Sabar Kang,
Sepertinya memang harus dievaluasi loga
teori jika teknologi itu membawa peradaban manusia lebih baik..
 
Thanks
ajie
 
Catatn:
kang, ke minggu harepnya jalan-jalan..
kamarihmah aya liputan ngedadak..


--- On Mon, 7/14/08, Lawang bagja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Lawang bagja <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [WongBanten] lampu merah
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "wong" <[email protected]>
Date: Monday, July 14, 2008, 8:04 AM











Aku masih berdiam seperti patung di depan sebuah lampu merah di sebuah 
perempatan jalan yang mungkin sudah terlanjur pasrah menerima nasib untuk mau 
terus menyaksikan tatapan tak sabar dari entah berapa juta pasang mata para 
pejalan yang ingin segera menerobos dan tancap gas. Riuh rendah suara klakson 
serempak berbunyi seperti sebuah konser musik tanpa komposer dan not balok 
menandai letupan ekspresi ketidaksabaran dari para pejalan seolah mereka adalah 
manusia super sibuk dan sedang mengejar waktu untuk sebuah transaksi bernilai 
jutaan dolar. 
Dalam pekatnya asap knalpot dari erungan gas percis seperti sebuah balapan 
mobil jalanan, semua pejalan mencoba mencuri start agar bisa sampai ke 'garis 
finish' lebih cepat. Maka berlarianlah para pejalan memacu kendaraannya dengan 
menyisakan debu yang bercambur timbal dan carbon monoksida. Lampu merah di 
perempatan jalan itu masih tidak bergeming padahal jika ia memiliki paru 
mungkin sudah 'bolong' jadinya.
Itu beberapa tahun yang lalu sahabat..
Kemarin, saat kuinjakkan kaki di tanah yang katanya milik para leluhur dengan 
air suci yang siap mengobati dahaga dari rasa hausku maka kusaksikan lampu 
merah di perempatan jalan itu masih tegak setia, berdiri, seperti dulu. Antrian 
para pejalan semakin panjang dari semua arah. Asap knalpot, debu, sengatan 
matahari dan bunyi klakson yang semakin nyaring dan memekakkan telinga masih 
tetap tidak mampu mengubahmu lari dari kenyataan yang perdetiknya terus 
dinikmati tanpa rasa bosan. Satu hal rasa aneh yang mungkin kau pendam dan 
ingin sekali ditujukan pada manusia yang katanya makin beradab adalah semakin 
hari perilaku makhluk sempurna  bernama manusia itu tidak menunjukan perubahan.
Jika dengan ilmu dan teknologi serta nalar yang katanya semakin pintar dan 
brilian manusia tentu mampu mengatur dirinya lebih beradab. Engkau.. lampu 
merah, tentu bertanya kapan semua itu terwujud? sehingga tidak perlu lagi lampu 
merah berdiri di setiap perempatan jalan sekedar mengatur kapan dan siapa yang 
boleh jalan duluan. 
 
 
 
 














      

Kirim email ke