He..he.. Kang tidak hanya ITB.. Kalau kang Ramli daleman Untirta bisa sutrisno
--- On Sun, 8/24/08, Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [WongBanten] Re: ITB: Institut Tidak-tahu Budi To: [email protected] Date: Sunday, August 24, 2008, 11:57 PM Betul kang... Tulisan saya itu sebagai bentuk cintai saya (meskipun bukan orang ITB) ke ITB kok. Paling tidak semoga banyak orang baik di ITB akan mengkritisi kebijakan oknum ITB sehingga menjadi semakin baik... Salam, FR --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, das albantani <dasalbantani@ ...> wrote: > > sabar kang.... > yang tidak tahu budi tuh bukan ITB NYA... tapi org2 yg ad di dlmnya.... > > --- On Sat, 23/8/08, Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED] > wrote: > > From: Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED] > > Subject: [WongBanten] ITB: Institut Tidak-tahu Budi > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com > Date: Saturday, 23 August, 2008, 6:03 AM > > > > > > > ITB: Institut Tidak-tahu Budi > > Saya terkejut membaca sebuah artikel dari Website resmi ITB. > http://www.itb. ac.id/news/ 2197.xhtml > ITB yang dengan bangga tanpa malu-malu membangga-banggakan Prof. Tja > May On sebagai intelektual Fisika terbaik di Indonesia. Bagi saya, > Yang Terhomat Prof. Tja May On pantas menerima penghargaan itu. Yang > tidak pantas adalah, ITB bangga atas prestasi Prof. Tja May On. > > Mari kita lihat, perlakukan apakah yang telah diberikan ITB terhadap > Prof. Tja May On? Sungguh perlakukan yang tidak pantas. Sebuah sumber > dari salah satu dosen muda berbakat ITB mengatakan bahwa Prof. Tja May > On pernah diusir dari ruang kerjanya. Tiba-2 ruang kerja beliau > dikunci sehingga beliau harus pindah ke ruang sesak dan tidak terurus. > Belum lagi tekan-2 lain yang diterima oleh Prof tua yang penuh > dedikasi dan pengabdian itu. > > Untunglah idialisme dan dedikasi sang Prof. Tja May On berada dalam > batas istimewa yang terlalu sulit untuk dicari bandingnya. Beliau > tetap mengabdi pada ITB. Hanya betapa wagu-nya, tapi malu-2 njelehi > ITB meng-klaim bahwa prestasi dan dedikasi tulus beliau itu adalah > milik ITB. Apa yang telah ITB berikan pada Prof. Tja May On? Apa? > Sebaliknya, sementara yang diberikan Prof. Tja May On adalah sebuah > prestasi tulus tanpa pamrih dengan penuh dedikasi…. > > ITB itu Institut Tidak-tahu Budi. Pantesan saja orang baik seperti > Prof. Onno W. Purbo juga minggat dari kampus itu. ITB harus merubah > kultur arogansinya. ITB itu besar karena pengabdian tulus dari tokoh-2 > idialis model Prof. Tja May On atau Prof. Onno W. Purbo. Perlakuan > tidak pantas terhadap mereka dari institusi sebesar ITB tidak hanya > memalukan tapi juga membuat efek trauma terhadap intelektual- 2 idialis > lainnya yang ingin mengabdi pada ITB. > > Mereka pasti berpikir logis. Jika orang-2 sekaliber Prof. Tja May On > diperlakukan tidak layak, atau Prof. Onno Purbo bisa tidak betah di > ITB maka bagaimana nasib para intelektual muda? > > ITB memang harus berubah khususnya para pemegang kebijakan kampus. > Salah satu cara berubahnya, ndak perlulah syarat untuk jadi Rektor ITB > itu harus lulusan Lemhanas. Ini bukan jaman ORBA lagi bung! > > Semua sudah berubah. Fakta menunjukan sampeyan (ITB) saat ini bukanlah > nomor satu seperti klaim sampeyan selama ini. Jika sampeyan tidak > berubah maka sampeyan akan menjadi dinosaurus. Sejarah mencatat, > betapapun besarnya kita, pasti akan masuk museum jika tidak berubah > menjadi semakin baik… > > Salam, > Dari tepian lembah Sungai Spree > > Ferizal Ramli > > > > > > > > > > > > > > > > > Get your preferred Email name! > Now you can @ymail.com and @rocketmail. com. > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/ >
