|
----- Original Message -----
From: Lenny Lotus
Sent: Thursday, June 02, 2005 3:41 AM
Subject: [Indocommunity] Pertanyaan Anak Jangan
Dihindari Media Indonesia Online - Minggu, 29 Mei 2005
Pertanyaan Anak Jangan Dihindari
''MAMA, kok burung ade kecil ya, tidak seperti punya papa? Kok lelaki itu harus disunat?'' kata Verrel, 9, kepada Vena Melinda. Pertanyaan yang sepele tapi nyatanya membuat artis ini terkejut bukan kepalang. "Waktu itu saya menjelaskan bahwa semakin besar usia kita maka penis laki-laki juga semakin besar, oleh karena itu perlu disunat karena untuk kesehatan," kata Vena di Jakarta, Rabu (25/5). Eni pun jengah ketika Anggra, 5, bertanya mengenai kelaminnya. Saat itu Anggra bertanya kenapa 'anunya' semakin besar berbarengan dengan bertambahnya usia. Menurut Eni, dirinya menjelaskan bahwa makin besar usia kita maka alat kelamin juga ikut membesar. Kemudian Anggra menjawab, "Berarti kalo Anggra besar juga ikut besar dong mah penisnya?" Eni makin terkejut dan terpaksa menjawab seadanya, ''Jika semakin besar maka perlu disunat agar tidak besar.'' Bukan cuma Vena dan Eni yang kerap menghadapi pertanyaan-pertanyaan 'sepele' yang mengarah pada masalah reproduksi. Ada banyak pertanyaan lainnya yang kadang harus mendapatkan jawaban memuaskan. Rizqi, 11, misalnya, membuat Utami pontang-panting mencari jawaban bagi buah hatinya itu. Sebab, pertanyaan kritis putranya menyangkut kepada hal yang abstrak. "Dulu dia tanya orang mati itu dibawa ke mana? Kemudian saya jawab ke alam baka. Dan dia tanya lagi, alam baka itu seperti apa?" cerita Utami. Ketika dirinya tidak sempat memberikan jawaban memuaskan, maka dia mengalihkan jawaban Rizqi kepada om-nya. Mengatasi pertanyaan-pertanyaan kritis itu, Vena berupaya memberikan jawaban yang ilmiah dan jelas, namun disesuaikan dengan usia Verrel. Hanya saja, sikap kritis anak tidak terlepas dari peran Vena yang selalu bersikap demokratis. Bahkan dia melatih Verrel dan adiknya, Athalla, untuk selalu kritis. Sedangkan Utami menjelaskan sejak usia 5 tahun, Rizqi sudah bersikap kritis. Rizqi yang sejak usia tiga tahun sudah pandai membaca itu, menurut Utami, kerap bersikap dewasa. Agaknya pengalaman hidup yang membuatnya demikian. "Saya itu dengan ayahnya Rizqi sudah bercerai sejak usia Rizqi 6 tahun. Dan, dia mengerti beban berat yang saat itu saya tanggung," ungkap Utami. ''Kadang Rizqi suka menasihati dan memberi masukan. Bahkan kini Rizqi menjadi anak sekaligus teman.'' Vena dan Utami sependapat kalau pendidikan di sekolah ikut memberikan andil besar pada kekritisan seorang anak. Verrel yang kini duduk di kelas 3 SD memang sengaja ditempatkan pada sekolah yang sifat mengajarnya dua arah. Artinya, sekolah itu juga berperan penting. "Di sekolah Verrel sekarang, konsep belajarnya itu demokratis dan dia sangat enjoy sekali. Karena bisa mengkritik jika ada yang salah," tuturnya. Sedangkan Utami sempat merasa jengkel ketika Rizqi tidak enjoy ketika SD. Anaknya terbilang kritis, tapi dukungan sekolah tidak membuat kekritisannya itu berkembang. "Sekolah Rizqi yang dulu membuatnya tertekan, sikap kritisnya tidak didukung oleh guru pengajarnya," paparnya. Utami mencontohkan ketika Riqzi bertanya mengenai perkalian nol dikali nol. Rizqi menjawab hasilnya nol, tapi sang guru malah menyalahkan dan menjawab hasilnya itu bisa satu ya bisa nol. Hal ini kemudian membuatnya sangat marah dan jengkel. ''Bagaimana tidak, jawaban yang benar kenapa harus disalahkan,'' ungkap Utami. Sikap kritis anak kadang memerlukan jawaban pengalihan bila dirasa jawaban sebenarnya menimbulkan rasa penasaran. Menurut psikolog Indun L Setiono, sikap pengalihan tadi adalah sebagai suatu strategi untuk mengatasi anaknya menjadi tidak penasaran. Hal yang ditakutkan adalah ketika si anak menjadi tidak puas malah mencari jawaban di luar rumah. "Jika tidak mampu menjawab tidak ada salahnya untuk mengalihkan, karena jika berbohong pun anak juga akan mengetahui dari instingnya. Yang penting jangan hindari pertanyaannya," ujar Indun. Senada dengan Indun, psikolog Septiana Runikasari juga menilai perlunya penjelasan disesuaikan dengan usia si anak. Menurutnya, ketika anak bertanya tentang alat kelaminnya, orang tua bisa saja menganalogikan dengan benda lain. Misalnya kelamin pria digambarkan seperti daun, dan kelamin wanita digambarkan seperti bunga. "Menjelaskan dalam kalimat yang santun itu perlu, agar tidak terkesan jorok dan porno," ungkap Septi.(*/M-4).
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED] Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk Yahoo! Groups Links
|
