Saya tidak tahu, apakah tulisan di bawah ini ditulis oleh seorang sejarawan
atau politikus ?
****************************************************************************
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
Stavanger, 15 Agustus 2006
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
NASIONALISME SUNDA DAN KEKAISARAN NEGARA SUNDA NUSANTARA.
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.
SEKILAS MENYOROT NASIONALISME SUNDA DAN KEKAISARAN NEGARA SUNDA NUSANTARA.
Terima kasih diucapkan kepada Prof Nina Herlina Lubis, Guru Besar Sejarah
Universitas Pajajaran, Bandung, yang telah mengeksposekan kewujudan
Nasionalisme Sunda, sehingga telah sampai menjadi perhatian khusus dan meluas
dari bangsa Sunda dalam Wilayah Daulat Kekaisaran Negara Sunda Nusantara, di
bahagian sebelah barat Pulau Jawa dan bahagian-bahagian lain di seluruh
Kepualuan Sunda Besar dan Sunda Kecil, di Nusantara.
Prof Nina Herlina Lubis, nasionalisme dari seseorang itu, bukan terlahirkan
karena kemampuan seseorang dan/ sesebuah komunitas memahami sejarahnya saja,
tetapi nasionalisme itu terlahirkan/dilahirkan oleh gerak naluriah kesamaan
cita-cita politik dari seseorang dan/ sesebuah komunitas. Saya tanyakan kepada
Prof.: Prof. tentu tahu pasti bahwa, akar sejarah bangsa-bangsa di Sumatra,
jelas sekali tidak ada hubungan sama sekali/apapun dengan akar sejarah
bangsa-bangsa di Jawa, maka begitu jugalah akar sejarah bangsa Sunda, jelas
sekali juga tidak ada hubungan sama sekali/apapun dengan akar sejarah
bangsa-bangsa Jawa:
(1). Apakah anda akan terus spontan ber-Nasionalisme-kan Sumatra (?) setelah
menelaah kembali akar sejarah bangsa-bangsa di Sumatra dan sejarah
nasionalisme-nya, lantas meninggalkan NKRI, yang tidak menentu nasionalisme-nya
itu?
(2). Apakah patut "baju" bangsa-bangsa di Sumatra ditukarkan dengan "baju"
suku-suku bangsa ala Sutasono-nya Majapahit/Singosari Jawa Chauvinis-Priayis?
(3). Apakah setelah jelas bagi Prof. terhadap kedudukan sejarah bangsa-bangsa
di Sumatra dan nasionalisme-nya, apakah Prof. masih juga masih pura-pura kurang
jelas akan kedudukan akar sejarah bangsa Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda
Nusantara dan nasionalisme-nya?
(4). Apakah setelah Prof. jelas atas kedudukan hukum akar sejarah
bangsa-bangsa di Sumatra dan nasionalismenya serta kedudukan hukum akar sejarah
bangsa Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda Nusantara dan nasionalisme-nya,
apakah Prof. masih lagi tidak mau mempersalahkan "nasionalisme indonesia" yang
tidak berakarpun sejarah kenasionalan indonesia-nyapun?
(5). Apakah dari ke-empat point-point diatas yang saya kira telah memadai
itu, masihkah lagi Prof. mau mempermasahkan "rumah kediaman" para
nasionalis-nasionalis Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda Nusantra yang
bertriplex itu, sementara Soekarno si Penipu licik (Raden Koesno), sendiripun
hanya mampu berkongsi tempat tidur dengan Raden Sanoesi dan R. A. Inggit
Ganarsih, tetapi tidak mempermasalahkan, dia bagaimana saat-saat di
mengggerakkan "nasionlaisme indonesia-nya" yang tidak berakar sejarah
kenasionalan indonesia itu?
Sebagai seorang Guru Besar Sejarah dari Fakultas Sejarah, Universitas
Pajajaran, tentunya Prof Nina Herlina Lubis, sesungguhnya tahu apakah fungsi
sejarah bagi sesuatu bangsa atau negara, terutama terhadap Nasionalisme-nya.
Nasionalisme Sunda hari ini, terlahirkan atau dilahirkan juga dari gerak
naluriah kesamaan cita-cita politik dari/ oleh sebuah komunitas Sunda, yang
bercita-cita politik untuk bertanah air sendiri dan berpemerintahan sendiri dan
akan menjadikan diri bangsa Sunda, sebagai tuan disana, sebagaimana pernah
wujud sejak zaman berzaman, sejak dunia mula berkembang.
Dan lagi, Prof, sebagai seorang Guru Besar Sejarah dari Universitas
Pajajaran, Bandung, pastinya akan tahu pula bahwa, di Asia Tenggara/Timur dan
dibelahan Dunia lain ada sebilangan negara yang dilahirkan dan ditegakkan bukan
oleh bangsa asal (anak negeri) dan malahan negara-negara itu bermula tampa
mempunyaipun sejarah (asal), kecuali hanya dengan (sejarah) "nasionalisme"-nya
belaka. Bahkan (sejarah) "nasionalisme"-nyapun dibangun setelah negara itu
terlahir dan tertegak, yang dilahir dan ditegakkan oleh/dari kuasa penjajah
asing, hampir sama sejarah kembarnya seperti, "republik indonesia". Inikah rupa
akar sejarahnya?.
"republik indonesia", coba dilahirkan dan ditegakkan oleh Fasis Jepang dan
direncanakan proklamasinya pada tanggal 19 Agustus, 1945, diatas wilayah dari
semua wilayah yang pernah dikuasai Kolonialis Belanda + Yang sedang dikuasai
Kolonialis Inggeris (Semenanjung Malaya + Sabah dan Serawak) dan yang pernah
diduduki Fasis Jepang, yang pemerintahannya akan dijalankan oleh mantan-mantan
kolaborator Fasis Jepang itu sendiri, dibawah pimpinan Ketua Kolaborator Fasis
Jepangnya: Soekarno si Penipu licik (silakan baca bulettin yang pernah
dikeluarkan oleh Kementerian Luar Malaysia dari Wisma Putra, yang berkaitan
dengan tuntutan wilayah Semenanjung Malaya + Sabah dan Serawak).
Mengapakah Soekarno si Penipu licik, seorang mantan Ketua Kolaborator Fasis
Jepang, kemudian bisa menjadi Presiden RI (?) dan kemudian disebut pula sebagai
Founding Father atau Father of Nation(?)
Nasionalisme apakah dia itu?, bangsa apakah dia itu: Jawa atau Indonesia;
Belanda atau Jepang? Sedangkan "indonesia" itu, bukan nama sebuah negara atau
nama sebuah bangsa (nasionalisme) tetapi nama (sebuah) geographis, sebagai
halnya nama Nusantara, sebagaimana Prof. telah menyebutkannya di koran Suara
Rakyat!
Taktik Soekarno si Penipu licik, menggunakan nama "indonesia" itu, sebagai
nama bangsa, sebagai nama negara dan sebaga nama administrasi pemerintahaannya,
adalah:
(a). Sebagai tehnik dan taktik-strategik (geopoliotik dan
geotaktik-strategik) untuk menghapuskan: Nasionalisme Sunda, Nasionalisme Achèh
( Pan Achèh Sumatra), Nasionalisme Pan Dayak Borneo, Nasionalsime Pan
Melanesia: (Nasionalisme Maluku dan Nasionalisme Papua Barat) atau juga dikenal
pada keseluruhannya sebagai Nasionalisme Pan Melayu Nusantara!
(b). Sebagai jalan pintas dan tampa perlu bersusah payah dan korbanan apapun,
kecuali hanya menjadikan dirinya terus menjadi beken sebagai mantan Ketua
Kolaborator Fasis Jepang.
Lantas, mengapakah Prof Nina Herlina Lubis, sebagai Guru Besar Sejarah dari
Universitas Pajajaran, Bandung, tidak maupun menuliskan hujjah bandingan
seperti ini, gantian dari pada mempersendakan Nasionalis-Nasionalis Sunda dari
Kekaisaran Negara Sunda Nusantara, sedangkan kesemua para Nasionalis-Nasionalis
Sunda, sesungguhnya adalah Nasionalis-Nasionalis tulen dari Kekaisaran Negara
Sunda Nusantara, yang bercita-cita untuk menjadikan wilayah disebelah barat
Pulau Jawa itu, sebagai wilayah administrasi pemerintahan Kekaisaran Negara
Sunda Nusantara mereka, walaupun mempredikatkan nama Nusantara, sebagaimana
Amerika Syarikat, memperedikatkan wilayah administrasi pemerintahannya (plus
nasionalisme/negaranya) dari nama sebutan (benua) Amerika itu, dengan
pengakroniman: (benua) Sunda Besar dan Sunda Kecil, tetapi bukan untuk
menguasai Nusantara: Sunda Besar dan Sunda Kecil itu, sebagaimana Soekarno si
Penipu licik, si mantan Ketua Kolaboratoris Fasis Jepang dari RI Jawa Jokya
juga telah mengakronimkan Negara Kolonialis Republik Indonesia Jawa sebagai
NKRI (Sutasono), yang sebaliknya dengan terang-terangan untuk menguasai
Nusantara: Sunda Besar dan Sunda Kecil!
Lagipun bangsa Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda Nusantara, masih menyedari
sepenuhnya bahwa, Papua Barat sememangnya tidak termasuk dalam wilayah Sunda
Besar atau Sunda Kecil, sejak nama Sunda Besar dan Sunda Kecil diciptakan.
Selain itu, Nasionalis-Nasionalis Sunda menggunakan nama Kekaisaran Negara
Sunda Nusantara, sebagai attribute pengklaiman kembali terhadap NKRI (atau
kepada Soekarno si Penipu licik) bahwa, sesungguhnya bangsa Sunda-lah yang
patut "menguasai" Nusantara: Sunda Besar dan Sunda Kecil! Karena Kekaisaran
Negara Sunda Nusantara terbilang "negara besar" pada era kejayaannya, yang
bilangan perahu armada lautnya, yang se-Sunda Besar dan se Sunda Kecil itu,
kalau disusun menjulang, akan sama tingginya seperti ketinggian julangan Gunung
Takuban Perahu?
Tetapi mengapakah "Gajah Mada-nya Hayam Wuruk" si Jawa bodoh itu, dari
Kekaisaran Negara Kertagama, yang dikatakan baru hanya bercita-cita
(kosong)hendak menguasai Nusantara: Sunda Besar dan Sunda Kecil, seperti sudah
pernah menguasai?
Sehingga-hingga Soekarno si Penipu licik (si "Gajah Mada-nya Hamengkubuwono
IX), bangkit dengan seragam "indonesia"-nya mengklaim Nusantara: Sunda Besar
dan Sunda Kecil + Papua Barat dan malahan telah mengusainya dengan means lain:
"Sumpah Palapa" ,termasuk penguasaanya keatas wilayah administrasi pemerintahan
Kekaisaran Negara Sunda Nusantara di sebelah barat Pulau Jawa sekaligus, yang
sekarang ini sedang diperjuangkan oleh nasionalis-nasionalis Sunda dari
Kekaisaran Negara Sunda Nusantara.
Prof Nina Herlina Lubis, tentu saja Prof. sudah pernah membaca bahwa, "Sumpah
Palapa" itu adalah sumpahnya Gajah Mada: Yang tidak mau lagi terlibat dengan
pesta pora sex dan bermabok-mabokan, tetapi akan terus mengabdi sepenuhnya pada
tugas pemerintahan, setelah istri mudanya "ditiduri" oleh Jayanegara anak Raden
Wijaya, sebagaimana pengungkapan cermat dibuat oleh Prof Dr C.C.Berg, Professor
peneliti utama sejarah Indonesia Jawa, yang pernah dibantu oleh Prof Drs S.
Wojowasito, sejak 1930-an dalam misinya.
Prof Nina Herlina Lubis, kepada Prof. diharapkan janganlah hendaknya
memandang dengan begitu sinis terhadap para nasionalis-nasionalis Sunda dari
Kekaisaran Negara Sunda Nusantara, yang sejarah nenek moyang-mereka, telah
terpahat bangun membukum, terukir cantik beruliran kuning emas
merenik-renik(?):
"Nasionalisme Sunda, kebangsaaan Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda
Nusantara!!!"
Prof Nina Herlina Lubis......................kalaulah komunitas Sunda
berusaha untuk membangunkan kembali Nasionalisme Sunda-nya, maka yang demikian
itu, adalah merupakan hak azasi mutlak dari komunitas Sunda itu sendiri, untuk
mengangkat kembali darjat dan murtabat komunitasnya, sebagai sebuah bangsa,
bangsa Sunda!!!
Nah, Nasionalisme Sunda atau kebangsaan Sunda itulah, yang hari ini sedang
dan/ telah melahirkan kembali bangsa Sunda! Bangsa Sunda dari Kekaisaran
Negara Sunda Nusantara! Tidak siapapun boleh mengusik untuk mengkotak-katik apa
lagi coba mengobrak-abriknya!
Prof. Nina Herlina Lubis, sejarah sesuatu bangsa akan hanya menjadi seperti
cermin menyuluh wajah resih, pucat lesu dari sebuah bangsa itu, kalau sejarah
bangsa itu, telah ditulis oleh tangan-tangan kotor bangsa lain, bangsa yang
ingin menduduki dan menjajahi bangsa itu, menjadikan sejarah itu, seumpama
"cermin belah sejarah" di Jawa Palace, yang saya kira Prof. juga ikut
mengoleksinya!
Kalau Prof Nina Herlina Lubis, memang benar sebagai seorang Guru Besar
Sejarah, saya mempersilakan Prof. membongkar kesemua isian butiran sejarah
karut dan fabrikasi itu, di Jawa Palace, sekarang juga, agar Prof. dapat juga
membantu meluruskan sejarah dari terus dipelintirin oleh Jawa Palace hampir
setiap menitnya.
Sekarang coba kita membicarakan, hal Soekarno si Penipu licik lagi, yang coba
melahirkan nasionalisme "Indonesia" atau kebangsaan "Indonesia" pada 1 Juni,
1945:
Prof. cermati dulu bagaimana nasionalisme "Indonesia" yang dibuat bukan lewat
pemahaman sejarah, melainkan terus langsung lewat pemahaman nasionalisme
"Indonesia"-nya atau kebangsaan "Indonesia"-nya atau lewat tetasan telor
"Pancasila"-nya, seperti seumpama mengambil sarian dari dongengan sejarah lain,
bagaimana Dewa Wisnu terpaksa menetaskan (lewat) telor yang akan melahirkan
Lurah Semar, yang kemudian untuk bisa melahirkan si Cepot, si Petruk, si Gareng.
Makanya ada sebahagian orang agak "suka" mengatakan bahwa, Soekarno si Penipu
licik itu melahirkkan Pancasila dan kemudian Pancasila itulah yang telah
melahirkan Nasionalisme Indonesia atau Kebangsaan Indonesia, sebagaimana Dewa
Wisnu melahirkan Lurah Semar yang kemudian melahirkan si Cepot, si Petruk dan
si Gareng.
Tetapi Soekarno si Penipu licik bukan si Dewa Wisnu, tetapi dia telah
diindentikkan sebagai si Dewa Syiwa yang telah menghancur-leburkan Nasionalisme
Melayu Nusantara.
Karenanyalah maka sebahagian orang lain "suka" mengatakan "nasionalisme
Indonesia" atau "kebangsaan Indonesia" seperti nasionalisme badut, seperti
sibadut-badut: Si Cepot, si Petruk dan si Gareng.
Rasionalnya: Nasionalisme Indonesia atau kebangsaan Indonesia adalah
Nasionlisme Badut atau Kebangsaan Badut!!!
Sekarang ini, selalu sering diperkatakan bahwa, Pancasila itu, bukan
kelahiran Jawa, tetapi kelahiran dari Budha Hinayana atau Himayana dan dari
hasil pemulungan pikiran-nya Dr Sun Yat-sen, tetapi dengan licik, Soekarno si
penipu licik telah menyisipkan "kebangsaan-sutasono-nya Jawa-Hindu
Majapahit/Singosari kedalamnya", yang strukturnya sama seperti menyerupai
struktur tehnik penetrasi dari gerakkan Freemason?
Soekarno si Penipu licik bukan si Dewa Wisnu tetapi seperti si Dewa Syiwa,
sebuah pelambang dewa perusak, yang merusakkan Nasionalisme Melayu Nusantara
dan juga termasuk nasionalisme Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda Nusantara.
Dalam kehidupan Budha Hinayana atau Himayana tidak pernah dikenal struktur
ber-Dewa-Dewaan seperti itu.
Soekarno si Penipu licik yang bernasionalisme "Sutasono" atau berkebangsaan
"Sutasono" ataupun juga disebut-sebut berkebangsaan "Majapahit/Singosari",
kebangsaan Badut, dari Kekaisaran Negara Kertagama itulah, yang melahirkan
nasionalisme "Sutasono-Indonesia" pada 1 Juni, 1945, yang ditawarkan kepada
bangsa-bangsa Melayu Nusantara.
Nah, itulah sesungguhnya nasionalisme "Indonesia", nasionalisme-nya
"Sutasono" atau nasionalisme-nya "Majapahit/Singosari", Nasional si Badut!
Prof, ini rasional sejarah! Ini fakta sejarah!
Sedangkan Nasionalisme Sunda atau kebangsaan Sunda itu, yang sekarang ini,
terlahirkan kembali itu, adalah yang telah pernah berakar tunjang ke zaman
sejarah Negara Pajajaran atau Pasundan-nya, sedangkan Nasionalisme "Indonesia"
itu dilahirkan kembali oleh Soekarno si Penipu licik itu, adalah hanya berakar
serabut ke zaman sejarah Negara Kertagama atau Majapahit/Singosari yang
berserabutan itu! Prof, ini rasional sejarah! Ini fakta sejarah!
Kapankah Prof Nina Herlina Lubis, akan membuat study banding antara
nasionalis Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda Nusantara dengan nasionalis
Majapahit/Singosari dari Kekaisaran Negara Kertagama-nya Soekarno si Penipu
licik Cs atau nasionalis Jawa Chauvinis-Priayisnya, agar dengannya Prof. akan
dapat berkesimpulan lain pula bahwa, kebangsaan dari "Pancasila" dari
"dongengan Sutasono itu, sesungguhnya dan dengan keseksamaannya, telah
bersahaja diciptakan sebagai alat Penjajahan Nusantara, sebagai alat
Penjawanisasi Nusantara sebagai alat sejarah-nya Sutasono dan alat untuk
menghancurkan nasionalsime-nasionalisme yang bermula dari nasionalisme Sunda
dari Negara Kekaisaran Negara Sunda Nusantara di Pulau Jawa.!
"Nasionalsime "Indonesia" itu adalah adalah sebagai tehnik dan
taktik-strategik untuk menghapuskan: Nasionalisme Sunda, Nasionalisme Achèh
(Nasionalisme Pan Sumatra), Nasionalisme Pan Dayak Borneo, Nasionalsime Pan
Melanesia: Nasionalisme Maluku dan Nasionalisme Papua Barat atau juga dikatakan
keseluruhannya sebagai Nasionalisme Pan Melayu!
Agaknya saya ini, seperti hampir dapat menyusuri kemampuan Prof Nina Herlina
Lubis, sebagai sang Professor, yang masih lagi suka mengolah "dongengan
sejarah" atau perahan "cerita rakyat" menjadikan sebagai sebuah sejarah,
seperti kerja-kerja yang sedang dilakukan oleh kumpulan Ahli-Ahli atau
Professor (kangkung) sejarah dari Jawa Palace Groups, sebaik saja saya membaca
tulisan Prof Nina Herlina Lubis dalam koran Pikiran Rakyat, Sabtu, 10
Juni,2006, sebagai sketsa atau lakaran tulisan Prof. terhadap gerakan
Nasionalisme Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda Nusantara itu.
Mengapakah saya berani mengatakan demikian? Karena kalau saya membandingkan
bacaan dari "hand book" buku sejarah IKIP Bandung doeloe dan buku-buku lain
sejarah doeloe, yang pernah dipakai di SGA atau SGB dengan bayangan tulisan
Prof. itu, sangatlah jauh berbeda, walaupun "hand book" buku sejarah IKIP
Bandung doeloe dan buku-buku lain sejarah doeloe itu, yang dipakai di SGA dan
SGB, juga diolah dari "dongengan sejarah" atau dari perahan "cerita rakyat",
seperti yang kini sedang diolah siang malam oleh kumpulan tangan-tangan kotor
Ahli-Ahli atau Professor (kangkung) "dongengan sejarah" dari Jawa Palace Groups.
Ini penting untuk bahan isian selingan atau semacam sentilan kami terhadap
Prof, ketimbang kerjaan sia-sia dari sekumpulan rakan-rakan di Belanda, di
Jerman, di Inggeris, di Perancis, di Swedia, di Danmark dan dari tempat lain
dibelahan dunia sana, yang sedang asyik sibuk menyusun sejarah: Para
"nasionalis-nasionalis yang terhalang pulang", atau sejarah dari
"paspor-paspor nasionalis dipalang-melintang" menyentil Prof. karena tidak
memulakan pedukumentasian sejarah tambahan baru itu, sebagai sejarah tambahan
baru "Indonesia Jawa", sedangkan sejarah yang demikian itu, bisa jadi sebagai
fakta sejarah, yang sepatutnya juga sudah lama dituturi di depan mahasiwa-i
Fakultas Sejarah, Universitas Pajajaran Bandung.
Walaupun , hal yang demikian itu, sebagai telah melangkahi keutamaan dari
kerja-kerja pendukumentasian sejarah pembunuhan massal dan biadab-tidak
bertamandun keatas 3.000.000 (tiga juta) jiwa anak-anak Jawa: Buruh kilang yang
tidak cukup makan dan Buruh tani yang miskin, yang didapati tidak pernah
bersalah, yang dilakukan oleh mantan Pembunuh bayaran KNIL/NICA Belanda atau si
Belanda Hitam, yang kemudian terbentuk menjadi mantan BKR, lantas menjadi
mantan TKR, lantas menjadi mantan TRI dan lantas lagi menjadi stand-berdiri:
ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, sebagai
militer yang paling biadab dalam sejarah ketamandunan dunia dan kemanusiaannya,
dilakukan dengan bantuan Banser-Banser NU-Gusdur Abdurrahman Wahid, walaupun
dunia telah memasuki milleneum baru, yang sekarang semakin sibuk diluruskan
oleh Prof Dr Asvi Warman Adam dari LIPI?
Prof. sudah tiba masanya Prof memulakan menuliskan sejarah Indonesia Jawa
dengan cara yang betul dan khususnya, tentang sejarah ABRI-TNI/POLRI Tentara
Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam, sejak penanda
tanganan perjanjian antara Amangkurat I dengan Gubernur Jenderal Cornelis van
de Lijn di tahun 1646, termasuk merekrut anak-anak Jawa sebagai pembunuh
Pembayaran KNIL Belanda Pembayaran KNIL Belanda.
Kalaulah Prof. ikut serta membuat penelitian terhadap kekejaman Hayam Wuruk
dan Amangkurat I, sisimbol manusia Jawa Chauvinis-Priayis yang kejam dan
biadab, yang telah memenjarakan dan membunuh Raja-Raja Pajajaran atau Pasundan,
maka mungkin saja tim peneliti akan lebih gairah. Apa yang dilakukan oleh
kedua manusia Jawa Chauvinis-Priayis diatas itu, sama persis seperti yang telah
pernah dilakukan oleh dua algojo Jawa Chauvinis-Kolonialis: Soekarno si Penipu
licik dan Suharto Kleptokracy si Pencuri, ketika kedua mereka masing-masing
menjadi si Pak Lurah Semar 1945 dan si Pak Lurah Super Semar 1966!
NB: Kalau anda Jawa Majapahit katakanlah Jawa Majapahit dan begitu juga kalau
anda Jawa Mataram, katakanlah Jawa Mataram, tetapi tidak perlu lagi anda
menyebutkan diri anda sebagai Jawa Gunung Kidul atau Jawa Gunung Tengger
ataupun Jawa Gunung Bromo, sekalipun Jawa Gunung Merapi kalaupun anda memangnya
dari Jawa Gunung Merapi tetapi yang paling penting sebutkan berulang-ulang
bahwa, Sunda tidak tergolong dari kesemua Jawa-Jawa itu.
Alenia (a). Apakah Soekarno si Penipu licik dan kesemua para hadhirin yang
mengahadiri acara ucapan pidato Soekarno si Penipu licik pada "Hari Lahirnya
Pancasila" 1 Juni, 1945 sudah bisakah dikatakan sebagai bangsa Indonesia atau
sebagai bangsa apakah? Atau sebagai rakyat apakah atau sebagai orang apakah?
Silakan baca kembali pernyataan Prof Dr Mubyarto dari Fakultas Ekonomi
(Pancasila), Universitas Gajah Mada, bahwa: Soekarno si Penipu licik telah
mengakui didepan Hakim Pengadilan sebagai berkebangsaaan Belanda ditahun 1930,
dua tahun, setelah anak-anak komunis Jawa mensponsori Soempah Pemoeda pada 28
Oktober, 1928 membuat pengikraran.
Alenia (b). Karena, sebagaimana telah dapat dimaklum bahwa, kesemua
bangsa-bangsa di luar Pulau Jawa pada keheranan, disebabkan diantara yang
hadhir ada yang sudah ber-Prof. Dr, yang ber-SH dan dengan bermacam-macam titel
lain lagi, tetapi Soekarno si Penipu licik itu, baru saja lagi memulakan
pendidikan "kebangsaan" kepada mereka, lewat teori-teori kebangsaan:
"Kebangsaan yang didifinisikan" .
Sebagai bangsa apakah kesemua mereka itu, termasuk pengindoktrinnya
(penatarnya): Soekarno si Penipu licik persis pada 1 Juni, 1945?
Nasionalisme Indonesia Jawa baru berkecambah dan bersemi sekitaran 1945-1949
Alenia (c). Karena, sebagaimana Prof Dr W. A. L. Stockhof dan rakannya Drs.
J. P. Van Kerkoft dari International Institute for Asian Studies (IIAS),
Belanda dan/serta Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Muhammadiah dan
Guru Besar Ilmu Sejarah IKIP Jokyakarta, Indonesia Jawa, telah sama
bersependapat bahwa, "kebangsaan Indonesia (Jawa)" itu, baru saja berkecambah
dan bersemi dipersekitaran tahun 1945 dan 1949!
Kebangsaan Jawa Chauvinis-Priayis dan kebangsaan Sunda:
Alenia (d). Begitu juga kalau anda mau menoleh ke-sejarah perkembangan
kehidupan kebangsaan di Pulau Jawa, terlihat disana sebagai telah terlahir dua
saja kebangsaan: (1).Kebangsaan Jawa (Chauvinis-Priayis) dan (2). Kebangsaan
Sunda. Kebangsaan Jawa terlahir sebagai kebangsaan Jawa Chauvinis-Priayis,
yang gejalanya mulai ternampak dari sejak:
- Peristiwa pemberontakan Ranggalawe, Sora, Nambi dan Kuti (sebelum Hayam
Wuruk dilahirkan lagi), semacam bentuk pemberontakan rasis/anti terhadap bangsa
Melayu (Jambi-Sumatra) dan
- Sejak Jawa Majapahit/Jawa Mataram berkonfrontasi terhadap Kerajaan (Negara)
Pajajajaran atau Pasundan, yang merdeka dan berdaulat semacam bentuk anti/rasis
terhadap bangsa Melayu (Sunda):
Tetapi konfrontasi (penyerangan) yang dilakukan oleh kebangsaan Jawa
Chauvinis-Priayis, terhadap Kerajaan (Negara) Pajajaran/Pasundan telah dapat
dihancur-leburkan, sehingga-hingga akibatnya terheretlah keperistiwa pembunuhan
dengan trik/jahat dan kotor terhadap Raja Pajajaran atau Pasundan:
(pertama) Maharaja Linggabuwana (calon bapak mertua Hayam Wuruk?) dan
putrinya Diyah Arya Pitaloka Ratna Citrasemi (calon istri Hayam Wuruk?) dan
sekalian pengawal-pengawal beliau yang dilakukan oleh algojo Jawa: Gajah Mada,
di Desa Bubat, yang kemudian terkenal dan tidak bisa dilupakan oleh bangsa
Sunda, sebagai Peristiwa "Bubat Berdarah" peritiwa yang terjadi pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk.
(kedua) Pembunuhan secara trik/jahat dan kotor juga, oleh Amangkurat I,
terhadap Panembahan Adiningkusuma yang bergelar Panembahan Girilaya ( yang juga
sebagai anak menantu dari Amangkurat I itu sendiri) selain memenjarakan dua
putra beliau: Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, ketika masa
pemerintahan Amangkurat I, Jawa Mataram, yang menolak untuk mengakui bahwa,
Jawa Barat /Sunda sebagai (wilayah) Jawa (Mataram) atau karena menolak
pemaksaan pendidikan "kebangsaan" Jawa (Mataram) kepada bangsa Sunda!
Kedua peristiwa tersebut diatas itu, tidak bisa dilupakan oleh para
nasionalis-nasionalis Sunda dan kebangsaannya dari Kemaharajaan/Kekaisaran
Pajajaran atau Pasundan, turun temurun, yang hari ini telahpun menjadi masalah
baru terhadap NKRI!. Kapankah pula menyusul kebangkitan nasionalisme Betawi?.
Kita akan tanyakan kepada saudara Ibrahim Isa Betawi dari Biljmer, Belanda
mantan Duta NKRI ke Mesir itu, yang keasyikan memuja dan memuji Soekarno si
Penipu licik yang pernah menjadi algojo Jawanya, si Gajah Mada Hamengkubuwono
IX, menyemblih puluh ribuan bangsa Achèh.
NB: Apa yang terjadi terhadap bangsa Sunda, dan nasionalismenya, maka
begitulah pula yang sesungguhnya pernah terjadi terhadap bangsa Achèh dan
nasionalismenya. Perjuangan Nasionalisme Achèh atau Kebangsaan Achèh-nya telah
meragut korbanan 70.000 jiwa lebih nasionalis-nasionalis Acheh, disembelih oleh
ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda
Hitam.
Motto: Jawa bukan Sunda atau Sunda bukan Jawa! Sebagaimana Achèh bukan
Indonesia atau sebaliknya!
Geopolitik Jawa Chauvinis-Priayis dan Sunda Nusantara:.
Sepatutnya Soekarno si Penipu licik, ketika menjelaskan apa itu kebangsaan
sebagai "kebangsaan berdifinisi" itu, perlu mengambil contoh ini, bukan dari
luar Pulau Jawa, bukan dari Eropah atau dari orang-orang yang sama sekali tidak
terlibat dengan orang dan bumi bangsa Jawa atau Sunda, yang perspektip
pemikirannya tidak mampu menjangkau, walaupun mereka dikenal sebagai ahli
pikir.
Mereka yang punya teori-teori kebangsaan seperti itu, belum tentu dapat
menguliti bagaimanakah dimaksudkan dengan kebangsaan (nasionalisme) Jawa
Majapahit/Singosari (Jawa Mataram) dan bagaimanakah pula dimaksudkan dengan
kebangsaan (nasionalisme) Sunda?
Karena,
(i). Kalau dari pengambilan contoh bacaan "kebangsaan" dari sejarah
nasionalisme Jawa Chauvinis-Priayis dan nasionalisme Sunda, maka Soekarno si
Penipu licik itu, akan tidak dapat mengelakkan dirinya dari mengungkapkan
kembali sejarah bagaimana bangsa Sunda dengan kebangsaan Sunda-nya telah pernah
sanggup mempertahankan wilayah negara Pajajaran atau Pasundan dari serangan
biadab kebangsaan Jawa Chauvinis-Priayis, ketika menolak pendekte-an kebangsaan
Jawa Chauvinis-Priayis terhadap kebangsaan Sunda.
Atau dalam memahami bagaimana hubungan bangsa Jawa Chauvisnis-Priayis dengan
kebangsaan-nya dan bangsa Sunda dengan kebangsaan-nya pula serta masing-masing
terhadap tanah tumpah darah nenek moyang mereka ataupun dengan pertanyaan
bagaimanakah kehidupan Geopolitik dari bangsa Jawa Chauvinis-Priayis dan dari
Geopolitik bangsa Sunda dulu dan sekarang ini!
(ii). Dan selain itu, khususnya bangsa Sunda akan segera mengenangi kembali
peristiwa paling tragis dari hari "bubat berdarah" sebagai "drill point"
kebangkitan kembali sejarah kehidupan Nasionalisme Sunda atau Kebangsaan
Sunda-nya itu sendiri sebagai: "Hari Ledakakan Baru Kebangkitan Nasionalisme
Sunda dari Kekaisaran Negara Sunda Nusantara"
(Bersambung: PLUS I + NASIONALISME SUNDA DAN KEKAISARAN NEGARA SUNDA
NUSANTARA)
Wassalam.
Omar Putèh,
[EMAIL PROTECTED]
Norway
----------
Saprudin
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/