangkan dalam
seperangkat aturan yang memungkinkan pembinaan dan pelaksanaannya berjalan
baik.
 

Gerakan meningkatkan kegiatan korupsi ini bagi pria ceking tersebut begitu
serius sehingga ia ngotot agar Dewan Perwakilan Rakyat harus dilibatkan
secara aktif. Semua komponen masyarakat yang mendukung maupun yang kontra
korupsi harus diundang untuk merumuskan pelaksanaannya.
 

"Bagaimana kalau kelompok antikorupsi di luar maupun di dalam parlemen gigih
menentang rencana gila kamu itu?" kata Sodrun, yang dalam hatinya sebenarnya
setuju saja.
 

"Bagi kita mudah, kita bikin saja pemungutan suara secara tertutup, alias
rahasia. Aku kira hasilnya akan positif. Sebelumnya, kaum antikorupsi kita
lobby dulu, lalu kita ajak studi banding ke luar negeri," ini jalan keluar
si Tengul.
 

"Lha LSM-LSM yang antikorupsi bagaimana? Apa mereka tidak teriak-teriak?"
sambar Sodrun lagi.
 

Tengul yakin itu perkara mudah saja. Solusinya? Beri mereka Proyek
Penelitian Pelaksanaan Korupsi dari Pusat Hingga Daerah, Antara Fakta dan
Harapan,. Beri kebebasan mereka untuk menyampaikan hasilnya. "Berapa saja
besarnya rencana biaya yang diajukannya kita lipatkan tiga saja, karena
program ini penting untuk kelangsungan hidup bangsa di masa mendatang.
Mereka tentulah senang," enteng betul si Tengul itu menjawabnya.
 

"Bung, apa sampeyan (2) pikir MPR akan setuju?" Drs Ir Sastro Kenthir MPA,
MM, MBA, Phd mengujinya.

"Ya inilah masalahnya. Tapi semua anggota DPR 'kan merangkap jadi anggota
MPR juga? Mudah-mudahan bisa diatur. Teknis di lapangannya, nanti kita
adakan demonstrasi alias unjuk rasa mendukung korupsi secara mantap dan
berkelanjutan. Orang-orang untuk itu sudah siap tinggal call saja. Ini
semacam pressure saja, biasalah."
 

Tengul berencana melibatkan para artis-selebritis, karena hanya merekalah
kini yang dipercaya orang. Yudikatif tidak sama sekali, eksekutif telah
bolong, dan legislatif dianggapnya lebih serakah. Akan dibikinnya promosi
besar-besaran, karena orang Indonesia paling gampang termakan iklan. Apa
yang dikatakan iklan ditelan bulat-bulat tanpa dilihat.
 

Pria ceking itu menyambung lagi: "Pendeknya, kehidupan berkorupsi sudah
meresap hingga ke sel-sel otak dan hati kita semua. Tinggal direalisasikan
atau kita lembagakan saja secara terbuka, daripada sembunyi-sembunyi dan
malu-malu kucing, wong ini sudah bukan barang aneh dan menjijikkan kok. Saya
yakin gerakan ini akan didukung banyak orang secara diam-diam. Kalau pun ada
yang menentang, itu karena mereka belum mendapatkan pencerahan dan
penjelasan yang komprehensif, atau ragu-ragu apakah mereka bisa memanfaatkan
gerakan ini apa tidak. Itu bisa diatur kok, tenang saja."
 

Pria ceking tokoh kita ini meyakinkan mereka, bahwa kebocoran APBN rata-rata
30% karena berbagai sebab - tentu di antaranya korupsi - itu prestasi
manajemen yang canggih, yaitu bagaimana mengatur-atur agar copetan mereka
tak ketahuan. Ini memerlukan skill tinggi.
 

"Bung Tengul, apakah Anda tidak takut dicap antirevolusi, antipembangunan,
ekstrem kiri-kanan, tengah, depan, belakang dan apakah Anda bisa menangkis
tuduhan unsur keterpengaruhan. Nanti Anda akan ditanya teman dekat Anda itu
siapa saja dan apa organisasinya," Sastro mengingatkannya dengan serius.
 

"Mudah. Unsur keterpengaruhannya banyak. Kita tanya para pemeriksa kita,
para jaksa, hakim serta pengacara: Siapa yang tidak pernah berkorupsi? Hayo
ngacung (3)! Siapa yang pernah berkorupsi? Ngacung!"
"Kalau mereka mengaku berkorupsi?" tanya Sastro.
"Itu calon anggota kita!"
"Kalau mereka mengaku tidak berkorupsi?"
"Itu juga calon anggota kita, maksudnya anggota tingkat percobaan."
"Kalau tidak mengacung untuk kedua-dua hal itu?" kejar si Sastro.
"Itu anggota utama kita, karena untuk berpendapat saja mereka mengorupsi
dirinya sendiri, hingga ia pantas mendapat kedudukan istimewa di kelompok
kita."
 

Semangat Tengul untuk menggalakkan korupsi betul-betul nekat luar biasa.
Organisasi itu segera akan dibentuknya, dengan nama sementara: Komite
Penggalakan Korupsi. Malahan dengan bantuan seorang pengarang lagu yang
namanya minta dirahasiakan betul-betul (bahkan kabarnya dengan perjanjian di
atas kertas bersegel), ia menyiptakan lagu Mars Mari Berkorupsi. Seperti
ini:
Marilah kita berkorupsi
Korupsi sampai mati
Hukuman jangan peduli
Itu soal nanti
 

Soal syairnya, Tengul menyilakan semua orang untuk mengutak-atiknya kembali,
tanpa memberi royalti hak cipta padanya, karena semangatnya memang untuk
berkorupsi. "Yang penting intinya berupa ajakan untuk berkorupsi, itu saja,
simpel kok," begitu Tengul meyakinkan teman-temannya. Sodrun malahan
menyumbang satu hymne korupsi:
Korupsi, korupsi, sungguh nikmat sekali
Marilah bangsaku kita berkorupsi, enak sekali
Jangan cuma sekali saudaraku, tapi berkali-kali
Sampai mati, sampai mati
 

Sodrun, yang tampaknya sudah jadi pendukung fanatik Tengul, menganjurkan
agar untuk mengiringi lagu itu dicomot saja dari hymne-hymne yang ada - yang
indah-indah bukan main - tanpa perlu minta izin pada pemilik hak ciptanya
karena memang namanya juga korupsi.
 

Usaha gigih Tengul dan wakilnya, Sodrun, tampaknya mendapat hasil juga.
Beberapa orang mendaftarkan diri menjadi anggota. Sampai suatu ketika,
Tengul mendesak diadakannya deklarasi pembentukan Komite Penggalakan
Korupsi.
 

"Ini masalah urgen sehingga harus cepat-cepat kita realisasikan," ujarnya
dengan penuh semangat.
Ada kira-kira tiga puluh orang calon peserta, terdiri dari lima belas pria
dan lima belas perempuan. Barangkali itu artinya korupsi tidak memandang
jender. Semua jenis kelamin punya potensi sama untuk berkorupsi, tidak
pilih-pilih. Kelihatannya asal ada peluang sikat saja, beres.
 

Tengul dengan serius minta calon peserta agar pada saat deklarasi Komite
Penggalakan Korupsi nanti di sebuah hotel berbintang lima, mereka mengenakan
pakaian olahraga saja, dengan sepatu kets. Maksudnya, begitu selesai acara,
mereka disuruh lari kencang-kencang meninggalkan tempat itu karena biaya
sewa ruangan tidak akan dibayar. Sebab, begitu Tengul menjelaskan kepada
peserta, membayar biaya ruangan itu tidak berspirit korupsi sama sekali.

******
Tiba pada hari deklarasi penting itu, calon anggota yang datang hanya
sepuluh orang, masing-masing lima orang pria dan lima lainnya perempuan. Itu
saja.
 

Banyak sekali wartawan yang datang, baik dari media cetak maupun elektronik,
termasuk cyber-journalists yang dari dotkom-dotkom. Di acara itu, Komite
Penggalakan Korupsi mengenalkan bendera serta simbul mereka, yaitu berupa
gambar dua jari mengacung membentuk huruf V seperti gayanya PM Inggris
Winston Churchill dahulu itu. Cuma gambar tangan ini dipasang terbalik dan
digambarkan menjepit selembar uang kertas. Simbul itu juga menjadi gambar
bendera Komite, yang warnanya putih bersih sebagai lambang kebersihan niat
mereka. Semula Sodrun mengusulkan agar benderanya berwarna hitam dan ada
gambar tengkorak yang ditutup matanya sebelah, tapi semua anggota menolak
mentah-mentah karena itu identik dengan perompak. Kalau perompak, itu
korupsi cara barbar. Black collar corruption. Komite ini hanya menampung
yang white dan yang blue collar saja.
 

Belum lagi acaranya dimulai, Tengul sudah dicegat para wartawan dan diguyuri
pertanyaan aneh-aneh. Maka berkatalah Tengul, sang penggagas Komite
Penggalakan Korupsi itu:
"Saudara-saudara, para pengamat asing menempatkan negeri kita sebagai negeri
yang paling korup nomer sekian. Itu jangan dianggap memalukan, tapi harus
disikapi sebagai potensi yang harus disyukuri dan dianggap sebagai peluang.
 

Tak banyak negara yang mampu mengembangkan korupsi begitu hebat hingga
semakin canggih seperti negeri kita. Oleh sebab itu saudara-saudara, kita
akan menjadikan korupsi sebagai ekspor andalan kita. Ekspor andalan
saudara-saudara... uhuk-uhuk-uhuk...," teriak Tengul kemudian terhenti
karena terbatuk-batuk. Seorang asistennya datang memberinya air putih
segelas.
 

".... kemudian kita buka konsultasi mengenai teknik-teknik berkorupsi dan
kita masyarakatkan ke dalam dan ke luar negeri. Nantinya akan ada semacam
buku Panduan Dasar untuk Berkorupsi. Untuk tahap pertama kita minta
pengakuan agar korupsi merupakan keterampilan dasar yang perlu dikembangkan.
Bila seluruh komponen bangsa lebih serius lagi, korupsi mudah-mudahan
menjadi ilmu terapan yang memiliki metode dan sistematikanya sendiri. Itu
sudah di depan mata kita semua, cuma ya itulah tadi, belum ada pengakuan
terbuka. Yang jelas, kegiatan korupsi sekarang ini sudah membentuk satu
siklus ekonominya sendiri sehingga cita-cita kita tadi tidak muluk-muluk.
 

Kita harus tetap yakin mengenai hal itu, janganlah ragu sedikit pun."
Disebutkannya, investor asing enggan masuk ke Indonesia karena korupsi itu.
Tapi Tengul dengan berapi-api membela bahwa ekonomi kita berputar antara
lain dibiayai pakai uang hasil korupsian itu, yang beredar diam-diam dan
meningkatkan daya beli rakyat!
 

"Dulu, sebelum kedatangan tenaga kerja dari negeri kita, polisi-polisi
Malaysia sangat berdisiplin tinggi. Kini setelah bergaul dengan orang
Indonesia, mereka mulai tahu apa namanya korupsi itu," Tengul nekat
menjelaskan.
 

"Pak, peneliti asing menilai Indonesia harus dihindari untuk investasi
karena sangat korup, biaya silumannya banyak, premannya tak terkira-kira.
Bukankah penggalakan korupsi nanti justru akan mencegah investasi asing
masuk ke sini?" seorang wartawan mengetes keteguhan Tengul.
 

"Begini, Bung. Investor asing itu hipokrit, munafik. Ketika pemodal asing
berjejal-jejal masuk ke negeri kita di masa awal Orde Baru dulu, mereka itu
main sogok sana sogok sini, tahu enggak? Jadi kita diajari teknik dagang
yang seperti itu. Sekarang ketika kemampuan kita meningkat pesat, mereka
justru menuding kita negeri korup. Apa itu adil?"
"Bagaimana dengan daya saing produk kita, karena cost-nya jelas akan lebih
tinggi?" serbu wartawan lainnya.
 

"Begini kawan, pengusaha luar itu juga licik-licik. Praktik suap dan korupsi
juga mereka lakukan, tapi mereka lantas menimbang-nimbang negeri mana yang
korupsinya lebih kecil itu yang dicari. Mau cari yang bersih?
Imposibeeeeelll....imposibeeeeeelll."
 

"Lantas apa sih upaya Komite Anda untuk itu?" lanjut si wartawan.
"Kita akan menuntut suatu konvensi internasional mengenai korupsi. Kita
tentukan berapa uang siluman yang pantas, dan masukkan semuanya dalam biaya
produksi. Maka dari itu, kami akan mengadakan pendekatan kepada
negara-negara yang dinyatakan bersih untuk mengadopsi korupsi. Jadi kita
globalkan korupsi ini, yang penting jelas aturan mainnya hingga semuanya
berjalan fair. Kira-kira seperti itu idenya."
 

"Untuk tingkat regional," lanjut si Tengul, "kita dekati negara-negara
tetangga kita. Ada lho, negara tetangga yang dinyatakan bersih korupsi, tapi
mereka mampu menyimpan koruptor di sana asal bawa uang. Itu korupsi
supercanggih namanya dan sudah berskala global-regional."
"Pak, bukankah menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum itu juga bisa
dituntut?" kejar seorang jurnalis lainnya.
 

"Tidak masalah kok dik, kalau pun kita di bui karena penyebaran ide yang
sebenarnya sudah kita jiwai dan kita praktikkan ramai-ramai, apa boleh buat.
Departemen Kehakiman dan HAM sudah memperbaiki rutan Cipinang begitu bagus,
dan kabarnya rutan-rutan lainnya di seluruh negeri akan segera menyusul
berturut-turut. Itu bagus, langkah antisipasif yang jitu namanya."

******
Upaya tulus si Tengul dan kawan-kawannya tentu saja mendapatkan reaksi keras
dari sana-sini. Itu sudah bukan hal aneh baginya, sudah diperhitungkan
masak-masak. Suatu kali rumahnya didatangi oleh segerombolan orang berbadan
tegap-tegap dan berambut cepak, lain hari datang pula beberapa pria berambut
gondrong. Juga ada sejumlah pria berdasi dan bermobil mewah datang padanya.
Tak ketinggalan sejumlah pria bermartabat yang mengenakan hem safari datang
diam-diam mengendarai sedan hitam-hitam dengan tiang bendera kecil di bagian
bemper depan. Apa urusan mereka itu semua dengan Tengul, tidak ada yang
tahu-menahu.....
Perkembangan selanjutnya, lama tak terdengar berita mengenai Komite
Penggalakan Korupsi ini. Tapi belum lagi seminggu yang lalu, ada berita
mengenai ditemukannya sesosok mayat di tepi Kali Ciliwung. Mayat seorang
pria ceking. Jenasah itu telah diotopsi, hasilnya menyebutkan bahwa si pria
tewas dicekik. Berdasarkan KTP yang ada di dompetnya, ia diketahui bernama
Prof Dr Drs Ir Tengul SH, MM, MBA. Mayatnya diserahkan kepada keluarganya.
Sayang sekali keluarganya tidak mau menerima hasil otopsi itu lalu minta
diotopsi ulang di kampung halamannya. Hasilnya, Tengul tewas karena obat
terlarang. Tapi dokter tak mampu menyebutkan obat apa yang telah dipakainya,
karena setibanya di tempat kelahirannya, wajah si mayat telah berubah
menjadi tersenyum seperti orang yang sedang lega hatinya, atau barangkali
lebih mirip seperti orang yang kegelian digelitiki pinggangnya.*


Keterangan:
(1) Kethek ditulup = monyet disumpit. Ungkapan dalam Bahasa Jawa guna
menggambarkan orang yang sedang mengalami kebingungan.
(2) Sampeyan = Anda
(3) Ngacung = mengangkat tangan, terutama untuk pemungutan suara.


Copyright � Sinar Harapan 2003






Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher

Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED]
                       
Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke