Rekän, Tulisan ini saya buat sebagai uneg-2 atas tulisan "sesat"-nya Purdi E Chandra (Pendiri Primagama) bahwa pengusaha itu tidak butuh kuliah, bahwa kuliah itu mencetak para karyawan. Ujung-2nya dia (si Purdi) mungkin mau bilang Enterpreur University lah tempat yang tepat untuk mencetak pengusaha.
Saya pikir statement Purdi itu menyesatkan sehingga perlu diluruskan... XXX Mengapa saya tidak percaya Enterpreneur University karya si Purdi? Ada 4 alasan yang mendasar yang membuat saya tidak percaya Purdi. Tentu saja saya bisa salah. Silahkan dikoreksi, saya akan terima koreksi dari sampeyan atau temen yang lain. Tapi ijinkanlah saya menulis keraguan saya tentang kredibilitas statement Purdi bahwa pengusaha itu tidak perlu kuliah. Bahwa kuliah itu hanya mencetak para karyawan. Saya meragukan keseriusan Purdi saat mengatakan hal itu. Pertama, Purdi tidak konsisten dengan gelar akademiknya. Kemana-2 Purdi selalu membangga-banggakan bahwa kesuksesannya sebagai pengusaha karena dia memilih D.O. dari kampusnya. Jadi, secara implisit Purdi mau mengatakan bahwa kuliah itu tidak penting. Kuliah cuma mencetak para karyawan. IRONISnya (tolong di-stabilo saya menulis kata IRONIS dengan huruf besar), Purdi selalu mencantumkan gelar akademiknya Purdi E Chandra, SE., MBA. Silahkan lihat dalam Blog Primagama: http://mylinklife.wordpress.com/2007/12/28/jadi-pengusaha-tak-harus-pintar/ Setahu saya, MBA itu gelar akademis dari luar negeri. Jika Purdi lulusan MBA maka dia harus kuliah diluar negeri. Setahu saya Purdi ndak pernah kuliah di LN. Lha di UGM aja D.O. kok mana sempat dia keluar negeri. Jadi, saya khawatir gelar itu gelar palsu. Jika itu gelar palsu alias gelar dari Universitas Rumah Toko maka Purdi adalah contoh ironis yang anomali antara perkataan dan perbuatan. Kedua, Purdi selalu melecehkan kredibilitas Universitas tapi lutjunya dia sendiri menggunakan nama Universitas untuk memperkuat "jual kecap"-nya. Dia menggunakan nama Enterpreuner University (EU), dan jelas Universitas menjadi "brand" jualnya. Ini mengingatkan saya dengan model Ahmadyah. Ajarannya menyimpang dari Islam tapi tetap ngaku-2 berlabel Islam biar punya nilai jual. Purdi juga, menyimpang dari kaidah Universitas tapi ngaku-2 Universitas plus diperparah dengan pake nama ke-Inggris-2 an. Kenapa harus pake nama Inggris? biar keren? biar punya nilai jual? Lutju, content hakiki dari universitas dilecehkan si Purdi tapi label dari universitas digadang-gadang pake bahasa Inggris segala lagi. Saya khawatir ini contoh marketing yang tidak percaya diri dari pengusaha yang senang shortcut. Content universitas dengan tradisi akademik yang rumit dibuang, tapi label universitas dipake secara vulgar.... Ketiga, sampai saat ini mana sih lulusan EU yang sukses? Klo cuma bisnis sembako kecil-2 an atau warnet atau fotocopi-an, yah ndak usah sekolah di EU. Tetap sebuah prestasi memang jika ada yang sukses buka warnet misalkan, hanya itu bisa diraih kok ndak perlu kuliah dan bayar ke Purdi melalui EU-nya. Malah buang-2 duit dan membuat si Purdi makin kaya aja... Tapi sekali lagi, mana ada lulusan EU yang bisa jadi pengusaha minimal level Yogya aja? EU itu berdiri kurang lebih 10 tahun lho, mosok belum menghasilkan pengusaha tangguh bahkan level Yogya aja ndak kecapai? Keempat, Saya tidak menemukan (silahkan koreksi jika saya salah), universitas di dunia ini yang tugasnya cuma mencetak pengusaha. Unversitas itu misi-nya adalah meningkatkan pengetahuan dari mahasiswanya dengan transfer ilmu, riset dan berinteraksi dengan kultur akademik yang inherrent didalamnya beserta jaringan para alumninya. Nah, dari sana akan terhasilkan para intelektual, pekerja profesional, pengusaha, innovator, pemimpin, dsb, dsb... Jadi misi Universitas itu universal bukan cuma mendidik pengusaha. Ini terjadi kok di Universitas-2 elit dunia. Jika misi universitas tersebut salah, seperti kata Purdi, maka Eropa atau Amrik atau Jepang tidak akan menghasilkan pengusaha-2 tangguh. Nyatanya negara yang Universitasnya majulah yang paling banyak perusahaannya menguasai kapital dunia. Tentu saja boleh-2 saja sebuah Universitas fokus pada titik berat pengembangan kewirausahaan. Itu sah jika memang itu adalah strenght point-nya. Tapi itu bukan berarti bahwa universitas yang menekankan pada kewirausahaan pasti akan lebih baik dari universitas yang menekankan untuk mencetak alumninya menjadi birokrat misalkan. Jadi, adalah gombal jika Purdi bilang bahwa universitas itu tidak bisa mencetak para pengusaha. Lha wong banyak pengusaha-2 besar yang jauh lebih hebat dari Purdi itu lulusan universitas ternama kok. Dan Universitasnya tidak perlu bernama Enterpreur University. Mereka alumnus universitas normal saja kok... Salam, FR
