Aku masih berdiam seperti patung di depan sebuah lampu merah di sebuah perempatan jalan yang mungkin sudah terlanjur pasrah menerima nasib untuk mau terus menyaksikan tatapan tak sabar dari entah berapa juta pasang mata para pejalan yang ingin segera menerobos dan tancap gas. Riuh rendah suara klakson serempak berbunyi seperti sebuah konser musik tanpa komposer dan not balok menandai letupan ekspresi ketidaksabaran dari para pejalan seolah mereka adalah manusia super sibuk dan sedang mengejar waktu untuk sebuah transaksi bernilai jutaan dolar. Dalam pekatnya asap knalpot dari erungan gas percis seperti sebuah balapan mobil jalanan, semua pejalan mencoba mencuri start agar bisa sampai ke 'garis finish' lebih cepat. Maka berlarianlah para pejalan memacu kendaraannya dengan menyisakan debu yang bercambur timbal dan carbon monoksida. Lampu merah di perempatan jalan itu masih tidak bergeming padahal jika ia memiliki paru mungkin sudah 'bolong' jadinya. Itu beberapa tahun yang lalu sahabat.. Kemarin, saat kuinjakkan kaki di tanah yang katanya milik para leluhur dengan air suci yang siap mengobati dahaga dari rasa hausku maka kusaksikan lampu merah di perempatan jalan itu masih tegak setia, berdiri, seperti dulu. Antrian para pejalan semakin panjang dari semua arah. Asap knalpot, debu, sengatan matahari dan bunyi klakson yang semakin nyaring dan memekakkan telinga masih tetap tidak mampu mengubahmu lari dari kenyataan yang perdetiknya terus dinikmati tanpa rasa bosan. Satu hal rasa aneh yang mungkin kau pendam dan ingin sekali ditujukan pada manusia yang katanya makin beradab adalah semakin hari perilaku makhluk sempurna bernama manusia itu tidak menunjukan perubahan. Jika dengan ilmu dan teknologi serta nalar yang katanya semakin pintar dan brilian manusia tentu mampu mengatur dirinya lebih beradab. Engkau.. lampu merah, tentu bertanya kapan semua itu terwujud? sehingga tidak perlu lagi lampu merah berdiri di setiap perempatan jalan sekedar mengatur kapan dan siapa yang boleh jalan duluan.
