Sumber :
1). Abbas Mahmud "Aqqad (w.1953) salah seorang guru As-Syahid Syayid Quthub
(w. 1966) adalah termasuk tokoh yg banyak membahas persoalan 'aqidah. beliau
mebahas asal-usul aqidah dan fase-fase aqidah ketuhana, lih. ALlah ab. : A.
Hanafi, MA (jkt. bulan bintang 1973) (cet. II hal. 13.22)
2). "Aa'idul Arab Qablal Islam oleh Dr. Yahya Hasyim Hasan Farghan, "Awmil-wa
Ahdab Nsyi'atu Ilmu Kalam fil Islam (mesir : Majma' al-Buhuts) hal. 147.
3). Dr. Mahmud Hasan al-Hasim, Qur'anun Karim Tafsirwa Bayan Ma'a Asbabin
Nuzul (Beirut : Dar ar-Rasyid)
4). Dr. Nashir bin ABul Karim al-'Aql. Mabahits Fi' Aqidah Ahlus Sunnah Wal
Jama'ah-wa Muqif al-Harakah al-Islamiyah al Mu'ashirah Minha. (Riyadh : Dar
al-Wathan, tth) hal. 9
5). Dr. Umar Sulaiman al-Asyqari, al-Aqidah Fillah (Kuwait : Maktabah
al-Fallah (1976) hal. 7
6). Syaikh ALi al-Batthami di dalam kitabnya "Tahirul Jinan wal Arkan"
7). HR. Bukhari di dalam shahihnya - Kitab al-Jana'iz bab : Idza Aslam
as-Shabiyu (al-Fath III : 219). Dikeluarkan juga oleh Imam Muslim - Kitab
al-Qadar Bab : Kullu Mauludin Yula du'alal Fitrah no. 2658 juz III : 1047).
8). Ibnu Taimiyah dalam kitab : Majmu' Fatwa Juz IV : 245
9). as-Syeikh Ahmad bin Hajar Ali Bathtami 'ALi bin Ali, Tathir al-Jinan wal
Arkan'An Darani as-Sirki wal Kufran. Jami'yah Ihya'u at Turasts hal. 22).
Itulah sumbernya. terima kasih atas perhatiannya.
[EMAIL PROTECTED] menulis:
asslmlkm... sumbernya dari mana akang? sebutkan dong...
> "AQIDAH SEORANG MUSLIM"
> (telaah terhadap hakekat dan makna aqidah Islam)
>
> I. IFTITAH
>
> Terminologi aqidah pada mulanya tidaklah semata2 berkonotasi dengan
> Dienul Islam dan para pemeluknya. Sesuai dengan maknanya Aqidah adalah
> terminologi umum (Musthalahat al-'Ammah) yg memiliki arti dan batasan
> yg luas. Ia bisa dipergunakan ataupun dimiliki oleh semua orang dari
> setiap kelompok, yang muslim atau non muslim, dulu, sekarang maupun yg
> akan datang.
> Karena itu amat disayangkan, dalam perkembangannya Term 'Aqidah diklaim
> dan selanjutnya diidentikkan dgn Al-Islam, meskipun disadari
> artikulasinya berasal dari bhs Arab.
> Dr. Umar Sulaiman All-Asykari dalam kitabnya "Al 'Aqidah Fillah" menulis
> :"Term 'Aqidah adalah termasuk kata yg sering diucapkan dan menghiasi
> setiap pembicaraan orang. Dia meyakini sesuatu sampai keras (konsis) dan
> kuat (eksis). Karena itu invasi yg dilakukan Yahudi dan konco-konconya
> terhadap Islam dari dulu sampai Hari Akhir (Qur'an : 2:120) pada
> hakekatnya adalah Harbun Aqaidiyah (serbuan keyakinan)"
> Ungkapan tsb diatas jelas mengandung pengertian yg umum (Yadullu 'alal
> "amm), bisa dipakai untuk mengatasnamakan 'Aqidah Bathilah ('Aqidah yang
> batil), Aqidah Muhaddamah ('Aqidah sempalan), dan 'Aqidah Gharbiyah
> ('Aqidah orang2 barat seperti, Materialisme, Kapitalisme, Komunisme
> dll.), sekaligus untuk menyebut 'Aqidah Shahihah, yakni 'Aqidah
> Islamiyah.
> Dgn adanya konfensi masing-masing kelompok dan aliran keagamaan tadi
> menyebabkan 'Aqidah Islam lambat laun mengalami penetrasi kajian
> (analytical penetration). Sehingga karakteristik 'Aqidah Islam yg
> khalisah (asli) dgn manhaj Rabbaniyahnya itu menjadi tercemar, bercampur
> dgn unsur2 yg merusak.
> Penetrasi itu muali sejak masuknya kebudayaan Arab zaman Jahiliyah kala
> itu di Jazirah Arab meskipun dulunya banyak melahirkan Nabi telah
> berkembang berbagai pola pandang (Mukh-taliful 'ara) dan segala bentuk
> kepercayaan (ritualitas keagamaan). Sebut saja misalnya penyembah
> binatang dan benda-benda langit (as-Shabi'ah wal Hanfa'), Penyembah api
> (al Majusiyah), Ahlul Kitab (Yahudi & Nashrani), Atheis (ad-Dahriyah) yg
> merupakan sebagai cikal bakal Sekularisme dan Komunisme.
> Kecuali itu adapula yg secara khusus menyembah Malaikat, mempertuhankan
> binatang, menyembah Jin, mengingkari Wujudullah dan Nubuwwah, para
> astrolog (al-Kahnan) dan ajaran Tanasukh (reinkarnasi) yang banyak
> menyusup dan akhirnya diyakini oleh sebagian kaum Muslimin.
>
> Faktor lain yg tidak boleh dilupakan ialah pengaruh akulturasi budaya
> (mukhalathan al khadharah) dgn agama lain yg lebih duluan berkembang di
> Jazirah Arab. Surat Al-Quraisy memberikan ilustrasi khusus betapa
> persentuhan budaya luar melalui jalur perdagangan sangat cepat
> penyebarannya.
> Sebagaimana diketahui bangsa Arab di zaman Jahiliyah bahkan sampai
> dimulainya marhalah Da'wah sangat suka hidup berpindah-pindah. Pada
> musim panas (Rihlan as-Shaif) mereka berniaga ke negeri Syam, sedangkan
> di musim dingin (Rihlan as-Syita') mereka ke Yaman. Dua kota niaga itu
> banyak dihuni oleh Ahlul Kitab. Karena kebudayaan Padang Pasir
> (perkampungan) jauh lebih rendah dengan peradaban kota, maka tentu saja
> akan cepat meniru budaya kota yg lebih maju.
> Disamping itu, di Madinah sendiri yg dulu terkenal di masa Kenabian
> dengan sebutun "Negeri Sunnah" (Dar as-Sunnah) sejak tahun 70 M banyak
> dihuni oleh mayoritas Yahudi, seperti suku Qainuqa', Bani Ndahir, Bani
> Quraidzah, Yahudi Khaibar, Tama' dan Fadak.
> Sebelum mereka diusir dari Madinah setelah terjadi perang Ahzab, sudah
> banyak meninggalkan atsar dan jejak ke Bani Israelan-nya terhadap nuansa
> pemikiran dan keilmuwan orang-orang Islam. Apalagi mereka yang memiliki
> Pusat Pengkajian Budaya dan Keilmuwan yang sekarang terkenal dengan nama
> "Midras".
>
> Sebab-sebab tersebut di atas, terbukti banyak mempengaruhi alam
> pemikiran ('alamut tafkir) generasi pertama umat ini, terutama dari
> pihak Yahudi yang masuk Islam atau yg pura-puran masuk Islam.Kajian
> 'Aqidah banyak mengambil corak teologi Rasionalisme dan Filsafat Yunani
> Klasik dari pada yang diinginkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah.
>
> Untuk generasi sekarang persoalannya tidak jauh berbeda, 'Aqidah Islam
> banyak ditampilkan melalui gaya Ilmu Kalam dan Filsafat dengan tumpuan
> Madzhab Asy'ariyah dalam bidang 'Aqidah, dan Madzhab Syafi'iyah dalam
> bidang Fiqh.
>
> ***
> II. AT-TAâRIF
> a). Makna Lughawi (Etimologi)
> Aqidah yg kata dasarnya berasal dari kata Aqada-Ya-qidu âAqidatan
> memiliki beberapa macam arti. Para pengarang Qamus seperti ; Imam Ibnu
> Mandzur (w.711 H) didalam âLISANUL ARABâ, Mujiduddin Muhammad bin
> Yaâqub al-Fairuz Abadiy didalam âAL-QAMUSUL MUHITHâ, dan penulis
> âMUâJAMUL WASITHâ â Ibrahim Musthafa mengartikan âAqidah
> dengan :
> artinya :
>
> Ikatan yang sangat kuat;
> Ketepatan dan penegasan;
> Berpegang teguh serta tabah;
> Kokoh lagi penuh percaya diri.
> dan kadang makna 'Aqidah diidentikkan dengan perjanjian dengan
> perjanjian dan pengesahan sebuah sumpah (al Autsaqul 'uhud) sebagaimana
> firman Allah Swt yang artinya : "Wahai orang2 yg beriman, penuhilah
> janji-janji kalian" (QS al-Maidah : 1).
>
> Dilain ayat Allah berfirman, yang artinya : "Allah tidak akan menghukum
> sekalian disebabkan janji-janjimu yg tidak dimaksud (untuk bersumpah),
> tetapi Dia akan menghukummu disebabkan sumpah yg kamu sengaja". (QS :
> al-Maidah : 89).
>
> Jadi dapat dikatakan "Wamaa Aqadal Ihsaanu alaihi qalbuhu Jaaziman Bihi
> Fahuwa 'Aqidah (segala sesuatu yang mengikat dan menambat hati manusia
> sehingga hatinya terpaut, dapat dikatakan 'Aqidah).
>
> b). Makna Istilah (terminologi)
> Banyak ragam definisi yang dikemukakan olehpara ahli di seputar makan
> 'Aqidah secara istilah. Perbedaan batasan (mukhtalifut ta'rif) itu
> dimungkinkan karena luasnya ruang lingkup dan terlalu mendalamnya
> pembahasan Aqidah Islam. Siapapun mengakui, bahwa sepertiga dari inti
> ajaran Islam adalah Aqidah. Dr. Mahmud al-Khalidi, Guru Besar
> Universitas Al Azhar menghimpun berbagai definisi itu didalam kitabnya
> "Al-Aqidah wa Ilmul Kalam", antara lain disebutkan :
> 1. DR. ABDULLAH 'AZZAM
> "Ikatan perjanjian dan buhul tali yang sangat kuat yang terpatri
> (berurat akar) serta tertanam di lembah hati yang paling dalam"
> (al-Aqidah wa Atsaruha Fi Bina' al-Jail, Maktabah ar-Risalah, cet. III
> hal. 20).
>
> 2). SYEIKH ALI THANTHAWI
> "Kepercayaan dan keyakinan kepada Allah sebagai Rabban Wahidan
> (Pemelihara TUnggal), Malikan Mukhtaaran Mutasharrifan (Raja dan
> Penguasa yg tiada tertandingi), Ilaahan Mufradan (Tuhan Yang Esa) dengan
> jalan beribadah dan meyakini segala sesuatu yang diwahyukan kepada
> Nabi-Nya, Muhammad Saw." (Ta'rif 'Amm Bi Dinil Islam, Dar ar-Ra'id, 1977
> hal. 32-34).
>
> 3). HASAN AL BANA
> "Segala perkara yang pasti dibenarkan oleh jiwa, menentramkan hati,
> mendatangkan keyakinan terhadap pemiliknya, murni dari keraguan dan
> syakwasangka (al-Aqa'idah, Ta'liq : Ridwan Muhammad Ridhwan, 1341, hal
> 7).
>
> 4). DR. MUHAMMAD SA'ID RAMADHAN AL-BUTHIY
> "Membenarkan dan mengakui secara totalitas azas pokok ajaran Islam
> dengan tanpa merubah (tahrif wa taghyir) atau mengurangi (tanqish)
> sedikitpun".
> (Kubra al-Yaqiniyat al Kaunyiah, Dar al-Fikr. 1402, hal 70).
>
> 5). DR. ABDUR RAHMAN HASAN HANBAKAH
> "Meyakini keberadaan sesuatu yg apabila perasaan telah meraihnya, maka
> akan menggerakkan jiwa dan mengarahkan tingkah laku manusia kearah yang
> benar dan diridhoi" (al-'Aqidah al-Islamiyah Wa Asasuha, Dar al-Qalam,
> 1986, hal 33).
>
> Menyadari akan banyaknya definisi diatas, maka Dr. Nashir bin Abdul
> Karim al-Aql membaginya dalam 2 (dua) kategori :
> 1). al-Aqidah Fi Isthilahi 'Amm : "Keimanan yang mantap kepada Allah dan
> ketetapan hukum yang pasti, tidak ada jalan bagi orang yang meyakininya
> untuk ragu-ragu".
>
> 2). al-'Aqidah Fi Isthilah Khass :
> a}. Sikap yakin dan percaya kepada Allah, baik dalam Rububiyah, Uluhiyah
> (tauhidul ibadah), dan Asma'wa Sifat-Nya.
> b}.Meyakini Arkanul Iman yg enam, yaitu al-Imanu Billah, Wa Malaikatih,
> Wa Kutubihi, Wa Rasulihi, Wa Yaumil Akhir, Wal Qadar Kahirihi wa Syarrih
> (HR. Bukhori-Muslim dalam as-Shahihaein, Kitabul Iman).
> c}. Menerima dengan sepenuhnya nash-nash yang shahih (kuat) dan sharih
> (tegas) dalam perkara-perkara prinsip (usuhl ad-dien), metafisika
> (umuwrul gaibiyah), dan masalah lain yang telah menjadi konsensus (Ijma)
> Ulama Salaf.
> d}. Pasrah dalam menerima keputusan hukum, perintah, peraturan dan
> undang-undang Allah dan Rasul-Nya dengan cara ; mentaatinya (tha'atur
> Rasul, Qur'an 4:64; 4:19; 8:46), mengikuti Sunnahnya (ittibatur Rasul,
> Qur'an 59:7), dan dengan jalan mencintainya (mahabbatur Rasul, Qur'an
> 9:24; 58:22).
>
> III. AL-MUSAMMIYATU ILMUL 'AQIDAH
>
> Betapa pentingnya ilmu tentang 'aqidah ini, maka di kalangan Ulama
> banyak memberikan perhatian serius. Beragam nama yg diberikan secara
> khusus untuk menanamkan ilmu 'Aqidah, yaitu :
>
> a). Penamaan oleh Ulama Ahlus Sunnah :
> 1]. Al-'Aqidah, seperti sebutan 'Aqidatus Salaf, 'Aqi-dah Ahlul Atsar,
> dsb. (Lihat Syarah 'Ushul al I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah oleh : Imam
> al-Laalika'i (w.416 H).
>
> 2]. At-Tauhid, dan dialah semulia-mulia pembahasan dan bahkan sasaran
> terakhir ilmu 'Aqidah. Untuk ini pula, maka Imam Bukhori di dalam
> Shahihnya menyediakan bah : "Kitab at-Tauhid".
>
> 3]. As-Sunnah; Sunnah yg di maksud adalah at-Thariqah (jalan, tata cara,
> jejak dan langkah) Salafus Shalih, yaitu generasi umat ini sampai
> penghujung abda ke 3 H sebelum terjadinya Qarnul Fitnah, yaitu
> terbunuhnya Khalifah Utsman dan pecahnya kesatuan umat Islam dengan
> munculnya aliran-aliran atau firqah kalamiyah.
>
> 4]. Ushul as-Dien
> Yang dimaksud ialah prinsip-prinsip ajaran Islam, seperti arkanul Iman
> dan arkanul Islam, serta masalah ygn sudah jelas ketentuannya dan telah
> menjadi Ijma' Sahabat (Ushul ad-Dien, oleh Imam al-Baghdadi w.429).
>
> 5]. Al-Fiqhul Akbar
> Para ulama klasik biasa membedakan Istilah Fiqhul Asghar untuk
> mengatasnamakan Ibadah (Fiqhi Nabawi) dan Ahkamul Ijtihadiyah untuk
> Fiqhi yang bersifat Ijtihadi. Sedangkan untuk 'Aqidah mereka menyebutnya
> dengan istilah Fiqhul Akbar, seperti Imam Abu Hanifah (imam mazhab yg
> pertama w.150H terhadap kitabnya "Fiqhul Akbar").
>
> 6]. As-Syari'ah
> Yang dimaksud ialah sesuatu yang telah disyariatkan oleh Allah dan
> Rasul-Nya. Orang menamakan ini, seperti Imam al-Ajiri dalam kitabnya
> "Kitabus Syari'ah" dan Imam Ibnu Batthah dalam kitabnya "Al-Ibanah 'An
> Syaria'ti al Firqah an Najiyah".
>
> 7]. Il-Iman
> Dinamakan demikian karena pembahasannya banyak menekankan pada masalah
> keimanan. Penamaan ini sangat masyhur di kalangan ulama Hadits
> (Muhadditsin), hal ini terbukti dengan tercantumnya Bab al-Iman di
> kitab-kitab mereka
>
> b. Ilmu Kalam
> 1]. Ilmu Kalam :
> Nama ini sangat terkenal di kalangan Mutakallimin, seperti golongan
> Mu'tazialh, Asy'ariyah dan firqah lain yang mengikuti jejak mereka, dan
> demi keperluan ini, Imam Sa'duddin at-Taftazani (w.791) menyusun kitab
> "Syarhul Maqashid Fi Ilmil Kalam".
>
> 2]. al-Filsafat
> Ahli filsafat sengaja menyebutnya demikian, walaupun ditentang oleh
> kelompok Ahlus Sunnah. Sebab kajiannya banyak bertumpu pada akal merdeka
> (Rasionalisme), Analogi Fantastik (al-'Aqliyat al-Khaliyah) dan gambaran
> lain yg tidak masuk akal.
>
> 3]. at-Tashawwuf :
> Sangat populer di kalangan tokoh-tokoh sufi, para pilosof dan
> orientalis. Tujuannya adalah memasukkan 'aqidah orang Yunani dan Persia,
> begitu pula ajaran 'ubudiyahnya akan sembrawut, sebab Tuhannya sendiri
> tidak jelas.
>
> 4]. Al-Illahiyah (Teologi).
>
> 5]. Ma wara'a at-Thabi'ah (methafisika).
> Para penulis barat sangat gencar mencari kelemahan ajaran Islam sejak
> abad pertengahan. Karena apabila konsep ketuhanannya kabur atau tidak
> jelas, maka 'ubudiyahnya akan sembrawut, sebab Tuhannya sendiri tidak
> jelas.
>
> IV. TAKHUL AQIDAH WA MATAA THARA'A
> (Sejarah Aqidah Islam dan Penyelewengan Ummat).
>
> Hakekat Aqidah Islam ialah "Aqidah Tauhid", yaitu Dienul Hanif
> (diuangkapkan sebanyak 10 kali di 7 Surah al-Qur'an); Dienul Qaiyim :
> 12:40; Dienul Haqq : 9:33; Dienul Khalish : 39:3.
> Aqidah Tauhid sudah ada bersamaan dengan diciptakannya manusia, yg
> datang dengan membawa fitrah aqidah as-Salimah (aqidah yg lurus dan
> benar).
> Dan karena itu maka tujuan inti Da'wah para Nabi adalah Aqidatut Tauhid.
> Lalu kapankah terjadi penyimpangan terhadap aqidah ini?.
>
> Ibnu Abbas Ra. meriwayatkan sebuah hadits : "Antara Nabi Nuh dan Nabi
> Adam ada jarak selama 10 kurun, dimasa itu ummat manusia masih
> menjalankan syari'at yang benar. Lalu mereka berselisih (di zaman Nabi
> Nuh As.). Kemudian Allah Swt. mengutus para Nabi untuk memberi kabar
> gembira dan memberi peringatan".
>
> Dalil diatas sekaligus merupakan bantahan terhadap ahli perbandingan
> agama yang menyatakan bahwa tiap manusia awal mulanya menyembah TUhan
> banyak (politheisme). Dan agama apapun adalah sama karena mengajarkan
> kebenaran.
> Padahal hadist sendiri menjelaskan : "Tidak ada satupun anak yang
> dilahirkan, kecuali lahir dalam keadaan fitrah, Tergantung kepada kedua
> orang tuanya apakah akan menjadi yahudi, nasrani dan majusi" (HR.
> Bukhari).
>
> Fitrah yang dimaksud oleh Hadits di atas menurut Syeikhul Islam Ibnu
> Taimiyah (661-728 H) didalam kitab Majmu' Fatwa adalah ad-Dienul Hanif,
> bukan dengan makna suci dan terlepas dari dosa.
>
> Jadi dapat disimpulkan secara azali, umat manusia telah memiliki dasar
> ketuhanan yang monotheis. Penyimpangan ini terjadi sejak zaman Nabi Nuh
> As., saat itu muncul TUhan tandingan, yang bernama "Waddan, Sawu',
> Yaguts, Ya'uq dan Nasra" (Qur'an, Nuh : 23-24). Kelima nama yang
> dipertuhan ini menurut Hadits Bukhari adalah "asma's Shalihin" - yakni
> tokoh-tokoh agama yang terlalu mereka kultuskan, sehingga ketika mereka
> meninggal dunia, dibuatlah tugu, monumen dan patung-patung diri mereka
> sebagai tanda penghormatan untuk mengenang jasa-jasanya. Tokoh
> legendaris itu lalu mereka sembah dan ditempatkan secara istimewa di
> rumah-rumah ibadah yang mereka keramatkan.
>
> V. IHTITAM
> AKhirnya harus diakui, aqidah as-shahihah saat sekarang ini tidak akan
> pernahkita jumpai, kecuali di dalam dienul Islam. Agama Nashrani dan
> Teologi Trinitasnya jelas tidak rasionalis dan matematis, apalagi
> Yahudi-ummat yg banyak merubah Kalamullah dan membunuh Nabi mereka
> sendiri. Sama sekali tidak menjanjikan kepastian sebuah kebenaran.
>
> Didalam Islam banyak kita jumpai airan atau firqah yaitu golongan dan
> kelompok keagamaan yang tidak jarang mengklaim dirinya sebagai ahlus
> Sunnah wal Jama'ah. Padahal mereka tidak mengerti dan tidak memahami
> arti kedalaman maknanya. Sehingga akibatnya menjadilain, firqa-firqah
> itu saling menyalahkan dan membenarkan dirinya sendiri.
> Nabi Saw. memberikan peringatan bahwa kelak umatnya nanti akan berpecah
> menjadi 73 golongan; kulluhum fin narr illaa wahidah" yaitu "maa Anaa
> 'alaihi wa Ashabiy". Golongan yang selamat itu sering diistilahkan
> dengan al-Firqah an-Najiyah (jika jumlahnya mayoritas), at-Tha'ifah al
> Manshurah (jika jumlahnya pertengahan), dan al-Ghurabaa (jika jumlahnya
> sedikit). Merekalah yang perlu kita ikuti dalam manhaj dan sistem mereka
> beristimbath atau memahami ayat al-Qur'an dan As-Sunnah.
>
> Imam Malik (93-179 H) pernah berkata : "Tidak akan pernah selamat umat
> belakangan ini, sebelum ia mengikuti jejak pendahulunya, yaitu
> as-Salafus Shalih". (**sps)
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Apakah Anda Yahoo!?
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> Tetap Semangat Mencintai Banten!
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/