Pendeta Rusdy Muhammad Nurdin.
   
  This kleptomaniac has an uncontrollable desire to steal things for no reason 
at all.........

aryadi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
             
  -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Agus Fawzie
Sent: Saturday, September 09, 2006 8:32 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Milis_Iqra] Re: Untuk menjadi bahan renungan Muslim.


     Membongkar Dusta Pendeta Rudy Muhamad Nurdin  Oleh : Fakta 04 Sep 2006 - 
7:39 pm 
Majalah Tabligh Vol. 04/No. 01/Rabi’ul Awal 1427 H/April 2006 M
Alih-alih membagikan kabar suka-cita Injil, Pendeta Rudy Muhamamd Nurdin 
mengemas penginjilan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Semangat 
misionarisnya meledak-ledak untuk “menjala” kaum muslimin agar mau “terima 
Yesus” menjadi penganut Kristiani. Tetapi, ilmu dan wawasannya yang sangat 
dangkal tak sanggup mengimbangi semangatnya. Akibatnya, gerakannya zigzag, 
kacau dan tak terarah.

Dengan slogan Injili “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati,” Pendeta 
RM Nurdin menyebarkan doktrin kekristenan melalui belasan buku berkedok Islam. 
Salah satu buku yang judul dan sampulnya sangat islami, adalah “Ayat-ayat 
Penting di dalam Al-Qur’an.” Pada cover depan, judul buku ini ditulis pula 
dalam bahasa Arab “Al-Ayatul-Muhimmah Fil-Qur’an,” sementara pada cover 
belakang diberi label “Untuk Kalangan Sendiri,” supaya terkesan bahwa buku itu 
adalah bacaan internal umat Kristiani. Ternyata label “Untuk Kalangan Sendiri” 
ini justru dilanggar sendiri oleh Pendeta Nurdin. 

Terbukti, pada halaman 10 ditulisnya bahwa bukunya disampaikan kepada semua 
pembaca yang beriman –termasuk umat Islam:

“...Buku ini untuk kusampaikan kepada kaka-kakakku, familiku dan semua 
saudara-saudaraku dan semua pembaca yang beriman” (baris ke-6 dari bawah).

Statemen ini dipertegas pada halaman 45, menuangkan harapan agar buku ini 
dibaca oleh semua umat Islam: “Semoga semua umat Islam membaca buku-bukuku dan 
selamat Akhirat Surga...” (baris ke-4 dari bawah).

Sikap plin-plan pendeta ini semakin diungkap sendiri oleh media Kristen. Dalam 
wawancara di tabloid Kristen, Pendeta Nurdin mengaku terus-terang bahwa 
sebenarnya buku tersebut memang untuk menohok iman umat Islam:
“Jadi, bukunya bukan untuk kalangan sendiri? Betul sekali. Tetapi, saya tulis 
‘Untuk Kalangan Sendiri’ untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Kita 
harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati…. Kemudian saya tulis buku 
Keselamatan di dalam Islam supaya mereka dapat mengetahui Injil melalui 
buku-buku saya. Sebagian isinya tulisan Arab. Tentu saja saya harus memahami 
tentang Islam terlebih dahulu. Saya juga punya Alkitab berbahasa Arab…” (baca 
wawancara: Supaya Mereka Dapat Mengetahui Injil Melalui Buku-Buku Saya).

Muhamad Nurdin memang pendeta supermunafik. Meski telah melakukan tipuan yang 
berarti kebohongan, tapi dia tidak merasa berdosa sedikit pun. Malah dia 
mengeluarkan himbauan kepada umat Kristen agar turut serta membantunya dalam 
pengedaran buku-buku yang ditulisnya kepada kaum muslimin. Dan yang lebih 
memprihatinkan lagi, Pendeta yang tinggal di kawasan Slipi, Jakarta Barat ini 
menjustifikasi tipuan dan kemunafikannya dengan ayat-ayat Alkitab. Nurdin 
berkilah bahwa penginjilannya itu sesuai dengan ajaran Alkitab:
“Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku 
memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum 
Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun 
aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan 
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat” (I Korintus 9: 20).

Ayat Bibel ini disimpulkan oleh Pendeta Nurdin bahwa untuk menghadapi orang 
Yahudi, harus pura-pura seperti Yahudi. Menghadapi kaum Muslim, harus 
berpura-pura seperti orang Islam. Maka untuk menjala umat Islam harus memakai 
Al-Qur’an.

Ulah misi Pendeta Nurdin ini jelas berbahaya bagi kerukunan umat beragama, 
karena bisa mengoyak keharmonisan hubungan Kristen dan Islam.

Pendeta yang Mengaku bernama lengkap Pendeta Rudy Muhamad Nurdin yang tinggal 
di kawasan Grogol, Jakarta Barat ini memang memiliki semangat misionari 
(penginjilan, Kristenisasi) yang sangat tinggi, terutama kepada umat Islam. 

Dia berusaha memasukkan doktrin Kristen dan pendangkalan akidah kepada umat 
Islam. Maka Pendeta yang menjabat sebagai Wakil Gembala Gereja Kristen 
Maranatha Indonesia (GKMI) Rawamangun, Jakarta Timur ini menulis belasan buku 
berwajah Islam. Wajah Islam dalam buku-buku Pendeta Nurdin ini hanya kedok 
belaka. Demikian pula label “Untuk Kalangan Sendiri” yang dicantumkan pada 
cover 4 semua bukunya. Semua itu hanya tipuan, karena dalam wawancaranya dengan 
Hatorangan, Pendeta mengaku bahwa sebenarnya buku-buku itu semuanya 
diperuntukkan untuk umat Islam. (baca wawancara: Supaya Mereka Dapat Mengetahui 
Injil Melalui Buku-Buku Saya).

Belasan buku penginjilan berkedok Islam tulisan Pendeta Nurdin itu adalah: 

    
   Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur’an (Al-Aayatul Muhmitatu fil-Qur’an) 84 
halaman, 
Keselamatan di dalam Islam (61 halaman), 

  
   Selamat Natal Menurut Al-Qur’an (28 halaman), 

  
   Kebenaran Yang Benar (Ash-Shodiqul Masduuq) 107 halaman, 

  
   Kebenaran yang Menyelamatkan (Ash-Shodiiqul Muslim) 79 halaman, 

  
   Isa Alaihi Salam dalam Al-Qur’an yang Benar (‘Isa ‘Alaihissalam fil-Qur’an) 
84 halaman, 

  
   Keselamatan untuk Akhir Hayat (Salamatul Akhirotul Khoyat) 62 halaman, 

  
   Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar) 93 
halaman, 

  
   Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar) 77 halaman, 

  
   Waspadalah UFO Berbahaya (99 halaman), 

  
   Bila Terjadi Kiamat Aku Selamat (86 halaman), 

  
   Ya Allah Ya Ruh Ulqudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat (76 halaman), 

  
   Waspadalah!!! “….” Itu Selalu Ada (28 halmaan), 

  
   Hampir Saya Musnah dan Terungkaplah Sebuah Misteri Dunia (96 halaman), 

  
   Bila Terjadi Perang Nuklir Aku Selamat, 

  
   Wahyu Tentang Neraka, 

  
   Wahyu Keselamatan Allah, dll. 
  
Dengan belasan judul buku itu, Nurdin pun ditokohkan di gereja sebagai “Pendeta 
Pakar Islamologi.” Maka Pendeta Nurdin dipercaya sebagai islamologi di Sekolah 
Tinggi Teologi Arastamar Jakarta. Sedangkan di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 
Nurdin tercatat sebagai Anggota Kelompok Kerja WASAI.

Bila dikaji, hampir semua isi buku Pendeta Nurdin tidak bisa 
dipertanggungjawabkan. Selalu ada kesalahan ilmiah, bahkan penghujatan kepada 
Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya isi buku yang salah, bahkan dari judul bukunya 
pun rata-rata mengalami kesalahan yang sangat fatal.

Buku Kebenaran Yang Menyelamatkan misalnya, pada cover depan judul ini ditulis 
pula dengan kalimat bahasa Arab “Ash-Shodiiqul Muslim.” Judul ini tentu salah 
dan artinya sangat jauh meleset, karena “Ash-Shodiiqul Muslim” bila 
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Teman yang beragama Islam.”

Kesalahan judul buku dalam transliterasi Indonesia–Arab ini membuktikan bahwa 
Pendeta Nurdin bukanlah pakar Islamologi, tapi awam Islamologi. Kita pun merasa 
heran dan prihatin kepada umat Kristiani di Indonesia yang menjadikannya 
sebagai pahlawan penginjilan. Karena pada hakikatnya semua ajaran penginjilan, 
perbandingan agama dan Islamologi yang dipersembahkan Pendeta Nurdin kepada 
gereja itu penuh kebohongan dan kekeliruan. Bahkan bila dibiarkan, 
sepak-terjang Pendeta Nurdin itu mencederai dan merobek kerukunan umat 
beragama. Sebab dalam buku-bukunya, Pendeta Nurdin banyak terdapat pemelesetan 
ayat, penghujatan Nabi, pelecehan Islam dan kebohongan sejarah.

Beberapa poin yang bisa memicu amarah umat dalam buku-buku Pendeta Nurdin 
antara lain: Nabi Muhammad Belajar Alkitab (Bibel) Sampai Hafal; Nabi Menikahi 
Wanita Kristen dengan Tatacara Kristen, dan Mendapat Kado Alkitab (Bibel); Nabi 
Muhammad Beribadah Kristen selama 15 tahun; Nabi Muhammad Adalah Pencetus Agama 
Pantekosta dan Kharismatik; dan Nabi Muhammad disamakan dengan Pendeta Nurdin 
dan Lia Aminuddin (Lia Eden)

Komentar tentang agama lain adalah isu yang paling sensitif dalam hubungan 
antarumat beragama, lebih sensitif daripada kulit telur, dan lebih bahaya 
ledakannya daripada bom. Karena bila tersulut, akan mudah meledak dan berdampak 
pada rusaknya hubungan sesama manusia beragama yang terlibat. 

Penghujatan kepada Nabi Muhammad yang dilakukan oleh Pendeta Nurdin dari 
Indonesia dan Jyllands Posten dari Denmark telah melakukan pencederaan terhadap 
agama Islam. Dan, jembatan yang selama ini dibangun untuk menjalin kerukunan 
antarumat beragama pun menjadi berantakan, lantaran akar-akar permasalahan 
selalu ditanam oleh manusia-manusia jahil yang ditokohkan sebagai ahli agama 
oleh pihak tertentu. Contoh konkretnya adalah Pendeta Rudy Muhamad Nurdin, sang 
pemecah-belah bangsa. mag, mai, eros, qohar.
   
  http://swaramuslim.net/FAKTA/html/001/index.htm
  
 
  ----- Original Message -----   From: "abdi yono" <[EMAIL PROTECTED]>
  To: <[EMAIL PROTECTED]>
  Sent: Friday, September 08, 2006 9:22 PM
  Subject: [Milis_Iqra] Untuk menjadi bahan renungan Muslim.

  


Seorang terdakwa akan dengan segala macam daya
berusaha membela diri 
mereka sendiri, membenarkan mereka walaupun mereka itu
salah. 

Tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Kristen,
dengan mengatakan 
Alkitab itu palsu adalah juga pemutar balikan fakta,
karena 
sebenarnya hal yang mereka tuduhkan itu adalah apa
yang terjadi pada 
mereka. Aku harap, kaum Kristiani bisa menerima
kekurangan Saudara/i-
kita yang Islam, karena mereka sebenarnya berbuat
demikian oleh 
karena ketidak-tahuan mereka. Mereka berusaha
memperlemah orang lain 
dengan FITNAH, KEBENCIAN, DENDAM dan KRIMINAL.

Tidak usah diulas, apa yang anda saksikan di lapangan
sudah cukup 
membuktikan betapa Islam dibesarkan oleh Fitnah.

FITNAH: mengatakan Alkitab, Taurat itu sudah berubah
(dua Kitab Suci 
berubah dari aslinya)
KEBENCIAN: mengatakan Kristen, Yahudi, dan lain
sebagai kaum kafirrun.
DENDAM: Membunuh para biksu di Thailand karena dendam
yang nggak 
kesampaian terhadap pemerintah Thailand.
Di negara yang mayoritasnya beragama Budha ingin
mendirikan negara Islam (di Thailand selatan Yala).
Diphilipina Kelompok Abu sayaf,Moro berjuang juga
ingin mendirikan negara Islam.


Membunuh anak-anak murid,Sekolah di Rusia karena tidak
bisa balas dendam kepemerintah Rusia. 
KRIMINAL: Menjual kokain untuk kepentingan perang kaum
Taliban, menjual ganja untuk GAM. 

Dan lain-lain. 

Kesaksian palsu Irene Handono atau Han Hoon Lie.
 
Perihal kegiatan HJ.Irene Handono dalam melakukan
seminar-seminar , ceramah-ceramah yang mendiskriditkan
pihak agama Kristen sudah menyebabkan keresahan baik
dikalangan umat muslim maupun Kristen sendiri. 

Beberapa point perlu saya utarakan dan pertanyakan
keforum ini , dimana kiranya ada rekan-rekan yang
memberikan informasi lanjut mengenai sepak terjang
kegiatan HJ.Irene Handono. 

1. Mengapa kegiatan IH (Irene Handono) yang jelas
sekali menghasut dan memprovokasi umat Islam ,
khususnya kalangan grass root didiamkan oleh yang
berwenang , karena ceramah-ceramah yang dilakukan
dibeberapa tempat jelas sudah sangat meresahkan
masyarakat beragama , dan jelas sekali dapat
mengganggu kerukunan umat beragama. 

2. Apakah karena IH diback-up oleh MUI khususnya dari
sekjen MUI Dien Syamsyudin ? 

3. Rekaman vcd dan kaset-kasetnya telah disebarkan
kesejumlah ormas-ormas Islam dan ini sangat
membahayakan , pada bulan pertama kegiatan IH
mengakibat 11 Gereja dibeberapa lokasi ditutup. 

4. Menurutnya (IH) untuk mengcounter buku yang
dikarang oleh Robert Morey yang berjudul "Islam
Invasion" , dia menerbitkan sebuah buku yang berjudul
"Islam dihujat" , isi buku tsb. seluruhnya menghujat ,
memprovokasi serta memanasi emosi umat muslim. 
Apakah benar buku karangannya itu (Islam dihujat)
dilarang peredarannya oleh pihak yang berwenang ?! 

5. Ini yang paling penting !! 
IH mengaku dia adalah mantan kafir , dan orang orang
tuanya adalah donatur (penyumbang dana) yang terbesar
digerejanya. Dan dia pernah disekolahkan disekolah
misionaris. 
Pertanyaannya : Apakah benar bahwa IH adalah mantan
kafir , atau pernah beragama katholik ??! 
Mengapa sampai sekarang tidak ada satupun gereja atau
tempat sekolah misionris yang mengakui keberadaan IH
tsb. sedangkan kalau tidak salah dia berasal dari kota
Bandung , jadi sangat mudah dilacak. 
Tetapi dia sendiri belum pernah menyebut berasal dari
geraja mana dan sekolah di sekolah misionaris mana
??!!! 
Menurut mengamatan saya IH sebenarnya SAMA SEKALI
BUKAN MANTAN KAFIR , mengingat begitu fasihnya dia
mengucapkan bahasa Arab dalam setiap pembukaan
seminar/ceramah , dimana menurut beberapa dari kawan
saya yang beragama Islam , dia tidak mungkin belajar
bahasa Arab atau mengenal selukbeluk agama Islam
dengan waktu yang demikian singkat , penampilannya
menandakan dia adalah seorang pakar didalam Islam. 
Sebaliknya saya melihat bahwa dia sama sekali buta
atau sama sekali tidak tahu mengenai Kristologi , itu
dapat dilihat dari cara penyampaian dia mengenai
keKristenan , amburadul dan acak kadut. 

6. Ih adalah seorang intelektual Muslim , itu dapat
dilihat dari tutur bahasa serta pengetahuannya
dibidang agama Islam. 

7. Manusia ini perlu diwaspadai !!! baik oleh umat
Muslim maupun umat Kristen , karena jelas dia sedang
memecah belah kerukunan kedua agama tsb. 


Merenungkan Sejarah Alquran

Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran dan sekaligus
merupakan bulan 
puji-pujian terhadap kitab suci ini. Tanggal 17
Ramadhan dianggap 
sebagai puncak dari ritual pengagung-agungan terhadap
Alquran, karena 
pada tanggal inilah Alquran diyakini diturunkan oleh
Allah kepada 
Nabi Muhammad. Di bulan yang suci ini, saya ingin
merenungkan sejarah 
Alquran yang panjang, yang berproses, yang berjuang
dengan berbagai 
tantangan zaman, hingga menjadi wujud dalam bentuknya
yang kita kenal 
sekarang.

Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan
untuk mengungkap 
dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak
terpikirkan oleh umat 
Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk
memahami kitab 
suci yang hingga hari ini terus menjadi sumber
inspirasi hukum dan 
moral kaum Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah
pijakan bahwa 
kajian ilmiah tidaklah merusak akidah. Kajian ilmiah
juga tidak 
bertentangan dengan semangat dasar Islam yang
mendukung kebenaran dan 
menjunjung tinggi kebebasan.

* * *

Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari
halaman 
pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang
diturunkan 
kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik
kata-katanya (lafdhan) 
maupun maknanya (ma'nan). Kaum Muslim juga meyakini
bahwa Alquran 
yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis
seperti yang ada 
pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun
silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan
formulasi dan 
angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat
oleh para ulama 
sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam.
Hakikat dan 
sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh
dengan berbagai 
nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari
perdebatan, 
pertentangan, intrik, dan rekayasa.

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang
sebetulnya adalah 
sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun.
Usia ini 
didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini
dicetak dengan 
percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir
pada tahun 
1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam
bentuk tulisan 
tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan
(diacritical marks) dan 
otografi yang bervariasi. 

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja
membuat Alquran 
menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga
telah membakukan 
beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi
satu standar 
bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang. 

Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali
dalam upaya 
standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para
khalifah dan 
penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang
sama, kerap 
didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan
konflik-konflik bacaan 
yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang
beredar.

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang
luar biasa, 
karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam
sejarah 
kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa.
Terbukti kemudian, 
Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang
paling banyak 
beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.

Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak
terlepas dari 
unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa
sebelumnya, kodifikasi 
dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang
didukung oleh --
dan menjadi bagian dari proyek-- penguasa politik.
Alasannya 
sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi
dan penyebaran 
Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh
lembaga yang 
memiliki dana yang besar.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia
mencetak 
ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an
merupakan bagian dari 
proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya
penyuksesan 
standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman
bin Affan yang 
secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh
versi (mushaf) 
Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar
berhasil), 
tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya
dengan satu 
edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi
lain yang diam-
diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan
sekitarnya).

Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu
versi Alquran, 
yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini
benar-benar 
terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum
Muslim (baru) 
boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu
Alquran yang utuh 
dan seragam.

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi
bacaan Alquran 
(qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan
kitab suci ini. 
Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi
bacaan yang 
bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing,
versi Warsh dari 
Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari
Asim yang banyak 
beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang
banyak beredar 
di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan
versi Hafs dari 
Asim.

Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan
Alquran. Versi ini 
muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama
hingga ketiga) 
akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami
mushaf yang beredar 
pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari
Alquran, yakni 
himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis
dan dibukukan. 

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga,
memerintahkan 
satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan
"Mushaf 
Uthmani," pada masa itu telah beredar puluhan --kalau
bukan ratusan-- 
mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi.
Beberapa sahabat 
Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda
satu sama lain, 
baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun
jumlah ayat dan 
surah.

Ibn Mas'ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya,
memiliki mushaf 
Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah
pertama). 
Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab
al-Fihrist, 
mushaf Ibn Mas'ud tidak menyertakan surah 113 dan 114.
Susunan 
surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang.
Misalnya, surah 
keenam bukanlah surah al-An'am, tapi surah Yunus.

Ibn Mas'ud bukanlah seorang diri yang tidak
menyertakan al-Fatihah 
sebagai bagian dari Alqur'an. Sahabat lain yang
menganggap 
surah "penting" itu bukan bagian dari Alquran adalah
Ali bin Abi 
Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66,
dan 96. Hal ini 
memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah
al-Fatihah 
merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan
"kata 
pengantar" saja yang esensinya bukanlah bagian dari
kitab suci. 

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah
bukan sebagai 
bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313
H). Dia dan 
ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen
bahwa 
al-Fatihah hanyalah "ungkapan liturgis" untuk memulai
bacaan 
Alqur'an. Ini merupakan tradisi populer masyarakat
Mediterania pada 
masa awal-awal Islam. Sebuah hadis Nabi mendukung
fakta ini: "siapa 
saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan
alhamdulillah [dalam 
hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi
sia-sia."

Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf
lainnya bisa 
dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang
dikutip oleh 
Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam
kata-kata 
berikut: "pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200
ayat. Setelah 
Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti
sekarang 
[yakni 73 ayat]." Pandangan Aisyah juga didukung oleh
Ubay bin Ka'b, 
sahabat Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada
dua surah yang 
tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal'
dan al-Hafd.

Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi,
ia 
memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya
(Mushaf Uthmani) 
dibakar dan dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang
ada memang 
berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat.
Salah satunya, 
seperti kerap dirujuk buku-buku `ulum al-Qur'an,
adalah mushaf 
Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru
dimusnahkan pada masa 
pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh
tahun kemudian.

Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu
secara fisik 
dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa
dimusnahkan dari 
memori mereka atau para pengikut mereka, karena
Alquran pada saat 
itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang
menjelaskan 
maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi
Uthman. Buku-buku 
tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang 
muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah,
adalah bukti tak 
terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf
klasik itu. Dari 
karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah
dimusnahkan 
hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).

Sejarah penulisan Alqur'an mencatat nama-nama Ibn Amir
(w. 118 H), al-
Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam
(w. 229 H), Abi 
Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi
Daud (w. 
316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan
mushaf-mushaf 
klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul
kitab al-
masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud
berhasil 
mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para
pengikut 
(tabi'in) sahabat Nabi. 

Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh
kenyataan 
bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai
kota Islam tidak 
sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi
orang yang tidak 
pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia
harus merujuk 
kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak
sedikit dari 
pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian
bacaan non-Uthmani.

Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang
menyebabkan 
banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai,
kaum Muslim 
pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri
berdasarkan kaedah 
bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna
sebuah teks. 
Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang
berbeda akibat 
absennya titik dan harakat (scripta defectiva).
Misalnya bentuk 
present (mudhari') dari kata a-l-m bisa dibaca
yu'allimu, tu'allimu, 
atau nu'allimu atau juga menjadi na'lamu, ta'lamu atau
bi'ilmi. 

Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat
pemahaman makna, 
dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat.
Misalnya, 
mushaf Ibn Mas'ud berulangkali menggunakan kata
"arsyidna" 
ketimbang "ihdina" (keduanya berarti "tunjuki kami")
yang biasa 
didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, "man"
sebagai 
ganti "alladhi" (keduanya berarti "siapa"). Daftar ini
bisa 
diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda,
seperti "al-talaq" 
menjadi "al-sarah" (Ibn Abbas), "fas'au" menjadi
"famdhu" (Ibn 
Mas'ud), "linuhyiya" menjadi "linunsyira" (Talhah),
dan sebagainya. 

Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin
liar, pada tahun 
322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya
Ibn Isa dan Ibn 
Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan
penertiban. 
Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di
tangannya, Ibn 
Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra
ternama, yakni 
Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam),
Abu Amr 
(Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari
Kufah). 
Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan
bahwa "Alquran 
diturunkan dalam tujuh huruf." 

Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan
menganggapnya 
telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain
yang dianggap 
lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara
ulama pada saat itu 
memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam
kasus Ibn Miqsam 
dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya
dikesampingkan Ibn 
Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka,
khususnya antara 
Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh. 

Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya
pengaruh. Sejarah 
membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung
penguasa itulah yang 
kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit
modifikasi menjadi 
10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita
sekarang adalah 
salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh
Mujahid lewat tangan 
kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs.
Sementara itu, 
varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika
beruntung, ia dapat 
dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi
dan pengaruhnya 
sangat terbatas.

***

Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah
Alquran yang saya 
paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya
yang 
konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah
semacam itu dibiarkan 
diketahui secara bebas. Mereka bahkan berusaha
menutup-nutupi dan 
mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan
apologi-apologi yang 
sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru
membuat 
permasalahan baru.

Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi "Alquran
diturunkan dalam 
tujuh huruf" dengan cara menafsirkan "huruf" sebagai
bahasa, dialek, 
bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang
ujung-ujungnya tidak 
menjelaskan apa-apa. Saya sependapat dengan beberapa
sarjana Muslim 
modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis
itu adalah 
rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan
rumitnya 
varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi,
alih-alih 
menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.

Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek,
bacaan, 
prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa
angka tujuh 
hanyalah simbol saja untuk menunjukkan "banyak," ini
lebih parah 
lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam
menyampaikan ayat-
ayatnya.

Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan,
baik yang 
berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis
penulisan dan 
tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim
(apa adanya)? 
Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan
ini jelas tak 
bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum
Muslim pada awal-
awal sejarah Islam yang sangat dinamis.

Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari
surah al-Fatihah 
hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang
diturunkan 
kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa
ma'nan)? Seperti saya 
katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah
formula teologis yang 
diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan
bagian dari 
proses panjang pembentukan ortodoksi Islam. 

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya
adalah kalamullah 
yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami
berbagai 
proses "copy-editing" oleh para sahabat, tabi'in, ahli
bacaan, qurra, 
otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses
ini pada dasarnya 
adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari
ikhtiyar kaum 
Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka 
miliki.

Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang
sangat marak pada 
masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai
upaya kaum Muslim 
untuk membebaskan makna dari kungkungan kata,
ketimbang 
mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan.
Seperti dikatakan 
seorang filsuf kontemporer Perancis, teks --dan
apalagi teks-teks 
suci-- selalu bersifat "repressive, violent, and
authoritarian." 
Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan
membebaskannya. 

Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan
itu, dengan 
menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif.
Jika ada 
pelajaran yang bisa diambil dari sejarah pembentukan
Alquran, saya 
kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang
patut ditiru, 
tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas
baru dalam bentuk 
yang lain. 


Wasallam
Abdi Yono.




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan 
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125 
  subscribe : [EMAIL PROTECTED] 
unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] 
url :  http://groups.google.com/group/Milis_Iqra 
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


  

         

                
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke