Biasanya kalau orang serakah seperti H.Chasan di perpanjang umurnya (MPP) Mati 
pelan-pelan....He...hee..8*

yucca zinnia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                         
         hahahahhahaa...PARAAAh...kang risyaf...ada ada aja nih...cukup lucu 
dan "mengena"....hehehehe

Risyaf Ristiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                             
Professor  ??? Ya Professor kata lain adalah Guru Besar jadi gelar non 
akademik.  Jadi merupakan hal yang pantas dan lumrah, jika seorang yang bernama 
 TB. Chasan Sochib menempelkan atribut "Professor" di depan namanya.  Kenapa 
pantas dan lumrah ? Lho bukankah Tb. Chasan Sochib adalah Guru  Besar Pendekar 
Banten (Jawara). Jadi untuk menghormati suhu yang  dipertuan agung, maka 
konco-konco, kroni-kroni, para penjilat  ulung yang seideologi dengan beliau 
menganugerahkan gelar  "Professor" (Sang Maha Guru). 
 Namun saya  rada bingung tujuh keliling, ada atribut "Dr" di depan namanya. 
Apakah  ini gelar "Dr" hibah (honoris causa) yang diberikan oleh lembaga  
pendidikan tinggi kepada beliau lantaran sukses mengkombinasikan dan  
mengsinergikan profil "pengusaha & penguasa", asyiiiik. Dan ini  konon katanya 
merupakan salah satu buah pemikiran yang sangat cemerlang  (derajatnya setara 
hasil disertasi orang yang menempuh pendidikan  formal), dan layak mendapatkan 
gelar kehormatan "Dr". Tapi Lembaga  Pendidikan Tinggi mana ? Apakah dalam 
negeri atau luar negeri? Koq  remang-remang sih ? Hebaaaaaaaat coy!
  
 Lalu  berita atau kabar meninggalkannya "Prof. Dr. Tb. Chasan Sochib adalah  
kabar burung dara yang lapar yang menclok di atas genteng kebetulan ada  
jemuran dendeng daging sapi. Sebetulnya burung dara itu makanan  pokoknya 
adalah dari jenis biji-bijian (jagung, beras), lantaran  perutnya sudah lima 
hari lima malam tidak terisi, maka dengan terpaksa  dendeng daging sapi yang 
dijemur orang di atas genteng disikat juga.  Mangkanya tak heran, yang biasanya 
burung dara bunyinya "keruk...keruk...keruk...keruk" berubah total menjadi 
"asan ojor...asan ojor...asan ojor...asan ojor........(artinya : Chasan 
Kojor.....Chasan Kojor) - kojor = koit.
  
 Astagfirullah..................Mbah   Tb. Chasan Sochib, hampura, maaf atas 
canda ini, bukan maksud saya mencela, emang nyatanya demikian, tul gak coy ?
  
 Piss akh "Semoga Panjang Umur, Sampai Gak Bisa Jalan"
  
  
 

 
 ----- Original Message ----
From: eka jaya <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 6, 2007 7:52:41 PM
Subject: Re: [WongBanten] Isu meninggalnya Prof.Dr.H.Tb.Chasan Sochib sudah 
terdengar

   
LOL!!!! jadi kabarnya haji kasan meninggal dunia cuma isu aja yah
 kemaren baca di radar banten sang profesor kumat maning marah2 ngancam anggota 
DPRD banten
 kayaknya bakal seru lagi nih banten

Mercusuar Post <mercusuar_post@ yahoo.com> wrote:
   Isu  meninggalnya Prof.Dr.H.Tb. Chasan Sochib sudah terdengar dimana -2  
tokoh banten kelahiran ciomas Serang ini sudah sejak lama mederita  penyakit 
kencing batu dan komplikasi lainya. Menurut salah satu kerabat  dan keluarga 
yang dekat dengan dirinya, namun tidak mau disebutkan  namanya. Menceritakan 
konon sebelum sakit H.Chasan (Abah) pernah  bermimpi anaknya Rt. Atut Plt 
Gubernur sekarang jatuh ke jurang dengan  ikatan dileher tercekik dan wajahnya 
tertutup cadar hitam. Kemudian  setelah terbangaun spontanitas H.Chasan 
langsung jatuh sakit dan struk  sampai sekarang beritanya H.Chasan belum 
terdengar.

Yusron Heryono <yusron.heryono@ pttitan.com>  wrote: Apakah ada info yang tahu 
kebenaran berita wafatnya penguasa  pasar "RAU" Prof.Dr.H.Tb. Chasan 
Sochib..yang juga merupakan abahnya  plt saat ini yg juga nyalonin gub..., 
karena menurut isue beliau  meninggal di rumah sakit pondok indah karena 
kencing batu dan akan  dimakamkan hari Sabtu 18 Nov. 2006 di Ciomas..

-----Original Message-----
From: Dedi juanda [mailto:[EMAIL PROTECTED] com]
Sent: Friday, November 17, 2006 2:40 PM
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Subject: Re: [WongBanten] Antara Aceh dan Banten

Impian Kang GG sama dengan impian saya, walau ada
sekelebat ke khawatiran bahwa MALAPETAKA   selalu ada di
tanggal 26, dan ayat 26 dalam Al-Qur'an isinya
Ancaman. Wallahu a'lam bishawab.
Semoga kita selalu mendapat rahmat dan
lindungan-Nya, Amin
/dedidj 

--- Rumah Dunia < [EMAIL PROTECTED] <mailto:rumahdunia% 40yahoo.com> com> wrote:

> ANTARA ACEH DAN BANTEN RAYA
> Oleh Gola Gong
> 
> Baiklah, aku akan memulai tulisan ini di lobi 2F
> Bandara Soekarno Hatta, Selasa (13/11)  siang. Aku
> bertemu dengan Budi Putra, wartawa Koran Tempo dan
> pakar teknologi informasi. Aku hendak ke Aceh
> menjadi pembicara di Seuramo Teumuleh (Aceh Meulis),
> dia ke Denpasar mengikuti seminar. Budi mngusulkan,
> agar pada 2007, Rumah Dunia memasuki era "Rumah
> Dunia goes bloging". Dia bersedia jadi relawan,
> membagi-bagikan ilmunya, agar komunikasi di Rumah
> Dunia mulai memakai media blog (majalah on line).
> 
> AIR PORT
> Aku tentu antusias.   Rencana "Rumah Dunia goes
> bloging" aku simpan rapih di otakku. Kami mesti
> berpisah. Aku ke gate F4, dia ke F2. Pesawat Garuda
> membawaku terbang ke negeri rencong, dimana tsunami
> pernah meluluhlatakan kota dengan julukan Serambi
> Mekkah di penghujung 2004.
> Sekitar pukul 16.00 WIB, pesawat GA 188 landing
> di bandar udara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Aku
> turun dari tangga pesawat dan mengitari  pandang. Air
> port ini kecil. Hampir sama dengan semua bandar
> udara di kota provinsi di luar Jawa. Semestinya, air
> port adalah citra atau pakaian bagi kota itu, agar
> para turis domestik dan mancanegara bisa berbangga
> hati memasuki kota. Banten ternyata masih unggul,
> karena memiliki bandara internasional, Soekarno -
> Hatta di Tangerang. Tapi begtitulah. Tampaknya smua
> air port di luar Jakarta tidak boleh bagus. Padahal
> Aceh sebetulnya sangat kaya.
>   Aku mengitari pandang. Pegunungan mengelilingi.
> Seperti di Dilli, Timor-Timur atau Papua. Mungkin
> dulu Tjoet Nyak Dhien bergerilya melawan kolonial di
> sana. Aku membayangkan pada saat tsunami lalu,
> bagaimana bandar sekecil ini bisa menerima puluhan
> pesawat bantuan dari mancanegara, bahkan pesawat
> sejenis Hercules! 
> 
> JAWARA-TEUKU
> Tapi lupakan itu. Ada yang menarik buatku,  ketika
> supir yang menjemputku, Pak Mawardi (50 tahun), ayah
> 6 anak, lulusan IAIN Ar-Raniy Darusallam Banda Aceh,
> mengatakan anatar Aceh dan Banten banyak
> persamaannya. Pertama, masyarakatnya keras, togmol,
> dan berani memberontak melawan Belanda. "Sama-sama
> tidak mau dijajah!" katanya. Di Aceh ada Tjoet Nyak
> Dhien, di Banten dengan Sultan Ageng Tirtayasa.
> Memiliki senjata kebanggaaan yang mudah digenggam,
> yaitu rencong dan golok. Berpenduduk mayoritas
>   Islam. Serta memiliki sub-kultur yang kemudian
> dominan; yaitu jawara dan teuku.
> Memang pada awalnya, fungsi dari dua subkultur itu
> berbeda. Jika di Banten, para ulama yang membutuhkan
> bala tentara untuk menjaga keselamatannya dari
> Belanda dengan membentuk jawara, yaitu orang-orang
> yang diajari ilmu bela diri dan kekebalan tubuh. 
> Tapi sebaliknya di Aceh, Belanda membentuk unit
> kerja  yang dinamakan "Teuku", yaitu polisi pribumi
> yang bertugas menagihi pajak atau upeti kepada
> sesama pribumi. "Teuku" di Aceh juga tumbuh menjadi
> dominan dan priyayi baru selain "Tengku" (ulama).
> Kata Pak Mawardi, "Mereka beranak-pinak dan termasuk
> kelompok masyarakat yang secara materi melimpah.
> Mereka menyebar di luar Aceh."
> Pada era kekinian, jawara di Banten sebetulnya
> sudah selesai dan tidak ada lagi fungsinya, karena
> Belanda sebagai penjajah sudah   hengkang. Hanya saja,
> simbol-simbol kejawaraan yang identik dengan
> kekerasan, seragam serba hitam dan senjata golok
> bermetamorphosa (beralih bentuk) ke segala lapisan
> masyarakat (penguasa), sehingga memunculkan rasa
> takut di kalangan masyarakat biasa. 
> Nilai-nilai kejawaraan yang diidentikan dengan
> pelindung rakyat, mulai luntur. Identitas jawara
> mengalami degradasi nilai. Bahkan visi. Mereka  bukan
> lagi sebagai pelindung, tapi pemeras. M.A Tihami,
> dalam kata pengantar buku "Tasbih dan Golok" (Humas
> Pemprov Banten, 2005) menulis, "Kiyai dan jawara
> menjadi kelompok yang terpisah dan seolah berbeda.
> Masing-masing mengembangkan kultur sendiri yang
> berbeda, sehingga kini menjadi subkultur dalam
> masyarakat Banten. Bahkan pada akhirnya, Kiyai dan
> santri menjaga jarak dengan jawara. Kini kiyai
> memilih berkonsentrasi membangun pesantren di
>   pelosok-pelosok Banten, menyiarkan Islam."
> Kesamaan lainnya yang berbau politis, kedua
> gubernur mereka tersangka kasus korupsi. Abdullah
> Puteh terlibat mark up pembelian Helikopter, Joko
> Munandar terkait kasus korupsi dana perumahan. Kini
> Aceh dan Banten dipimpin oleh pelaksana tugas
> gubernur. Walupun secara substansi berbeda.
> Misalnya, Puteh kini mendekang di pnjara di Jakarta,
> sedangkan Joko  tidak dipenjara, karena memang dia
> tiak memakan uangnya. Joko hanya sebatas
> menandatangani saja seerti halnya Dharmono K. Lawi,
> juga Atut, yang kini jadi Plt Gubernur Banten. Di
> beberapa media massa cetak dan elektronik, Dharmono
> yang kini buron sesumbar, "Saya akan menyerahkan
> diri, asal semua yang menandatangan dana itu
> dipenjara juga!"
> 
> PILKADAL
> Ternyata masih ada kesamaan lagi, yaitu Aceh
> dan Banten sedang menyongsong Pilkadal.   Di Banten 26
> November nanti, di Aceh 11 Desember. Walaupun tidak
> semeriah di Banten, aku melihat spanduk dan baliho
> para cagub-cawagub menghias jalan-jalan.
> Ada yang menarik dari pilkadal di Aceh. Saat
> penjaringan awal, masyarakat mempunyai hak penuh
> untuk menentukan, apakah para cagub mereka layak
> atau tidak maju. Para cagub ditest atau diharuskan
> melewati ujian mengaji, bahkan murattal. KIP  (Komisi
> Independe Pemilihan) bertindak sebagai fasilitator.
> Para pengujinya adalah imam di Mesjid Raya
> Baiturrahman, Banda Aceh, tempat dimana
> berlangsungnya acara.
> "Uji nyali" itu harus diadakan di mesjid
> raya. Semua lapisan masyarakat berkumpul di mesjid,
> hingga meluber ke halaman mesjid. Bahkan disiarkan
> di seluruh radio di Aceh. Rakyat sebagai penguasa
> sesungguhnya, berhak menentukan apakah para cagub
> itu layak atau tidak menjadi pemimpin   mereka. Bagi
> masyarakat Aceh yang mayoritas muslim,sangat penting
> pemimpin mereka bisa mengaji, karena itu akan
> berbanding lurus dengan kebijakan publik mereka
> setelah terpilih jadi gubernur. Jika pemimpin mereka
> pandai mengaji Al-Qur'an, insya Alah, setiap
> kebijakan mereka akan berlandaskan Al-Qur'an.
> 
> KRITERIA
> Pada saat yang bersamaan, saya mendapat
> telepon dari Radio  Krakatau di Pandeglang. Saat itu
> ada talk show "Ngobrol Urang", dipandu Hafid E
> Muqry. Saya langsung terinspirasi mengusulkan, bahwa
> gubernur Banten masa depan itu harus memiliki 4
> kriteria. 
> Pertama, dia harus kebal dibacok. Dengan
> situasi dan kondisi Banten kekinian, yang masih
> didominasi oleh "pemimpin bayangan" dan hegemoni
> jawara, pemimpin Banten harus berani. Dengan
> keberaniannya, stabilitas keamanan di Banten akan
> kondusif. Di sinilah   nilai-nilai kearifan lokal
> muncul. Di Jepan, semangat bushido dari Samurai
> diambil untuk memajukan Jepang, agar menjadi bangsa
> yang maju. Ini akan berimbas pada kegiatan ekonomi
> yang sehat. Preman proyek di Banten yang sudah jadi
> rahasia umum akan hilang. Investor baru akan masuk.
> Kriteria kedua, dia harus pandai mengaji. Ini
> bisa diartikan, kemampuan kita sebagai manusia dalam
> membaca  Al-Qur'an atau alam semesta, seperti
> terkandung dalam surat Al-Alaq. Dengan pandai
> mengaji, dia akan memiliki wawasan luas. Bukankah
> Al-Qur'an itu adalah prasmanan lezat yang
> dihidangkan Allah SWT bagi kita? Jika kita memahami
> makna-makna di Al-Qur'an dengan cara mengaji seperti
> dalam surat Al-Alaq itu, kita akan menyantap
> hidangan Allah itu dengan nikmat.
> Kriteria ketiga, dia harus mampu jadi imam.
> Itu berati terkait dengan sifat kepemimpinan. Jika
>   dia mampu jadi imam, maka dia juga akan mampu
> memimpin masyarakat Banten dengan tawadhu. Sebagai
> pemimpin, dia akan selalu berendah diri di hadapan
> Allah dan berendah hati di hadapan rakyat, yang
> memberinya amanah.
> Kelima, dia juga harus kaya. Dengan kaya, dia
> akan lebih mementingkan orang lain. Dia menduduki
> kursi A1 bukan semata-mata haus tahta dan rakus
> harta, tapi lebih pada  mengemban amanah serta
> ibadah. Juga dia akan ringan tangan, beribadah
> dengan hartanya bagi kepentingan masyarakatnya.
> Begitulah obrolan saya dengan Hafid di
> "Obrolan Urang", radio Krakatau, pada Selasa (13/11)
> lalu. Saya di Aceh, Hafid di Pandeglang. Ternyata,
> antara Aceh dan Banten yang terpisah ribuan
> kilometer, hanya dengan teknologi telepon genggam,
> jarak itu menjadi dekat.
> Akankah kita tetap dekat satu sama lain,
> ketika bendera berwarna-warni   menghiasi jalanan di
> Banten? Akankah kita saling bermusuhan, padahal kita
> masih saudara?***
> 
> *) Penulis adalah masyarakat yang memimpikan
> perubahan di Banten.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ---
> Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail
> beta.
> 
=== message  truncated ===

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Sponsored Link

Mortgage rates near 39yr lows. 
$510k for $1,698/mo. Calculate new payment! 
www.LowerMyBills. com/lre

[Non-text portions of this message have been removed]

------------ --------- --------- ---
Sponsored Link

Mortgage rates as low as 4.625% - $150,000 loan for $579 a month. Intro-*Terms

[Non-text portions of this message have been removed]




    

---------------------------------
 Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games. 


 



       
---------------------------------
Ready for the edge of your seat?  Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.   
     
            
         

---------------------------------
You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
   in the all-new Yahoo! Mail Beta. 
      
                                    

       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke