Saya baru baca postingan Kang Machsus ini. Kang, menurut saya, dengan menjadi
anggota DPD bukannya menyalakan sebatang lilin, tapi justru malah bikin tambah
gulita, karena menguras sumber daya (baca: duit rakyat). La, wong, DPD tidak
punya peran apa-apa dalam tatanan bernegara republik ini, karena memang tidak
diberi kewenangan apa-apa selain hanya mendengarkan dan menyampaikan, yang
sebenarnya peran ini sudah dijalankan oleh media massa (sebagai pilar keempat
demokrasi). Coba mana pernah ada keputusan politik yang pernah dibuat DPD
selama ini? DPD sejauh ini hanya kosmetik politik, agar negeri ini terlihat
seolah-olah demokratis.
Saya pribadi, biarpun bukan orang partai mana pun, lebih menaruh respek kepada
orang-orang yang mencoba mengambil peran lewat partai politik sekarang ini,
walau orang itu sekadar menjadi pembantu umum di sebuah dewan pimpinan ranting
suatu partai, misalnya.
Salam,
Pedje
> From: machsus thamrin <[EMAIL PROTECTED] com>
> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> Sent: Monday, July 14, 2008 10:04:53 PM
> Subject: [WongBanten] Malam Ini Saya Mengembalikan Formulir
> DPD
>
>
>
> Dulur-dulur sadayana, Malam ini saya mengembalikan formulir
>
> pendaftaran sebagai calon anggota DPD. Banyak tanggapan
> datang dari
> teman-teman di Majelis ini ketika saya berniat maju. Tentu
> pro
> kontra itu adalah hal yang biasa..
>
> Saya jadi teringat sebuah cerita dari hearing antara DPD
> dengan
> Komisaris PT Krakatau Steel ketia PT KS meminta dukungan
> agar PT KS
> tak dijual ke perusahaan asing. Setelah berjam-jam mereka
> menguraikan berbagai peran strategis PT KS, dan prospek
> bisnis baja
> di dunia. seorang anggota DPD asal Banten
> bertanya,"Pak Direktur Ari
> privatisasi itu apa?" Duh!
>
> Saya tak menganggap saya lebih cerdas, karena saya yakin
> keempat
> anggota DPD asal Banten punya kelebihan lain hingga mereka
> bisa
> terpilih. Namun saya ingin mengajak teman-teman yang lain
> untuk
> mewarnai berbagai lapangan bermain dengan peran kita semua.
>
> Pertanyaan sang anggota DPD itu ini tentu menguak kesadaran
> bersama
> kita betapa pentingnya kita berani untuk mengambil peran,
> sekecil
> apapun peran yang dipunyai DPD saat ini.
>
> Peran itu bisa melalui parpol, yang harganya sangatlah
> tidak murah,
> atau melalui Pilkada yang juga sami mawon, juga seperti
> majelis
> milis yang mencerdaskan seperti yang kita punya ini.
>
> Saya asyik dan selalu senang manjadi anggota milis ini.
> Tapi kayanya
> diantara kita juga harus ada yang berani mengambil peran
> yang lebih,
> meski itu tak mudah ditengah keterbatasan yang kita miliki,
> dan
> hegemoni orang-orang di seputar kekuasaan yang memiliki
> kekuasaan
> sekaligus uang yang nyaris tak berseri.
>
> Tadi siang, saya berniat berangkat kerja ke Jakarta, di
> jalan saya
> berpapasan dengan konvoi panjang kendaraan yang berangkat
> dari
> kawasan jalan Bhayangkara untuk daftar menjadi anggota
> DPD.Tapi
> haruskah kita gentar, melihat panjangnya konvoi kendaraan
> itu?
>
> Untuk itu saya memberanikan diri maju, meski tanpa tim
> sukses yang
> terorganisir, bermodal SMS dari beberapa sahabat saya, saya
>
> membesarkan hati mengambil formulir. Alhamdulillah saya
> yang
> selama tiga hari menemui teman-teman saya di SD, SMP,
> hingga SMA 1
> Serang, bisa mengumpulkan KTP cukup banyak. Tak serupiahpun
> keluar
> untuk membeli KTP. Beberapa teman bahkan tak mau uangnya
> diganti,
> meski saya tahu mereka juga tak kaya. Ada diantara mereka
> yang
> menyumbang 15 KTP, ada yang 20, ada juga yang menyumbang 2
> lembar
> kopi KTP bersama istrinya.
>
> Bagi saya masuk menjadi calon Alhamdulillah, tapi kalau
> tidak juga
> terima kasih. Saya memperoleh pelajaran berharga, berapa
> masih
> banyak dulur dan baraya, rerencangan yang ikhlas membantu.
> Inilah
> yang membuat saya yakin akan adanya harapan di Banten,
> seperti yang
> dikutip Tigor Dalimunthe dalam milis ini, lebih baik
> menyalakan
> lilin daripada meratapi kegelapan.
>
> Salam
> ----- Original Message ----
>
>
>
> Risyaf S.
> Salam
> Maju bos !!!
> istiqomah.
> sebagai calon legislatif senantiasa amanah dan peka serta
> Saya cuman bisa mendo'akan, semoga niat baik anda
> Mbak Khasan......
> terus pantang mundur. Harus berani bos, jangan kalah sama
> Eh, Bung Machus Thamrin mo nyalon DPD Banten? Ok, bos maju
> nyanyian orang2 yang jadi komprador asing!
> segalanya... asyiiiiiiiiiiiii iiiiiiiiiiiiiiik !!! itulah
> eksekutif, tokoh papan atas, atas
> mobilku banyak harta melimpah, orang memanggilku, bos
> hasilnya ya......"namaku bento rumah real estate,
> digulirkan oleh pemerintah berkaitan dengan ini, tapi
> gimana, ....karena berapa puluh ribu regulator yang
> berubah yakni cuman jadi regulator. Entahlah jadinya kayak
> Artinya ini peran pemerintah sebagai pemilik atau pelaksana
> Swasta disini siapa kalau bukan pihak asing!
> kepemilikannya kepada swasta.
> terjadi apabila mayoritas saham perusahaan dialihkan
> perseroan kepada manajer dan pemilik swasta dan biasanya
> adalah sebagai penyerahan kontrol efektif dari sebuah
> Kalau merujuk kepada MASTER PLAN BUMN : privatisasi
> dalam kepemilikan BUMN.
> meningkatkan levergage asset dengan melibatkan pihak swasta
> meningkatkan value creation (nilai mutu perusahaan) dengan
> Kalaupun ada pakar yang memberikan arti lain yakni untuk
> privatisasi itu adalah artinya menjual harta rakyat.
> Kalau boleh saya tambahin menurut pengertian saya bahwa
> Privatisasi itu apa ya? Sarua aing oge teu nyaho!
> Ha..ha..ha.. ha..ha... ha...ha..
> Date: Wednesday, July 16, 2008, 12:52 PM
> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> Subject: Re: [WongBanten] Malam Ini Saya Mengembalikan Formulir DPD
> From: Risyaf Ristiawan <barakatak_jol_ [EMAIL PROTECTED] com>
--- On Wed, 7/16/08, Risyaf Ristiawan <barakatak_jol_ [EMAIL PROTECTED] com>
wrote:
Maju terus Sdr. Thamrin. Di milis ini ada yang mengatakan, "Tua-muda sama saja,
yang penting amanah." Bagi saya, amanah jelas sekali merupakan salah satu
kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin. Tapi perkara kemudaan juga
sangat, sangat penting sekali. Para pensiunan, apakah itu bekas jenderal, eks
pejabat, mantan akademisi, yang notabene sudah sepuh, tua renta, rabun, dan
jompo, lebih bagus bercocok tanam dan memelihara ayam di belakang rumah, seraya
memelihara kesehatan sembari bercengkerama dengan para cucu. Urusan negara?
Serahkan kepada yang muda-muda seperti Sdr. Machsus Thamrin itu...