Konon, jauh sebelum munculnya peradaban Yunani, dunia mengenal sebuah
negeri adidaya yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya.
Negeri panutan bernama "Atlantis" itu, menurut beberapa ahli sejarah,
berada di semenanjung Asia lama, yang kemudian dikenal dengan kawasan
Nusantara.

Mitos kejayaan nusantara lama itu, pernah diungkapkan oleh Ketua
Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqie, dalam peringatan "Hari
kebangkitan Nasional" beberapa waktu lalu. Nusantara memang kaya
dengan kegenda, yang bercerita tentang majunya peradaban sebuah Negeri
yang tersebar di seantero wilayah yang subur dengan ekonomi agrarian,
kelautan dan perdagangan. Tarumanagara, Samudera Pasai, Padjajaran,
Majapahit, Demak Bintoro, Mataram, Banten, dan Cirebon, adalah
sebagian dari ribuan kerajaan yang tercatat dalam tinta emas sejarah,
pada rentang waktu sekitar 700-1700 Masehi.

Tiga abad lebih setelahnya, kejayaan negeri yang dikenal gemah-ripah
loh jinawi itu kemudian sirna, karena perang saudara dan rakusnya
penjajahan. Setelah melepas diri dari penjajahan, dan membentuk Negara
Republik, bernama Indonesia, sejak 63 tahun lalu, bangsa ini tak
kunjung beranjak dari penrjajah.

Kerdilnya jiwa bangsa ini tercermin dalam pertentangan ideologis yang
terjadi di negeri ini, sejak awal kemerdekaan. Dan pertentangan
ideologis itu, ternyata tak pernah sepi dari kepentingan pihak asing.
Dulu, Soekarno merangkul Komunisme, sebagai strategi pendekatan
terhadap Uni Sovyet dan China. Pahlawan Proklamasi itu, kemudian
mengusung Nasionalisme,Agama dan Komunis (Nasakom), sebagai ideology
cultural. Sebuah Ambivalensi yang berbuah perpecahan bangsa. Soeharto,
juga mengadopsi ideologi pembangunan Amerika, dengan wacana
Developmentasi yang kemudian kandas sebelum tinggal landas. Kebijakan
ekonomi yang diambil Soeharto, tak terhindar pula dari intervensi
asing, yang menghasilkan setumpuk hutang kepada IMF dan Bank Dunia.

Kini, setelah hampir sepuluh tahun rezim orde baru terguling,
pemerintah Indonesia tak pernah sampai hati menepis intervensi asing.
Terlepasnya Timor-Timor, penguasaan blok Cepu, hingga direbutnya
Sipadan dan Ligitan oleh negeri jiran, dan pembangunan pangkalan udara
Malaysia di wilayah perbatasan yang mestinya dinetralkan, sampai surat
dari Senat Amerika terhadap Presiden, yang meminta dilepasnya para
sparatis Papua, menjadi bukti betapa lemahnya kita di mata
negara-negara lain.

Ironisnya, tak hanya pemerintah yang kini dikuasai Bangsa Asing.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi keagmaan, hingga partai
politik, juga terjerat untuk memperjuangkan kepentingan pihak asing.
Neo Liberalisme, sparatisme serta Terorisme dan Fundamentalisme agama
yang semakin marak, konon dibiayai berbagai perusahaan dan organisasi
transnasional yang memilih budaya dan ideology sebagai jalur
penjajahan untuk kemudian mengeruk keuntungan kelompoknya. Yang lebih
mengerikan, cengkerman kapitalisme juga tak mampu ditepis oleh
pemerintah, memilih berpihak pada pengusaha, ketimbang kepada rakyat
jelata.

Globalisasi, memang sulit dihindari, tetapi seharusnya bangsa ini
sadar, bahwa kita memiliki akar kebudayaan dan ideologis serta tradisi
ekonomi yang telah merakyat sejak berbad lalu. padahal sesungguhnya,
para pendiri republik ini sadar akan hal tersebut, mereka merangkumnya
dalam Pancasila. Jika saja Pancasila diterapkan dalam setiap aspek
kebijakan pemerintah, maka bangsa ini dapat berkompetisi dengan
peradaban dunia lainnya. Ya, globalisasi tak perlu dihindari, kita
tinggal menggali kearifan lokal yang terdapat dalam ribuan tradisi dan
budya yang terdapat di negeri ini, untuk kemudian dikembangkan sebagai
kekayaan pariwisata yang akan menarik minat wisatawan asing. Kekayaan
alam yang tersisa juga akan bermanfaat untuk kemakmuran rakyat, jika
manajemen ekonomi kerakyatan yang terkonsep dalam koperasi dan prinsip
ekonomi pancasila dijalnkan dengan baik. Perpecahan bangsa karena
beragam ideology juga tentu akan dihindari dengan falsafah yang sama.

Sayangnya, para pemimpin negeri ini, hanya pandai bicara tentang
tingginya nilai-nilai pancasila, tanpa mau mengimplementasikan dalam
praktik yang nyata. Jika kedaan ini terus berlangsung, maka sampai
kapanpun, bangsa ini selalu terjajah!
http://a-malikmughni.blogspot.com
http://malikmughni.multiply.com

Kirim email ke