----- Pesan Diteruskan ----
Dari: forumbersama kita <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Selasa, 5 Juni, 2007 4:42:46
Topik: [the_untold_stories] Ramalan di bulan JUNI (BMG & CNN)

Saya sebagai admin milis di komunitas jalanan, turut prihatin dengan manusia 
-manusia pinter indonesia saat ini. Mereka kayaknya asik saja  alam di 
Indonesia dengan fenomena ketidakpastian sehingga BMG-pun ikut meramal :


Warning BMG Maritim Waspadai 7-8 Juni, Gelombang Laut Dapat Mencapai 7 Meter


Hal ini diprediksi bakal terjadi seperti fenomena aneh gelombang laut di bulan 
mei-2007 lalu (dalam tulisan pak Dwi :  Meretas takdir : Di-ikuti maut ): 


Jumat, 18/05/2007 07:43 WIB Gelombang 7 Meter di Pantai Pelabuhanratu Buat BMG 
Bingung - Sebelas propinsi terkena Gelombang Pasang mei-2007
Benarkah ramalan itu ..... > tinggal beberapa hari kita akan melihat kebenaran 
ramalan itu

Ramalan kedua adalah dari CNN, Beredar Isu Gempa dan Tsunami Tanggal 7 Juni  
yang kemudian di bantah oleh BMG, BMG membantah CNN

Siapa yang benar akan ramalan itu ? BMG, CNN ? -> tinggal  beberapa hari kita 
akan  melihat ramalan itu


Bagaimana kalau BMG yang salah sebagaimana alarm Tsunami. Tentu masih ingat 
ramalan mama Lorens dimana porong akan amblek 5 bulan lagi tepatnya bulan juni 
..... lalu siapa yang benar ?

Adakah tanda Tsunami tsb sesuai dengan tulisan  Bacalah Tsunami Aceh, mendekati 
benar: bahwa 3 kematian dan 3 kehidupan, 3 bulan : januari-feb- maret adalah 
kejadian penuh horor kematian dan april-mei-juni adalah 3 bulan kehidupan 
(tanpa bencana besar, namun banyak kejadian yang mengingatkan pada 3 kematian 
Death of Mask  , kalau 3 Mhs, 3 Pol, 3 ustad dan 3 mobil, maka seklai lagi 
diperlihatkan 3 KA bermasalah), maka itulah Aceh dalam tulisan Fraktal yang 
semakin jelas 

("Terdapat 3 kejadian 'kematian' dan terdapat 3 kehidupan, setelah itulah 
terjadi dengan Aceh" itulah yang dapat kami baca)




Selasa, 05 Juni 2007
Sirene Tsunami Meraung, Warga Panik
Berlangsung 30 Menit, Terdengar Sejauh 10 Km
BANDA ACEH - Sirene tanda bahaya tsunami meraung. Warga Banda Aceh dan Aceh 
Besar, terutama yang tinggal di radius tiga kilometer dari pantai, panik. "S 
... 

•Selasa, 05 Juni 2007
Faks yang Terlambat
Sejumlah warga menyesalkan kejadian itu. Pemerintah dinilai lalai mengawasi 
pengoperasian alat tersebut. "Bagaimanapun, kepanikan warga hari ini merupakan 
kesalahan pemerintah. Pemerintah harus menjel ... 

•Selasa, 05 Juni 2007
Mungkin Virus Komputer
Dari Jakarta, Kepala Seksi Informasi BMG Pusat Suharjono menjelaskan, kesalahan 
itu bukan disebabkan faktor manusia. 

•Selasa, 05 Juni 2007

Berikut lengkapnya berita itu :

NUSANTARASelasa, 05 Juni 2007 



Selasa, 05 Juni 2007 
Faks yang Terlambat

Sejumlah warga menyesalkan kejadian itu. Pemerintah dinilai lalai mengawasi 
pengoperasian alat tersebut. "Bagaimanapun, kepanikan warga hari ini merupakan 
kesalahan pemerintah. Pemerintah harus menjelaskan mengapa ini terjadi. Banyak 
orang luka dan panik gara-gara pemerintah tidak becus," ujar Dewi, warga Kahju.

Hal serupa diungkapkan Ridwan Haji Mukhtar. "Ini sesuatu aneh. Dulu katanya 
alat ini belum bisa difungsikan. Tapi, hari ini kok malah berbunyi tanpa ada 
sebab yang jelas," kata Ridwan kesal.

Kepanikan warga wajar karena beberapa hari sebelumnya muncul berita di televisi 
asing, CNN, yang mengingatkan ancaman tsunami di Samudera Hindia. Menurut 
stasiun televisi yang bermarkas di Amerika Serikat itu, lempeng bumi di 
Australia bergerak ke utara menuju Asia. 

Pergeseran lempeng itu diperkirakan bisa bertabrakan dengan lempeng bumi 
selatan Indonesia. Perkiraan itu berlangsung sebelas hari setelah air pantai 
meluap.

Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin akan menyiagakan mobil-mobil penerangan 
untuk memberikan informasi secepatnya kepada masyarakat. "Pemerintah juga akan 
segera memperbaiki sistem sosialisasi bahaya tsunami sekaligus mengadakan rapat 
koordinasi untuk menempatkan petugas di setiap EWS (early warning system)," 
ujarnya.

Dari Poltabes Banda Aceh dilaporkan adanya faks dari BMG pusat sekitar pukul 
16.00. "Ini surat yang baru saja kami terima dari BMG pusat," kata Kapoltabes 
Banda Aceh Kombes Pol Zulkarnaen di ruang kerja wakil gubernur Aceh.

Terdapat hal yang sedikit aneh pada surat nomor 51/DEP/II/BMG/ VI-2007 tentang 
bunyi sirene tsunami tersebut. Yaitu, surat itu bertanggal 1 Juni 2006, namun 
baru difaks ke Poltabes Banda Aceh pada 4 Juni, pukul 16.00.

Dalam surat tersebut dituliskan bahwa BMG sedang melaksanakan perbaikan EWS di 
Banda Aceh. Penyelidikan dan perbaikan akan membutuhkan waktu beberapa hari. 
(tim/jpnn)



NUSANTARASelasa, 05 Juni 2007 



Selasa, 05 Juni 2007 
Mungkin Virus Komputer

Dari Jakarta, Kepala Seksi Informasi BMG Pusat Suharjono menjelaskan, kesalahan 
itu bukan disebabkan faktor manusia. "Tidak ada yang menekan tombol peringatan 
dini itu, baik BMG Jakarta, Medan, maupun Aceh," katanya.

Menurut dia, ada tiga kemungkinan berbunyinya alarm itu. Pertama, kerusakan 
software akibat virus atau spam. Kedua, kerusakan hardware, atau terakhir 
adanya arus pendek. "Kami masih menelusuri ketiga kemungkinan itu dan sudah 
mengontak provider yang mengurus infrastruktur satelit," katanya.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) meminta maaf atas bunyi sirene tanda 
bahaya dari tiga alat pendeteksi tsunami (early warning system) yang 
menghebohkan warga Banda Aceh dan Aceh Besar kemarin. Bunyi itu diduga 
disebabkan rusaknya sistem jaringan alat tersebut. "Kami dari BMG mohon maaf 
yang sebesar-besarnya, " kata Kepala BMG Mata Ie, Aceh, Syahnan.

Syahnan sempat dipanggil Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar dan Wali Kota Banda 
Aceh Mawardi Nurdin untuk menjelaskan penyebab berbunyinya alarm tanda bahaya 
tsunami.

Dia mengatakan, dari enam alat pendeteksi tsunami yang dipasang di Banda Aceh 
dan Aceh Besar, tiga di antaranya berbunyi secara tiba-tiba. Yaitu, di Kaju 
dengan lama 30 menit, Blang Oi berbunyi dua menit, dan Lhok Nga selama dua 
menit. "Penyebab lebih lanjut mengapa sampai terjadi kerusakan jaringan sedang 
dilakukan investigasi oleh BMG pusat Jakarta ," ujarnya.

Menurut dia, sinyal yang ditangkap alat pendeteksi tsunami di Aceh dikirim 
melalui BMG regional di Medan setelah menerima peringatan dari BMG Pusat di 
Jakarta. "Sistem kerja alat pendeteksi tsunami itu terkoneksi ke seluruh 
jaringan di Indonesia dan dikontrol di BMG Pusat Jakarta. Sementara BMG Aceh 
hanya melakukan pengamatan," paparnya. 

Alat pendeteksi tsunami dini tersebut, kata Syahnan, sama sekali belum perah 
diuji coba. Di seluruh Indonesia, kata Syahnan, EWS tsunami baru dibangun di 
tiga daerah. Yaitu, Bali, Padang, dan Aceh. "Yang di dua tempat tadi sudah 
diuji coba," tuturnya.(mar/ jpnn)


NUSANTARASelasa, 05 Juni 2007 



Selasa, 05 Juni 2007 
Sirene Tsunami Meraung, Warga Panik

Berlangsung 30 Menit, Terdengar Sejauh 10 Km
BANDA ACEH - Sirene tanda bahaya tsunami meraung. Warga Banda Aceh dan Aceh 
Besar, terutama yang tinggal di radius tiga kilometer dari pantai, panik. "Saya 
sedang menidurkan anak. Tiba-tiba ada orang lewat sambil berteriak air laut 
naik, air laut naik. Saya sangat takut dan hanya seorang anak yang saya bawa. 
Yang lain sedang sekolah," tutur Maryati, 32, warga Desa Tibang, Kecamatan 
Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Menjelang siang kemarin, suasana di kota itu begitu mencekam. Trauma empasan 
tsunami dua tahun lalu pun membayang. Warga berebut menjauh dari pantai menuju 
lokasi yang lebih tinggi. Beberapa warga terjatuh dan terluka karena terinjak.

Para pelajar yang tengah belajar di sekolah berhamburan keluar sambil 
menjerit-jerit ketakutan. Begitu juga yang tengah berada di kantor-kantor dan 
pusat-pusat perbelanjaan. 

Pemandangan warga yang panik terlihat hampir di sebagian besar jalan-jalan di 
kawasan permukiman pesisir pantai Banda Aceh dan Aceh Besar. Beberapa desa 
nyaris kosong akibat ditinggal warga, setelah kabar air laut naik tersebut 
berembus dari mulut ke mulut. 

Sirene tsunami terus meraung. Suaranya terdengar hingga radius sepuluh 
kilometer. "Ada sekitar 30 menit sirene berbunyi. Warga yang ada di sini 
berhamburan keluar rumah. Ada yang lari menggunakan kendaraan. Ada juga ibu-ibu 
yang menangis karena tidak tahu dengan apa mau pergi," turut Sofyan, 30, saksi 
mata yang berada sekitar 20 meter dari menara sirene itu. 

Aktivitas murid sekolah dan mahasiswa kampus Unsyiah dan IAIN Ar Raniry 
berhenti total. "Padahal, siswa hari ini lagi ujian. Mereka terpaksa harus 
keluar kelas. Ada juga yang pulang," kata seorang guru SMA Negeri 5 Darussalam. 

Salmiah, guru pengawas ujian semester di MIN 1 Jambo Tape, Banda Aceh, 
mengatakan, siswa yang belum mengikuti ujian akibat isu tsunami akan menyusul 
setelah ujian semester II berakhir. Saat isu tersebut beredar, siswa sekolah 
itu telah mengikuti dua mata pelajaran ujian dan belum mengikuti ujian mata 
pelajaran dasar, yaitu Alquran. 

Ketika kabar itu tersiar, sejumlah siswa berhamburan keluar kelas, lengkap 
dengan tas ranselnya. Mereka langsung keluar dan naik mobil jemputan. Sementara 
itu, siswa yang belum dijemput tampak sedih. Bahkan, ada yang menangis karena 
ketakutan.

Dalam situasi panik tersebut, polisi berdatangan. Mereka menjelaskan bahwa 
berita soal tsunami itu hanya isu. Mereka berkeliling kota menenangkan warga. 
"Kami berusaha meyakinkan warga untuk kembali ke rumah. Setelah kami cek, 
ternyata tidak ada tsunami. Itu hanya kesalahan teknis sehingga sirene 
berbunyi," kata Kapoltabes.

Sekitar pukul 13.00, kondisi berangsur normal. Sebagian besar warga mulai 
kembali ke rumah mereka. Tapi, sekitar pukul 15.00, warga kembali dikejutkan 
bunyi sirene tsunami. Kali ini suara berbunyi di kawasan Ulee Lheue. 

Kepanikan warga kembali terjadi, meski sirene tersebut tidak lama berbunyi, 
seperti di Kahju. Di sejumlah jalan dan persimpangan di kawasan Taman Sari, 
terjadi kemacetan luar biasa. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. 
(tim/jpnn)






Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links. 



      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke