Kematian 

 
Tidak lama setelah kematian Presiden Nasser secara tiba-tiba, delegasi Mesir 
berkunjung ke RRC. Dalam suatu audiensi dengan PM Zhou Enlai, petinggi Cina itu 
menanyakan sebab kematian Nasser. Ketika dijawab bahwa penyebabnya tidak dapat 
dipisahkan dari kehendak Tuhan, Zhou buru-buru menyergah dengan menyatakan, 
''Jangan membawa-bawa Tuhan. Saya jauh lebih tua dan sampai sekarang ini saya 
sehat-sehat. Apalagi sebagai Presiden dia kan mendapatkan pelayanan kesehatan 
yang baik.''

Hasanil Haikal, Menteri Penerangan Mesir pada masa Nasser menulis kisah ini 
dalam suatu biografi pemimpin besar Mesir itu. Zhou sendiri, yang telah 
dipersiapkan oleh Ketua Mao Zedong sebagai penggantinya, meninggal hanya 
beberapa tahun setelah Nasser, yang kemudian memaksa Mao merehabilitir Deng 
Zioping.

Berbeda dengan paham komunisme, Islam memandang bahwa kematian tidaklah berarti 
akhir dari perjalanan manusia, tapi awal dari suatu kehidupan yang kekal di 
akhirat. Alquran mengingatkan kita tentang hari kebangkitan itu dalam ratusan 
ayat dan sekaligus menepis keraguan tentangnya.

Islam berpendapat manusia adalah mahluk yang terdiri dari jiwa dan raga, atau 
badan dan ruh. Badan manusia sendiri senyawa materi dan tunduk pada materi. 
Keberadaannya terbatas pada waktu dan tempat, terpengaruh oleh cuaca - dan 
sebagaimana ditetapkan Allah suatu hari tubuh atau badan inipun hancur dan 
binasa. Tetapi tidak demikian dengan jiwa atau ruh.

Karena itulah Islam menegaskan kematian tidaklah berarti kita berhenti maujud. 
Kematian berarti jiwa manusia - yang tidak dapat musnah - memutuskan ikatannya 
dengaan tubuh jasmani, dan sekalipun badan itu hancur dengan kematian tapi jiwa 
melanjutkan kehidupananya sendiri.

''Dan mereka berkata: Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, 
kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru. Bahkan (sebenarnya) 
mereka ingkar akan menemui Tuhannya''. Katakanlah : ''Malaikat maut yang untuk 
(mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu: kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu 
akan dikembalikan'' (As-Sajdah 10-11). Rasulullah SAW sendiri menyatakan, 
''Kamu tidaklah mati, namun kamu hanya dipindahkan dari satu tempat tinggal 
ketempat tinggal yang lain''.

Berdasarkan ayat itu, Islam memberi jaminan bahwa setelah kita mati dan hidup 
kekal dalam alam barzah - kita akan memperoleh kebahagiaan dan kesenangan 
apabila dalam hidup di dunia ini kita melakukan amal saleh. Tapi sebaliknya 
seseorang yang dalam hidupnya melakukan perbuatan-perbuatan jahat akan 
memperoleh siksa dari Allah.

Jadi, meminjam kata Muhammad Husain Haekal, pengarang sejarah Nabi Muhammad 
SAW, barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah dan melakukan 
perbuatan-perbuatan baik, dengan imannya semacam itu, dia tidak pernah merasa 
takut, termasuk dalam menghadapi kematian. Dan iman semacam inilah yang membuat 
Nabi dan para sahabatnya tidak pernah gentar dalam situasi apa pun. (ah)

<<20080908084455.jpg>>

Kirim email ke