--- Pada Rab, 14/1/09, Danang Tiasmoro <[email protected]> menulis:

Dari: Danang Tiasmoro <[email protected]>
Topik: Trs: [assunnah] Musim Hujan Telah Tiba (1)
Kepada: "malik rosyiid" <[email protected]>, "Fardiman" 
<[email protected]>, "Shely" <[email protected]>, "nugroho susanto" 
<[email protected]>, "sunarso sunarso" <[email protected]>, "agus 
wiyono" <[email protected]>, "arfanie arbi" <[email protected]>, "asep 
hikmat" <[email protected]>, "agha rifqi" <[email protected]>, "amin 
pujiarto" <[email protected]>, "amir hmazah" <[email protected]>, "bayu 
iriawan" <[email protected]>, "envi babon" <[email protected]>, "ida evrida" 
<[email protected]>, "chocki ucok" <[email protected]>, "waluyo hari 
sulistyo" <[email protected]>
Tanggal: Rabu, 14 Januari, 2009, 12:45 PM








--- Pada Rab, 14/1/09, melda syl <[email protected]> menulis:

Dari: melda syl <[email protected]>
Topik: [assunnah] Musim Hujan Telah Tiba (1)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 14 Januari, 2009, 1:25 AM







Musim Hujan Telah Tiba (1)
Kategori: Fiqh dan Muamalah 
Segala puji bagi Allah ta'ala atas segala macam nikmat yang telah 
diberikan-Nya. Dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi 
wa sallam beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Segala puji bagi Allah, pada saat ini Allah telah menganugerahkan kita suatu 
karunia dengan menurunkan hujan melalui kumpulan awan. Allah ta'ala berfirman:
 "Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang 
menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? " (QS. Al Waqi'ah [56]: 68-69)
Begitu juga firman Allah ta'ala:
 "Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah." (QS. An Naba' [78]: 14)
Allah ta'ala juga berfirman:
 "Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya. " (QS. An Nur 
[24]: 43) yaitu dari celah-celah awan. (Lihat Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah, 
24/262, Maktabah Syamilah)
Merupakan tanda kekuasaan Allah ta'ala, kesendirian- Nya dalam menguasai dan 
mengatur alam semesta, Allah menurunkan hujan pada tanah yang tandus yang tidak 
tumbuh tanaman sehingga pada tanah tersebut tumbuhlah tanaman yang indah untuk 
dipandang. Allah ta'ala telah mengatakan yang demikian dalam firman-Nya:
 "Dan di antara tanda-tanda- Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan 
gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan 
subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan 
yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Fushshilat 
[41]: 39)
Itulah hujan, yang Allah turunkan untuk menghidupkan tanah yang mati. 
Sebagaimana pembaca dapat melihat pada daerah yang kering dan jarang sekali 
dijumpai air seperti Gunung Kidul, tatkala hujan itu turun, datanglah 
keberkahan dengan mekarnya kembali berbagai tanaman dan pohon jati kembali 
hidup setelah sebelumnya kering tanpa daun. Sungguh ini adalah suatu kenikmatan 
yang amat besar.
Sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat hujan yang telah diberikan ini, 
sebaiknya kita mengilmui beberapa hal seputar musim hujan. Semoga dari tulisan 
yang singkat ini, pembaca dapat menggali ilmu yang bermanfaat di dalamnya. 
Silakan menyimak!
ADAB KETIKA HUJAN
Turunnya Hujan, Salah Satu Waktu Terkabulnya Do'a
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342 mengatakan, "Dianjurkan untuk berdo'a 
ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi 
wa sallam bersabda,
 "Carilah do'a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] 
Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun." (Dikeluarkan oleh 
Imam Syafi'i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma'rifah dari Makhul secara 
mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shohihul 
Jami')
Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa'd, beliau berkata bahwa Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 "Dua orang yang tidak ditolak do'anya adalah: [1] ketika adzan dan [2] ketika 
rapatnya barisan pada saat perang." Dalam riwayat lain disebutkan, "Dan ketika 
hujan turun." (HR. Abu Daud dan Ad Darimi, namun Ad Darimi tidak menyebut, "Dan 
ketika hujan turun." Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul 
Mashobih)
Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan
Apabila Allah memberi nikmat dengan diturunkannya hujan, dianjurkan bagi 
seorang muslim untuk membaca do'a,
"Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat."
Itulah yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat hujan 
turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu 
'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala melihat hujan turun, 
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan 'Allahumma shoyyiban nafi'an'. 
(HR. Bukhari, Ahmad, dan An Nasai). Yang dimaksud shoyyiban adalah hujan. 
(Lihat Al Jami' Liahkamish Sholah, 3/113, Maktabah Syamilah dan Zaadul Ma'ad, 
I/439, Maktabah Syamilah)
Tatkala Terjadi Hujan Lebat
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. 
Kemudian tatkala hujan turun begitu lebatnya, Nabi shallallahu 'alaihi wa 
sallam berdo'a,
 "Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya 
Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut 
lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan." (HR. Bukhari no. 1013 dan 1014). Oleh 
karena itu, saat turun hujan lebat sehingga ditakutkan membahayakan manusia, 
dianjurkan untuk membaca do'a di atas. (Lihat Al Jami' Liahkamish Sholah, 
3/114, Maktabah Syamilah)
Mengambil Berkah dari Air Hujan
Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi 
wa sallam pernah kehujanan. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam 
menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, 'Ya 
Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?' Kemudian Rasulullah shallallahu 
'alaihi wa sallam bersabda,
 "Karena dia baru saja Allah ciptakan." (HR. Muslim no. 2120)
An Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/195, makna hadits ini adalah bahwasanya hujan 
itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah ta'ala, maka Nabi 
shallallahu 'alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan 
tersebut. Kemudian An Nawawi mengatakan, "Dalam hadits ini terdapat dalil bagi 
ulama syafi'iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain 
aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut. Dan mereka 
juga berdalil bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan, apabila melihat 
orang yang lebih mulia melakukan sesuatu yang dia tidak ketahui, hendaknya dia 
menanyakan untuk diajari lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya pada yang 
lain." (Lihat Syarh Nawawi 'ala Muslim, 6/195, Maktabah Syamilah)
Dianjurkan Berwudhu dari Air Hujan
Dianjurkan untuk berwudhu dari air hujan apabila airnya mengalir deras (Lihat 
Al Mughni, 4/343, Maktabah Syamilah). Dari Yazid bin Al Hadi, apabila air yang 
deras mengalir, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan,
 "Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah 
sebagai alat untuk bersuci." Kemudian kami bersuci dengan air tersebut dan 
memuji Allah atas nikmat ini." (Lihat Zaadul Ma'ad, I/439, Maktabah Syamilah)
Namun, hadits di atas munqothi' (terputus sanadnya) sebagaimana dikatakan oleh 
Al Baihaqi (Lihat Irwa'ul Gholil). Hadits yang serupa adalah,
 "Apabila air mengalir di lembah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam 
mengatakan,' Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan 
oleh Allah sebagai alat untuk bersuci', kemudian kami bersuci dengannya." (HR. 
Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad. Lihat Irwa'ul Gholil)
Do'a Setelah Turunnya Hujan
Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan 
shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam 
harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama'ah shalat, lalu 
mengatakan, "Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?" Kemudian 
mereka mengatakan, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui". Kemudian 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 "Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang 
kafir. Siapa yang mengatakan 'Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih' (Kita diberi 
hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan 
kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan 'Muthirna binnau 
kadza wa kadza' (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka 
dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang. " (HR. Muslim no. 
240)
Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan 'Muthirna bi fadhlillahi wa 
rohmatih' setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang 
diberikan.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, "Tidak boleh 
bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab bintang-bintang. Hal 
ini bisa termasuk kufur akbar yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, 
jika meyakini bahwa bintang tersebut adalah yang menciptakan hujan. Namun kalau 
menganggap bintang tersebut hanya sebagai sebab, maka seperti ini termasuk 
kufur ashgor (kufur yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam). 
Ingatlah bahwa bintang tidak memberikan pengaruh terjadinya hujan. Bintang 
hanya sekedar waktu semata." (Kutub wa Rosa'il Lil 'Utsaimin, 170/20, Maktabah 
Syamilah)
Janganlah Mencela Hujan
Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan 
merupakan kenikmatan dari Allah ta'ala. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu 
aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan dari seorang muslim seperti 'Aduh!! 
hujan lagi, hujan lagi'. Sungguh, kata-kata seperti ini tidak ada manfaatnya 
sama sekali, dan tentu saja akan masuk dalam catatan amal yang jelek karena 
Allah berfirman:
 "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat 
pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf [50]: 18)
Bahkan kata-kata seperti ini bisa termasuk kesyirikan sebagaimana seseorang 
mencela makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa seperti masa (waktu). Hal ini 
dapat dilihat pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah Ta'ala 
berfirman, 'Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku 
adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi 
silih berganti.' " (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam juga bersabda, "Janganlah kamu mencaci maki angin." (HR. Tirmidzi, 
beliau mengatakan hasan shohih)
Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk 
lain yang tidak dapat berbuat apa-apa, termasuk juga hujan adalah terlarang. 
Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang 
dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang 
jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut 
yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta 
selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan 
makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka 
seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang 
dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan, 'Hari ini hujan 
deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat'-, tanpa ada 
tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa. (Lihat Mutiara 
Faedah Kitab Tauhid, 227-231)
Perhatikanlah hal ini! Semoga Allah selalu menjaga kita, agar lisan ini banyak 
bersyukur kepada-Nya atas karunia hujan ini, dan semoga Allah melindungi kita 
dari banyak mencela.
MENGENAI GUNTUR/PETIR DAN KILAT
Ar Ra'du (petir) adalah suara yang didengar dari awan. Sedangkan Ash Showa'iq 
(kilat) adalah api (cahaya) yang muncul dari langit bersamaan dengan suara 
petir yang keras. (Rosysyul Barod, 381, Darud Da'i Linnashri wat Tawzii')
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Dalam hadits marfu' (sampai kepada 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, pen) pada riwayat At Tirmidzi dan 
selainnya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang petir, lalu 
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
 "Petir adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak 
dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah."
Begitu juga ketika Ali ditanya, sebagaimana dikatakan Al Khoroithi dalam 
Makarimil Akhlaq. Beliau radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Petir adalah malaikat, 
dan suaranya itu adalah pengoyak di tangannya." Dan dalam riwayat lain dari Ali 
juga, "Suaranya itu adalah pengoyak dari besi di tangannya."
Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan lagi, "Ar ro'du adalah 
mashdar (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata ro'ada, yar'udu, ro'dan 
(yang berarti gemuruh, pen). … Namanya gerakan pasti menimbulkan suara. 
Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu memindahkan dari 
satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam ini baik yang di atas 
(langit, pen) maupun di bawah (bumi, pen) adalah dari malaikat. Suara manusia 
dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah, dan dan tenggorokan. Dari 
situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabbnya, bisa mengajak kepada kebaikan dan 
melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu, guntur adalah suara yang membentak 
awan. Dan kilat adalah kilauan air atau kilauan cahaya… " (Lihat Majmu' Fatawa 
Ibnu Taimiyyah, 24/263-264)
Ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 19, As Suyuthi mengatakan bahwa petir 
(Ar Ra'du) adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang 
berpendapat bahwa petir adalah suara malaikat. Sedangkan kilat (barq) adalah 
kilatan cahaya dari cambuk malaikat tersebut untuk menggiring mendung (Tafsir 
Jalalain dengan Hasyiyah ash Showi 1/31, ed).
Do'a Ketika Mendengar Petir
Dari 'Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma tatkala 
mendengar suara petir, beliau mengucapkan,
 'Subhanalladzi sabbahat lahu' (Maha suci Allah yang petir bertasbih 
kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan, "Sesungguhnya petir adalah malaikat yang 
meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak 
membentak hewannya." (Lihat Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al 
Albani)
Apabila Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, 
kemudian mengucapkan,
 'Subhanalladzi yusabbihur ro'du bihamdihi wal malaikatu min khiifatih' 
(Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena 
rasa takut kepada-Nya).
Kemudian beliau mengatakan,
 "Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri." (Lihat Adabul 
Mufrod no. 723, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)
-bersambung insya Allah-
***
Penyusun: Abu Isma'il Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja'ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or. id 














Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!


      Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! 
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke