Ya begitulah Bung Pedje, di negeri saya masih banyak orang yang paradigmanya: 
Apa yang saya pikirkan itu pasti benar dan apa yang BERBEDA dengan saya itu 
salah. Jadi BERBEDA itu salah! Setiap orang kan merasa lebih tampan atau cantik 
dibanding orang lain ketika di depan cermin hehehe.....ya gpp sih, kata 
motivator kepribadian ini hanyalah resep bagi orang yang gak percaya diri. Tapi 
Pertanyaan Anda menarik, Indonesia itu mana ya? Sama kali dengan pertanyaan, 
manusia itu yang mana ya? Jadinya salah tunjuk deh, tunjuk hidung, eh emang 
hidung itu manusia? Tunjuk perut yang ndut, eh emang perut itu manusia? Ada 
satu filsuf Perancis (lupa deh namanya) yang mengatakan, universalitas itu 
hanya angin kosong, yang ada adalah parsialitas. Korelasinya, gak ada 
Indonesia, yang ada itu ya Jawa, Sumatera, Kalimantan, dll. Lalu, disanggah 
lagi, gak ada Jawa, yang ada ya Banten, Semarang, Surabaya dll. Lalu dibantah 
lagi, terus dan terus hingga jadi kepingan-kepingan kecil dan kita belum
 juga menemukan yang kita cari. Ah...pusing....
   
  Mungkin, saya kadang terjebak dengan kata. Sebab kalau gak waspada, saya 
sering dipenjara oleh kata, entah itu kata Indonesia, kursi dan meja. Itu hanya 
konsensus, kata orang. Ya..hidup kan memang perlu seimbang, antara taat pada 
konsensus dan membiarkan keliaran kebebasan pribadi. Itulah mengapa tidak ada 
yang sempurna. Tapi ada kata-kata orang bijak yang membuat saya tenang, 
"Bukankah ketidaksempurnaan itu sendiri adalah kesempurnaan?" Begitulah kita 
hidup di dunia ini, tidak sempurna tapi tetap saja sempurna di dalam 
ketidaksempurnaan kita. Alangkah indahnya..............
  
Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ngomong-ngomong, sudah baca semua buku dan tulisan Cak
Nur belum? Sungguh, saya mencintai beliau, walau ada
beberapa pandangan beliau yang tak saya setujui. Tak
ada manusia yang sempurna, namun pemikiran-pemikiran
dan wawasan beliau yang luas tentang Islam membuat
saya dengan ikhlas menunduk takzim, hormat, dan
menetes air mata ini ketika mendengar berita
kepulangannya ke kampung akhirat. Semoga Allah
menerima amal baik almarhum dan mengampuni dosa-dosa
serta kesalahannya. Amin.

Btw, saya baru pulang dari Solo dan di sana sempat
ngobrol dengan Nasir Tamara tentang peradaban taman
dan peradaban padang pasir serta pengaruhnya dalam
warna-warni Islam di Nusantara, termasuk dalam motif
batik. Nasir Tamara juga mengungkapkan ada empat
bahasa peradaban Islam di dunia ini: bahasa Arab,
bahasa Turki, bahasa Parsi, dan bahasa Melayu (ingat
aksara Jawai/pegon). Ada yang tahu banyak tentang hal
ini? 

Terus, soal keindonesian yang saya tanyakan, adakah
yang bisa menjawab lebih komprehensif? Keindonesiaan
memang merupakan suatu "pelabelan" untuk mendapatkan
suatu identitas yang bernama Indonesia. Tapi,
masalahnya, yang Indonesia itu yang mana? Kalau dari
segi politik dan geografis, mungkin hal ini bisa agak
jelas. Tapi, dalam soal-soal sosiobudaya, terutama
sastra, identitas itu kok rasanya masih harus kita
terus cari karena belum jelas benar, belum selesai.
Jadi, saya kira, pernyataan sikap sastrawan di Ciloang
yang menyinggung soal keindonesian itu terasa
terburu-buru, seolah keindonesian adalah konsep yang
siap pakai, sudah jadi, yang kemudian dijadikan pagar
untuk menuding orang-orang yang berada di luar pagar
itu sebagai orang/kelompok yang tidak memiliki
identitas keindonesiaan dengan segala atributnya.
Mudah-mudahan penafsiran saya itu salah.

Salam,

Pedje


--- Risyaf Ristiawan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Maaf Bapake semuanya, kalau gak salah almarhum Cak
> Nur itu pencetus gagasan sekularisme, plularisme dan
> liberaliseme dan pembuat buku Fiqh lintas Agama.
> Pandangan dan pikirannya yang telah tersusun lewat
> buku Ensiklopedianya setebal 4000 halaman. 
> Salah satu pandangan Cak Nur yang menjadi
> kontraversi antaranya adalah setiap agama sama.
> Maaf, bukan saya mau ikut-ikutan menggugat dia, ilmu
> dia bagaikan bulan dan bintang yang ada diatas sana
> dan saya tidak mungkin untuk bisa menjangkaunya.
> Namun bolehlah saya sedikit ikut mengkritisi
> berkaitan paham dia mengenai bahwa setiap agama
> adalah sama disisi Tuhan. Padahal sudah ditegaskan
> oleh Allah dalam Al Qur'an ayat 19 yang artinya :
> "Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah
> hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang
> telah diberi Al Kita kecuali sesudah datang
> pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang
> ada) diantara mereka. Barangsiapa yg kafir terhadap
> ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat
> hisab-Nya".
> Dilain ayat dalam surat Ali Imron ayat 20, Allah
> menegaskan : "Barang siapa mencari agama selain
> agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
> agama itu daripadanya. Dan dia diakhirat termasuk
> orang-orang yg merugi".
> 
> Cak Nur juga menterjemahkan lafazh Allah menjadi
> Tuhan itu, kalimat Laailaahaillallah menjadi ""Tiada
> Tuhan kecuali Tuhan itu", papadahal ajaran Islam
> tidaklah demikian, sebab dalam Islam kata Allah
> adalah nama, tidak boleh diterjemahkan karena
> "jamid" (nama diri). 
> Cak Nur menterjemahkan lafazh syahadat "Saya
> bersaksi, tidak ada Tuhan selain Tuhan itu dan yang
> terpuji adalah utusan Allah".
> 
> Waduh maaf bro, itu salah satu faham, pandangan dan
> pemikiran Cak Nur selaku Cendekiawan Muslim dan
> Bapak Bangsa. Saya tidak mungkin bisa menjankau
> pemikiran Cak Nur. Ya begitulah tokoh seorang Bapak
> Bangsa, gimana keadaan bangsanya ya bro?
> 
> Kritik kan boleh bro ?
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: yusuf marwoto <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, August 1, 2007 12:12:24 PM
> Subject: Re: [WongBanten] MENGGUGAT SANG CENDEKIAWAN
> 
> Cak Nur memang sudah menjadi teks, yang bisa kita
> tafsir sesuai dengan kepentingan kita masing-masing.
> Ada yang pengikut fanatik Beliau, ada juga yang
> lawan fanatik Beliau seperti penulis ini, namun ada
> juga yang biasa-biasa saja. Kita memang tidak
> mengharapkan seseorang tampil sempurna, tapi
> setidaknya, selalu ada kebaikan dari kehidupan
> setiap orang di dunia ini yang dirasakan oleh orang
> lain. Memang, itulah cacat pusaka kita sebagai
> manusia, yang tidak bisa memuaskan semua pihak
> dengan keterbatasan umur kita, dengan keterbatasan
> pemikiran dan tenaga kita.....tapi di atas semua
> itu, kita bisa belajar menghormati dan belajar
> menemukan kebaikan dalam diri tiap orang, dengan
> demikian kita bisa belajar bersyukur bahwa di
> Indonesia ini pernah ada seorang Cak Nur, dengan
> demikian juga kita bisa belajar bersyukur bahwa kita
> bisa bertetangga, berteman dan berhubungan, satu
> bumi, satu langit, satu tanah, satu atmosfer, satu
> planet, dengan saudara-saudari kita
> sesama manusia meskipun berbeda keyakinan dengan
> kita. Alangkah indahnya.... ......... .......
>

__________________________________________________________
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 
http://searchmarketing.yahoo.com/


         

       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

Kirim email ke