Salam. Khusus untuk Wong Banten, mohon izin untuk memposting novel saya secara 
bersambung...hingga novel ini benar-benar usai. Entah 1 minggu, sebulan, 
setahun, atau mungkin hingga tak sampai selesai. (lebih khusus lagi, novel ini 
dipersembahkan kepada orang-orang arogan yang pandai membadut dan orang-orang 
baik yang khidmat memuji).
   
  Salam,
   
  Firman Venayaksa
  ===================================
   
  JEJAK  1
   
  Asing. Sebuah kata yang nampaknya nikmat untuk didiskusikan, namun sama 
sekali tak layak untuk dilaksanakan dalam dunia yang carut marut. Mengapa harus 
ada keterasingan ketika hiruk pikuk manusia sibuk menerbangkan angan-angannya 
masing-masing? Celakanya aku terus dibayang-bayangi oleh keterasingan itu, 
menguntitku, seolah-olah ia malaikat bersayap yang asyik nongkrong di bahuku 
menulis kebaikan dan keburukan. Aku tak ingin menjadi orang asing. Demi Tuhan, 
aku tak sudi. 
  Sebetulnya sudah lama aku melupakan pertanyaan ini. Siapa aku? Pertanyaan 
klasik dan tak mencerdaskan. Seharusnya orang sepertiku tak lagi bicara 
mengenai diri sendiri. Seharusnya aku mengatakan apa yang bisa aku lakukan 
untuk umat manusia. Namun tak juga kata-kata itu hadir dalam benak pemikiranku. 
Aku lebih menyukai pertanyaan klasik itu, karena klasik berarti eksotik, dan 
eksotik seharusnya menumbuhkan alienasi sakral. Tapi tidak buatku. Nampaknya 
aku harus bunuh diri karena tak sanggup memahami diri sendiri. Pertanyaan lain 
menyelinap sehabis pernyataan itu. Sehabis bunuh diri apakah aku mampu 
menemukan jati diriku yang sebenarnya? Lalu apakah dunia sehabis di tempat ini 
indah ataukah justru sebaliknya? Lebih membosankan dan tak arif untuk dijalani? 
Ya, itulah yang tak bisa aku pecahkan dan pada akhirnya asing kembali menjadi 
temanku. Asing kembali menjadi iblis yang meraung-raung dalam palung jiwa, 
bernostalgia diselingi alunan musik remah-remah ketakutan.
  Asing dan takut seperti gambar yang saling bertautan dalam koin logam. Mereka 
punya sisi yang sama kuat. Lima puluh persen untuk asing, lima puluh persen 
lainnya untuk takut. Koin itu adalah jiwaku. Jiwa bodoh yang tak pernah 
memahami dirinya. Jiwa yang tersedak kotoran-kotoran.
  Apakah aku layak pula dikatakan sebagai kotoran? Jawabannya tergantung cuaca. 
Jika cuaca sedang baik, aku bisa berlayar, menjadi nelayan yang cekatan, 
menjaring ikan-ikan di samudra. Namun jika cuaca tak berpihak kepadaku, apapun 
yang tak kotor akan mendadak kotor di mata siapapun. Jadi jelas, pada akhirnya 
aku serahkan pada cuaca.
  Bosan. 
  Tiap saat aku selalu meracau seperti ini. 
  Jika aku menjadi seorang filsuf atau sufi, mungkin perkataanku banyak dicatat 
orang-orang, dijadikan referensi yang agung dan menakjubkan. Tapi inilah yang 
aku sebut dengan cuaca, aku tak layak menjadi panas atau hujan, angin atau 
badai, samudera atau sekedar rintik gerimis. Cuaca tak pernah berpihak kepadaku 
dalam hal ini. Orang-orang menganggapku sebagai bocah ingusan yang ingin 
membeli mainan atau merengek karena mainannya rusak. Menangis karena 
robot-robotannya sudah ketinggalan zaman. Setiap perkataanku dianggap bualan 
semata. Padahal setiap perkataan yang terlahir dari pemikiran adalah mutiara 
yang sulit dicari tandingannya, dari dasar lautan sekalipun.
  Jadi beginilah aku kiranya. 
  Menjadi kutu busuk, menjadi laron-laron yang belingsatan tak karuan, menjadi 
rumputan  tandus. Kata orang aku sama sekali tak punya identitas. Kata apa lagi 
ini? Identitas! Mereka bilang aku tak punya alamat tinggal yang jelas. Mereka 
bilang aku pengembara yang tak saleh karena tak ada tempat yang dituju, 
sedangkan pengembara saleh itu sudah jelas tempat yang akan dijadikan sebagai 
gubuk terakhirnya. Tentu saja aku berang mendengar pernyataan ini. Apa yang ada 
dalam benak mereka? Begitu mudahnya menghakimi seseorang. Ataukah semua orang 
ingin menjadi hakim? Lantas hanya aku sendiri yang menjadi terdakwa? Sendirian? 
Tak ada teman? Tak ada pengacara? Manusia yang ada di sekelilingku sudah 
merangkak murtad rupanya. Mereka sama denganku, tak memahami hakikat hidup. 
Setiap orang adalah pengembara. Masalah tujuan itu diserahkan pada jalan yang 
ditempuh oleh masing-masing. Jika jalanku berbeda dengan jalan orang lain, 
mengapa harus dikatakan bahwa aku salah memilih jalan?
 Bukankah jalan yang mereka yakini belum tentu jalan menuju keselamatan? Inilah 
sebentuk kesombongan yang selama ini menjadi perhiasan yang diagung-agungkan. 
Sungguh masygul dan mencengangkan!
  Jika saja manusia tak diberi akal, sepertinya akan menjadi kehidupan menarik, 
setidaknya menurutku. Manusia tak ubahnya binatang, dan dalam frame binatang, 
segala sesuatu menjadi nikmat adanya. Bisa jadi manusia tak lagi mengenal dosa. 
Ini yang paling penting. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh manusia tidak 
terbebani dengan sebuah dosa. Manusia bisa melakukan apa saja sesuai dengan 
nalurinya. Wah gila. Jika manusia tak berakal, lalu apakah aku masih mempunyai 
keinginan yang selama ini sering terlahir dari mimpi-mimpi sialan itu? Apakah 
binatang bermimpi? Jika ya, lalu bagaimana mereka mewujudkan mimpinya itu? Jika 
tidak punya mimpi mengapa binatang harus tetap hidup?
  Kalau dipikir-pikir, betul juga kata orang-orang. Aku memang seperti 
anak-anak. Selalu mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas. Menggugat sesuatu 
yang sudah hakiki keberadaannya. Mengapa begini? Mengapa begitu? Puih, aku 
terlalu banyak ini-itu!
   
  Mutilasi. 
  itu masalah keberanian. 
  Jika keberanian bersemayam dalam dadaku, aku ingin memutilasi seluruh bagian 
tubuhku menjadi bagian-bagian yang terpisah. Jika aku berpikir tentang hidup, 
aku ingin otakku yang terkontaminasi segala tetek bengek teori ini disimpan 
untuk sementara waktu dalam rak berdebu. Agar pikiranku lebih orisinil. Jika 
aku bertindak, aku ingin tanganku disimpan untuk sementara waktu. Tanganku 
terlalu kotor untuk menerima keadaan yang cukup mengernyitkan dahi. Jika 
berjalan, aku ingin kaki dicopot barang beberapa hari, agar aku bisa lebih 
cerdas dalam menapaki bebatuan dan jalanan yang terjal. Aku ingin mataku 
dicungkil, lalu aku simpan di lemari es jika aku melihat kejadian. Aku takut 
mataku tak kuasa mengimani episode hidup yang getir dan sama sekali tak 
bersahaja. Sesekali aku ingin pula membuka dada, lalu aku cerabut hatiku yang 
terlalu protektif itu. Aku simpan baik-baik, agar aku bisa merasakan kegalauan 
dengan sempurna. Sayangnya aku tak punya keberanian semacam itu. Keberanian
 itu hanya lahir dari mimpi. Setelah aku terbangun, keberanian itu  lunglai.
  ***
  Lalu aku menjadi seorang kembara, menuju sebuah hutan lebat yang teduh namun 
menakutkan. Pakaianku tak jelas warnanya, kadang putih, tiba-tiba berubah 
menjadi legam. Sebuah kain bercorak ketakmengertian mencekik kepalaku. Mataku 
penuh waspada menyapu ke sebuah bukit, agak samar aku lihat. Sesekali aku 
menoleh ke belakang. Rasa-rasanya ada yang menguntitku. Setiap aku menoleh 
sekelabat bayang lari ke semak belukar. Ketika mataku kembali ke depan, aku 
merasakan bayang itu datang seperti mau memelukku dengan erat. Kejadian itu 
terus berlanjut sampai aku menuju sebuah muara sungai yang begitu indah. Aliran 
sungai bening membentang dan bergemericik. Kicau suara burung aneh terus 
menghantui telingaku, pun dengan binatang hutan lainnya. Aku merasakan 
kedamaian hinggap dalam aortaku, melesat melewati urat nadi, menuju degup 
jantung yang dialirkan ke seluruh pekat darahku. Aku masih terpesona dengan 
sungai itu. Berusahalah tanganku menggapainya, berencana mengambil air barang
 setangkup. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam dengan gontai telah berada di 
sampingku. Ia hanya melihat saja. Tak ada yang ia ucap, tak ada yang ia laku. 
Matanya nyalang, nyalang matanya. Menyambar wajahku, wajahku disambarnya. Aku 
terkesiap, terkesiaplah aku. Ubun-ubunku musnah, musnah ubun-ubunku. wajahku 
tak karuan bentuknya, tak karuan bentuknya wajahku. Aku takut, takut aku. Tapi 
demi Tuhan, ia tak berkehendak menakutiku. Aku tahu dari sungai wajahnya. Aku 
tahu dari laut wajahnya. Aku tahu dari samudera wajahnya. 
Hanya..mata..itu..mata itu menyerabut sukmaku. Ia memisahkan sukma dan jasadku. 
Jasadku lemah kemudian terpuruk di tanah basah. Sukmaku! Mata itu mencuri 
sukmaku. Aku...aaaaa...aaaaa....
  Aku terbangun dari mimpi sialan itu. Entah keberapa kalinya aku bermimpi hal 
yang sama. Mimpi kurang ajar yang membuatku benci tidur. Sayangnya aku tak bisa 
melawan sebuah rasa bernama kantuk yang kian menyilet mata. Terpaksa aku hilang 
sadar, dan ketika hilang sadar itulah mimpi itu tersenyum dramatis, menyelinap 
masuk, membuat layar tancap dengan film murahan yang diakhiri dengan teriakan 
ketakutan seperti barusan. 
  Seperti biasa pula seorang wanita setengah baya yang aku sebut ibu datang 
membawa secangkir air putih dan selalu berkata seperti ini,
  “Mimpi buruk lagi? Sudah, jangan terlalu risau. Mimpi itu rasa cinta karuhun 
kepadamu. Risau bukanlah obat mujarab untuk menenangkan hidup kita” ucapnya 
seraya memeluk tubuhku yang penuh peluh. Ia mengusap rambutku kemudian berujar, 
“Minum dulu supaya lekas tenang. Tenagamu terkuras habis.”
  Suatu kali pernah aku memakai minyak angin dan bawang bombay, aku racik lalu 
aku gosok-gosokan di selangkangan mataku supaya aku terjaga saban hari. 
Celakanya aku harus ke dokter mata karena mataku perih dan bengkak. Mataku 
malah diperban dua-duanya. Di kegelapan itulah, kendati aku tak tidur, layar 
tancap dengan film murahan datang kembali, dan aku tak punya daya untuk menolak 
kehadirannya.
   

                
---------------------------------
Groups are talking. We´re listening. Check out the handy changes to 
Yahoo! Groups. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke