Akh iseng mau cuap-cuap. Saya bukan mau menjawab sebuah pertanyaan Pak Pedje. 
Karena pertanyaan Pak Pedje ditujukan kepada para sastrawan yang membuat 
pernyataan sikap. 
Pertanyaan Pak Pedje mengenai apa sih ke-Indonesiaan itu? Kalau menurut saya 
(jika salah jangan diketawain) ke-Indonesiaan itu adalah identitas, jati diri 
asal. 
Untuk lebih bermkana atas pertanyaan itu, maka kita menengok latar belakang 
Indonesia yang terdiri dari beribu pulau yang didiami oleh beragam bahasa, 
etnik, ras dan menjadi satu negara karena ada kesamaan sejarah masa lalu. 
Budi Utomo 1918 - Suwardi Suryadiningrat :
Het is de liefde voor ons aller vereenigd vaderland, dat nu nog 
Nederlandsch-Indie heet. Het Indisch nationalisme is het wachtwoord in onze 
broederschap. Schouder aan schouder staan de Sumatranen, de Minahassers, de 
Amboineezen, de Javanen en alle andere overheerschte groepen van Indonesie, 
bereid en gereed tot den strijd voor ons gemeenschappelijk welzijn, voor ons 
allen ideaal 

(Adalah rasa cinta akan tanahair bersatu kita semua, yang sementara masih 
bernama Hindia Belanda. Nasionalisme Hindiawi adalah semboyannya dalam 
persaudaraan kita. Bahu-membahu berdirilah orang Sumatra, orang Minahasa, orang 
Ambon, orang Jawa dan semua golongan-golongan Indonesia lainnya yang terjajah 
itu siap sedialah untuk memperjuangkan keselamatan kita bersama, demi idam-idam 
kita semua.) 

... Indischen staat, waartoe zullen behooren allen, die het Indische 
geboorteland als hun vaderland erkennen en al de vreemdelingen, die zich als 
Indonesiers zullen laten naturaliseeren." 

(... negara Hindiawi, dimana akan termasuk semua orang yang mengaku tanah 
kelahiran Hindiawi ini sebagai tanahairnya, dan semua orang asing yang rela 
untuk dinaturalisasi sebagai orang Indonesia) 

Hingga pada  Kongres Pemuda yang Kedua pada tahun 1928, wakil-wakil 
organisasi-organisasi pemuda dari seluruh Indonesia (termasuk wakil-wakil Jong 
Ambon) menghasilkan resolusi bersuara aklamasi yang dikenal dalam sejarah 
Indonesia dengan nama "Sumpah Pemuda". Artinya, anak-anak negeri pemuda dari 
seluruh "Nederlandsch-Indie" yang waktu itu sudah berorganisasi, tak pandang 
asal sukubangsa (ras, etnik) atau peranakan.

Jadi singkatnya ke-Indonesiaan itu adalah menimbulkan/memunculkan jati diri 
bangsa (nasionalisme).

Untuk pertanyaan Pak Pedje selanjutnya yaitu "moralitas apa yang menjadi pilar 
utama ke-Indonesiaan itu?
Saya katakn kembali, untuk lebih bermakna dari pertanyaan itu, marilah kita 
buka dulu kamus tentang moralitas.
Istilah moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk singular kata moral yaitu mos 
sedangkan bentuk flural yaitu mores yang masing2 mempunyai arti yang sama yaitu 
kebiasaan, adat. Jadi rumusan kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma 
yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok / komunitas dalam 
mengatur tingkah lakunya.
Moralitas mempunyai arti yang pada dasaranya sama dengan moral. Berbicara 
tentan moralitas suatu perbuatan artinya adalah baik buruknya suatu perbuatan. 
moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan azas dan nilai yang berkenaan 
dengan baik dan buruk.
Jadi bila kita mengatakan perbuatan KORUPSI itu tidak bermoral, maka kita 
menganggap perbuatan KORUPTOR itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis 
yang berlaku dalam negara (masyarakat). 
Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tsb 
berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.

Jadi moralitas apa yang menjadi pilar utama ke-Indonesia yaitu adalah 
menjunjung tinggi seluruh azas, nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku 
di Indonesia.

Itu aja deh Pak Pedje.....maklum lah sayah mah Wong Ndeso, urang kampung bau 
lisung, jadi wajar mun salah mah.




----- Original Message ----
From: Pedje <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, July 24, 2007 11:32:17 PM
Subject: Re: [WongBanten] pernyataan sikap sastrawan ode kampung

Saya mau nanya nih, kepada siapa pun yang ikut dalam
pernyataan sikap ini, apakah sih keindonesiaan itu?
Dalam hal karya sastra (karena ini peryataan sikap
sastrawan), apakah karya sastra yang ditulis dalam
bahasa Indonesia saja yang masuk dalam karya sastra
Indonesia, bagaimana dengan karya sastra yang ditulis
oleh orang Indonesia namun menggunakan bahasa daerah
atau bahasa asing, seperti fenomena anglofon dan
francofon, sastra dalam bahasa Inggrsis dan Prancis
yang ditulis oleh orang-orang dari negeri mana pun?

Lalu, bagaimana pula dominasi sebuah komunitas atas
komunitas lain dapat terjadi di zaman sekarang ini,
yang teknologi informasinya berkembang sangat cepat?
Kekuatan modalkah yang bermain atau hanya masalah
kegoblokan komunitas yang terdominasi dalam
berkomunikasi dan melakukan lobi dengan banyak
kalangan atau katakanlah dalam menjalankan "strategi
kebudayaan"- nya? Apakah maksud pernyataan sikap ini
sebagai upaya menggeser dominasi itu, sehingga yang
dominan itu nanti menjadi pihak yang terdominasi?

Lalu, moralitas apa yang menjadi pilar utama
keindonesiaan itu?

Saya jadi melamun sendiri, membayangkan apa kira-kira
yang ada di benak pemuda Jawa, Batak, Minang, Ambon,
dll. waktu Kongres Pemuda 1928 sampai-sampai mereka
rela menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia
dan bersumpah akan menjunjung tinggi bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan--ingat: bukan bahasa
satu-satunya- -di wilayah Nusantara yang masuk dalam
jajahan Belanda ketika itu.

Salam,

Pedje

--- venayaksa80 <venayaksa80@ yahoo.com> wrote:

> Pernyataan Sikap Sastrawan
> Ode Kampung 
> Serang, Banten, 20-22 Juli 2007:
> 
> Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan
> gejala 
> berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas
> yang dianutnya 
> terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya.
> Dominasi itu bahkan 
> tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu
> merasa berhak 
> merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut
> standar 
> estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini
> jelas meresahkan 
> komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia
> karena 
> kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan
> sastra Indonesia 
> yang sehat, setara, dan bermartabat. 
> Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan
> penggiat komunitas-
> komunitas sastra memaklumatkan Pernyataan Sikap
> sebagai berikut: 
> 
> 1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas
> atas 
> komunitas lainnya.
> 2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar
> estetika. 
> 3. Menolak bantuan asing yang memperalat
> keindonesiaan 
> kebudayaan kita.
> 
> Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang
> merefleksikan 
> keindonesiaan kebudayaan kita di mana moralitas
> merupakan salah satu 
> pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu
> sastrawan memiliki 
> tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca).
> Oleh karena itu 
> kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah
> terhadap musibah-
> musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan,
> individu, maupun 
> kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat,
> misalnya tragedi 
> lumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam
> keras sastrawan 
> yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah
> tersebut, bahkan 
> berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan
> musibah tersebut. 
> 
> Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai
> pendirian kami 
> terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini,
> sekaligus solidaritas 
> terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme
> di seluruh 
> Indonesia. 
> 
> 

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles. Visit the 
Yahoo! Auto Green Center.
http://autos. yahoo.com/ green_center/ 




       
____________________________________________________________________________________
Choose the right car based on your needs.  Check out Yahoo! Autos new Car 
Finder tool.
http://autos.yahoo.com/carfinder/

Kirim email ke