Saya salut sama Kang Saprudin yg cukup produktip utk mengirimkan postingannya baik dalam bentuk pendapat ybs maupun copy paste. Usaha yg patut kita hargai, karena tidak semua orang punya waktu luang dan tidak semua orang ada kemauan untuk menulis dan mengirimkannya, tapi saya juga bisa memahami keberatan Bung Pedje, karena komunitas milis ini tidak homogin dari latar belakangmasing masing anggotanya, baik agama maupun tingkat intelektualnya. Saya setuju sama Kang Saprudin, bahwa ilmu itu harus diamalkan dan harus ada dasarnya, tapi alangkah baiknya bila cara penyampaian maupun materi yang disampaikan, agar lebih luwes dan elegan. Sehingga yg membacanya juga jadi enak dan nyaman , tidak merasa terganggu pendiriannya, tapi bisa menerima. Bagaimana caranya...???? ... yg jelas ada kiatnya... dan Islam mengajarkan agar kita bisa bersikap Rahmatan bagi alam semesta, jadi tentunya kita harus bisa merahmati komunitas milis ini dengan pencerahan yang membuat suasana menjadi lebih kondusif dan bisa meningkatkan kwalitas hidup ini menjadi lebih baik ,,, dan lebih baik lagi... dan itu merupakan sikap seorang muslim sejati..... bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini..... better, bigger, higher Terima kasih Wassalam DRH masih ingin pencerahan dan perbaikan Catatan: AlQuran bukan hanya untuk orang mati, jadi kalau memang AlQuran untuk Orang hidup, kita harus membuktikannya bahwa AlQuran memang untuk Orang Hidup. Masalahnya sekarang ini, Umat Islam sebgaian besar menjadi pecundang (Looser) dan bukan pemenang (Winner) yg konon kabarnya berpegang kepada Alquran.....apakah ada yg salah dalam metode mebaca AlQuran, seperti yg dianjurkan AlQuran...... atau hanya sekedar di Musabaqohkan saja itu Alquran.... atau hanya sekedar dibaca saja tanpa dimengerti dan dihayati... tak ubahnya seekor burung beo yang di ajarkan bacaan Qulhu ( AlIkhlas).... bahkan metode ruqyahpun dilakukan dengan bacaan AlQuran, tak ubahnya seperti mantra... bahkan karena kemajuan teknologi... bacaan ruqyahpun bisa digantikan dengan kaset rekaman ....WaAllahu A'lamu Bishowab.....
----- Original Message ----- From: "SP Saprudin" <[EMAIL PROTECTED]> thank you for your attention, friend........ Akh Pedje mah kitu bae dak . Apakah pernah saya menyampaikan kepada anggota member milis wongbanten dengan tekanan dan paksaan terhadap pemahaman yang saya anut ? Tentu tidak kan ? Yang namanya ilmu tidak ada istilah basi. Ilmu itu datangnya darimana saja walaupun keluar dari pantat ayam ambil, kalau keluar dari pantat babi, jangan. Sekarang tergantung kepada individunya, apakah mau menyerapnya atau mengabaikannya. Jangan apriori dong friend ? Apakah saya menyampaikan masalah Tafsir ?? Ente salah mengerti, karena saya bukan menyampaikan masalah Tafsir, tapi saya bicara masalah substansi berkaitan dengan hal ini. Karena prinsipnya, apabila kita mengamalkan sesuatu amalan yang tidak ada asalnya/dalilnya syar'inya, maka amalan tsb tertolak. Saya hargai keberatan ente dalam masalah ini, inilah kompetensi saya. Jika ente punya kompetensi dibidang lain, silahkan anda tulis dan kirimkan kepada member milis wongbanten. Maaf friend, jangan salah mengerti tentang hal ini, baiklah untuk memberikan pencerahan bagi siapa saja, beriut saya sampaikan beberapa atsar yang berisi nasehat dan keterangan akan pentingnya ilmu dan mempelajarinya sbb.: 1). "Dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:'Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia." (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48) 2).Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwasanya beliau apabila melihat para pemuda giat mencari ilmu, beliau berkata: "Selamat datang wahai sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati-hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah-rumah (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah." (Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlih, karya Al-Imam Ibnu 'Abdil Barr, 1/52) Yakni bahwasanya sifat mereka secara umum adalah sibuk dengan mencari ilmu dan tinggal di rumah dalam rangka untuk mudzaakarah (mengulang pelajaran yang telah didapatkan) dan mempelajarinya. Semuanya ini menyibukkan mereka dari memperhatikan berbagai macam pakaian dan kemewahan dunia secara umum demikian juga hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang kurang manfaatnya dan hanya membuang waktu belaka seperti berputar-putar di jalan-jalan (mengadakan perjalanan yang kurang bermanfaat atau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh selain mereka dari kalangan para pemuda. 3). Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Pelajarilah oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah khasy-yah; mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya. Dengan ilmu tersebut Allah akan mengangkat kaum-kaum lalu menjadikan mereka berada dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam; jejak-jejak mereka akan diikuti; perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali kepada pendapat mereka. Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya; setiap makhluk yang basah dan yang kering akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut sampai ikan yang terkecilnya, dan binatang buas yang di daratan dan binatang ternaknya (semuanya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka). Karena sesungguhnya ilmu adalah yang akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat. Memikirkan ilmu menyamai puasa; mempelajarinya menyamai shalat malam; dengan ilmu akan tersambunglah tali shilaturrahmi, dan akan diketahui perkara yang halal sehingga terhindar dari perkara yang haram. Ilmu adalah pemimpinnya amal sedangkan amal itu adalah pengikutnya, ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia; sedangkan orang-orang yang celaka akan terhalang darinya." (Ibid. 1/55) 4). Dari 'Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan dia mempunyai dosa-dosa seperti gunung Tihamah, akan tetapi apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu dengan menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali kepada Rabbnya dan bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkan majelisnya para ulama." (Miftaah Daaris Sa'aadah, karya Al-Imam Ibnul Qayyim, 1/77) Dan beliau juga berkata: "Wahai manusia, wajib atas kalian untuk berilmu (mempelajari dan mengamalkannya), karena sesungguhnya Allah Ta'ala mempunyai selendang yang Dia cintai. Maka barangsiapa yang mempelajari satu bab dari ilmu, Allah akan selendangkan dia dengan selendang-Nya. Apabila dia terjatuh pada suatu dosa hendaklah meminta ampun kepada-Nya, supaya Dia tidak melepaskan selendang-Nya tersebut sampai dia meninggal." (Ibid. 1/121) 5. Berkata Abud Darda` radhiyallahu 'anhu: "Sungguh aku mempelajari satu masalah dari ilmu lebih aku cintai daripada shalat malam." (Ibid. 1/122) Bukan berarti kita meninggalkan shalat malam, akan tetapi ini menunjukkan bahwa mempelajari ilmu itu sangat besar keutamaannya dan manfaatnya bagi ummat. 6). Dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullaah, beliau berkata: "Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya." (Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam An-Nawawiy, 1/21) 7). Dari Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullaah, beliau berkata: "Tidak ada sesuatupun yang lebih utama setelah kewajiban-kewajiban daripada menuntut ilmu." (Ibid. 1/21) Adapun bait-bait sya'ir yang menjelaskan tentang permasalahan ilmu dan kedudukannya itu sangat banyak dan tidak bisa dihitung, dan di sini hanya akan disebutkan dua di antaranya: "Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu) karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk bagi orang yang meminta dalil-dalilnya dan derajat setiap orang itu sesuai dengan kebaikannya (dalam masalah ilmu) sedangkan orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi ahlul ilmi." Dan sya'irnya Al-Imam Asy-Syafi'i: تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ وَإِنَّ كَبِيْرَ الْقَوْمِ لاَ عِلْمَ عِنْدَهُ صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ الْجَحَافِلُ وَإِنَّ صَغِيْرَ الْقَوْمِ إِنْ كَانَ عَالِمًا كَبِيْرٌ إِذَا رُدَّتْ إِلَيْهِ الْمَحَافِلُ "Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah orang yang berilmu seperti orang yang bodoh. Sesungguhnya suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu maka sebenarnya kaum itu adalah kecil apabila terluput darinya keagungan (ilmu). Dan sesungguhnya kaum yang kecil jika memiliki ilmu maka pada hakikatnya mereka adalah kaum yang besar apabila perkumpulan mereka selalu dengan ilmu." Disadur dari kitab Aadaabu Thaalibil 'Ilmi hal.18-22, Wallaahul Muwaffiq, Wallaahu A'lam. (Dikutip dari Bulletin Al Wala' wal Bara' Bandung, Edisi ke-21 Tahun ke-3 / 22 April 2005 M / 13 Rabi'ul Awwal 1426 H, url http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/21.htm) Pedje <[EMAIL PROTECTED]> menulis: Kang Saprudin, soal perbedaan tafsir mengenai masalah khilafiah seperti bacaan Alquran untuk orang mati itu dalam sejarah umat Islam di Indonesia sudah banyak menimbulkan korban (bahkan sampai korban nyawa) di kalangan akar rumput, terutama dari para pengikut NU, Muhammadiyah, dan Persis. Masa sih mau diangkat-angkat lagi, dengan hanya menyodorkan satu tafsir? Kayaknya ini gak fair, gak mendidik, dan jadinya gak penting deh. Lagian, ente kok kayaknya keasyikan ngirimin milis-milis bertopik Islam terus nih, padahal anggota milis ini kan bukan hanya orang Islam. Bukankah ada perintah untuk umat Islam agar berdakwah dengan cara yang simpatik? Bukankah Umar bin Khatab menolak untuk salat di gereja di Palestina yang baru ia taklukkan karena khawatir gereja itu nantinya direbut oleh umat muslim di kelak kemudian hari? Salam, Pedje --- SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bicara apa ente, Pedje ??? > > Pedje <[EMAIL PROTECTED]> menulis: Busyet, > persoalan tahun kuda kayak gini masih diangkat > lagi. Capek ah berdebat untuk urusan tafsir yang > sepele ini, ada banyak persoalan yang lebih penting. > Daripada disetelin house music kan orang mati lebih > baik dibacain Quran. Iya, kan? Udah ah, capek.... > > --- SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin accept no liability for any loss or damage arising from the use of this E-Mail or attachments. Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
