ikut nimbrung juga (lagi)......
Bisakah kita menilai seseorang hanya karena pakai kerudung atau tidak? Dalam
praksis melatih dunia spiritualitas, pertama-tama seorang "guru" akan memulai
latihannya dari apa yang nampak. Misalnya, pakai baju yang rapi, berpuasa,
menjaga kebersihan tubuh, mengatur ruangan, berjalan dengan lurus tidak
belak-belok. Namun, tujuan dari latihan fisik ini bukan semata-mata untuk fisik
semata meskipun tidak ada jeleknya melakukan pelatihan-pelatihan ini demi
pelatihan itu sendiri. Hanya, untuk meraih kedalaman kehidupan, mencapai
prestasi sehingga bisa disebut "maestro" baik dalam hal keruhanian atau hal
lain, seseorang harus belajar dari yang nampak, yang terlihat, mengikuti
kaidah-kaidah yang rutin dan kadangkala membosankan. Seorang anak harus belajar
menghafal not-not angka dan balok, seorang harus belajar mengetik dengan
sebelas jari, seorang harus belajar menggiring bola dengan benar, mengikuti
aturan-aturan yang ada, kaidah-kaidah yang telah ditentukan, yang telah
dituliskan oleh pendahulu kita dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tapi, setelah anak itu mahir bermain piano, kadang-kadang ia bisa keluar dari
aturan-aturan dalam not yang ia pelajari untuk menciptakan kreasi dan
menghasilkan suatu karya yang fenomenal. Anak ini sudah berada dalam level
maestro. Bukan berarti lalu dia melupakan pelajaran mendasarnya, tapi dia hanya
mau melampui, menggapai sesuatu yang lebih dalam, melampui apa yang diwajibkan.
Sebab dalam setiap kewajiban orang hanya akan terbelenggu di dalam peraturan.
Kita hidup lalu untuk peraturan, bukan peraturan untuk manusia. Dalam setiap
aturan, kita harus menemukan pengalaman pembebasan, bukan dengan meniadakan
peraturan itu sendiri tapi melampuinya, mencapai inti dari apa yang hendak
dicapai oleh peraturan itu sendiri. Jika tidak, kita hanya akan menjadi robot
dan bukan manusia. Robot hanya berjalan kalau diperintah.
Puasa bukan hanya sekedar untuk puasa; ia adalah suatu pelatihan diri untuk
melihat kehidupan kita lebih dalam lagi. Jika puasa hanya untuk puasa, maka
yang kita dapati adalah rasa lapar saja. Puasa hanya sarana, untuk mencapai
tujuan. Inilah kesesatan yang sering kita dan saya lakukan, membalik-balik mana
yang sarana dan mana tujuan. Namun, di sini juga problemnya, karena setiap
orang seakan-akan bebas juga untuk menafsir mana yang merupakan tujuan dan
sarana sesuai dengan konteks dari masing-masing orang itu. Manusia adalah
makluk situasional. Situasi merekalah yang membuat seseorang bersikap begini
atau begitu. Orang yang dibesarkan dari keluarga A, bergaul dengan lingkungan
A, sekolah dan kuliah di lingkungan A, bekerja dan berteman dengan orang-orang
A, tentu kemungkinan besar dia akan menjadi A. Kalau toh dia menjadi B, itu,
menurut penelitian terakhir, karena gen yang ada di dalam dirinya.
Lalu apa? darimanakah kita harus membuat suatu penilaian kalau ini baik dan
itu buruk? Sebagian dari kita mengatakan, kembali ke kitab suci. Ya, kitab suci
yang mana? Maksud saya, kitab suci yang DITAFSIRKAN seperti apa? Sebab
nyatanya, dalam pengalaman, cara orang menafsirkan kitab suci saja
berbeda-beda, meskipun mereka mungkin berasal dari disiplin ilmu yang sama.
Satu ayat yang sama, satu kitab yang sama, tapi ditafsirkan berbeda oleh si A
dan si B. Lalu legitimasi apa yang bisa membuat kita bisa mengatakan, o..si A
lebih benar daripada si B, atau sebaliknya? Sebab, kedua-duanya sama-sama
bersikukuh bahwa pendapat mereka paling benar dan pendapat orang lain paling
salah.
Saya kira kita menghadapi suatu dilema besar yang harus kita SADARI.
Kesadaran ini bukan hanya sekedar pengetahuan sambil lalu dan ..."o iya saya
tahu..."...tapi setelah itu kita kembali lagi ke posisi sebagai seorang yang
ofensif atau defensif ketika ada impuls-impuls yang membangkitkan fanatisme
kita disentuh atau disentil.
Apa yang perlu kita sadari adalah kita berada dalam dunia yang MULTITAFSIR.
Dunia, suatu konteks dimana kita berpikir dan merenung, yang tak bisa lagi kita
taklukkan dengan satu pemikiran kita dan membuatnya terbelah menjadi dua, hitam
atau putih, benar atau salah. Kita tak bisa lagi jadi hakim agung seperti ini
yang menghakimi setiap yang berbeda dengan kita dengan kata-kata "kafir, dosa,
laknat, terkutuk, dll"....Maka yang paling mendesak untuk kita dan saya
lakukan, hemat saya, adalah menjadi Bijaksana, menjadi seorang yang bijak, yang
mengerti perbedaan dan masih bisa membiarkan perbedaan itu terjadi dan masih
bisa juga menemukan jalan-jalan yang menghubungkan hal-hal yang berbeda itu
sehingga satu dengan yang lainnya masih bisa bersilaturahmi. Yang berbeda
biarlah berbeda, yang sama mari kita bangun jembatan-jembatan untuk saling
bergandengan tangan.
Begitu mudah untuk mencari musuh. Kita tinggal tampar orang yang kita temui,
meski belum kenal, dan orang itu sudah jadi musuh kita. Tapi, mencari dan
membuat persahabatan itu tidak mudah. Orang yang bodoh dengan mudah mencari
musuh, tapi dibutuhkan kepandaian dan kebijaksanaan untuk bisa mencari sahabat,
kita harus pandai bergaul, membuat jembatan-jembatan, membangun kepercayaan,
menciptakan zona kenyamanan.....
Latihan kehidupan ruhani, yang di luar, entah berpuasa, berpakaian, adalah
untuk menjadi kita manusia bijaksana. Sudah bijaksanakah saya?
Yusuf
Seseorang yang merindukan dunia ini damai, tenang dan rukun dalam perbedaan.
yosep holis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ikut nimbrung......
emang issue pemikiran cak nur dengan islam contemporernya or boleh dibilang
pluralisme dalam islam sangat menarik untuk diperdebatkan dan menjadi tambah
menarik karena pemikirannya juga sering bermain di domain aqidah yang suka
beliau kritisi. saya sangat setuju dengan keanekaragaman dan perbedaan dalam
pemikiran...karena itu adalah sunnatullah...saya setuju dengan perbedaan dalam
beragama...tetapi saya juga beberapa hal ga setuju dengan konsep pluralisme
islamnya almarhum karena beliau suka memandang islam itu dalam kerangka logika
berpikir...padahal naturally islam itu adalah agama wahyu bukan agama buatan
manusia...sehingga ada beberapa hal yang tidak bisa dijangkau oleh logika
pemikiran kita termasuk almarhum, amien rais , kang ferizal dansebagainya. Bagi
saya yang awam, mending semua perbedaan khususnya dalam pemikiran islam itu
dikembalikan lagi pada pedoman kita al-qur'an dan hadits.
saya ingin juga membandingkan kehidupan keluarga almarhum yang istri dan anak
putrinya beliau tidak menggunakan kerudung...dari sini aja mungkin kita bisa
tau adanya inkonsistensi dalam menerapkan hukum islam dikeluarganya dan
kedalaman beliau dalam berislam...padahal sudah jelas dalam al'qur'an surat
An-Nuur ayat 31 menyebutkan :
Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan
janganlah menampakkan kecuali kepada suami mereka dan muhrimnya........Dan
bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung
Saya yakin beliau dan keluarganya tau tentang ayat ini...tetapi kenapa beliau
dan keluarganya mengabaikan....yang notabene itu adalah ayat Allah yang tidak
bisa diperdebatkan lagi kebenarannya oleh siapapun.....wallahu 'alam......
Jadi saya sangat setuju dengan rekan2 yang memposting awal issue ini supaya
kita berhati-hati dengan pemikiran seseorang terutama tentang islam karena
belum tentu benar pemikirannya tetapi saya juga termasuk yang menghargai
pemikirannya....cuma sebatas menghargai sih...ga ngikutin....OK deh semuanya
salam hangat selalu
salam takzim
Yosep Mohamad Holis
----- Original Message ----
From: yucca zinnia <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, August 5, 2007 12:43:01 PM
Subject: Re: [WongBanten] Re: Hati-hati
aduh kok gak kelar kelar ya diskusinya? capek degh....hehehe ada "tema
wacana", di "diskusikan" , cari "jalan tengah yang terbaik", pendapat "berbeda
beda" adalah wajar, tapi jangan main "urat">
halim hd <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: saya setuju dengan pendapat sdr.
ferizal: betapa
pentingnya untuk menghormati pemikiran seseorang, dan
berusaha untuk mengolahnya tanpa bersikap menjadi
fanatikus dan su'udon.
salam:
halim hd.
--- mayra <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
> Tips saya untuk Kang Ferizal, baca lagi postingan
> topik ini dari awal.
> Saya akhiri diskusi saya di topik ini, karena semua
> pertanyaan Kang Ferizal sudah ada di postigan
> sebelum2nya.
> Maaf kalo ada kata2 yg kurang berkenan.
>
> Mayra
>
> ----- Original Message -----
> From: Ferizal Ramli
> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> Sent: Sunday, August 05, 2007 4:40 AM
> Subject: [WongBanten] Re: Hati-hati
>
>
> Seperti juga saya, anda itu bukan siapa-2 jika
> dibandingkan dengan Cak
> Nur atau Syafii Maarif atau Mustofa Bisri. Seperti
> juga saya, anda
> juga tidak atau belum punya karya apapun dalam
> pemikiran Islam. Jangan
> memaksakan diri untuk meninggikan diri sendiri,
> sementara faktanya
> anda (seperti juga saya) terlalu rendah kok
> dibandingkan mereka. Lha
> orang setinggi Syafii Maarif saja begitu santun
> dan sangat menghormati
> perbedaan dengan Cak Nur kok. Jadi, atas alasan
> apa anda begitu galak
> terhadap perbedaan?
>
> Kalau saya menulis begitu kritis terhadap anda
> karena saya pikir itu
> perlu. Atas dasar apa anda begitu berani
> mengatakan bahwa Cak Nur itu
> telah menyebarkan ajaran non Islam? sehingga
> "wajib bagi ummat Islam
> menentangnya" .
>
> Hanya karena Itjihad Cak Nur tidak sesuai dengan
> selera anda pribadi
> lalu enteng saja anda mengatakan itu ajaran non
> muslim. Men-judge
> kebenaran Itjihad seseorang itu bukan hak anda.
> Itu hak preogratif
> Allah Maha Pencipta. Jawara dan jumawa sekali
> berani mengambil hak
> progratif Sang Maha Pencipta.
>
> Jika anda tidak setuju dengan Cak Nur, silahkan
> kemukakan
> ketidaksetujuannya. Beri alasan yang rasional.
> Percayalah, saya atau
> kita semua bisa belajar dari situ dan berterima
> kasih untuk itu.
> Bahkan lebih dari itu kita bisa tahu sisi yang
> "salah" dari pendapat
> Cak Nur, tapi jangan se-enaknya men-judge bahwa
> ajaran Cak Nur itu
> adalah non Islam. Sekali lagi, urusan men-judge
> kebenaran itu bukan
> hak anda tapi hak preogratif Allah Maha Pembenar.
>
> Salam,
> Ferizal Ramli
> PS.
> Tidak selalu setuju dengan pendapat Cak Nur tetapi
> tetap menghormati
> Itjihad-nya
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, "mayra"
> <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
> >
> > Kang Ferizal,
> >
> > Kalau Anda bilang saya bukan siapa2 bukan
> berarti saya tidak tahu
> apa2, juga jangan diartikan banyak tahunya.
> >
> > Tulisan saya "wajib bagi ummat Islam
> menentangnya" lebih bermakna
> menentang = MENOLAK DALAM HATI ajaran yg
> menyimpang,
> > dan tetaplah berpegang pada tali Allah. Jangan
> juga dianggap
> menggurui, tolong kaitkan dengan email terdahulu.
> >
> > Maaf kalo dianggap galak, tidak ada niat itu.
> Juga tidak ada niat
> menyalahkan siapa2.
> >
> > Ferizal Ramli wrote:
> > Jangan-2 setelah anda teriak nentang sana-sini,
> ngomong si ini salah
> > atau si itu salah dengan berbusa-busa, mulut
> lantang plus kutap-kutip
> > ayat Qur'an atau Hadist, tahu-2 nya anda sendiri
> yang keliru =))
> >
> > Comment:
> > ayat Qur'an atau Hadist apa yang telah saya
> kutip?
> >
> > Salam
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: Ferizal Ramli
> > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> > Sent: Saturday, August 04, 2007 9:21 PM
> > Subject: [WongBanten] Re: Hati-hati
> >
> >
> > Ah Mayra,
> >
> > Anda terlalu merasa benar dengan pendapat anda
> pribadi. Seakan-akan
> > orang lain tidak mampu melihat kebenaran selain
> anda seorang. Saran
> > saya banyak lah membaca. Ini tips dari saya,
> sebelum anda mengadili
> > orang lain salah, ada baiknya anda membaca dulu
> tulisan-2 polemik
> > antara Al Ghazali dan Ibnu Rusy.
> >
> > Percayalah, semakin anda banyak membaca akan
> banyak mengambil hikmah
> > atas suatu perbedaan. Diharapkan kedepan anda
> tidak mudah
> > mengeluarkan kata: "wajib bagi kita untuk
> memnentangnya" hanya karena
> > mereka berpikir berbeda dari anda.
> >
> > Toh, orang santun seperti Buya Syafii Maarif
> (Tokoh Muhammadyah) atau
> > Kyai Mustofa Bisri (Tokoh NU), bisa memaknai
> secara positif perbedaan
> > pemikiran dengan Cak Nur. Kok Mayra, yang karya
> intelektualnya ndak
> > jelas malah gualak buanget :))
> >
> > Jangan-2 setelah anda teriak nentang sana-sini,
> ngomong si ini salah
> > atau si itu salah dengan berbusa-busa, mulut
> lantang plus kutap-kutip
> > ayat Qur'an atau Hadist, tahu-2 nya anda sendiri
> yang keliru =))
> >
> > Salam,
> > Ferizal
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, "mayra"
> <e2maza33@> wrote:
> > >
> > > yusuf marwoto wrote:
> > > Paradigma kita dalam beragama harus dirubah.
> Tidak lagi dalam
> > perspektif konflik, tapi perspektif harmoni.
> > >
> > > comment:
> > > Kalau agama Anda Islam tentu tahu Islam
> menjunjung tinggi kehidupan
> > yang harmonis dalam beragama. Orang Islam
> dicontohkan pernah hidup
> > berdampingan dengan orang Yahudi di Madinah pada
> masa Nabi Muhammad
> > SAW. Yang bilang Islam itu selalu berkonflik
> cuma orang barat yang
> > tidak tahu atau mau memfitnah Islam.
> > >
> > > Orang Yahudi jelas agamanya Yahudi. Orang
> Kristen jelas agamanya
> > Kristen. Tapi kalau orang ngakunya Islam
> menyebarkan ajaran non
> > Islam, wajib bagi ummat Muslim menentangnya.
> > >
> > > wassalam
> > >
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: yusuf marwoto
> > > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> > > Sent: Saturday, August 04, 2007 9:57 AM
> > > Subject: Re: [WongBanten] Hati-hati
> > >
> > > saya setuju dengan bung achmad hidayat.
> Paradigma kita dalam
> > beragama harus dirubah. Tidak lagi dalam
> perspektif konflik, tapi
> > perspektif harmoni. Ini mendasar. Sebab kalau
> terus-terusan dilihat
> > dalam paradigma konflik, ya yang ada konflik
> terus. Artikel ini kan
> > hanya mau menyalahkan mengapa ada orang hitam
> mengapa ada orang
> > putih, mengapa ada orang Amerika, Indonesia,
> China, Palestina,
> > Yahudi, Afrika? Mengapa ada orang Islam,
> kristen, katolik, Budha,
> > Hindhu, animisme, dinamisme? PERBEDAAN kok
> disalahkan,
=== message truncated ===
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.
http://travel. yahoo.com/
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games.
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.