Huahaha..., Jaya Santika mulai bersemangat lagi.
Soal logo iman dan taqwa, saya pernah bikin eseinya, ya.
tapi, entah dimana. ya, saya setuju. Logo "Iman dan Taqwa' itu judul lagu
dangdut.
bisa juga dibawain sambil goyang pinggul. "Iman da Taqwa' dijual
dipinggir-pinggir jalan.
Lihat itu asaul husna di jalan protokol. Kata dongdot, "Kutunggu kau di
ar-rahman!"
Saya pernah melontarkan dagelan, "Banten ini diperkosa oleh Sunan Gunung Jati
dan Maulanan Hasanudin. Kita ini adalah anak-anak haram sejarah Banten yang tak
jelas jati dirinya." Hehehe.... jangan terlalu serius ditanggapi. Bonie Tryana
yang bukan Syam'un, pasti opunya jawabannya.
tetap semangat
gg
WongBanten <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Enam tahun berlalu sudah,
Enam tahun pula kita berkutat dengan kesibukan
masing-masing,
Idealisme di awal berdirinya Provinsi,
Sirna ditelan kegelapan.
Satu dua letupan terdengar,
Secepat angin meniup hilang tak terdengar.
Sementara kebanyakan orang tua sibuk mewarisi anak
turunannya dengan harta yang berlimpah, tanah dan
rumah mewah, gelar yang tinggi dipersiapkan tanpa
terfikir untuk mewarisi keteladanan dan budi
pekerti yang tinggi. Lalu apa yang kita akan pilih
untuk mewarisi anak turunan kita kelak? Apa yang
akan kita torehkan guna tanah tercinta ini kelak?
Setelah sembuh dari sakit yang membuat saya harus
merasakan empuknya tempat tidur rumah sakit untuk
yang pertama kalinya, saya menyempatkan diri mengantar
puteri saya untuk menari bersama sanggar
Raksa Budaya di Hari Ulang Tahun Taman Mini Indonesia
Indah di jakarta.
Pikiran saya tiba-tiba tertarik kembali kebelakang
setelah mendengar sepatah kata dari Wakil Manager
TMII yang menyebutkan bahwa telah disiapkan sebidang
tanah untuk Provinsi Banten. Mata terpejam,
otak me"rewind" kejadian-kejadian masa lalu. Ada yang
kurang!!!!
Yah. Ada yang kurang. Bahkan ini sangat penting
sebagai identitas suatu kelompok. Kita belum punya
jati diri! Baik secara de facto dan de jure memang
kita belum punya jati diri. Dari fakta yang ada
kita masih bingung dengan bahasa yang akan dimunculkan
sebagai bahasa Banten. Jawa Serang atau
Sunda? Atau keduanya? secara hukum, belum ada perda
yang menguatkan hal tersebut.
Seburuk apapun seharusnya pada tahun-tahun pertama
Provinsi Banten terbentuk, perangkat yang
mengatur semua itu telah dipersiapkan dengan matang.
Apa yang menyebabkan orang dari daerah lain
jika bertemu kita langsung dapat menyebutkan, "Dari
Banten ya mas" Ga ada itu,... Ga adaa,.....
(Harun Al Jaim)
Orang luar lebih mengenal Baduy ketimbang Bantennya
persis sama ketika orang luar lebih mengenal
Bali dari pada Indonesianya. Banten lebih parah lagi
karena sebagian orang yang belum pernah
berkunjung ke Banten akan "melihat" Banten sebagai
sebuah tempat yang gelap, masih terbelakang,
banyak jagoan dan penuh dengan mistis/santet. Eh
tambah dua lagi 'ding' sebagai sarang teroris dan
pabrik narkoba. Bayangkan itu!!!
Semua berjalan mulus tanpa ada "perlawanan" dari
masyarakat Banten sendiri. Sebagian masyarakatnya
justru bangga disebut sebagai tempat penuh
mistis/santet, bangga disebut sebagai jagoan. Dan
sepertinya kita-kita yang dulu berjuang juga seakan
ikut menghilang hingga ucapan dari Wakil manager
TMII itu menyentak saya.
Islami Kulitnya
Ketika orang makan kacang atau kuaci biasanya akan
memilih kulit yang baik dengan perkiraan isinya
juga baik. Tapi kenyataannya sering kecewa karena
biarpun kulitnya baik namun isinya kering, keriput
bahkan pahit dan busuk. Jika dapat yang pahit biasanya
orang penasaran untuk mencari lagi dan lagi.
Orang makan durian ketika membeli sudah tidak peduli
dengan kulitnya yang tajam dan rupanya yang
buruk. Yang jelas perjanjiannya "Saya beli kalau
matang dan manis". Orang cari isinya, bukan
kulitnya. Kita sering makan durian tapi berperilaku
seperti pemakan kacang atau kuaci.
Dalam perjalannya, semua kebijakan yang diambil hampir
dipastikan haruslah berlandaskan Islami.
Hingga akhirnya bingung sendiri bahkan sekarang
menjadi blunder. Bayangkan saja dalam kenyataannya
provinsi yang menggunakan motto "Iman Taqwa" dalam
putaran pertamanya saja sudah menyeret Gubernur
dan pimpinan DPRD Provinsi Banten. Benar atau salah
demikian yang terjadi dan terbaca. Sementara
banyak yang menghambur-hamburkan uang untuk urusan tak
jelas, diperempatan lampu merah anak jalanan
masih bertambah. Ketimpangan-ketimpangan lain yang
pasti dirasakan.
Teringat ketika saya memenangi sayembara Logo Provinsi
Banten (Juara 1 dan 3), ketika tidak lama
setelah dipublikasikan, langsung mencuat motto Banten
itu tidak Islami. Ketika itu saya menggunakan
"Nagari Rahayu Jaya Santika" Ramailah dan berlombalah
menggolkan motto yang "Islami" dengan
Darussalam, Iman Taqwa dan lainnya. Ketika itu bola
panas selalu berpindah antara legislatif dan
eksekutif. Akhirnya judul lagu dangdut yang terpilih
kata Gola Gong.
Dalam "wawancara" dengan radio Sigma Stain Serang
ketika itu, saya tidak diberi kesempatan untuk
menjelaskan asal usul motto pemenang, namun digiring
untuk mengakui bahwa motto itu tidak Islami.
Ketika saya tanyakan dimana ketidak Islaminya motto
tadi, mereka enggan meneruskan "wawancara".
Bahkan setelah mengetahui siapa yang menang,....
hingga detik ini saya belum pernah menerima piagam
yang meyatakan kemenangan tersebut. Padahal sangat
saya idam-idamkan karena menjadi bukti otentik
untuk anak cucu saya kelak. Bayangkan juara mewarnai
tingkat TK juga mendapat setifikat. Sebenarnya
"pengakuan" itu yang lebih saya harapkan. Karena bagi
saya, dimana bumi dipijak disana langit
dijunjung. Bukan dimana bumi dipijak saya diinjak.
Itu adalah sekedar contoh yang saya alami sendiri.
Tentunya rekan-rekan juga merasakan hal yang sama
dalam peristiwa yang berbeda. Apakah ini sudah menjadi
sebuah harga mati sehingga dari kalangan
cendikia hingga birokrat selalu mengedepankan kulit
Islami-nya ketimbang isi dari kulit tadi. Saya
bukan penentang dalam masalah ini namun ketika
perangkatnya selalu tidak mendukung, janganlah
berlindung diketiak Agama dan Agama menjadi alasan.
Ketika perangkat kerjanya lepas kontrol sehingga
tidak bekerja seperti yang diharapkan -seperti
sekarang ini, maka landasan tadi dapat menjadi
bumerang untuk landasan itu sendiri bukan pada
perangkatnya.
Jati Diri
Beberapa tahun lalu ketika pemilik salon dikumpulkan
guna membahas "pakaian khas Banten" timbul
polemik yang gak ada juntrungnya hingga saat ini.
Sederhana saja. Ketika itu wanita di Banten
menggunakan sanggul atau kerudung? Hebatnya pertemuan
ini tidak melibatkan ahli sejarah dan
arkeologi.
Jika membahas pakaian pada saat jaman Kesultanan
semestinya kita punya patokan dalam stata apa
pakaian itu dan dalam kelompok mana pakaian itu.
Karena Kesultanan Banten pada saat itu terdiri dari
bermacam strata dan golongan sehingga dalam
berpakaianpun akan sangat berbeda. Dalam sebuah buku
terbitan belanda tergambar suasana ketika Sultan Abdul
Mafakir menyunatkan anaknya. Dalam gambar
tersebut anak Sultan tampak digendong namun pada latar
belakangnya terdapat gambar seperti arca
bertangan delapan. Yang sangat mencolok adalah gambar
seorang perempuan di sebelah kiri depan yang
tidak menggunakan baju sehingga terlihat payudaranya.
Dalam beberapa buku Halawani Michrob, gambar tersebut
ditusir ulang sehingga hilang patung tangan
delapannya dan sang perempuan sudah mengenakan baju.
Ketika itu terdengar bahwa buku itu terbitan
Belanda dan ingin mengacaukan sejarah Banten. Pertama
saya setuju saja hingga saya mendapati
kenyataan bahwa buku Belanda itu sebagai rujukan
pertama (berdasarkan filologi) yang sahih menurut
arkeologi.
Kemudian didasari bahwa Sultan Abdul Mafakir mempunyai
tempat tinggal sendiri di Kenari. Dalam
peninggalannya gerbang Kenari lain dari gerbang Bentar
dan Paduraksa yang ada di Kaibon. Di Kenari
lebih bernuansa Bali. Dengan itu sekitar Kenari pasti
ada komunitas Bali yang notabene memeluk
Hindu. Sehingga tidak salah jika pembuat gambar
(lithograph) ketika itu "memotret" keadaan
sebenarnya dimana arak-arakan sunat melintas di muka
rumah seseorang yang memeluk Hindu. Mengenai
perempuan telanjang dada dapat dijelaskan bahwa Bali
tahun 70-an saja masih banyak wanita Bali yang
bertelanjang dada. Kampung orang Bali terbesar di
Banten adalah dekat Surosowan yaitu kampung
Kebalen. Jadi siapa yang membelokan sejarah? Apalagi
menggunakan karya orang kemudian "dirusak"
menurut versinya sendiri.
Untuk ringkasnya mau pakai kerudung kek, mau pakai
sanggul kek, mau pakai blue jeans kek yang
penting adalah keberanian politik eksekutif dan
legislatif untuk membuat payung hukum segala sesuatu
yang dapat membangkitkan jati diri Banten. "Wah rumah
adat kita hanya ada di Baduy. Masa kita punya
rumah adat seperti itu", kata rekan saya. Nah ini, mau
rumahnya dari bambu kek, mau dari beton kek,
mau tingkat tiga kek, mau tingkat sepuluh kek yang
penting ada payung hukumnya.
Setali tiga uang dengan bahasa, nyanyian dan lain
sebagainya yang penting payung hukum. Teringat
ketika final KDI di TPI atau puteri Indonesia (agak
lupa) tahun 2005 kalau gak salah. Ketika itu Ibu
Atut Chosiyah datang memberi dukungan untuk kontestan
dari Banten. Ketika disuruh menyanyikan lagu
dari Banten, kontestan kita terlihat kebingungan,
padahal sudah digembleng masalah ke-Bantenan.
Padahal kalo jlinger nyanyiin aja lagu Katuran
Sholat,.... ahuehuahuehuahe.... Kita yang provinsi,
lagu saja tidak punya. Cirebon, "nenek"nya Banten yang
Kota Madya sudah ber kontainer-kontainer
memproduksi Tarling. Yang mutakhir ya "Kucing Garong"
Tarik manggg,....
Kalah Terus Tanpa Perlawanan
Dibidang pembentukan jati diri Banten selalu kalah
dari DKI Jakarta. Beberapa hal yang seharusnya
bisa kita lawan sampai titik darah penghabisan ialah
kepulauan Seribu yang secara historis masuk
dalam Kesultanan Banten kemudian Ondel-ondel Betawi
yang berasal dari pepetan wewe Kemang dan
terakhir adalah Babad Betawi yang mirip "sejarah
Banten".
Kepulauan Seribu ada sedikit perlawanan tapi
sepertinya hanya basa-basi saja. Beberapa peninggalan
sejarah menyatakan -salah satunya- adalah pulau Onrust
(bener gak nulisnya soalnya lagi ga liat
buku) yang akan dijadikan "bengkel kapal" oleh Belanda
diharuskan minta izin ke Banten oleh penguasa
Sunda Kelapa saat itu. Belum lagi dengan batas sungai
Cisadane. Tapi perlawanan kita melempem.
Apalagi dengan Ondel-ondel dan Babad Betawi yang mirip
"sejarah Banten" nya Drs Yosep Iskandar.
Tahun 1960 Jakarta meminjam Pepetan Wewe Kemang untuk
HUT Jakarta. Selepas itu didandanin dibuatkan
perda, resmilah dengan nama Ondel-ondel, sebuah seni
tradisional Betawi. Kemudian tidak mengerti
siapa yang mulai, Babad Betawi-pun menngacu pada
sumber yang sama dengan "sejarah Banten" yaitu
naskah Wangsakerta. Padahal naskah tersebut sempat
dinyatakan tidak valid oleh Arkeologi Nasional.
Setelah peneliti naskah Wangsakerta meninggal dunia
dan hanya menyisakan satu orang, datanglah Drs
Yosep Iskandar ke Banten dengan membungkusnya sebagai
"sejarah Banten".
Dua tahun setelah itu saya menemukan buku Babad Betawi
yang juga berdasarkan naskah Wangsakerta
namun yang menjadi rujukan adalah Betawi. Jika dalam
"sejarah Banten" Salakanegara itu di gunung
Pulasari, maka dalam Babad Betawi, Salakanegara ada di
gunung Salak. Rajanya sama Dewawarman dan
mertuannya juga sama Aki Tirem. Jangan-jangan nih
dalangnya sama.
Saya sangat menerti, boro-boro ngurusin sejarah orang,
wong sejarah sendiri saja amburadul bahkan
banyak yang tidak masuk akal. Tapi yang mengherankan
mengapa Babad banten tidak pernah
dipublikasikan. Ada apakah gerangan. Simpang siur
keberadaan Babad banten hingga sampai ada yang
menyebutkan ada jilid satu dan dua. Tapi sejauh ini
ada informasi Babad Banten dipegang oleh bapak
Uki Sandjadirdja mantan Kepala Kebudayaan dan
Pariwisata Kabupaten Serang. Saya pernah menemuinya
untuk sekedar melihat. Namun dijawab dengan
ngalor-ngidul, sehingga saya balik ngalor ke rumah
sendiri.
Dalam sejarah kita sudah sangat capai melawan rekan
sendiri. jeruk makan jeruk namun yang kenyang
orang lain, terus berlangsung di Banten. Dua kali kita
diberi kepercayaan untuk memimpin daerah
sendiri, dua kali pula kita gagal. pertama dalam
kesultanan yang kemudian hancur kemudian ketika
Achmad Chatib residen pertama Banten juga amburadul
dengan isu PKI, apakah kita mau mengalami nasib
yang sama sekarang ini?
Keberanian Luar dalam
Perlu keberanian luar dalam untuk membangun jati diri
Banten. Termasuk pencarian fakta beberapa
kejadian yang krusial di Banten seperti kapan dan
dimana pertama kali gelar Tubagus digunakan,
apakah gelar Tubagus menunjukan seseorang pada
keturunan Sultan Banten atau bagaimana. Kapan pula
istilah Jawara mulai dimunculkan sehingga kini melekat
Ulama, Umaro dan jawara. Banyak lainnya yang
membutuhkan keberanian luar biasa untuk membawanhya ke
publik untuk dibahas secara ilmiah dan dapat
dipertanggung-jawabkan.
Sekali lagi mengenang, menggali sejarah bukan mengorek
kembali luka lama, namun sejarah tetaplah
sejarah, sepedih apapun harus kita sikapi dengan penuh
kearifan, agar menjadi pegangan untuk
menggapai cita-cita mengangkat Banten sebagai provinsi
terkemuka yang menjadi panutan provinsi lain
di jagad ini. Dan akankah kita wariskan provinsi ini
tanpa jati diri?
Jangan beraninya mengenakan topeng saja.
__________________________________________________________You snooze, you lose.
Get messages ASAP with AutoCheck
in the all-new Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_html.html
---------------------------------
Get your own web address.
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.