dh,

trims. Mari berwaspada, tanpa menaruh curiga kepada manusia lain.


Dji Radjimo
0817 814 624





>From: Dyazpa Foundation <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [email protected]
>To: [email protected], [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [WongBanten] Penipuan model paling baru, jangan langsung delete
>Date: Wed, 1 Aug 2007 03:21:13 -0700 (PDT)
>
>Sekarang penipu pake modal (mobil baru dibawa ke rumah sbg iming2)...
>Hati2 sekarang penipuan makin canggih aja bahkan makin bermodal.
>Ini saya forward dari teman di lain milis...
>
>Kalau kita yang mengalami kisah dibawah ini mungkin kita juga tertipu.
>Semoga bermanfaat.
>
>Kejadian berikut ini benar-benar terjadi pada seorang teman kantor saya 
>pada 24 Juli 2007 lalu. Semoga cerita ini bermanfaat.
>
>Berawal dari sebuah panggilan melalui telepon rumah (fixed line/PSTN), yang 
>menanyakan identitas dan alamat yang sama persis dengan data yang ada di 
>buku telepon. Orang yang mengaku dari "Metro TV" tersebut mengabarkan bahwa 
>sang pemilik nomor telepon berhak atas Grand Prize berupa mobil "Kijang 
>Innova". Karena sudah terlalu sering mendengar penipuan semacam ini, maka 
>dijawablah dengan ketus, "... kalau memang benar hadiah mobilnya buat saya, 
>kirim aja Pak mobilnya ke sini!".
>
>Singkat cerita, 2 jam kemudian sampailah di depan rumah teman kita ini 
>sebuah Kijang Innova yang benar-benar baru, lengkap dengan pelat nomor 
>polisi yang masih putih!
>Masih dengan perasaan yang ragu, sekaligus surprised, maka dipersilakanlah 
>tiga orang yang mengantarkan mobil tersebut masuk ke dalam rumah. Dengan 
>menunjukkan seberkas dokumen, yang konon berupa Surat Jalan, dokumen Pajak, 
>dokumen Asuransi, dan dokumen-dokumen yang lain maka diyakinkanlah bahwa ia 
>memang berhak atas mobil yang dibawanya tersebut. Sayangnya, belum sempat 
>ia memeriksa dokumen-dokumen tersebut, beberapa orang yang mengaku dari 
>Pajak, Asuransi, dan juga Notaris bergantian menghubungi via telepon dan 
>mengucapkan selamat atas hadiah
>yang didapat.
>
>Setelah melihat ia sudah cukup yakin dengan hadiah tersebut, maka 
>pembicaraan beralih ke kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang 
>'Pemenang Grand Prize', yaitu membayar pajak hadiah. Menurut si pengantar 
>mobil, jumlah yang harus dibayar oleh 'sang pemenang' adalah 25% dari harga 
>mobil atau senilai 42 juta rupiah. Menyadari simpanan dana yang ada tidak 
>mencukupi untuk jumlah tersebut, maka sempat terfikir untuk mundur. Namun, 
>tanpa mengenal kata menyerah, si pengantar mobil kembali meyakinkan bahwa 
>soal pembayaran pajak adalah hal sepele, bisa ditunda kapan saja, dan bisa 
>dibayar dengan dicicil... 10% dulu misalnya. Maka muncullah kembali harapan 
>teman kita ini sambil bergumam, "... kalau 10 juta sih saya punya...". 
>Gotcha!!
>
>"OK Pak, 10 juta saya kira bisa diterima oleh Pak Notaris", tukas si 
>pengantar mobil.
>
>Setelah lebih kurang 2 jam berada di rumah itu, maka tiga orang pengantar 
>hadiah mobil pamit untuk menuju ke 'pemenang kedua' sambil lalu mereka pun 
>mengajak untuk sekalian bertemu notaris sambil mengendarai 'Grand Prize' 
>yang baru dimenangkannya. Dengan sangat meyakinkan sang pemenang 
>dipersilakan untuk mengendarai mobil yang memang sudah diidamkannya selama 
>ini. Sebelum berangkat si pengantar hadiah menanyakan apakah uang sudah 
>dipersiapkan. Sempat muncul keraguan, namun rasa gembira mengalahkan 
>keraguan yang sempat muncul, hingga dibawalah olehnya uang tunai sejumlah 
>10 juta rupiah. Di tengah perjalanan, si pengantar kembali menanyakan, 
>apakah perlu mampir ke ATM.
>
>Namun dijawab bahwa saldo di tabungan sudah tinggal sedikit. Maka 
>perjalananpun dilanjutkan, dan melalui jalan bebas hambatan (tol).  
>Beberapa saat di jalan tol, si pengantar dengan sopan meminta agar kemudi 
>diambil alih oleh temannya. Dengan beralasan bahwa kendaraan belum 
>diserahterimakan, sehingga bisa merepotkan jika terjadi kecelakaan, maka 
>beralihlah kemudi ke orang lain dan ia pun berpindah duduk di samping pak 
>sopir. Di saat sedang menikmati kenyamanan kendaraan baru tersebut, 
>tiba-tiba dari belakang sepasang tangan membekap mulut dan hidungnya dengan 
>lap atau sapu tangan yang beraroma sangat tajam, hingga ia pun tak sadarkan 
>diri......
>
>Setengah tersadar, sekujur badan terasa sangat dingin. Setelah tersadar 
>penuh, ia mendapati dirinya berada di tengah padang rumput di pinggir jalan 
>tol. Beruntung, dompet dan seluruh isinya hanya diacak-acak hingga ia pun 
>bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat. 'Beruntung', hanya 10 juta 
>saja yang dibawa oleh komplotan penipu yang memanfaatkan kekhilafannya 
>siang itu....
>
>Teman, jika kita cermati kasus ini, maka tampak bahwa modus penipuan makin 
>beragam, makin berotak, dan juga makin bermodal. Kebetulan, komplotan pada 
>kasus ini masuk dalam kategori komplotan yang 'sopan', 'baik hati', dan 
>main bersih (hampir tidak ada jejak yang ditinggalkan) . Bukan tidak 
>mungkin di lain kesempatan, bisa saja komplotan seperti ini bermain kasar. 
>Untuk itu selayaknya kita mengingatkan keluarga yang kita tinggalkan di 
>rumah saat kita bekerja, dan juga kita sendiri tentunya, untuk lebih 
>berhati-hati.
>
>
>
>
>____________________________________________________________________________________
>Pinpoint customers who are looking for what you sell.
>http://searchmarketing.yahoo.com/

_________________________________________________________________
Try it! Live Search: New search found. http://get.live.com/search/overview

Kirim email ke