Maju terus Sdr. Thamrin. Di milis ini ada yang mengatakan, "Tua-muda sama saja, yang penting amanah." Bagi saya, amanah jelas sekali merupakan salah satu kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin. Tapi perkara kemudaan juga sangat, sangat penting sekali. Para pensiunan, apakah itu bekas jenderal, eks pejabat, mantan akademisi, yang notabene sudah sepuh, tua renta, rabun, dan jompo, lebih bagus bercocok tanam dan memelihara ayam di belakang rumah, seraya memelihara kesehatan sembari bercengkerama dengan para cucu. Urusan negara? Serahkan kepada yang muda-muda seperti Sdr. Machsus Thamrin itu...
--- On Wed, 7/16/08, Risyaf Ristiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Risyaf Ristiawan <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [WongBanten] Malam Ini Saya Mengembalikan Formulir DPD > To: [email protected] > Date: Wednesday, July 16, 2008, 12:52 PM > Ha..ha..ha..ha..ha...ha...ha.. > Privatisasi itu apa ya? Sarua aing oge teu nyaho! > Kalau boleh saya tambahin menurut pengertian saya bahwa > privatisasi itu adalah artinya menjual harta rakyat. > Kalaupun ada pakar yang memberikan arti lain yakni untuk > meningkatkan value creation (nilai mutu perusahaan) dengan > meningkatkan levergage asset dengan melibatkan pihak swasta > dalam kepemilikan BUMN. > Kalau merujuk kepada MASTER PLAN BUMN : privatisasi > adalah sebagai penyerahan kontrol efektif dari sebuah > perseroan kepada manajer dan pemilik swasta dan biasanya > terjadi apabila mayoritas saham perusahaan dialihkan > kepemilikannya kepada swasta. > Swasta disini siapa kalau bukan pihak asing! > Artinya ini peran pemerintah sebagai pemilik atau pelaksana > berubah yakni cuman jadi regulator. Entahlah jadinya kayak > gimana, ....karena berapa puluh ribu regulator yang > digulirkan oleh pemerintah berkaitan dengan ini, tapi > hasilnya ya......"namaku bento rumah real estate, > mobilku banyak harta melimpah, orang memanggilku, bos > eksekutif, tokoh papan atas, atas > segalanya...asyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik!!! itulah > nyanyian orang2 yang jadi komprador asing! > Eh, Bung Machus Thamrin mo nyalon DPD Banten? Ok, bos maju > terus pantang mundur. Harus berani bos, jangan kalah sama > Mbak Khasan...... > Saya cuman bisa mendo'akan, semoga niat baik anda > sebagai calon legislatif senantiasa amanah dan peka serta > istiqomah. > Maju bos !!! > Salam > Risyaf S. > > > > ----- Original Message ---- > From: machsus thamrin <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Monday, July 14, 2008 10:04:53 PM > Subject: [WongBanten] Malam Ini Saya Mengembalikan Formulir > DPD > > > > Dulur-dulur sadayana, Malam ini saya mengembalikan formulir > > pendaftaran sebagai calon anggota DPD. Banyak tanggapan > datang dari > teman-teman di Majelis ini ketika saya berniat maju. Tentu > pro > kontra itu adalah hal yang biasa.. > > Saya jadi teringat sebuah cerita dari hearing antara DPD > dengan > Komisaris PT Krakatau Steel ketia PT KS meminta dukungan > agar PT KS > tak dijual ke perusahaan asing. Setelah berjam-jam mereka > menguraikan berbagai peran strategis PT KS, dan prospek > bisnis baja > di dunia. seorang anggota DPD asal Banten > bertanya,"Pak Direktur Ari > privatisasi itu apa?" Duh! > > Saya tak menganggap saya lebih cerdas, karena saya yakin > keempat > anggota DPD asal Banten punya kelebihan lain hingga mereka > bisa > terpilih. Namun saya ingin mengajak teman-teman yang lain > untuk > mewarnai berbagai lapangan bermain dengan peran kita semua. > > Pertanyaan sang anggota DPD itu ini tentu menguak kesadaran > bersama > kita betapa pentingnya kita berani untuk mengambil peran, > sekecil > apapun peran yang dipunyai DPD saat ini. > > Peran itu bisa melalui parpol, yang harganya sangatlah > tidak murah, > atau melalui Pilkada yang juga sami mawon, juga seperti > majelis > milis yang mencerdaskan seperti yang kita punya ini. > > Saya asyik dan selalu senang manjadi anggota milis ini. > Tapi kayanya > diantara kita juga harus ada yang berani mengambil peran > yang lebih, > meski itu tak mudah ditengah keterbatasan yang kita miliki, > dan > hegemoni orang-orang di seputar kekuasaan yang memiliki > kekuasaan > sekaligus uang yang nyaris tak berseri. > > Tadi siang, saya berniat berangkat kerja ke Jakarta, di > jalan saya > berpapasan dengan konvoi panjang kendaraan yang berangkat > dari > kawasan jalan Bhayangkara untuk daftar menjadi anggota > DPD.Tapi > haruskah kita gentar, melihat panjangnya konvoi kendaraan > itu? > > Untuk itu saya memberanikan diri maju, meski tanpa tim > sukses yang > terorganisir, bermodal SMS dari beberapa sahabat saya, saya > > membesarkan hati mengambil formulir. Alhamdulillah saya > yang > selama tiga hari menemui teman-teman saya di SD, SMP, > hingga SMA 1 > Serang, bisa mengumpulkan KTP cukup banyak. Tak serupiahpun > keluar > untuk membeli KTP. Beberapa teman bahkan tak mau uangnya > diganti, > meski saya tahu mereka juga tak kaya. Ada diantara mereka > yang > menyumbang 15 KTP, ada yang 20, ada juga yang menyumbang 2 > lembar > kopi KTP bersama istrinya. > > Bagi saya masuk menjadi calon Alhamdulillah, tapi kalau > tidak juga > terima kasih. Saya memperoleh pelajaran berharga, berapa > masih > banyak dulur dan baraya, rerencangan yang ikhlas membantu. > Inilah > yang membuat saya yakin akan adanya harapan di Banten, > seperti yang > dikutip Tigor Dalimunthe dalam milis ini, lebih baik > menyalakan > lilin daripada meratapi kegelapan. > > Salam
