"Provinsi Banten teh, cenah mah boga sajarah panjang dina perkara "barontak", tingali wae disertasina Ahli Sajarah UGM Sartono Kartodirdjo (Pemberontakan Petani Banten)."
Sebaiknya kita meninggalkan kerangka berfikir eropa sentris, di mana semua pergerakan yang melawan eropa disebut pemberontak. saya lebih setuju menyebut banten 1888 sebagai perjuangan dan orang lokal yang terlibat kita sebut sebagai pejuang. kartono sendiri menyebut itu sebagai revolusi, "The Peasants' Revolt of Banten in 1888: Its Conditions, Course and Sequel. A Case Study of Social Movements in Indonesia" kaitan dengan ini, kita ada baiknya juga membaca Orientalism-nya Edward Said dan The Archaeology of Knowledge-nya Michel Foucault. salam ibnu --- In [email protected], kumincir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ---------- Forwarded message ---------- > From: MRachmat Rawyani > Date: 2008/7/14 > Subject: [Urang Sunda] Konflik Elit dina Proses Ngawangun Provinsi Banten > > Tadi isuk, teu ngahaja nungkulan acara promosi doktor di FISIP UI Kampus > Depok (niatna mah rek papanggih jeung babaturan sahobi). Judul > disertasina *"Konflik > Antar Elit Politik dalam Proses Pembentukan Provinsi Banten"*. Diajukeun Adi > Suryanto dosen STIA LAN. > > > > Provinsi Banten teh, cenah mah boga sajarah panjang dina perkara "barontak", > tingali wae disertasina Ahli Sajarah UGM Sartono Kartodirdjo (Pemberontakan > Petani Banten). Atuh, jaman Orde Baru oge ti taun 1970 an, elite Banten geus > hayang misahkeun maneh ti Provinsi Jawa Barat. Padahal mah ceuk BAPPEDA > Provinsi Jawa Barat (dimana Teh Ika ngantor, kamana wae Teh Ika yeuh?), dina > seminar hasil studi kelayakan tanggal 22 Maret 2000 di Hotel Graha Santika > Bandung, Banten the "teu layak" jadi provinsi. > > Salah sabelas alesanana teh nyaeta ngarasa dianakterekeun dina perkara > pangwangunan jeung ngarasa teu kawakilan jadi pupuhu di Ibukota provinsi > Jawa Barat. (Bandingkeun jeung Cirebon, sok sanajan enya sacara etnis jeung > budaya beda jeung urang Parahyangan, tapi da loba para elitna anu jadi > pejabat di Provinsi, jadi teu pati gede pisan "angin hayang misahkeun > maneh"). > > Upama dibandingkeun jeung ngadegna provinsi Riau Daratan, atawa Papua > Barat, dimana unsur kaamanan (rek misahkeun ti NKRI) anu jadi alesanana, > Provinsi Banten mah cenah mah aya unsur restu (deal politik) ti GOLKAR, anu > mere omber ka para elit Provinsi Banten, tapi make syarat, supaya partey eta > meunang di wewengkon Banten, jeung pikeun nebus "dosa-dosa" Golkar, anu > "ngapilainkeun" waktu jadi pangawasa di jaman Orde Baru. Wallahualam > Bisawab. > > Baktos, > > mrachmatrawyani > > *ABSTRAK* > > * DISERTASI : ADI SURYANTO (8903210017)* > > * * > > *KONFLIK ANTAR ELIT POLITIK DALAM PROSES PEMBENTUKAN PROVINSI BANTEN* > > > > Disertasi ini membahas mengenai konflik antar elit politik dalam > proses pembentukan Provinsi Banten, bertujuan untuk menjelaskan berbagai > faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya gagasan pemekaran daerah > provinsi Banten, menjelaskan dan menganalisis konflik antara elit politik > Banten dengan elit politik Jawa Barat dalam pembentukan Provinsi Banten, > menjelaskan dan menganalisis kelayakan Banten menjadi provinsi, dan > menganalisis proses politik penetapan Undang-undang No. 23 Tahun 2000 > tentang Pembentukan Provinsi Banten yang berlangsung di pusat. > > Studi ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif menggunakan > analisis kualitatif. Tipe penelitian adalah *single case study.* Pengumpulan > data dilakukan melalui studi pustaka, penelusuran terhadap dokumen-dokumen > resmi, klipping koran, majalah, jurnal dan berbagai sumber yang tertulis > yang relevan dan wawancara mendalam. > > Berdasarkan hasil studi yang dilakukan, peneliti memverifikasi > sejumlah teori mengenai teori elit, peran aktor, konflik dan > konsensus, *struggles > of power*. Patrimonialisme, desentralisasi dan demokratisasi. Pada intinya > proses pembentukan Provinsi Banten sangat ditentukan oleh peran elit politik > dan tersedianya jaringan elit lokal dengan elit nasional (*local-national > elites power network*). Konflik antara elit Jawa Barat dengan elit Banten > dapat diselesaikan dengan cara persuasif. > > Konflik yang terjadi dalam proses pembentukan Provinsi Banten > berpangkal pada perbedaan sikap antara setuju dan tidak setuju Provinsi > Banten dibentuk. Terdapat sejumlah faktor yang melatarbelakangi munculnya > gagasan pembentukan Provinsi Banten, yakni faktor historis, ekonomi, etnik, > dan politik. Faktor ekonomi menjadi pangkal munculnya perbedaan pandangan > terkait dengan kelayakan Banten menjadi provinsi. Pihak Jawa Barat > menganggap Banten tidak layak menjadi provinsi sendiri, sementara elit > Banten menganggap bahwa Banten layak menjadi provinsi. > > Proses politik di tingkat pusat dari pengusuylan RUU pembentukan > Provinsi Banten sampai pengesahan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini > terjadi karena masalah prosedur dan persyaratan yang belum terpenuhi. > Persoalan belum adanya persetujuan dari DPRD dan Pemda Barat, serta kajian > yang obyektif sering dijadikan alasan administratif dalam pembahasan RUU > Pembentukan Provinsi Banten. Bahkan pemerintah pernah meminta pembahasan RUU > tersebut dihentikan karena alasan ini. Alasan lain adalah karena belum > terbentuknya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) yang memiliki > kewenangan memberikan masukan kepada Presiden dalam urusan pemekaran daerah. > Proses politik menjadi efektif justeru dengan adanya lobi yang dilakukan > baik oleh elit politik yang pro pembentukan Provinsi Banten terhadap > pihak-pihak yang merasa keberatan berkeberatan. > > Disertasi ini memberikan kontribusi teori, khususnya terkait > dengan teori elit dimana sebelumnya baik kalangan teoritisi elit klasik, > elit demokrasi maupun elit modern tidak menganalisis elit atas motif yang > diharapkan dari keberhasilan perjuangan politiknya, dalam hal ini > terbentuknya Provinsi Banten. Elit Banten dapat dibagi dalam kategori > sebagai berikut: *pertama *adalah elit yang memiliki kepentingan atau > mempunyai harapan-harapan akan kekuasaan atau diperolehnya sumber-sumber > daya lainnya. Elit yang termasuk kategori ini mengharapkan imbalan atau > terjadi pertukaran terhadap apa yang mereka lakukan, sebaliknya akan > memperoleh kekuasaan atau sumber daya lainnya. Kelompok ini disebut > *transactional > elite. *Kelompok kedua adalah elit yang terlibat tanpa mengharapkan apapun, > baik kekuasaan atau penguasaan atas sumber-sumber daya, termasuk jabatan. > Elit yang masuk dalam kelompok ini lebih mencerminkan atau memperjuangkan > nilai-nilai kebenaran, kebajikan dan simbol nilai-nilai yang dianut > masyarakat. Kelompok ini disebut *transformative elite.* > > Terkait dengan teori sirkulasi elit yang didasari atas dominasi > kekuasaan yang demikian kuat. Tampilnya elit yang hendak menyelesaikan > konflik dalam kasus kemunculan Bakor PPB sebagai alternatif konflik Pokja > dengan Komite PPB. Salah satu cara menciptakan konsensus adalah dominasi > satu pihak terhadap pihak lainnya yang terlibat konflik, tetapi dalam kasus > ini justeru yang mendominasi adalah pihak yang tidak terlibat konflik (pihak > ketiga) atau terjadi pengambil-alihan kekuasaan dengan pura-pura > menjembatani konflik untuk menciptakan konsensus baru padahal yang terjadi > mengambil alih dominasi kekuasaan. Teori dapat disebut *teori pseudo > arbitrator*. > > Keberhasilan pembentukan Provinsi Banten pada akhirnya sangat > ditentukan tersedianya jaringan antara elit politi lokal Banten dengan elit > nasional. Terkait dengan teori modern yang dikemukakan C. Wright Mills > mengenai kekuatan jaringan elit nasional (*national elite power network*), > nampaknya teori ini dapat dikembangkan tidak hanya jaringan elit nasional > saja atau elit lokal saja yang menentukan dalam proses pembentukan Provinsi > Banten, tetapi kekuatan jaringan antara elite lokal dan nasional > (*local-national > elites power network*) yang dibentuk atas dasar terjalinnya elit lokal dan > elit nasional dominan, dalam hal ini elit Golkar. > > Studi ini juga memberikan terhadap pemikiran demokratisasi dan > desentralisasi yang selama ini terjadi di Indonesia. Munculnya > primordialisme (regionalisme dan etnosentrisme) yang tercermin dari tuntutan > pemekaran daerah berbasis kewilayahan dan etnik telah dimanfaatkan oleh elit > politik lokal memperjuangkan kepentingannya. Demokratisasi masih bersifat > elitis dimana pertisipasi masyarakat cenderung terkooptasi kepentingan > politik elit lokal. Hal ini tentu beresiko terhadap munculnya konflik > horisontal. Adapun terkait dengan teori desentralisasi, kasus pemekaran > daerah menunjukkan bahwa tidak mudah mewujudkan harapan bahwa desentralisasi > membawa perbaikan kesejahteraan masyarakat, pelayanan publik, partisipasi > lokal, pendidikan politik dan akuntabilitas publik. Semua itu tidak akan > tercapai sementara realitas politik lokal masih menunjukkan adanya dominasi > elit lokal atau aktor-aktor berpengaruh yang menentukan proses kebijakan > publik. >
