Pendeta Rusdy Muhammad Nurdin.
This kleptomaniac has an uncontrollable desire to steal things for no reason
at all.........
aryadi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Agus Fawzie
Sent: Saturday, September 09, 2006 8:32 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Milis_Iqra] Re: Untuk menjadi bahan renungan Muslim.
Membongkar Dusta Pendeta Rudy Muhamad Nurdin Oleh : Fakta 04 Sep 2006 -
7:39 pm
Majalah Tabligh Vol. 04/No. 01/Rabiul Awal 1427 H/April 2006 M
Alih-alih membagikan kabar suka-cita Injil, Pendeta Rudy Muhamamd Nurdin
mengemas penginjilan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Semangat
misionarisnya meledak-ledak untuk menjala kaum muslimin agar mau terima
Yesus menjadi penganut Kristiani. Tetapi, ilmu dan wawasannya yang sangat
dangkal tak sanggup mengimbangi semangatnya. Akibatnya, gerakannya zigzag,
kacau dan tak terarah.
Dengan slogan Injili cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, Pendeta
RM Nurdin menyebarkan doktrin kekristenan melalui belasan buku berkedok Islam.
Salah satu buku yang judul dan sampulnya sangat islami, adalah Ayat-ayat
Penting di dalam Al-Quran. Pada cover depan, judul buku ini ditulis pula
dalam bahasa Arab Al-Ayatul-Muhimmah Fil-Quran, sementara pada cover
belakang diberi label Untuk Kalangan Sendiri, supaya terkesan bahwa buku itu
adalah bacaan internal umat Kristiani. Ternyata label Untuk Kalangan Sendiri
ini justru dilanggar sendiri oleh Pendeta Nurdin.
Terbukti, pada halaman 10 ditulisnya bahwa bukunya disampaikan kepada semua
pembaca yang beriman termasuk umat Islam:
...Buku ini untuk kusampaikan kepada kaka-kakakku, familiku dan semua
saudara-saudaraku dan semua pembaca yang beriman (baris ke-6 dari bawah).
Statemen ini dipertegas pada halaman 45, menuangkan harapan agar buku ini
dibaca oleh semua umat Islam: Semoga semua umat Islam membaca buku-bukuku dan
selamat Akhirat Surga... (baris ke-4 dari bawah).
Sikap plin-plan pendeta ini semakin diungkap sendiri oleh media Kristen. Dalam
wawancara di tabloid Kristen, Pendeta Nurdin mengaku terus-terang bahwa
sebenarnya buku tersebut memang untuk menohok iman umat Islam:
Jadi, bukunya bukan untuk kalangan sendiri? Betul sekali. Tetapi, saya tulis
Untuk Kalangan Sendiri untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Kita
harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati
. Kemudian saya tulis buku
Keselamatan di dalam Islam supaya mereka dapat mengetahui Injil melalui
buku-buku saya. Sebagian isinya tulisan Arab. Tentu saja saya harus memahami
tentang Islam terlebih dahulu. Saya juga punya Alkitab berbahasa Arab
(baca
wawancara: Supaya Mereka Dapat Mengetahui Injil Melalui Buku-Buku Saya).
Muhamad Nurdin memang pendeta supermunafik. Meski telah melakukan tipuan yang
berarti kebohongan, tapi dia tidak merasa berdosa sedikit pun. Malah dia
mengeluarkan himbauan kepada umat Kristen agar turut serta membantunya dalam
pengedaran buku-buku yang ditulisnya kepada kaum muslimin. Dan yang lebih
memprihatinkan lagi, Pendeta yang tinggal di kawasan Slipi, Jakarta Barat ini
menjustifikasi tipuan dan kemunafikannya dengan ayat-ayat Alkitab. Nurdin
berkilah bahwa penginjilannya itu sesuai dengan ajaran Alkitab:
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku
memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum
Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun
aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat (I Korintus 9: 20).
Ayat Bibel ini disimpulkan oleh Pendeta Nurdin bahwa untuk menghadapi orang
Yahudi, harus pura-pura seperti Yahudi. Menghadapi kaum Muslim, harus
berpura-pura seperti orang Islam. Maka untuk menjala umat Islam harus memakai
Al-Quran.
Ulah misi Pendeta Nurdin ini jelas berbahaya bagi kerukunan umat beragama,
karena bisa mengoyak keharmonisan hubungan Kristen dan Islam.
Pendeta yang Mengaku bernama lengkap Pendeta Rudy Muhamad Nurdin yang tinggal
di kawasan Grogol, Jakarta Barat ini memang memiliki semangat misionari
(penginjilan, Kristenisasi) yang sangat tinggi, terutama kepada umat Islam.
Dia berusaha memasukkan doktrin Kristen dan pendangkalan akidah kepada umat
Islam. Maka Pendeta yang menjabat sebagai Wakil Gembala Gereja Kristen
Maranatha Indonesia (GKMI) Rawamangun, Jakarta Timur ini menulis belasan buku
berwajah Islam. Wajah Islam dalam buku-buku Pendeta Nurdin ini hanya kedok
belaka. Demikian pula label Untuk Kalangan Sendiri yang dicantumkan pada
cover 4 semua bukunya. Semua itu hanya tipuan, karena dalam wawancaranya dengan
Hatorangan, Pendeta mengaku bahwa sebenarnya buku-buku itu semuanya
diperuntukkan untuk umat Islam. (baca wawancara: Supaya Mereka Dapat Mengetahui
Injil Melalui Buku-Buku Saya).
Belasan buku penginjilan berkedok Islam tulisan Pendeta Nurdin itu adalah:
Ayat-ayat Penting di dalam Al-Quran (Al-Aayatul Muhmitatu fil-Quran) 84
halaman,
Keselamatan di dalam Islam (61 halaman),
Selamat Natal Menurut Al-Quran (28 halaman),
Kebenaran Yang Benar (Ash-Shodiqul Masduuq) 107 halaman,
Kebenaran yang Menyelamatkan (Ash-Shodiiqul Muslim) 79 halaman,
Isa Alaihi Salam dalam Al-Quran yang Benar (Isa Alaihissalam fil-Quran)
84 halaman,
Keselamatan untuk Akhir Hayat (Salamatul Akhirotul Khoyat) 62 halaman,
Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar) 93
halaman,
Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar) 77 halaman,
Waspadalah UFO Berbahaya (99 halaman),
Bila Terjadi Kiamat Aku Selamat (86 halaman),
Ya Allah Ya Ruh Ulqudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat (76 halaman),
Waspadalah!!!
. Itu Selalu Ada (28 halmaan),
Hampir Saya Musnah dan Terungkaplah Sebuah Misteri Dunia (96 halaman),
Bila Terjadi Perang Nuklir Aku Selamat,
Wahyu Tentang Neraka,
Wahyu Keselamatan Allah, dll.
Dengan belasan judul buku itu, Nurdin pun ditokohkan di gereja sebagai Pendeta
Pakar Islamologi. Maka Pendeta Nurdin dipercaya sebagai islamologi di Sekolah
Tinggi Teologi Arastamar Jakarta. Sedangkan di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI),
Nurdin tercatat sebagai Anggota Kelompok Kerja WASAI.
Bila dikaji, hampir semua isi buku Pendeta Nurdin tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Selalu ada kesalahan ilmiah, bahkan penghujatan kepada
Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya isi buku yang salah, bahkan dari judul bukunya
pun rata-rata mengalami kesalahan yang sangat fatal.
Buku Kebenaran Yang Menyelamatkan misalnya, pada cover depan judul ini ditulis
pula dengan kalimat bahasa Arab Ash-Shodiiqul Muslim. Judul ini tentu salah
dan artinya sangat jauh meleset, karena Ash-Shodiiqul Muslim bila
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Teman yang beragama Islam.
Kesalahan judul buku dalam transliterasi IndonesiaArab ini membuktikan bahwa
Pendeta Nurdin bukanlah pakar Islamologi, tapi awam Islamologi. Kita pun merasa
heran dan prihatin kepada umat Kristiani di Indonesia yang menjadikannya
sebagai pahlawan penginjilan. Karena pada hakikatnya semua ajaran penginjilan,
perbandingan agama dan Islamologi yang dipersembahkan Pendeta Nurdin kepada
gereja itu penuh kebohongan dan kekeliruan. Bahkan bila dibiarkan,
sepak-terjang Pendeta Nurdin itu mencederai dan merobek kerukunan umat
beragama. Sebab dalam buku-bukunya, Pendeta Nurdin banyak terdapat pemelesetan
ayat, penghujatan Nabi, pelecehan Islam dan kebohongan sejarah.
Beberapa poin yang bisa memicu amarah umat dalam buku-buku Pendeta Nurdin
antara lain: Nabi Muhammad Belajar Alkitab (Bibel) Sampai Hafal; Nabi Menikahi
Wanita Kristen dengan Tatacara Kristen, dan Mendapat Kado Alkitab (Bibel); Nabi
Muhammad Beribadah Kristen selama 15 tahun; Nabi Muhammad Adalah Pencetus Agama
Pantekosta dan Kharismatik; dan Nabi Muhammad disamakan dengan Pendeta Nurdin
dan Lia Aminuddin (Lia Eden)
Komentar tentang agama lain adalah isu yang paling sensitif dalam hubungan
antarumat beragama, lebih sensitif daripada kulit telur, dan lebih bahaya
ledakannya daripada bom. Karena bila tersulut, akan mudah meledak dan berdampak
pada rusaknya hubungan sesama manusia beragama yang terlibat.
Penghujatan kepada Nabi Muhammad yang dilakukan oleh Pendeta Nurdin dari
Indonesia dan Jyllands Posten dari Denmark telah melakukan pencederaan terhadap
agama Islam. Dan, jembatan yang selama ini dibangun untuk menjalin kerukunan
antarumat beragama pun menjadi berantakan, lantaran akar-akar permasalahan
selalu ditanam oleh manusia-manusia jahil yang ditokohkan sebagai ahli agama
oleh pihak tertentu. Contoh konkretnya adalah Pendeta Rudy Muhamad Nurdin, sang
pemecah-belah bangsa. mag, mai, eros, qohar.
http://swaramuslim.net/FAKTA/html/001/index.htm
----- Original Message ----- From: "abdi yono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, September 08, 2006 9:22 PM
Subject: [Milis_Iqra] Untuk menjadi bahan renungan Muslim.
Seorang terdakwa akan dengan segala macam daya
berusaha membela diri
mereka sendiri, membenarkan mereka walaupun mereka itu
salah.
Tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Kristen,
dengan mengatakan
Alkitab itu palsu adalah juga pemutar balikan fakta,
karena
sebenarnya hal yang mereka tuduhkan itu adalah apa
yang terjadi pada
mereka. Aku harap, kaum Kristiani bisa menerima
kekurangan Saudara/i-
kita yang Islam, karena mereka sebenarnya berbuat
demikian oleh
karena ketidak-tahuan mereka. Mereka berusaha
memperlemah orang lain
dengan FITNAH, KEBENCIAN, DENDAM dan KRIMINAL.
Tidak usah diulas, apa yang anda saksikan di lapangan
sudah cukup
membuktikan betapa Islam dibesarkan oleh Fitnah.
FITNAH: mengatakan Alkitab, Taurat itu sudah berubah
(dua Kitab Suci
berubah dari aslinya)
KEBENCIAN: mengatakan Kristen, Yahudi, dan lain
sebagai kaum kafirrun.
DENDAM: Membunuh para biksu di Thailand karena dendam
yang nggak
kesampaian terhadap pemerintah Thailand.
Di negara yang mayoritasnya beragama Budha ingin
mendirikan negara Islam (di Thailand selatan Yala).
Diphilipina Kelompok Abu sayaf,Moro berjuang juga
ingin mendirikan negara Islam.
Membunuh anak-anak murid,Sekolah di Rusia karena tidak
bisa balas dendam kepemerintah Rusia.
KRIMINAL: Menjual kokain untuk kepentingan perang kaum
Taliban, menjual ganja untuk GAM.
Dan lain-lain.
Kesaksian palsu Irene Handono atau Han Hoon Lie.
Perihal kegiatan HJ.Irene Handono dalam melakukan
seminar-seminar , ceramah-ceramah yang mendiskriditkan
pihak agama Kristen sudah menyebabkan keresahan baik
dikalangan umat muslim maupun Kristen sendiri.
Beberapa point perlu saya utarakan dan pertanyakan
keforum ini , dimana kiranya ada rekan-rekan yang
memberikan informasi lanjut mengenai sepak terjang
kegiatan HJ.Irene Handono.
1. Mengapa kegiatan IH (Irene Handono) yang jelas
sekali menghasut dan memprovokasi umat Islam ,
khususnya kalangan grass root didiamkan oleh yang
berwenang , karena ceramah-ceramah yang dilakukan
dibeberapa tempat jelas sudah sangat meresahkan
masyarakat beragama , dan jelas sekali dapat
mengganggu kerukunan umat beragama.
2. Apakah karena IH diback-up oleh MUI khususnya dari
sekjen MUI Dien Syamsyudin ?
3. Rekaman vcd dan kaset-kasetnya telah disebarkan
kesejumlah ormas-ormas Islam dan ini sangat
membahayakan , pada bulan pertama kegiatan IH
mengakibat 11 Gereja dibeberapa lokasi ditutup.
4. Menurutnya (IH) untuk mengcounter buku yang
dikarang oleh Robert Morey yang berjudul "Islam
Invasion" , dia menerbitkan sebuah buku yang berjudul
"Islam dihujat" , isi buku tsb. seluruhnya menghujat ,
memprovokasi serta memanasi emosi umat muslim.
Apakah benar buku karangannya itu (Islam dihujat)
dilarang peredarannya oleh pihak yang berwenang ?!
5. Ini yang paling penting !!
IH mengaku dia adalah mantan kafir , dan orang orang
tuanya adalah donatur (penyumbang dana) yang terbesar
digerejanya. Dan dia pernah disekolahkan disekolah
misionaris.
Pertanyaannya : Apakah benar bahwa IH adalah mantan
kafir , atau pernah beragama katholik ??!
Mengapa sampai sekarang tidak ada satupun gereja atau
tempat sekolah misionris yang mengakui keberadaan IH
tsb. sedangkan kalau tidak salah dia berasal dari kota
Bandung , jadi sangat mudah dilacak.
Tetapi dia sendiri belum pernah menyebut berasal dari
geraja mana dan sekolah di sekolah misionaris mana
??!!!
Menurut mengamatan saya IH sebenarnya SAMA SEKALI
BUKAN MANTAN KAFIR , mengingat begitu fasihnya dia
mengucapkan bahasa Arab dalam setiap pembukaan
seminar/ceramah , dimana menurut beberapa dari kawan
saya yang beragama Islam , dia tidak mungkin belajar
bahasa Arab atau mengenal selukbeluk agama Islam
dengan waktu yang demikian singkat , penampilannya
menandakan dia adalah seorang pakar didalam Islam.
Sebaliknya saya melihat bahwa dia sama sekali buta
atau sama sekali tidak tahu mengenai Kristologi , itu
dapat dilihat dari cara penyampaian dia mengenai
keKristenan , amburadul dan acak kadut.
6. Ih adalah seorang intelektual Muslim , itu dapat
dilihat dari tutur bahasa serta pengetahuannya
dibidang agama Islam.
7. Manusia ini perlu diwaspadai !!! baik oleh umat
Muslim maupun umat Kristen , karena jelas dia sedang
memecah belah kerukunan kedua agama tsb.
Merenungkan Sejarah Alquran
Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran dan sekaligus
merupakan bulan
puji-pujian terhadap kitab suci ini. Tanggal 17
Ramadhan dianggap
sebagai puncak dari ritual pengagung-agungan terhadap
Alquran, karena
pada tanggal inilah Alquran diyakini diturunkan oleh
Allah kepada
Nabi Muhammad. Di bulan yang suci ini, saya ingin
merenungkan sejarah
Alquran yang panjang, yang berproses, yang berjuang
dengan berbagai
tantangan zaman, hingga menjadi wujud dalam bentuknya
yang kita kenal
sekarang.
Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan
untuk mengungkap
dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak
terpikirkan oleh umat
Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk
memahami kitab
suci yang hingga hari ini terus menjadi sumber
inspirasi hukum dan
moral kaum Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah
pijakan bahwa
kajian ilmiah tidaklah merusak akidah. Kajian ilmiah
juga tidak
bertentangan dengan semangat dasar Islam yang
mendukung kebenaran dan
menjunjung tinggi kebebasan.
* * *
Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari
halaman
pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang
diturunkan
kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik
kata-katanya (lafdhan)
maupun maknanya (ma'nan). Kaum Muslim juga meyakini
bahwa Alquran
yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis
seperti yang ada
pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun
silam.
Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan
formulasi dan
angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat
oleh para ulama
sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam.
Hakikat dan
sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh
dengan berbagai
nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari
perdebatan,
pertentangan, intrik, dan rekayasa.
Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang
sebetulnya adalah
sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun.
Usia ini
didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini
dicetak dengan
percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir
pada tahun
1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam
bentuk tulisan
tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan
(diacritical marks) dan
otografi yang bervariasi.
Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja
membuat Alquran
menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga
telah membakukan
beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi
satu standar
bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.
Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali
dalam upaya
standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para
khalifah dan
penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang
sama, kerap
didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan
konflik-konflik bacaan
yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang
beredar.
Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang
luar biasa,
karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam
sejarah
kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa.
Terbukti kemudian,
Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang
paling banyak
beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.
Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak
terlepas dari
unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa
sebelumnya, kodifikasi
dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang
didukung oleh --
dan menjadi bagian dari proyek-- penguasa politik.
Alasannya
sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi
dan penyebaran
Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh
lembaga yang
memiliki dana yang besar.
Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia
mencetak
ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an
merupakan bagian dari
proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya
penyuksesan
standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman
bin Affan yang
secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh
versi (mushaf)
Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar
berhasil),
tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya
dengan satu
edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi
lain yang diam-
diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan
sekitarnya).
Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu
versi Alquran,
yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini
benar-benar
terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum
Muslim (baru)
boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu
Alquran yang utuh
dan seragam.
Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi
bacaan Alquran
(qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan
kitab suci ini.
Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi
bacaan yang
bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing,
versi Warsh dari
Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari
Asim yang banyak
beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang
banyak beredar
di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan
versi Hafs dari
Asim.
Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan
Alquran. Versi ini
muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama
hingga ketiga)
akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami
mushaf yang beredar
pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari
Alquran, yakni
himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis
dan dibukukan.
Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga,
memerintahkan
satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan
"Mushaf
Uthmani," pada masa itu telah beredar puluhan --kalau
bukan ratusan--
mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi.
Beberapa sahabat
Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda
satu sama lain,
baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun
jumlah ayat dan
surah.
Ibn Mas'ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya,
memiliki mushaf
Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah
pertama).
Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab
al-Fihrist,
mushaf Ibn Mas'ud tidak menyertakan surah 113 dan 114.
Susunan
surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang.
Misalnya, surah
keenam bukanlah surah al-An'am, tapi surah Yunus.
Ibn Mas'ud bukanlah seorang diri yang tidak
menyertakan al-Fatihah
sebagai bagian dari Alqur'an. Sahabat lain yang
menganggap
surah "penting" itu bukan bagian dari Alquran adalah
Ali bin Abi
Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66,
dan 96. Hal ini
memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah
al-Fatihah
merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan
"kata
pengantar" saja yang esensinya bukanlah bagian dari
kitab suci.
Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah
bukan sebagai
bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313
H). Dia dan
ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen
bahwa
al-Fatihah hanyalah "ungkapan liturgis" untuk memulai
bacaan
Alqur'an. Ini merupakan tradisi populer masyarakat
Mediterania pada
masa awal-awal Islam. Sebuah hadis Nabi mendukung
fakta ini: "siapa
saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan
alhamdulillah [dalam
hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi
sia-sia."
Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf
lainnya bisa
dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang
dikutip oleh
Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam
kata-kata
berikut: "pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200
ayat. Setelah
Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti
sekarang
[yakni 73 ayat]." Pandangan Aisyah juga didukung oleh
Ubay bin Ka'b,
sahabat Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada
dua surah yang
tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal'
dan al-Hafd.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi,
ia
memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya
(Mushaf Uthmani)
dibakar dan dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang
ada memang
berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat.
Salah satunya,
seperti kerap dirujuk buku-buku `ulum al-Qur'an,
adalah mushaf
Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru
dimusnahkan pada masa
pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh
tahun kemudian.
Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu
secara fisik
dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa
dimusnahkan dari
memori mereka atau para pengikut mereka, karena
Alquran pada saat
itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang
menjelaskan
maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi
Uthman. Buku-buku
tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang
muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah,
adalah bukti tak
terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf
klasik itu. Dari
karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah
dimusnahkan
hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).
Sejarah penulisan Alqur'an mencatat nama-nama Ibn Amir
(w. 118 H), al-
Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam
(w. 229 H), Abi
Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi
Daud (w.
316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan
mushaf-mushaf
klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul
kitab al-
masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud
berhasil
mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para
pengikut
(tabi'in) sahabat Nabi.
Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh
kenyataan
bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai
kota Islam tidak
sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi
orang yang tidak
pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia
harus merujuk
kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak
sedikit dari
pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian
bacaan non-Uthmani.
Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang
menyebabkan
banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai,
kaum Muslim
pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri
berdasarkan kaedah
bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna
sebuah teks.
Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang
berbeda akibat
absennya titik dan harakat (scripta defectiva).
Misalnya bentuk
present (mudhari') dari kata a-l-m bisa dibaca
yu'allimu, tu'allimu,
atau nu'allimu atau juga menjadi na'lamu, ta'lamu atau
bi'ilmi.
Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat
pemahaman makna,
dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat.
Misalnya,
mushaf Ibn Mas'ud berulangkali menggunakan kata
"arsyidna"
ketimbang "ihdina" (keduanya berarti "tunjuki kami")
yang biasa
didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, "man"
sebagai
ganti "alladhi" (keduanya berarti "siapa"). Daftar ini
bisa
diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda,
seperti "al-talaq"
menjadi "al-sarah" (Ibn Abbas), "fas'au" menjadi
"famdhu" (Ibn
Mas'ud), "linuhyiya" menjadi "linunsyira" (Talhah),
dan sebagainya.
Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin
liar, pada tahun
322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya
Ibn Isa dan Ibn
Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan
penertiban.
Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di
tangannya, Ibn
Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra
ternama, yakni
Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam),
Abu Amr
(Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari
Kufah).
Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan
bahwa "Alquran
diturunkan dalam tujuh huruf."
Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan
menganggapnya
telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain
yang dianggap
lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara
ulama pada saat itu
memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam
kasus Ibn Miqsam
dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya
dikesampingkan Ibn
Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka,
khususnya antara
Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.
Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya
pengaruh. Sejarah
membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung
penguasa itulah yang
kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit
modifikasi menjadi
10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita
sekarang adalah
salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh
Mujahid lewat tangan
kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs.
Sementara itu,
varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika
beruntung, ia dapat
dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi
dan pengaruhnya
sangat terbatas.
***
Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah
Alquran yang saya
paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya
yang
konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah
semacam itu dibiarkan
diketahui secara bebas. Mereka bahkan berusaha
menutup-nutupi dan
mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan
apologi-apologi yang
sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru
membuat
permasalahan baru.
Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi "Alquran
diturunkan dalam
tujuh huruf" dengan cara menafsirkan "huruf" sebagai
bahasa, dialek,
bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang
ujung-ujungnya tidak
menjelaskan apa-apa. Saya sependapat dengan beberapa
sarjana Muslim
modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis
itu adalah
rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan
rumitnya
varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi,
alih-alih
menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.
Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek,
bacaan,
prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa
angka tujuh
hanyalah simbol saja untuk menunjukkan "banyak," ini
lebih parah
lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam
menyampaikan ayat-
ayatnya.
Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan,
baik yang
berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis
penulisan dan
tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim
(apa adanya)?
Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan
ini jelas tak
bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum
Muslim pada awal-
awal sejarah Islam yang sangat dinamis.
Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari
surah al-Fatihah
hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang
diturunkan
kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa
ma'nan)? Seperti saya
katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah
formula teologis yang
diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan
bagian dari
proses panjang pembentukan ortodoksi Islam.
Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya
adalah kalamullah
yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami
berbagai
proses "copy-editing" oleh para sahabat, tabi'in, ahli
bacaan, qurra,
otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses
ini pada dasarnya
adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari
ikhtiyar kaum
Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka
miliki.
Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang
sangat marak pada
masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai
upaya kaum Muslim
untuk membebaskan makna dari kungkungan kata,
ketimbang
mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan.
Seperti dikatakan
seorang filsuf kontemporer Perancis, teks --dan
apalagi teks-teks
suci-- selalu bersifat "repressive, violent, and
authoritarian."
Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan
membebaskannya.
Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan
itu, dengan
menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif.
Jika ada
pelajaran yang bisa diambil dari sejarah pembentukan
Alquran, saya
kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang
patut ditiru,
tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas
baru dalam bentuk
yang lain.
Wasallam
Abdi Yono.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
subscribe : [EMAIL PROTECTED]
unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
url : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/