Kereta Waktu


Dulu saya berpikir bahwa saya mempunyai sekurang-kurangnya 18 tahun untuk
membagi hidup bersama dengan anak-anak kami. Sekarang baru saya menyadari
bahwa sesungguhnya saya hanya memiliki 12 tahun. Dua di antara tiga anak
kami sudah menginjak remaja dan mulai menampakkan perilaku remaja, bukan
kanak-kanak lagi. Mereka enggan diajak pergi bersama jika tidak ada teman
sebaya dan di rumah telepon telah berubah menjadi alat komunikasi yang
SANGAT vital bagi mereka (begitu vitalnya sehingga saya kesulitan
memakainya).

Dulu Papa dapat memeluk putri kami dengan bebas, sekarang perlu berhati-hati
memeluknya. Dulu saya bisa bercanda dengan putra saya dan dapatkan respons
apa adanya darinya, namun sekarang tanggapannya seolah-olah berbentuk
pertanyaan, 'mama, kenapa sih bertingkah laku aneh?'

Saya mengibaratkan waktu bak kereta yang sedang melaju. Betapa inginnya saya
menghentikan laju lokomotif itu tetapi sayang, saya tak kuasa menahannya.

Kadang dengan bercanda (dan setengah berharap) saya meminta kepada
putra-putri kami untuk berhenti bertumbuh. Saya merindukan dan berkhayal
agar mereka tetap berusia 5, 7, dan 9 tahun terus-menerus. Mendengar itu,
biasanya mereka menertawakan saya (mungkin saudara juga) sebab mereka sadar
bahwa itu adalah permintaan yang tak mungkin mereka luluskan.

Saya sungguh berharap bahwa saya dapat memperlambat laju kereta waktu dan
menikmati mereka sebagai anak-anak kembali. Dulu saya beranggapan bahwa saya
masih mempunyai waktu yang panjang untuk hidup dengan mereka sebagai
kanak-kanak. Ternyata perhitungan saya meleset; setelah usia 12, anak-anak
berubah mandiri dan mulai melepaskan diri dari orangtua. Saya masih
membutuhkan mereka namun mereka tidak lagi membutuhkan saya. Sisa waktu
bersama mereka menjadi begitu sedikit dan begitu berharga!

Kita tidak dapat mempercepat atau memperlambat waktu; kita hanya bisa
melaluinya. Ada hal-hal yang dapat kita lalui berulang-kali, tetapi ada
sebagian hal yang hanya dapat kita lalui sekali. Waktu bersama anak termasuk
dalam kategori yang kedua itu. Kita hanya dapat menikmati anak pada masa
kanak-kanaknya sebagai kanak-kanak sekali, tidak bisa dua atau tiga kali.

Celotehnya sebagai bayi hanya terdengar pada masa bayi; tangisnya sebagai
balita hanya terjadi pada masa ia duduk di taman kanak-kanak; main sepeda,
kelereng, atau petak lari hanya dilakukannya pada masa sekolah dasar;
perilakunya yang berlagak seperti orang dewasa namun masih seperti anak-anak
hanya terlihat pada masa remaja.

Setelah semua itu berlalu, kita hanya dapat menatap gambar-gambar hidup itu
melalui sesuatu yang kita sebut, memori. Kita tidak bisa melalui waktu itu
lagi secara langsung; kita hanya dapat mengenangnya.

Barangkali pilihan yang bijak adalah hiduplah pada masa sekarang, bukan pada
masa lampau atau masa datang. Waktu yang sudah lewat biarlah tersisa dalam
kenangan, sedangkan waktu yang akan datang biarkan menyembul dalam khayalan.
Hiduplah pada masa sekarang, dalam kenyataan, bukan dalam kenangan yang
membuahkan penyesalan atau khayalan yang merupakan pelarian
semata-mata..........

Mari kita menjadi Ayah dan Ibu untuk anak-anak kita sesuai usianya
sekarang!!! Nikmati setiap tetesan kehadiran mereka dan jangan sampai mereka
hanya hidup dalam kenangan atau khayalan kita....

Ingat, kereta waktu terus berjalan ..... dan anak-anak kita berada di
dalamnya!!!








Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke