Dari milis tetangga

----- Original Message ----- 
From: agussyafii <[EMAIL PROTECTED]>

Tikungan Sejarah
Oleh: Prof. DR. Achmad Mubarok MA

Sejarah bukan sekedar catatan peristiwa, tetapi juga bagaimana 
membuat peristiwa agar ia menjadi tonggak perubahan yang akhirnya 
akan banyak melahirkan peristiwa penting. Banyak partai atau 
organisasi dideklarasikan berdirinya, tetapi hanya sedikit yang 
tetap berdiri dan lebih sedikit lagi yang berhasil menorehkian 
catatan dalam lembaran sejarah. Hal ini berkaitan dengan kejelian, 
ketepatan, kerja keras dan nasib. Oleh karena itu dalam perjalanan 
sejarah, ada pelaku sejarah, ada yang terbawa oleh gerbong sejarah 
ada yang hanya dompleng dalam gerbong sejarah.  Ada partai yang baru 
berdiri langsung bisa mengusung issue perubahan, termasuk berhasil 
mengusung capresnya, yaitu SBY tetapi pertanyaan berikutnya, 
dapatkah ia mengawal gagasannya hingga terwujud ? sejarahlah yang 
akan menjawab.

Rekaman 60 tahun Pertama Sejarah RI
Kita menyadari bahwa kita bangsa Indonesia telah mengalami masa 
penjajahan colonial dalam waktu yang sangat panjang (300 tahun). 
Belanda yang merupakan negeri sangat kecil di Eropah secara sadar 
ingin menjajah Indonesia untuk selamanya, oleh karena itu kebijakan 
pemerintah penjajah adalah menjadikan bangsa ini tetap bodoh dan tak 
boleh bersatu.. Kesadaran untuk merdeka yang dirintis generasi 1912, 
diperteguh generasi 1928 menjelma menjadi revolusi merebut 
kemerdekaan yang pucaknya adalah proklamasi 45. Luka penjajahan dan 
revolusi ternyata tidak cepat sembuh, hingga hari ini masih ada 
diantara kita yang tanpa disadari berperilaku seperti penjajah, dan 
dalam bersaing sesame warga bangsa , tanpa disadari melakukan bumi 
hangus seperti ketika revolusi melawan penjajah Belanda. Hanya dlam 
persaingan pilkada, orang main hancur-hancuran seperti melawan 
penjajah Belanda dulu.

Belajar kepada kesalahan masa lalu
61 tahun kemerdekaan RI telah memberikan pelajaran kepada bangsa 
bahwa problem bangsa ini berakar dari kesalahan pemimpin karena 
mereka tidak konsisten atau lupa kepada cita-cita kemerdekaan. 
Peluang-peluang emas sering diabaikan, sementara yang dikedepankan 
justeru kepentingan jangka pendek. Falsafah berbangsa yang 
terumuskan dalam Panca Sila dan UUD 45 yang semestinya dikembangkan 
secara kreatip tetapi konsisten, secara telanjang atau terselubung 
dikebiri, hanya untuk kepentingan sempit, yakni mempertahankan 
kekuasaan. Contohnya; 

1. Bung Karno misalnya, beliau seorang pemimpin besar, proklamator 
kemerdekaan, tapi dalam perjalanan sejarah tergoda melakukan 
penyimpangan demokrasi;  mengubah periodesasi kepemimpinan nasional 
menjadi Presiden Seumur Hidup. Bung Karno juga merasa belum cukup 
menyandang jabatan sebagai kepala Negara, sehingga mengubahnya 
menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Meski Bung Karno berhasil 
mengggelorakan nasionalisme, tetapi penyimpangan konstitusi yang 
dilakukan menyebabkan bangsa ini terjerumus dalam krisis G.30 S PKI 
pada tahun 1965

2. Pak Harto yang hadir tepat waktu dan secara cerdas menghela 
bangsa ini keluar dari krisis, pada akhirnya mengulangi kesalahan 
pendahulunya, meski dengan format yang berbeda. Pemilu selalu 
digelar, tetapi demi mempertahankan kekuasaan, pemilu selalu 
direkayasa untuk memperkokoh kekuasaan, bukan untuk mendinamisir 
bangsa. Dengan Pemilu yang direkayasa, Pak Harto bisa menduduki 
kursi kepresidenan sebanyak tujuh kali masa jabatan. Sistem ekonomi 
UUD 45 yang berpihak kepada rakyat diubah menjadi konglomerasi yang 
lebih berpihak kepada pengusaha. Ideologi Pancasila diubah menjadi 
P4 dan disosialisasi secara nasional dengan system resmi yang 
justeru menyebarluaskan pandangan hidup munafik, karena nilai-nilai 
luhur yang ditatarkan sangat berbeda dengan realitas yang 
berjalan.Bhinneka Tunggal Ika diubah menjadi penyeragaman nasional. 
Penyimpangan ini mengantar pak Harto mengalami nasib yang sama 
dengan pendahulunya.
 
Tikungan Sejarah
Korban yang terparah dari kelalaian pemimpin adalah rakyat dan 
bangsa. Masyarakat kehilangan tokoh panutan, Terlalu lamanya 
pengaruh Pak Harto menyebabkan sulitnya dijumpai kandidat pemimpin 
yang negarawan, karena semua kader pemimpin  berbakat besar yang 
bisa menyaingi pak Harto telah dibungkam. Pada masa kebuntuan itu 
terjadilah reformasi. Secara akal sehat, mestinya reformasi ekonomi 
dulu baru reformasi politik, karena tidak ada contohnya dalam 
sejarah, reformasi  politik dan ekonomi yang dilakukan bersama yang 
herhasil.Uni Sovyet hancur karena Glassnot dan Perestoika, 
Yugoslavia menyusul kemudian. RRT pun hanya melakukan reformasi 
ekonomi. 

 Tetapi karena syahwat politik sudah ke ubun-ubun, maka kumatlah 
semangat revolusi ketika sedang melakukan reformasi. Akibatnya 
reformasi berjalan tanpa panduan pemimpin besar (karena memang 
sedang tidak ada pemimpin besar), amandemen konstitusi 
berjalan "anarkis" dan eforia reformasi menjadikan anarki 
berlangsung dari jalanan hingga Senayan. Bagaikan dalam tikungan 
sejarah, hanya dalam kurun satu periode lima tahunan telah berganti 
empat Presiden; Habibi, Gus Dur, Megawati dan SBY.

Mestinya, tikungan sejarah tidak terlalu lama, sekarang periode SBY 
harus sudah berada pada rel sejarah baru era ke tiga; Sukarno, 
Suharto dan SBY. Kita tunggu sejarahnya. 

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com




Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke