Ngomong-ngomong, sudah baca semua buku dan tulisan Cak Nur belum? Sungguh, saya mencintai beliau, walau ada beberapa pandangan beliau yang tak saya setujui. Tak ada manusia yang sempurna, namun pemikiran-pemikiran dan wawasan beliau yang luas tentang Islam membuat saya dengan ikhlas menunduk takzim, hormat, dan menetes air mata ini ketika mendengar berita kepulangannya ke kampung akhirat. Semoga Allah menerima amal baik almarhum dan mengampuni dosa-dosa serta kesalahannya. Amin.
Btw, saya baru pulang dari Solo dan di sana sempat ngobrol dengan Nasir Tamara tentang peradaban taman dan peradaban padang pasir serta pengaruhnya dalam warna-warni Islam di Nusantara, termasuk dalam motif batik. Nasir Tamara juga mengungkapkan ada empat bahasa peradaban Islam di dunia ini: bahasa Arab, bahasa Turki, bahasa Parsi, dan bahasa Melayu (ingat aksara Jawai/pegon). Ada yang tahu banyak tentang hal ini? Terus, soal keindonesian yang saya tanyakan, adakah yang bisa menjawab lebih komprehensif? Keindonesiaan memang merupakan suatu "pelabelan" untuk mendapatkan suatu identitas yang bernama Indonesia. Tapi, masalahnya, yang Indonesia itu yang mana? Kalau dari segi politik dan geografis, mungkin hal ini bisa agak jelas. Tapi, dalam soal-soal sosiobudaya, terutama sastra, identitas itu kok rasanya masih harus kita terus cari karena belum jelas benar, belum selesai. Jadi, saya kira, pernyataan sikap sastrawan di Ciloang yang menyinggung soal keindonesian itu terasa terburu-buru, seolah keindonesian adalah konsep yang siap pakai, sudah jadi, yang kemudian dijadikan pagar untuk menuding orang-orang yang berada di luar pagar itu sebagai orang/kelompok yang tidak memiliki identitas keindonesiaan dengan segala atributnya. Mudah-mudahan penafsiran saya itu salah. Salam, Pedje --- Risyaf Ristiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Maaf Bapake semuanya, kalau gak salah almarhum Cak > Nur itu pencetus gagasan sekularisme, plularisme dan > liberaliseme dan pembuat buku Fiqh lintas Agama. > Pandangan dan pikirannya yang telah tersusun lewat > buku Ensiklopedianya setebal 4000 halaman. > Salah satu pandangan Cak Nur yang menjadi > kontraversi antaranya adalah setiap agama sama. > Maaf, bukan saya mau ikut-ikutan menggugat dia, ilmu > dia bagaikan bulan dan bintang yang ada diatas sana > dan saya tidak mungkin untuk bisa menjangkaunya. > Namun bolehlah saya sedikit ikut mengkritisi > berkaitan paham dia mengenai bahwa setiap agama > adalah sama disisi Tuhan. Padahal sudah ditegaskan > oleh Allah dalam Al Qur'an ayat 19 yang artinya : > "Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah > hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang > telah diberi Al Kita kecuali sesudah datang > pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang > ada) diantara mereka. Barangsiapa yg kafir terhadap > ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat > hisab-Nya". > Dilain ayat dalam surat Ali Imron ayat 20, Allah > menegaskan : "Barang siapa mencari agama selain > agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima > agama itu daripadanya. Dan dia diakhirat termasuk > orang-orang yg merugi". > > Cak Nur juga menterjemahkan lafazh Allah menjadi > Tuhan itu, kalimat Laailaahaillallah menjadi ""Tiada > Tuhan kecuali Tuhan itu", papadahal ajaran Islam > tidaklah demikian, sebab dalam Islam kata Allah > adalah nama, tidak boleh diterjemahkan karena > "jamid" (nama diri). > Cak Nur menterjemahkan lafazh syahadat "Saya > bersaksi, tidak ada Tuhan selain Tuhan itu dan yang > terpuji adalah utusan Allah". > > Waduh maaf bro, itu salah satu faham, pandangan dan > pemikiran Cak Nur selaku Cendekiawan Muslim dan > Bapak Bangsa. Saya tidak mungkin bisa menjankau > pemikiran Cak Nur. Ya begitulah tokoh seorang Bapak > Bangsa, gimana keadaan bangsanya ya bro? > > Kritik kan boleh bro ? > > > > ----- Original Message ---- > From: yusuf marwoto <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Wednesday, August 1, 2007 12:12:24 PM > Subject: Re: [WongBanten] MENGGUGAT SANG CENDEKIAWAN > > Cak Nur memang sudah menjadi teks, yang bisa kita > tafsir sesuai dengan kepentingan kita masing-masing. > Ada yang pengikut fanatik Beliau, ada juga yang > lawan fanatik Beliau seperti penulis ini, namun ada > juga yang biasa-biasa saja. Kita memang tidak > mengharapkan seseorang tampil sempurna, tapi > setidaknya, selalu ada kebaikan dari kehidupan > setiap orang di dunia ini yang dirasakan oleh orang > lain. Memang, itulah cacat pusaka kita sebagai > manusia, yang tidak bisa memuaskan semua pihak > dengan keterbatasan umur kita, dengan keterbatasan > pemikiran dan tenaga kita.....tapi di atas semua > itu, kita bisa belajar menghormati dan belajar > menemukan kebaikan dalam diri tiap orang, dengan > demikian kita bisa belajar bersyukur bahwa di > Indonesia ini pernah ada seorang Cak Nur, dengan > demikian juga kita bisa belajar bersyukur bahwa kita > bisa bertetangga, berteman dan berhubungan, satu > bumi, satu langit, satu tanah, satu atmosfer, satu > planet, dengan saudara-saudari kita > sesama manusia meskipun berbeda keyakinan dengan > kita. Alangkah indahnya.... ......... ....... > ____________________________________________________________________________________ Pinpoint customers who are looking for what you sell. http://searchmarketing.yahoo.com/
