Benar kata pak Kadi bahwa ASSANATU-ASSANATA-ASSANATI (yang artinya "tahun")
adalah zharaf zaman (kata keterangan waktu), tapi dia kedudukannya sebagai
mudhof ilaih dari ROMADONI.
Benar juga apa yang dikatakan pak Mustawa bahwa ROMADONI tetap harus dibaca
ROMADONI.
Saya haturkan terima kasih kepada pak Kadi Syam, yang mengulas banyak tentang
ini dengan analisa kata perkata (i'rabnya). Namun saya ingin menggarisbawahi
bahwa kalau kedudukan ROMADON hanya sekedar mudhof ilaih itu tidak apa-apa. Dia
harus ROMADONA. Tapi kalau dia diidofatkan lagi dan dia berkedudukan menjadi
mudhof sedangkan kata sesudahnya mudhof ilaih, dia wajib kasrah. Alias ROMADONI.
ada'i=mudhof
syahri=mudhof ilaih
syahri=mudhof
romadona=mudhof ilaih
romadoni=mudhof
hazihis sanati=mudhof ilaih
Menurut saya, menurut pembaca yang lain, bahkan menurut Basrah, Kufah,
Ba'qubah bahkan Baghdad sekalipun sepakat bahwa ROMADON adalah isim ghair
munsharif, dan apabila dijarkan harus dibaca fathah ----->> Kecuali bila
ditambah Alif dan Lam dan idhofat!! Jadi bukan Alif Lam saja.
Tidak percaya?
Silakan buka baitnya:
Wa jurro bil fathati maa laa yansharif
Maa LAM YUDHOF aw yaku ba'da AL radif
(sumber: Alfiyah ibnu Malik)
Wassalam,
# Taufik Munir
Kadi Syam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
O ya Mas sorry klo ini forum bebas ngebot
Kang Mustawa memang benar bahwa kalimat (kalimat dalam bahasa arab adalah kata
dalam bahasa Indonesia) "hazihi" adalah isim isyarah, tetapi yang kita bahas
kan tarkibnya (susunannya) bukan kalimat perkalimat. Klo misalnya saya ditanya
"hazihi" ini isim apa? maka akan saya jawab ini isim isyarah, tetapi klo saya
ditanya apa kedudukan kalimat "hazihi" dalam jumlah ini (jumlah adalah kalimat
dalam bahasa Indonesia), maka saya akan menjawab ini adalah dharaf (dharaf
adalah keterangan tempat atau masa, tapi ini dalam pengertian ilmu nahwu bukan
ilmu sharaf) karena kalimat "hazihi" yang kemudian diikuti dengan kalimat
"al-sanati" menunjukan masa dilaksanakannya puasa yang berarti tahun ini. Jadi
"hazihi" bukan mudlaf ilaih untuk kalimat sebelumnya dan juga bukan mudlaf
untuk kalimat sesudahnya.
Terus ini ada lagi Kang Mustawa. Bahwa kalimat "hazihi" dan "al-sanati" bukan
bentuk idhafah (gabungan kalimat) tetapi kalimat "al-sanati" adalah badal
(pengganti) dari kalimat "hazihi, karena setiap isim isyarah yang kemudian
diikuti dengan isim ma'rifat atau lebih tepatnya dengan isim yang disertai alif
lam, maka isim tersebut adalah badal dari isim isyarahnya. Sedang, apabila
setelah isim isyarah adalah isim nakirah maka isim tersebut menjadi khabar dari
isim isyarah tersebut. silakan dibuka di kitab Majmu' Durus al-Arabiyah bab
isim isyarah atau di Alifiyah juga ada tapi babnya saya lupa.
Yang terakhir Kang Mustawa, Anda tadi mengatakan bahwa kalimat "ramadlan"
dibaca jar dengan tanda kasrah sudah menjadi konsesus para hali nahwu. Klo
boleh tahu ahli nahwu siapa ya? Basrah, Kufa, atau yang lain, terus alasannya
apa?. Karena menurut saya kalimat "ramadlan" tetap menggunakan tanda jar
fathah. mengapa demikian? karena kalimat "ramadlan" tidak dimasuki alif lam,
jadi isim ghairu munsharifnya tidak gugur walaupun diidhafahkan dengan kalimat
sebelumnya, kecuali klo dimasuki alif lam maka ke-gharumunsharifannya akan
gugur dan menjadi isim biasa yang tanda jernya menggunakan kasrah.
mustawa mustawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
asslamu'alaikum wr wb..
kalo boleh, ane mo ikut nimbrung nech...
Mas Kadi, forum ini kok dibilang kurang tepat sih buat
diskusi tentang bahasa Arab, apa ada yang janggal
dengan bahasa Arab...?? Menurut ane, ini forum bebas,
asal tidak menyinggung SARA..(betul ga sich..??:).
Dengan adanya diskusi semacam ini bisa jadi
pembelajaran buat yang lain, termasuk ane yg ingin
belajar bahasa Arab+tata bahasanya dari mas-mas.
Sedikit yang ane tahu ttg kata Romadhon pada niat
puasa, apakah dibaca Romadhona atau Romadhoni.
Sebetulnya kedua-duanya dibaca jer/jar. Cuma,
Romadhona alamat (tanda) jar-nya fathah dengan alasan
dia isim ghair munsarif/ghair muawwan. Romadhon dibaca
Romadhona ini sudah berlaku umum dimasyarakat. Sampai
kemudian belakang ini, para ahli tata bahasa Arab
(nahwiyyin) menemukan bahwa kurang tepat Romadhon pada
niat puasa dibaca Romadhona, karena selain menjadi
mudhof ilaih dia juga menjadi mudhof untuk kalimat
Hadzihi (ini bukan zhorof tetapi isim isyarah) yang
berkedudukan sebagai mudhof ilaih dari kata Romadhon.
Maka dengan begitu, Romadhon dibaca Romadhoni, dengan
tanda jar-nya kasrah bukan fathah.
Demikian sedikit yang ane tahu...
Wassalamu'alaikum wr wb.
Mustawa Elegant
--- Kadi Syam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> mas munir "hazihissanati" bukan mudhof ilaih tapi
> dhorof jadi jadi "ramadlan" tetap dibaca jer dengan
> tanda fathah. Tapi sorry ya..! klo kita diskusi
> bahasa arab di forum ini, kelihatannya kurang tepat
> dech
Recent Activity
42
New Members
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Freelance writing
Freelance writing jobs
Freelance writing jobs
Freelance writing for magazine
Yahoo! TV
Want the scoop?
Check out today's
news and gossip.
Need traffic?
Drive customers
With search ads
on Yahoo!
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/