|
----- Original Message -----
From: Lenny Lotus
Sent: Thursday, June 02, 2005 3:44 AM
Subject: [Indocommunity] Mereka Bertanya karena Ingin
Tahu
Media Indonesia Online - Minggu, 29 Mei 2005
Mereka Bertanya karena Ingin Tahu
SIKAP kritis yang timbul dalam diri seorang anak, sebenarnya bukan hal yang aneh. Termasuk ketika mereka bersikap seperti orang dewasa. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana orang tua menyikapi pernyataan dan pertanyaan mereka. Sesungguhnya sikap kritis anak dapat diarahkan. Menurut psikolog Septiana Runikasari, berpikir kritis pada anak-anak merupakan satu bagian kognisi mereka, di mana rasa ingin tahunya sangat besar. Fase tersebut bisanya dimulai pada usia 3-4 tahun, di mana perkembangan kognisi akan memunculkan sikap kritis. Maka, tidak jarang pertanyaan-pertanyaan mereka membuat orang tua panik karena tidak mampu menjawab. "Banyak anak yang bertanya secara kritis dan membuat para orang tua kewalahan. Terkadang orang tua justru menjawab dengan berbohong," tutur Septiana di Jakarta, Rabu (25/5) lalu. Kolega Septiana, Indun L Setiono pun menambahkan dalam fase usia tersebut seorang anak sedang senang-senangnya mencari informasi. Ketika menginjak usia 8 tahun sikap anak biasanya inditatif atau menurun. Dia akan mengikuti kebiasaan atau lingkungan yang mengelilinginya. Apabila sang ibu ada di lingkungan kedokteran, pasti tidak jauh si anak juga akan bertanya seputar ilmu kedokteran. Dalam hal ini, tambah Septi, sikap kritis pada anak bisa saja terjadi secara alamiah atau faktor lingkungan yang mengondisikan demikian. Sikap kritis yang terjadi alamiah bisa dipicu oleh faktor herediter atau faktor bawaan, yang memang menurun pada saat orang tuanya masih anak-anak. "Mungkin saja dulu pada saat orang tuanya kecil juga bersikap kritis, hingga bisa saja menurun pada anaknya," jelas Septi. Namun, kemampuan bertanya pada anak-anak biasanya terbentuk karena lingkungan. Jika orang tua memberikan cerita-cerita, atau membicarakan pengalamannya, "Hal tersebut akan merangsang anak untuk tahu banyak hal, dan memungkinkan si anak banyak bertanya," kata Septiana. Saat anak mulai dapat berbicara mereka pun bakal mengeksplorasi atas informasi yang diperolehnya. Sehingga, jangan heran kalau kemudian banyak pertanyaan yang muncul. Sedapat mungkin orang tua tidak menghindari memberi jawaban. Kalau toh tidak mungkin dijawab saat itu, maka bisa ditunda atau dialihkan. Masalah pengalihan atau menunda ini, tambah Indun, bisa dibenarkan untuk membuat anak tidak merasa penasaran. ''Jika tidak mampu menjawab tidak ada salahnya untuk mengalihkan, karena jika berbohong pun anak juga akan mengetahui dari instingnya," tutur Indun. Pertanyaan bertubi-tubi bila tidak mendapatkan jawaban dari orang tua, justru akan membuat sang anak frustrasi. Terlebih bila orang tua memiliki kemampuan komunikasi verbal terbatas, maka si anak jadi tidak berkembang. Menganalogikan sesuatu hal yang abstrak dengan benda-benda sekitar kita, amat membantu perkembangan anak. Baik Septiana maupun Indun menyarankan kepada orang tua untuk mengembangkan kemampuan komunikasi verbal, agar ketika muncul pertanyaan-pertanyaan kritis bisa menjawab dengan lugas. (*/M-4) Psikolog yang aktif sebagai konsultan di Lembaga Terapan Psikologi UI ini, menilai peran orang tua yang mendukung penuh atas sikap kritis pada anaknya, akan membangkitkan semangatnya untuk tahu banyak hal. Bisa dimulai dengan menyuruhnya untuk menceritakan pengalaman-pengalaman yang dirasakan selama di sekolahnya. Atau diberikan kesempatan untuk meniru berbagai tokoh yang ada di televisi, misalnya gaya dan karakter orang. "Jika anak diberikan kesempatan itu, maka di dalam kognisinya akan muncul banyak informasi yang dapat merangsang sikap kritisnya," tutur Septi. Septi menjelaskan, dalam merangsang kemampuan kritis pada anak, diperlukan kemampuan orang tuanya termasuk pengetahuan verbal dalam mendeskripsikan sesuatu. Orang tua yang memiliki kognisi bagus biasanya akan memberikan stimulasi, melalui lingkungan yang mendukung sehingga mendorong sikap-sikap kritis pada anak. "Selain faktor Herediter yang dimiliki anak, faktor lingkungan juga perlu untuk mendukung sikap kritisnya," Jelas Septi. Untuk membangun sikap anak untuk menjadi kritis, sebaiknya orang tua memberikan rangsangan atau stimulasi untuk memancing anak bertanya. Psikolog Septiana Runikasari Psi memberikan beberapa cara yang patut dilakukan orang tua dalam menjadikan anaknya kritis. 1. Jangan mematikan kesempatan anak untuk bertanya Usahakan sedapat mungkin menjawab dan menjelaskan pertanyaan si anak. Jika sudah habis kata-kata, tidak ada salahnya untuk menunda dan mencari jawabannya atau mengalihkan kepada om, tante, atau orang yang sekiranya mampu menjawab. 2. Beri kesempatan untuk dia berbagi pengalaman Rangsang anak untuk mau bercerita mengenai pengalaman yang dialaminya, hal ini akan merangsang rasa kritisnya melalui pertanyaan yang dilontarkan. 3. Berikan kesempatan untuk mengekspresikan minatnya Misalnya anak yang memiliki minat bernyanyi, menggambar, menari atau apa pun untuk merangsang dia berekspresi, tidak ada salahnya orang tua mau memfasilitasi atau mendukung minatnya 4. Mempertajam minatnya Melalui minatnya tadi, pertajam informasi dan mulai arahkan anak pada hal-hal yang sifatnya baik. Saat sudah mengenal baik dan buruk, ada kalanya orang tua memberikan masukan mengenai baik dan buruk dari minat tadi. Masih menurut Septi, jika si anak melontarkan terus bentuk pertanyaannya secara bertubi-tubi, kemudian orang tua tidak mampu menjawab maka bisa saja anak menjadi frustrasi. Karena orang tua yang dijadikan sumber informasinya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan saat itu. Hal inilah yang kemudian membuat sikap kritis anak menjadi mati, dan tidak mau lagi bertanya kepada orang tuanya. "Anak akan menjadi malas bertanya, karena dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan," ungkap Septi. Sikap orang tua yang mendukung penuh perkembangan berpikir anak Jika orangtua mengalami kesulitan menjawab, tidak ada salahnya untuk menunda jawaban atau mengalihkannya. "tidak ada salahnya untuk mengalihkan jawaban atas pertayaan yang menyulitkan, bisa saja bertanya kepada orang lain seperti ayahnya, om, tante, atau kakek, neneknya. " tambahny Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki orangtua dan susahnya mendiskripsikan bentuk serta tidak bijaknya dalam memilih jawaban, malah akan membuat anak menjadi tidak kritis. "Faktor lingkungan yang tidak mendukung serta kemampuan verbal pada orangtua yang kurang, biasanya akan menyebabkan anak tidak menjadi kritis lagi," ungkap Septi Seperti pada anak-anak yang standar saja kemampuannya, tidak terlalu kritis bahkan cenderung tidak aktif, sebenarnya adalah faktor lingkungan dan kemampuan verbal orangtuanya untuk mendeskripsikan sesuatu kurang. " "Seperti kasus yang dialami Anggra, saat dirinya sering diceritakan sesuatu yang sifatnya abstarak dalam menggambarkan sesuatu. Sebaiknya kita juga harus memberikan konsep jelas mengenai apa yang kita gambarkan tadi. Seperti menganalogkan dengan permainan agar anak juga jelas. "Pada saat fase perkembangan anak mengenai sikap baik dan buruk, maka jika menggambarkan raksasa misalnya, kita juga harus menjelaskan raksasa itu seperti apa," Kata Septi Sikap tersebut menurut Psikolog sangat tepat. Karena sikap pengalihan tadi adalah sebagai suatu strategi untuk mengatasi anaknya menjadi tidak penasaran. Dan hal yang ditakutkan adalah ketika si anak menjadi tidak puas, malahan akan mencari jawaban diluaran sana yang kita tidak tahu mutu jawabannya. " lebih lanjut jelas Indun, peran orangtua amat penting ketika memperlakukan seorang anak. Arahan atas jawaban yang dilontarkan sebaiknya disesuikan pda usia anak. Seperti yang dilakukan oleh artis Vena melinda, memperlakukan anaknya benar dan bijak. Hal tersebut amat penting agar anak tidak kehilangan masa-masanya. "Penjelasan yang diberikan oleh orangtua sebaiknya disesuaikan dengan usianya, agar tidak berlebihan," jelasnya ramah. Senada dengan Indun, psikolog septiana Runikasari, Psi juga menilai perlunya penjelasan itu disesuaikan dengan usia si anak. Menurutnya ketika anak bertanya tentang alat kelaminya, orangtua bisa saja menganalogkan kelamin tersebut dengan benda lain. Misalnya kelamin pria digambarkan seperti daun, dan kelamin wanita digambarkan seperti bunga. "Menjelaskan dalam kalimat yang santun itu perlu, agar tidak terkesan jorok dan porno," ungkap Septi Sama halnya yang dilakukan Ibu Eni saat anaknya bertanya mengenai kelaminya. Saat itu si anak bertanya kenapa kelaminya semakin besar berbarengan dengan usianya yang besar pula. Menurut ibu Eni, dirinya menjelskan bahwa semakin besar usia kita maka alat kelamin kita juga ikut besar. kemudian si anak menjawab "Berarti kalo anggra besar juga ikut besar dong mah penisnya??". Sangking kagetnya ibu Eni menjawab jika semakin besar maka perlu disunat agar tidak besar, lanjutnya. Anggra anak laki-laki yang masih 5 tahun ini dapat dikatakan kritis, bagaiman tidak terkadang dia juga mempertanyakan hal-hal yang sifatnya abstrak. Seperti saat dia bertanya "Allah itu seperti apa dan ada dimana?". Memang semenjak usia 3 bulan, anak yang kini tengah sekolah TK kecil ini sudah dapat mengenali nada lagu. Menurut sang ibu, saat kita memainkan lagu A dengan gitar dan secara tiba-tiba kita ganti dengan nada lagu B, secara spontan anak ini ngambek dan menangis. Namun ketika dikembalikan lagi ke dana semula (A) dia akan terdiam dan menikmatinya. "Saya sempat kaget, kok ada ya anak yang usianya segitu sudah mengerti nada lagu," kenangnya singkat Bahkan sempat sesekali, lanjut sang ibu, dirinya sering bertanya akan hal-hal yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Dan yang lucunya lagi, kenangnya, saat Anggra bertanya dan terkadang kita memangsang raut muka yang bingung dan panik, maka dia akan mentertawai. "Dia pernah bertanya sama tentenya, dan tantenya tidak bisa menjawab. Anggara langsung tertawa seakan mengejek si tante," katanya sambil tertawa Sikap tersebut menurut Septi wajar, karena biasanya pada anak-anak yang cenderung kritis, juga memiliki sikap manipulatif. Terkadang anak-anak suka memanfaatkan kebodohan orang dewasa. "Memang anak-anak yang cerdas juga punya kecenderungan yang manipulatif, sehingga harus diwaspadai," jelasnya.(Shanty)
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED] Database Warga Wismamas: http://www.wismamas.tk Yahoo! Groups Links
|
