MIMPI ANAK MIMPI BANGSA
Oleh Aji Setiakarya
Enam bulan lalu, sekitar pertengahan Maret 2008 tiba-tiba kami di RD
kedatangan seorang perempuan yang menurut saya sudah mencapai usia tua ditemani
oleh Ade Suhendar, angkatan kelas menulis angkatan 11, Pak Asep, Santi dan
seorang sopirnya. Saat itu saya baru saja menyelesaikan berita di
BantenTV. Perempuan yang kemudian saya
kenal dengan Ibu Iyu itu menceritakan
dorongannya untuk melihat RD setelah membaca sebuah artikel tentang RD.
Karena harus menemui Teh Tias, istri
Gola Gong saya menemaninya. Apalagi ada Firman Venayaksa, Presiden RD. Sebelum
saya pergi saya menangkap semangat yang hebat dari Ibu Iyut. Saya berpikiran,
dia sudah tua tapi masih juga bersemangat untuk mendirikan sebuah TBM. Yang
membuat saya tergeltik ia adalah orang Jakarta tapi ingin mendirikan
perpustakaan di Anyer. Waktu itu saya menyimpan pertanyaan. Kenapa harus di
Anyer? Ibu Iyut kemudian menjawabnya Tapi saya harus pergi menemui bu Tias
sehingga jawabannya tidak saya serap semuanya.
Saya masih penasaran dengan Ibu Iyut, karena itulah saya meminta nomor Pak
Asep, yang membantu Ibu Iyut dari Ade. Setelah mendapatkannya saya putuskan
untuk main ke Anyer. Mingg (1/6) saya ke Anyer bersama Juned, adik Ibnu Adam
Aviciena. Diantar oleh Ade Suhendar saya kemudian meluncur ke Anyer. Sampai di
Anyer saya disambut dengan Ibu
Iyut Suharya, di villanya. Disana kami sharing pengalaman, tepatnya saya
mendengarkan Ibu Iyu karena sebagai seorang yang lahir di zaman Belanda dan
dididik dengan “gaya” Belanda oleh ayahnya ia memiliki wawasan dan pola pikir
luas. Di salam RD, di Banten Raya Post saya
tulis jika kunjungan ke Anyer itu seperti mendapatkan darah segar, kami
di RD semakin banyak kawan sekarang ini.
Satu hal yang sulit untuk ditemukan saat ini adalah budaya berbagi. Saya
rasa semangat kami miliki yaitu berbagi dan belajar sepertinya juga dimiliki
oleh Ibu Iyut.
Saya dan Juned kemudian dibawa ke tempat bakal perpustakaan yang akan
didirikanyna. Selain perpustakaan ternyata Ibu Iyut dibantu dengan Pak Asep,
Santi dan rekan-rekan lainnya ternyata sudah memberikan pelatihan kepada warga
sekitar. Seperti pembuatan gerabah dan sablon. Namun diakui oleh Ibu Iyut
”tidak ada yang bertahan lama.” Ini
karena kebanyakan masyarakat ingin
mendapatkan uang secara instan, tanpa melalui proses terlebih dahulu. Itulah
kelemahan masyarakat negeri ini, selalu saja ingin yang lebih gampang dan
cepat. Namun untuk taman bacaan perempuan yang tinggal di Jakarta ini tidak mau
mundur. Dibantu Archagela Susanti,
anaknya yang bekerja di ANTV dan Asep ia bertekad untuk tetap memberikan
pelatihan bagi anak-anak. Lewat taman
bacaan yang kemudian diberi nama Rumah
Tukik Ibu Iyut ingin melihat anak-anak Jambangan Anyer bisa maju.
POTRET MASYARAKAT
Siapapun boleh bermimpi. Termasuk
anak-anak yang hidup di seberang pantai Bandulu yang berdekatan dengan Hotel
Marbella ini. Dalam sebuah pementasan teater yang dipentaskan pada saat
launching Rumah Tukik, terlukis jika mereka ingin menorehkan mimpi itu dalam
sebuah kenyataan. ”Aku bermimpi jadi anak kreatif,” katanya. Macam-macam
keinginan mereka. Tentu saja bagi mereka tak gampang. Dengan kondisi ekonomi
orangtua mereka yang pas-pasan sepertinya sulit untuk menembus mimpi itu.
Meskipun bukan sesuatu yang mustahil bagi mereka.
Sepatutnya pemerintah dalam hal
ini berbuat untuk rakyatnya, membatu untuk anak-anak yang memiliki mimpi. Sudah
lama pemerintah berbohong kepada masyarakat dengan berbagai slogan dan janji.
Coba kita lihat di jalan-jalan baik Gubernur maupun Bupati selalu tebar pesona
dan menjual slogan. Taufik Nuriman misalnya, dalam beberapa slogan ia
menganjurkan agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Ia Juga
gencar berceramah agar bisa mengikuti wajib belajar sembilan
tahun. Namun mereka hampir tidak memberikan kesempatan yang maksimal. Dinas
Pendidikan Kabupaten misalnya seperti
tak memiliki niat memperbaiki pendidikan di
Serang. Dalam masa penerimaan siswa baru 2008 ini, instansi ini tidak
cukup memiliki kekuatan untuk memberikan sanksi kepada sekolah yang memungut
biaya mahal. Ironis memang negeri ini. Seorang warga Indonesia yang telah lama
tinggal di Belanda, Bambang Soetedjo, mengungkapkan bahwa penyakit pejabat ini
adalah karena warisan Orde Baru yang mewarisi budaya korupsi dan
kolusi.
Saya sepakat dengan Ibu Iyut,
pendiri Rumah Tukik bahwa masyarakat sebenarnya memiliki potensi untuk maju
namun kesempatan mereka yang tidak ada. Semangat ini sama dengan kami di Rumah
Dunia. Gola Gong, dalam beberapa
kesempatan sering menyindir jika
pemerintah seperti tidak mau mencerdaskan masyarakat dengan alasan takut
masyarakat cerdas sehingga nantinya melawan. Sindiran itu ada benarnya, coba
kita saksikan gaya pejabat. Mereka
bisa gonta-ganti mobil dalam setiap musim, padahal rakyatnya melara kelaparan.
Pada Sabtu (9/10) saya berkunjung ke Kampung Ciwarna, Desa
Batukuwung untuk undangan seorang kawan yang menikah. Saat saya usia SD sampai
dengan SMP saya sangat sering ke kampung ini karena bapak menggarap sawah di
wilayah ini. Sehabis sekolah saya melewati Kampung Ciwarna. Saat itu Kampung
Ciwarna tertinggal bila dibandingkan dengan kampung saya di Ciomas atau di
Cisaat. Bangunan disini masih terbuat dari campuran tanah dan kapur. Masyarakat
disini pendidikannya tidak terlampau hebat. Paling tinggi adalah SMA. Kondisi
SD – nya saja Ciwarna doyong. Meski begitu suasana masih tertata bersih. Air
dari sungai Cilehem,
yang bermuara ke Gunung Wangun masih mengalir normal dan banyak ruang-ruang
untuk bermain untuk anak-anak. Saya sendiri sering memanfaatkan sungai ini
untuk mandi. Saat kecil saya bermimpi
bisa membuat villa di atas tanah kakek saya ini kena keindahannya bisa
menyaksikan gunung yang menjulang dan sawah
yang menghampar. Ditambah
dengan aliran sungai yang jernih dari matahari Cirahab.
Semenjak SMA saya hampir tak pernah lagi ke Kampung Ciwarna, artinya
hampir tujuh tahun saya tak
kesana. Saat saya berkunjung ke kampung
ini saya berharap kampung tempat
bermain saat kecil saya dulu lebih baik kondisinya. Dalam hati saya
berharap-harap cemas. Tapi lacur,
potret kampung yang berada di
pertengahan sawah ini nyaris tak
mengalami perubahan. Saya melihat
lingkungan sekitarnya malah lebih kumuh dari tujuh tahun silam. Hati
saya sebenarnya berkecamuk, kenapa bisa seperti ini. Sungai yang pernah dulu
saya gunakan untuk mandi kini nyaris tak berair. Batu-batunya telajang kehausan
air. Sementara tempat pemandian kerbau, pemandangan indah saat sore hari, tak
lagi berfungsi maksimal. Saya miris melihatnya. Terutama saat melihat madrasah
yang dulu saya pernah menyumbangnya kini tak terurus. Mungkin tidak hanya ustad
yang tidak ada. Muridnya pun tak ada sehingga membuat madrasah ini tak ubahnya
bangunan sisa perang. Naif betul negeri
ini. Potret Desa Ciwarna jauh segunung dengan kondisi pejabatnya yang selalu
mengumbar kemehawan. Jika kita lihat
kantor Bupati Serang, misalnya, kita
bisa saksikan mobil dinas mewah dari mulai dari Kijang X Trail sampai dengan
Fortuna di gudangnya. Para pejabat ini seperti tak melihat sedikitpun
kesedihan warga Ciwarna. Sementara kita tahu
Gubenur Banten Ratu Atut Chosiyah menggunakan LANDCRUISER terbaru.
Qizink La Aziva, seorang kawan di Rumah Dunia (RD), kini redaktur di Radar
Banten pernah menulis jika negeri ini
seperti tak memiliki pemerintah. Seolah berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah
mengeruk PAD sementara rakyat dibiarkan sengsara. Mungkin falsafah ini yang
juga menginspirasi Bupati Serang Taufik
Nuriman. Ia batal mencabut izin PT Tirta Investama (Aqua) yang jelas akan
merugikan masyarakat
sekitar. Biarkan saja rakyat merugi yang pentingan PAD nambah, mungkin begitu
dalam pikirannya.
MIMPI ANAK JAMBANGAN
Terlalu berat jika memikirkan pemerintah
yang belagu. Maka itu kita harus berbuat dari
diri kita untuk menanam tunas-tunas muda,
anak-anak dan remaja tentu saja. Agar
mereka bisa berkarya, berwawasan dan tidak
mewarisi kebodohan. Beberapa komunitas
sudah melakukan hal ini dengan mengawali
diri untuk memberikan pencerahan kepada
remaja khususnya dan anak-anak. Di Banten
saya mengenal Rumah Dunia, tempat saya
bergabung dan melatih diri, Lentera Kalbu
di Pandeglag, Forum Lingkar Pena, Baitul
Hamdi, Lumbung Ilmu di Sepang
Ciracas. Selain itu ada komunitas yang pelan-pelan muncul dari
tangan masyarakat tanpa pamrih. Misalnya, pada
Minggu (10/8) Rumah Tukik yang berarti anak kuya diluncurkan. Pada kesempatan
itu saya menyaksikan anak-anak di sekitar kampung Jambangan Desa
Bandulu Kawasan Anyer menampilkan pementasan
teater yang mempresentasikan bayangan hati mereka yang ingin maju. Ingin
merubah dirinya menjadi anak yang kreatif.
Dalam hati saya berkata, mereka untung ada komunitas Rumah Tukik yang
tidak hanya menyediakan buku bacaan gratis, namun juga memberikan pelatihan
kreasi gratis. Seperti menyediakan krayon untuk berlatih menggambar atau
angklung untuk berlatih membawakan lagu-lagu sunda. Anak Jambangan lewat
Rumah Tukik bisa bermimpi. Bagaimana dengan
anak-anak yang lainnya??
Aji Setiakarya, relawan
Rumah Dunia
Bekerja Di Banten TV