Ada Yang Salah Dengan Harga Minyak...       
Hari-hari ini bumi pertiwi lagi kepanasan disengat (rencana) kenaikan harga 
minyak. Sebagai rakyat kecil - sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia - sulit 
rasanya kepada siapa saya memihak. Kalaupun diberi kesempatan untuk ikut 
pemungutan suara dalam menentukan naik atau tidaknya harga minyak ini, saya 
akan abstain.

Sebagai rakyat tentu saya sangat tidak mengharapkan harga minyak naik, hidup 
sekarang sudah berat apalagi kalau seluruh kebutuhan (sudah) merangkak naik 
dipicu oleh (rencana) kenaikan harga minyak...weleh ,..weleh...seperti apa 
jadinya.

Namun sebagai rakyat, saya juga tidak kebayang pusingnya pemimpin-pemimpin 
negeri ini mencari solusi. Betapa tidak, tadi malam harga minyak mencapai titik 
tertinggi baru diatas US$ 134/barrel, dan nampaknya akan terus merangkak naik. 
Lantas dari mana mereka akan memperoleh uang untuk mensubsidi perbedaan harga 
yang begitu jauh, antara harga jual minyak di dalam negeri dengan harga bahan 
baku minyak mentah yang konon (sebagian) masih harus diimpor dengan harga 
internasional ?.

Karena pemicu kontroversi kenaikan harga minyak dalam negeri ini adalah harga 
minyak mentah di pasar internasional; maka untuk memahami situasinya secara 
lebih mendalam kita harus melongok ke pasar internasional juga.

Di ilhami komentar oleh salah satu pengunjung setia blog ini, maka saya 
udeg-udeg data yang dimiliki oleh OPEC. Dan hasilnya ?, Subhanallah ! Allah 
masih menyediakan cadangan minyak yang cukup untuk kita.

Dua tabel disamping adalah menggambarkan kebutuhan minyak dunia sampai lebih 
dari dua dasawarsa kedepan (sampai 2030) dan sumber-sumber yang akan dapat 
memenuhi kebutuhan tersebut pada periode waktu yang sama.

Estimasi sumber minyak tersebut berdasarkan definisi US Geological Survey 
(USGS) terhadap Ultimate Recoverable Reserve (URR). Perlu juga diketahui bahwa 
URR ini mengalami peningkatan hampir dua kali sejak tahun 1980-an dari 1,700 
milyar barrel menjadi 3,300 milyar barrel. Peningkatan lebih lanjut masih 
dimungkinkan dengan dikembangkan nya berbagai teknologi eksplorasi yang lebih 
canggih.

Apabila supply cukup untuk memenuhi demand dalam beberapa dekade kedepan, 
lantas mengapa harga minyak harus naik begitu tinggi sekarang?. Menurut saya 
ada dua hal mendasar yang salah.

Pertama adalah perilaku menimbun minyak oleh negara-negara kaya, sehingga 
minyak yang semestinya cukup tersedia untuk semua orang – malah menghilang dari 
pasaran. kalau perilaku menimbun yang didorong oleh nafsu serakah ini tidak 
dihilangkan – maka produksi dan cadangan minyak berapapun akan tetap tidak 
terjangkau oleh si miskin karena minyak keburu diborong kemudian ditimbun oleh 
si kaya.

Kedua adalah solusi favorit saya, yaitu masalah uang yang dipakai di dunia saat 
ini yang memang mengalami penyusutan nilai terus menerus sepanjang zaman. 
Barang yang dibeli tetap tetapi harganya terus melonjak – bukan semata 
barangnya yang tambah mahal, tetapi lebih banyak karena uang-nyalah yang 
semakin tidak ada nilainya.

Coba perhatikan grafik disamping; selama empat puluh tahun terakhir harga 
minyak mentah dunia dalam US Dollar mengalami kenaikan lebih dari 4000% ; 
padahal kalau dibeli dengan mata uang yang adil yaitu Dinar ; naik turunnya 
harga minyak relatif stabil pada angka rata-rata 0.50 Dinar/barrel. Pada saat 
harga tertinggi sekarang saja, harga minyak mentah dunia hanya 0.96 
Dinar/barrel atau mengalami kenaikan hanya 76% dari harga minyak mentah 40 
tahun silam yang berada pada 0.55 Dinar/barrel !.

Perilaku menimbun hanya bisa dihilangkan dengan keimanan; demikian pula dengan 
pilihan mata uang yang adil – hanya bisa timbul dari keimanan kita dan 
pemimpin-pemimpin kita. Jadi solusi dari segala permasalahan ini satu yaitu 
kembali kepada Iman, kembali kepada Islam. Barang siapa bertakwa kepada Allah, 
akan dijadikan baginya jalan keluar. Dan Diberi Rizky dari Sumber yang Tidak 
Diduga. Barang Siapa bertakwa kepada Allah Akan dimudahkan Urusannya. Wallahu 
A’lam.   
  Labels: OPEC, URR, USGS


  posted by M. Iqbal dari www.geraidinar.com 

       

Kirim email ke