Bung Pedje,
   
  Saya sepakat dengan apa yang Anda kemukakan.
   
  Tentu metodologi bukan segalanya, karena tanpa data dan fakta yang memadai 
metodologi tak berarti apa-apa, begitu pula sebaliknya. Namun yang lebih 
penting adalah morality dan ability sejarawan untuk membaca semua gejala yang 
ada pada masa lalu yang tersampaikan melalui sumber-sumber sejarah. Tanpa hal 
yang terakhir ini, metodologi dan fakta sejarah takkan berarti apa2. Oleh 
karenanya pada masa lalu, banyak sejarawan "yes man" karen mereka hanya punya 
metodologi dan sumber sejarah saja, morality dan ability-nya rada ngagoleong 
alias rada lalieur...
   
  Sebetulnya masih banyak lagi hal yang bisa didiskusikan mengenai ini. Nanti 
saya akan kemukakan lebih lanjut. Malam ini saya terkena flu, dan kurang mood 
untuk menulis.
   
  Bung Pedje, ayo diskusi lagi.
   
  Thanks,
   
  Bonnie

Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Kang Boni, terima kasih atas penjelasannya. Saya jadi
mafhum bahwa memang tak ada yang mutlak-mutlakan di
dunia ini, termasuk dalam ilmu pengetahuan, bahkan
dalam cabang ilmu pengetahuan eksakta
sekalipun--itulah sebab ada istilah 'toleransi',
'anomali', dan sejenisnya di sana. Apalagi, kita sama
tahu, dengan pencapaian manusia yang sudah terbilang
sangat hebat sekarang ini saja, diduga, rahasia alam
yang terkuak baru sekitar satu persen. Jadi, masih ada
99 persen yang belum terkuak--padahal kata Dedy
Mizwar, kiamat sudah dekat, hehehe....

Saya menjadi mengerti bahwa metodologi begitu memegang
peran penting dalam ilmu sejarah. Tapi, hemat saya,
metodologi agaknya bukanlah segala-galanya dalam ilmu
sejarah--dan mungkin juga bagi ilmu-ilmu lain. Karena,
biar bagaimanapun, metodologi hanyalah 'alat bantu'
bagi sejarawan untuk 'menafsir' data sejarah, sebelum
melakukan rekonstruksi dan penulisan sejarah. Maksud
saya, metodologi itu tidak akan banyak membantu dalam
mencapai obyektivitas penulisan sejarah kalau
sejarawannya sendiri 'tumpul', tak punya kepekaan dan
kemampuan dalam menghayati data sejarah yang
ada--apalagi bila si sejarawan hanya punya sedikit
integritas dan keberanian. Mungkin itulah sebabnya ada
yang sinis mengatakan 'sejarah itu milik penguasa'
atau 'sejarah itu hanya milik pemenang'. 

Saya kira, kecenderungan lain bagi yang terlalu
mementingkan metodologi, ia hanya fasih mengurai
metodologi dan beragam aliran teori yang ada di
belakang metodologi itu dan menjadi kurang berdaya
menggunakan pemikirannya sendiri ketika berhadapan
dengan data sejarah yang kurang lengkap dan
carut-marut. Sejarawan itu akhirnya terperosok menjadi
sekadar sebagai 'tukang kutip pendapat dan pemikiran
orang lain'. Sejarawan semacam ini menjadi gagap
ketika harus memahami 'keseluruhan' lewat
'bagian-bagian', yang mungkin tampak tak berhubungan
satu sama lain. Bisa saja kemudian sang sejarawan
memaksakan metodologinya dalam melihat data-data
sejarah. 

Ah, mudah-mudahan saya keliru.

Salam,

Pedje

p.s.: Buat Kang Ucu, sebaiknya Akang cari tahu
sendirilah soal komunis itu atheis atau enggak. Kan
bisa dicari lewat search engine. Atau, kalau saya
sempat nyari dan nemu, nanti saya posting ke milis
ini. Tapi, penting gak sih mengetahui seseorang itu
percaya Tuhan atau enggak? Kan kita sendiri tahu,
banyak orang yang mengaku yakin dengan adanya Tuhan
tapi kelakuannya kayak setan. Ada yang namanya pakai
nama dua nabi, eh, kelakuannya dua setan. Hehehe....
Bukankah yang paling baik di antara kita (makhluk
Tuhan, bagi yang percaya) adalah orang yang paling
banyak mendatangkan manfaat bagi orang lain dan
lingkungannya?    


--- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bung Pedje yang budiman,
>    
>   Baiklah, saya akan jawab pertanyaan cerdas Anda.
> Semoga jawaban saya, walaupun tanpa “obat kuat,”
> akan memuaskan Anda...hehehehe
>    
>   Benar kata Anda, bahwa sejarawan di dalam kerjanya
> dipengaruhi oleh unsur subyektivitasnya. Dan tidak
> ada karya sejarah yang tidak subyektif, tidak ada
> juga karya sejarah yang sepenuhnya obyektif. Tapi
> sebagai sejarawan, sebisa mungkin saya harus
> mengupayakan obyektivitas melalui serangkaian
> metodologi yang membimbing proses rekonstruksi
> sejarah.
>    
>   Collingwood, bapak sejarah modern mengatakan bahwa
> sejarawan harus merujuk kepada metodologi sejarah
> untuk menjaga agar unsur subyektivitasnya tidak
> terlalu kebablasan.
>    
>   Sejarawan, sebagai manusia biasa, at least
> dipengaruhi oleh personal bias (kecendrungan sikap
> pribadi/emosional), latar belakang budaya, konflik
> teori dan ideologi serta aliran politik. 
>    
>   Nah, lalu bagaimana bisa mendekati obyektifitas
> kalau beberapa hal itu mempengaruhi sejarawan?
> Karena toh langkah awal penelitian, alasan pemilihan
> tema penelitian atau bahkan memilih judulpun adalah
> subyektif. Di dalam sejarah dikenal 4 langkah
> metodologi sejarah, yakni heuristik (pengumpulan
> bahan), kritik sumber (internal dan eksternal),
> sintesis (atau bisa juga disebut intepretasi), dan
> terakhir historiografi (penulisan sejarah)
>    
>   Langkah kedua dalam metodologi sejarahlah yang
> amat menentukan subyektif atau tidaknya sebuah karya
> sejarah. Kritik sumber itu mutlak diperlukan untuk
> melihat sejauh mana validitas bahan2 sejarah, siapa
> yang menulis, dari zaman apa bahan2 itu datang,
> apakah jenis kertas sumber sejarah sesuai dengan
> zaman di mana sumber itu ditulis, bagaimana latar
> belakang penulisnya, dsb..dsb...
>    
>   Jika kita tidak hati2 dalam memilih bahan, bisa
> dipastikan sejarah yang ditulis akan subyektif.
> Bagaimana bisa? Semisal begini, taruhlah buku
> sejarah pemberontakan tukang becak di Banten yang
> ditulis oleh seorang sejarawan bernama Udin Petot,
> di dalam daftar kepustakaannya mayoritas sumber
> sejarah yang digunakan berasal dari kepolisian saja.
> Bagaimana mau disebut obyektif jika sumbernya hanya
> dari satu sisi. Kalau mau obyektif ya datangi juga
> tukang becak yang berontak, wawancarai dan jadikan
> sumber tambahan. Atau kalau memang pemberontakan itu
> sudah lama terjadi, dan pelakunya sudah meninggal
> semua, gunakan sumber pembanding lainnya, semisal
> dari arsip koran-koran yang memuat peristiwa
> tersebut.
>    
>   Kalau hanya menggunakan sumber kepolisian saja
> misalnya, pasti polisi menyebut peristiwa itu
> sebagai peristiwa pemberontakan tukang becak yang
> mengganggu keamanan, mengganggu stabilitas, makar
> dll...dll.. padahal belum tentu demikian
> kejadiannya. Oleh karena itu diperlukan sudut
> pandang lain sehingga peristiwa sejarah lebih tampak
> mencerminkan apa yang terjadi. 
>    
>   Jika si Udin Petot dalam rekonstruksinya semakin
> banyak menggunakan sumber sejarah dari berbagai
> sisi, maka paling tidak sejarah yang ia tulis lebih
> baik daripada sejarah yang hanya menyandarkan pada
> satu jenis dokumen saja.
>   Oleh karenanya metodologi sejarah amat diperlukan
> sebagai koridor yang membimbing sejarawan melakukan
> pekerjaannya.
>    
>   Dengan kata lain mah metodologi tea sama dengan
> petunjuk penggunaan obat. Kalau tidak ada
> petunjuknya maka bisa jadi obat yang harusnya
> diminum 1x sehari malah diminum 3x sehari, atuh pan
> bisa mabok nyah...
>    
>   Nah, pada era tahun 1970-an muncul pemikiran
> posmodernisme yang dipelopori oleh Jean Francois
> Lyotard. Jacques Derrida, penganut paham posmo
> meragukan obyektifitas dalam ilmu sejarah. Bagaimana
> bisa sejarah dikatakan sebagai ilmu pengetahuan
> kalau kejadiannya saja sudah berlangsung jauh di
> belakang, dan bagaimana mau obyektif kalau obyeknya
> saja sudah tidak bisa disaksikan lagi. Dia juga
> meragukan validitas teks sumber sejarah, karena
> menurutnya penulis (arsip sejarah) bisa
> menyembunyikan atau bahkan menutup-nutupi kebenaran
> yang seharusnya dia tulis. Menurut dia juga bahwa
> makna kata tidaklah stabil. Dan sejarah, sebagai
> ilmu yang mengandalkan teks tertulis tentu amat
> sulit mendapatkan kebenaran dari masa lalu jika teks
> tertulis yang dijadikan sandaran mengandung
> ketidakstabilan.
>    
>   Semisal begini, ini misalnya lho...,di dalam arsip
> sejarah (dari buku harian seorang Tionghoa) yang
> ditulis pada tahun 1912 menyebutkan:
>    
>   “Pada peristiwa kerusuhan anti Cina di Kudus, Jawa
> Tengah, telah terbakar 5 ribu rumah dan 700 orang
> tewas.”
>    
>   Kalau merujuk pendapat Derrida hal seperti di atas
> adalah satu bentuk ketidakstabilan. Mengapa? Karena
> di dalam sumber tersebut tidak dikatakan rumah yang
> terbakar itu rumah jenisnya apa, milik siapa, milik
> Cina atau orang Jawa? Korbannya itu siapa saja,
> orang Cina atau Jawa? Apakah mungkin si Tionghoa
> yang menulis itu tidak membesar2kan kejadiannya? 
>    
>   Kalau tidak ada sumber pembading tentunya kita
> akan menganggap bahwa 5 ribu rumah dan 700 nyawa itu
> datang dari pihak Cina saja, padahal bisa jadi
> kejadiannya tidak demikian. Oleh karenanya menurut
> Derrida sejarah itu bullshitt, omong kosong dan
> tidak mungkin mencapai obyektifitas. 
>    
>   Namun tidak demikian bagi sejarawan. Bagi
> sejarawan yang terpenting adalah faktanya: bahwa di
> Kudus pada tahun 1912 ada kerusuhan anti  Cina.
> Kalau memang informasi dari sumber itu tidak
> mengatakan rumah siapa yang dibakar atau siapa yang
> tewas, maka fakta yang berdiri dari sumber itu
> adalah: ada korban jiwa dan harta di peristiwa
> tersebut. Paling tidak sejarawan mempunyai
> keleluasaan untuk mengatakan bahwa peristiwa ini
> adalah peristiwa kerusuhan Cina yang cukup serius,
> dimana di dalam peristiwa itu ada pembakaran dan
> pembunuhan manusia.
>    
>   Untuk kepentingan penulisan sejarah maka sejarawan
> wajib menguji silang kebenarannya melalui dokumen
> lain, semisal dokumen pemerintah kolonial, apakah
> benar di tahun itu ada kerusuhan? Nah perkara
> besarnya korban harta dan jiwa adalah turunan dari
> peristiwa itu, dan sejarawan akan menggunakan hal
> tersebut untuk mengukur skala besar atau kecilnya
> kejadian itu. 
>    
>   Pada intinya, sejarawan pasti dipengaruhi oleh
> subyektifitasnya. Namun melalui metodologi sejarah
> subyektifitas sejarawan memungkinkan untuk
> diminimalisir.
>   Demikian Kang Pedje, semoga jawaban saya tidak
> memuaskan Anda. Supaya diskusi ini terus berlanjut.
> Punteng penjelasannya agak centang perenang, maklum
> bae lah...tanggal kolot, rada lalanjung
> sirah...heheheh...
>    
>   Ngomong2 kamana tah si Sony budak UGM tea. Sony,
> ayo ramaikan diskusi sejarah ini dengan pembahasan
> filsafat posmodernisme...kemon bro...
>    
>   Kang Samsul al Kompasy... where are you? Kang Gola
> Gong Al Ciloangsy, mana suara lantangmu? Kamarana
> yeuuuhh............????
>    
>   Kang Saprudin, ulah pundung terus atuh.....
>    
>   Okeh deh.
>    
>   Tabik,
>    
>   Bonnie
> 
> 
> Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Kang Boni, banyak
> juga orang yang sengaja menceburkan
> diri ke masa lalu karena hari ini begitu pabeliuet,
> sementara masa depan begitu susah diteropong. Jadi,
> satu-satunya yang jelas dan pasti cuma masa silam.
> Barangkali, itulah sebabnya lagu-lagu nostalgia,
> model
> vintage dalam dunia fashion, dan fenomena retro akan
> selalu punya penggemar dari zaman-zaman. 
> 
> Ada juga yang mungkin punya masa silam tak
> menggembirakan, kemudian terperangkap dalam
> sekumpulan
> masalah di hari ini, lalu mencoba mencari
> "pembebasan"
> dengan membuat jalan pintas ke masa depan lewat
> bantuan dukun atau dengan cara mengambil hak orang
> lain (bahkan hak generasi yang belum dilahirkan,
> semacam udara bersih, air bersih, dan hutan nan
> hijau). Orang-orang semacam inilah yang senantiasa
> menyuburkan fenomena perdukunan di masyarakat dan
> juga
> mewarnai dunia kriminal.
> 
> Selain itu, ada banyak juga yang justru takut
> menghadapi masa lalu, masa kini, dan masa depan lalu
> kemudian menciptakan dimensi waktu sendiri lewat
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Tetap Semangat Mencintai Banten! 



  SPONSORED LINKS 
        Indonesia phone card   Indonesia calling card   Indonesia travel     
Bali indonesia   Indonesia   Indonesia hotel 
    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

    
    Visit your group "wongbanten" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 

    
---------------------------------
  



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke