Saya mau nanya nih, kepada siapa pun yang ikut dalam
pernyataan sikap ini, apakah sih keindonesiaan itu?
Dalam hal karya sastra (karena ini peryataan sikap
sastrawan), apakah karya sastra yang ditulis dalam
bahasa Indonesia saja yang masuk dalam karya sastra
Indonesia, bagaimana dengan karya sastra yang ditulis
oleh orang Indonesia namun menggunakan bahasa daerah
atau bahasa asing, seperti fenomena anglofon dan
francofon, sastra dalam bahasa Inggrsis dan Prancis
yang ditulis oleh orang-orang dari negeri mana pun?
Lalu, bagaimana pula dominasi sebuah komunitas atas
komunitas lain dapat terjadi di zaman sekarang ini,
yang teknologi informasinya berkembang sangat cepat?
Kekuatan modalkah yang bermain atau hanya masalah
kegoblokan komunitas yang terdominasi dalam
berkomunikasi dan melakukan lobi dengan banyak
kalangan atau katakanlah dalam menjalankan "strategi
kebudayaan"-nya? Apakah maksud pernyataan sikap ini
sebagai upaya menggeser dominasi itu, sehingga yang
dominan itu nanti menjadi pihak yang terdominasi?
Lalu, moralitas apa yang menjadi pilar utama
keindonesiaan itu?
Saya jadi melamun sendiri, membayangkan apa kira-kira
yang ada di benak pemuda Jawa, Batak, Minang, Ambon,
dll. waktu Kongres Pemuda 1928 sampai-sampai mereka
rela menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia
dan bersumpah akan menjunjung tinggi bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan--ingat: bukan bahasa
satu-satunya--di wilayah Nusantara yang masuk dalam
jajahan Belanda ketika itu.
Salam,
Pedje
--- venayaksa80 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pernyataan Sikap Sastrawan
> Ode Kampung
> Serang, Banten, 20-22 Juli 2007:
>
> Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan
> gejala
> berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas
> yang dianutnya
> terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya.
> Dominasi itu bahkan
> tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu
> merasa berhak
> merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut
> standar
> estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini
> jelas meresahkan
> komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia
> karena
> kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan
> sastra Indonesia
> yang sehat, setara, dan bermartabat.
> Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan
> penggiat komunitas-
> komunitas sastra memaklumatkan Pernyataan Sikap
> sebagai berikut:
>
> 1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas
> atas
> komunitas lainnya.
> 2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar
> estetika.
> 3. Menolak bantuan asing yang memperalat
> keindonesiaan
> kebudayaan kita.
>
> Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang
> merefleksikan
> keindonesiaan kebudayaan kita di mana moralitas
> merupakan salah satu
> pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu
> sastrawan memiliki
> tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca).
> Oleh karena itu
> kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah
> terhadap musibah-
> musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan,
> individu, maupun
> kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat,
> misalnya tragedi
> lumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam
> keras sastrawan
> yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah
> tersebut, bahkan
> berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan
> musibah tersebut.
>
> Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai
> pendirian kami
> terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini,
> sekaligus solidaritas
> terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme
> di seluruh
> Indonesia.
>
>
____________________________________________________________________________________
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles. Visit the
Yahoo! Auto Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/