Titel, dibilang penting ya memang penting. Orang yang menyandang titel, berarti 
orang itu terbebas dari buta hurup. he..he..he..he....
  Penting sih, titel tanda orang tsb nyakola luhur (kata orang lembur), dengan 
titel yang melekat pada diri seseorang, image orang akan lain dan bahkan akan 
meningkatkan status sosial. Wah, dia itu titelnya sederet Dr.Ir 
Ing..........SH, SE, M.Sc. PHD. MBA, MH, MM dan lain-lain. Wah dia itu lulusan 
perguruan tinggi ternama, wah dia sekolahnya lulusan luar negeri, wah dia itu 
cendikiawan, wah wah...wah..wah...wah...wah..waaaaaaaaaaaaaaaah aja.
  Biasanya orang bertitel lebih didengar ucapannya dibanding dengan orang tidak 
bertitel. Di seminar, workshop, lokakarya maupun kursus-kursus singkat baik 
teknik maupun non teknik dicantumkan para pembicaranya lengkap dengan titel. 
Coba bayangkan kalau ada suatu seminar keynot speaker nya tidak dicantumkan 
titel, apa kira-kira jualannya akan laku ?
   
  Orang yang tidak bertitel, contoh kecil saja ada salah satu anggota 
masyarakat yang memang punya otak cerdas, wawasan berbagai bidang luas disuruh 
jadi pembicara dalam sebuah seminar, kira-kira image orang akan seperti apa. 
Pasti tidak jauh dari pernyataan mencibir. Sekolah saja tidak pernah, koq bisa 
ya dia jadi pembicara.
   
  Bukankah persyaratan umum untuk menjadi calon Bupati/Walikota apalagi 
Gubernur minimal adalah S1? Iyalah harus S1, sebab pola pikir dan pola tindak 
orang yang menempuh pendidikan luhur akan berbeda dengan pola pikir dan pola 
tindak lulusan SMP atau SMA.
   
  Jadi titel penting.
   
  Biarlah para kandidat calon gubernur Banten mencantumkan gelarnya, asalkan 
gelar itu benar adanya diperoleh mengikuti aturan Depdiknas. kalau gelarnya 
gelar siluman maka kewajiban masyarakat untuk mengadakan cross check.
   
  
Sofian Hadi - PPD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          ***********************
Your mail has been scanned by Chandra Asri InterScan.
***********-***********

: )

----------------------------------------------------------
Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh.
Suatu Hari dia minta berhenti bekerja pada Bp.Camat.
Alasan dia karena akan mencoba mengadu nasib merantau ke Jakarta.

Di Jakarta mula-mula dia bekerja sebagai tukang kantau di Tanah Abang.
Dia terbilang amat rajin dan Ulet dalam bekerja.

Setelah terkumpulkan sedikit demi sedikit modal, Dia mencoba untuk
usaha sendiri. Dia mulai menggelar dagangan di pinggiran jalan Tanahabang.

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian....

Dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar, Merasa sudah semakin
berhasil Dia pun ingin berkeluarga. Hampir 3 Tahun sudah dia menikah
dan memiliki 2 anak. Tahun ini dia membangun rumah di Depok, di
lingkungan perumahan dosen UI.

Di Komplek tersebut Dia cukup terpandang karena rumahnya yang lebih
besar serta banyak orang komplek menaruh perhatian pada dirinya, namun....

Ada hal yang membuat-nya agak canggung, karena tetangganya semua
akademisi,macam-macam gelarnya, ada Prof., ada PhD.dll. Usman merasa
malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya.

Oleh sebab itu maka dibuatlah Papan naman dari perak, dipesan dari
Kotogadang, dengan nama DR. Usman Chaniago MSc.

Suatu ketika ayahnya datang berkunjung ke rumah-nya.

Alangka bangga dia begitu melihat nama anaknya di papan nama depan
rumah, kemudian dia bertanya dengan nada gembira dan bangga,(karena
setahu dia, Usman hanya tamatan SMP dan setelah itu bekerja jd sopir
dan hanya berdagang).

Kata ayah Usman :
Wah...wah.. Aba betul-betul bangga ini Usman, sampai terkejut dimana
anak ambo kuliah, nie? *

Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama:

Ahh, Aba...!!! DR. Usman Chaniago MSc iko maksudnyo......

*Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat.


<http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/message/8160;_ylc=X3oDMTJxYnI4OGhsBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzQ3NTM1NTgEZ3Jwc3BJZAMxNjAwMDQzNjk1BG1zZ0lkAzgxNjAEc2VjA2Rtc2cEc2xrA3Ztc2cEc3RpbWUDMTE1ODA1MjgwNA-->
 Re: masalah pencantuman title
Posted by: "Heri Hendrayana H (Golagong)" <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL 
PROTECTED]
Mon Sep 11, 2006 6:53 pm (PST)
Saya dengan teman2 RumahDunia bikin bendera Gong Media Cakrawala,
dimaksudkan sebagai unit usaha.
Lalu bikin BANTEN STAR. Ini juga cara menjaring "umat" baru untuk Rumah
Dunia. Selama ini RD identik dengan orang susah.
Nah, setelah terpilih 20 finalis, anak2 muda di BANTEN STAR yang ganteng
dan cantik diajak kumpul di Rumah Dunia. Mereka tertarik dan sekarang
mereka ikut jadi relawan. Mereka nanti akan jadi "public figure" atau
"kehumasan" Rumah Dunia yang mengusung budaya literasi. Mereka juga akan
siap menjadi relawan, mengajari anak-anak miskin yang datang ke Rumah
Dunia. Mereka akan jadi "etalase" yang otaknya akan kami isi dengan
literasi...

Lalu, kami mau bikin film SAIJA ADINDA.
Crewnya sineas muda Banten yang tergabung di Scene Ten dibawah komando
PJ Audio Visual Rumah Dunia, Jack La Mota. Kami udah meyebar hampir
seratusan proposal. Tapi, tak satupun yang trtarik. Para kapitalis
Jakarta itu lenih suka menyuruh kita jadi operator, yang menjalankan
ide-ide massal mereka.
Ada produk telekomunikasi, mereka mau ngasih Rp. 1,5 jt tapi minta
branding di acara. Mereka mau ngasih TV 14 inchi, juga minta branding.
Ada yang nyuruh kita jualan produk mereka dan minta branding. Begitulah
par pemodal dari Jkt.

Justru para pemodal daerah (Banten) yang secara modal terbatas,
mendukung kami. Distro 78, gerai pakaian membantu kami 1 jt. Restoran2
lokal (ayam bakar ciceuri, Bella resto cafe, pizza steak and italy, s
rizky, dan ma haji) mendukung kami berupa konsumsi untuk syuting. Selain
itu, tidak ada.

Saya coba-coba nyebar sms ke para cagub; TS-Ben, Zul-MH, dan MM. Atut-M,
Irsyad-S, saya nggak punya kontaknya. Saya meminta mereka mendukung
gerakan budaya literasi lewat film SAIJA ADINDA ini dengan kisaran Rp. 1
jt - 5 jt.
TS menjawab, "Saija Adinda yang ditulis oleh Max Havelaar sudah melukai
warga Lebak. Itu jawaban khas priyayi. Saya jawab, "Adipati Kartanegara
di Max Havelaatr tak ubahnya seperti jawara Banten masa kini, menindas
rakyat."

Tiba-tiba hp saya berdering, "Saya, Zuel! Ana suka baca novel-noveng
antum!"
Saya tanya, "Zuel mana nih?' Dia tertawa, "Zuel cagub Banten."
Hahaha....
Dan dia nyumbang secara Pribadi Rp. 1 jt. Alhamdulillah...

Tetap semangat
gg




[Non-text portions of this message have been removed]



         

                        
---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small 
Business.

[Non-text portions of this message have been removed]





Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke