Saya tidak tahu, apa betul atau tidak rumor ini. Ketika saya ngobrol dengan
salah satu kawan senior yang sudah mempunyai anak yang sekarang anaknya bekerja
di instansi Pajak, katanya jika kelak kamu punya anak lulus SMA dan mempunyai
kompetensi bagus, masukkanlah ke STAN. Disanalah awal untuk menjadi orang kaya.
Kata saya, bukankah menjadi orang kaya itu banyak jalan? Misalnya dengan
mengelola sendiri modal usaha (wiraswasta atau jadi pengusaha). Kata kawan saya
itu memerlukan kerja extra keras dan banyak hambatan, melalui pendidikan STAN
kelak anak anda tidak akan mengalami kesulitan bidang ekonomi. Lanjut kawan
saya, walau tidak masuk STAN usahakan, kelak setelah lulus dari Perguruan
Tinggi, masukkanlah ke instansi Departemen Keuangan khususnya Direktorat
Jenderal Pajak.
Kata saya, apa itu bisa dibuktikan. Jawab kawan saya iya, lihat anak saya
baru bekerja 6 enam tahun di Pajak sudah bisa membeli rumah yang cukup lumayan
elit, mobil mewah sudah terbeli (dua buah), dan sayapun selaku orang tuanya
sudah dibelikan rumah. Apa itu tidak cukup bukti?
Lalu saya tanya, apakah satatus pegawai Dirjen Pajak itu PNS atau bukan? Kata
kawan saya, iya anaknya berstatus PNS, tapi penghasilannya bak pengusaha.
Kata saya, apa masuk akal pegawai Pajak dgn status PNS tapi tingkat
kemakmurannya hidupnya tinggi, sementara PNS di instansi yg lain morat marit.
Jawab kawan saya, lupakan bicara masalah itu, karena birokrasilah yang
menjadikan demikian.
Kata saya : "Bapak bangga dengan status anak bapak itu?, Bapak tidak
menanyakan kepada anak Bapak, darimana kemudahan uang yang anak bapak peroleh".
Apa kata kawan saya itu sambil ketawa : "Masa iya saya selaku orang tuanya
menanyakan hal-hal yg demikian, apa perlu?" Lalu saya sedikit berkutbah : "Anak
bapak menjalankan shalat?" Jawaban yang sangat mengejutkan bagi saya, apa jawab
kawan saya : "Wah anda ini koq lari keagama, orang mau shalat ke mau tidak ke
itu hak orang, apakah dengan selalu menjalankan shalat, bisa jadi jaminan
hidup akan makmur?".
Cukup......cukup Pak, jangan diteruskan !!! saya menyela. Akhirnya saya
istighfar. Masya Allah, masih ada ya orang tua punya pola pikir yg demikian.
Pantas saja negara Indonesia dari dulu rakyatnya dirundung kemelaratan terus,
eh ternyata begitu toh !!
Coba pikir, itu baru satu instansi, apa jadinya kalau instansi-instansi yang
lain model tsb diatas, itupun kalau benar.
Untung saja dia bukan Bapak saya, alhamdulillah.
SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Ketika terdengar pengumuman tentang kematian melalui speaker di
sebuah Masjid "Innalillahi wainnailaihi rajiuun, telah berpulang ke
rakhmatullah, Cuplis Bin Peang pukul 10.30 WIB yang beralamat di Jl. Waru
Bongkok No. 1, RT. 05 RW 06 Kelurahan Pasti Kagetan.........dst.
Itu Bang Cuplis Preman Pasar yang terkenal galak dan sadis, kini sedang
terbaring diatas dipan tempat tidur dan dikerubungi oleh sanak keluarganya
dengan tangisan. Tapi aneh bin ajaib, bang Cuplis bin Peang sontak terbangun
dan berdiri dengan sorot mata yg tajam ketika dia mendengar pengumuman tentang
kematian dirinya dari sebuah Speaker di Masjid. "Siapa yang bilang gua udah
mati !! Orang gua cuman pura-pura mati, sabab gua habis nenggak minum bir 4
kerat !! Kepala gua gak tahan, badan gua berasa oleng, lalu gua di depan anak
isteri pura-pura mati ! Gua masih pengen idup, gua tobat sama Allah dah, gua
kapok kagak bakalan minum itu bir lagi!!!" Sambil nangis sejadi-jadinya, Bang
Cuplis yang preman pasar itu akhirnya sadar sendiri.
Hi.hi....preman ternyata takut mati juga ya ?? Tapi kalau melihat kelakuan
preman, seolah-olah dia punya nyawa 1000. Sama orang lain main bentak, memeras
para pedagang, membunuh, doyan minuman keras, pil syetan ditelan dan
sejenisnya, tidak ada tutur kata yang baik, yang keluar cuman makian dan
bentakan. Dia merasa dirinya jago.
Eh, mendengar pengumuman tentang kematiannya, dia langsung ngeper, ternyata
nyali preman cuman sebatas itu. Coba kalau terjadi betulan, Malaikat pencabut
nyawa menghampiri dirinya, apa yang dia bisa lakukan, sedangkan baru mendengar
pengumuman saja sudah takut duluan.
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/