Jadi pejabat merupakan suatu kebanggaan bagi tiap orang termasuk saya (kapan ya
saya jadi pejabat?). Busyet dah gini hari jaman kuda gigit besi masih mimpi
disiang bolong Ha..ha..ha..si SP Saprudin mimpi kali yeeeeeeeeeeeeeeee? Sekolah
aja kagak, tiap hari kayak orang bego, baca aja blepotan mana bisa jadi
pejabat....ha..ha..ha..ha...(celetuk si Jefry Otoy Ontohod).
Ketika suatu posisi yang diidam-idamkan tercapai, maka ketika itu juga
ekspresi luapan kegembiraan yang tiada tara terlihat di wajahnya. Itu pasti
tidak bisa dipungkiri. Bahkan keluarga di rumah mengadakan acara ceremonial
dengan mengundang kolega-koleganya dan kroni-kroninya. Isteri jingkrak-jingrak,
anak-anaknya pada joged, karena bapaknya diangkat jadi pejabat.
Kadang kita lupa, atau karena tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa
apapun bentuknya jabatan itu merupakan suatu amanah yg harus dipikul dengan
sebaik-baiknya. Namun apa yang kita saksikan dalam realitas kehidupan manusia,
ketika jabatan itu diraih, maka ketika itu juga diotaknya sudah terjejali oleh
pikiran-pikiran aji mumpung (maaf bukan saya suudzon).
Setelah resmi jadi pejabat, minta fasilitas, mobil, rumah dan ditambah dengan
sikap ingin dilayani, sikap ingin dinomorsatukan, sikap gila hormat, dan banyak
lagi sikap-sikap yang merupakan ciri jiwa kepemimpinan Indonesia yang penuh
dengan feodalistik. Kebawahan nginjak, keatasan menjilat, sikut kiri sikut
kanan.
Sebagai bahan intropeksi diri bagi saya sendiri khusunya, dan umumnya
mereka-mereka yang duduk jadi pejabat.
berikut di bawah ini saya uraikan sebuah kisah yang patut ditauladani oleh
mereka-mereka yang memangku suatu jabatan.
============================
Umar bin Abdul Aziz, seorang Khalifah Bani Umayah (682-720 M) yg terkenal
dengan kebijaksanaannya, pada suatu malam sedang bekerja sendirian di ruang
kerja kantornya dengan penerangan lampu dari minyak zaitun. Karena ketekunannya
bekerja membuat catatan dan surat-surat urusan kenegaraan, hingga tanpa
disadarinya salah seorang putranya telah berdiri dihadapannya Khalifah untuk
berbicara.
Ketika khalifah mengangkat kepalanya merasa terkejut, karena putranya telah
berada di hadapannya. Kemudian segera disapanya.
"Untuk keperluan apa engkau datang kemari menemui ayah yang sedang sibuk oleh
pelbagai pekerjaan?" tanya Khalifah kepada puteranya.
Puteranya lalu menjawab : "Ada sesuatu yang harus disampaikan, urusan
kekeluargaan yang harus aku bicarakan dengan ayah".
Khalifah mendengar perkataan anaknya lalu menjawab : "Kalau begitu, tunggu
sebentar, ayah akan matikan dulu lampu ini".
Khalifah lalu menuju ke lampu minyak zaitun yang sedang menyala, kemudian
mematikannya.
Sesudah mematikan lampu itu, Khalifah mempersilahkan puteranya berbicara
dalam ruangan kerjanya yang menjadi gelap.
"Nah sekarang bicaralah, apa yang hendak kamu katakan" ujar Khalifah.
"Tetapi kenapa ayah harus mematikan lampu dahulu, sehingga ruangan jadi gelap
dan mengganggu pembicaraan kita", kata puteranya.
Mendengar keluhan puteranya, Khalifah berkata : "Anakku, lampu ini dinyalakan
dengan minyak zaitun yang dibeli dari uang negara. Sedangkan engkau datang
kepada ayah bukan dalam rangka urusan negara, tetapi mengenai persoalan
keluarga. Oleh karena itu kita jangan mempergunakan fasilitas-fasilitas negara.
Karena negara adalah milik rakyat, dan kita tidak boleh mengurangi hak milik
mereka itu untuk kepentingan kita sendiri".
"Tetapi ayah, aku tak dapat berbicara dalam ruangan gelap seperti ini" ujar
puteranya.
Ketika mendengar keluhan puteranya, maka Khalifah memanggil seorang pembantu
yang diperintahkannya untuk mengambil lampu dari rumah Khalifah, untuk
dipergunakan selama pembicaraan antara Khalifah dan puteranya.
Setelah ruangan terang, khalifah berkata : "bicaralah, apa yang hendak engkau
katakan. Kini ruangan jadi terang, karena kita menggunakan lampu milik kita
sendiri".
****
Itulah sebuah contoh teladan yang dimiliki oleh seorang Khalifah (pemimpin
negara) yang memegang amanah dari kepemimpinannya yang menguasai kekayaan
negara yang begitu besarnya.
Dalam soal kecil itu Khalifah Umar bin Abdul Aziz bertindak hati-hati,
begitupun dalam persoalan yg lebih besar beliau senantiasa menunjukkan sikap
amanahnya yang begitu besar.
Suatu hari isterinya, Fathimah binti Abdul Malik, masuk ke kamar Khalifah,
dan melihatnya sedang duduk diatas tempat shalatnya. Pipinya ditempelkan diatas
tangannya, sementara air matanya mengalir. Melihat keadaan Khalifah yang
demikian sang isteri bertanya : "Mengapa engkau menangis seperti ini kanda?".
Khalifah menjawab : "Oh betapa malangnya wahai Fatimah, aku diberi tugas
mengurus ummat seperti ini. Yang menjadi pikiranku adalah nasib si miskin yg
kelaparan, orang yg merintih kesakitan, orang yg terasing di negeri ini,
tawanan, orang tua renta dan jompo, janda yang sendirian, orang2 yg mempunyai
tanggungan keluarga yg besar dengan penghasilan kecil dan orang-orang yg
senasib dgn mereka diseluruh peloksok negeri, baik di timur maupun di barat,
utara maupun selatan. Aku tahu, Allah Swt akan meminta pertanggung jawaban
kepadaku di hari kiamat kelak. Sedangkan pembela mereka yg menjadi lawanku
adalah Rasulallah Saw. Aku betul-betul takut tak dapat mengemukakan jawaban
dihadapan-Nya. Itulah sebabnya aku menangis, wahai Isteriku Fatiham". Jawab
sang Khalifah kepada isterinya.
Ilustrasi tersebut diatas, merupakan cermin bagi siapa saja yang memangku
jabatan : Kepala Keluarga, RT, RW, Kades/Lurah, Camat, Bupati/Walikota,
Gubernur, Dirjen. Menteri hingga Presiden dan lain-lain.
Allah Swt. memberikan penilaian yang tinggi kepada orang yang memegang amanah
dengan teguh, sebagaimana difirman-Nya :
"Dan orang-orang yg memelihara amanat-amanat (dipikulnya) dan janji-janjinya.
Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan
mewariskan kebahagiaan dan kesenangan di surga Firdaus, mereka kekal
didalamnya" (Al-Mu'minun 8-11).
****
(SPS)
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/