ITB: Institut Tidak-tahu Budi Saya terkejut membaca sebuah artikel dari Website resmi ITB. http://www.itb.ac.id/news/2197.xhtml ITB yang dengan bangga tanpa malu-malu membangga-banggakan Prof. Tja May On sebagai intelektual Fisika terbaik di Indonesia. Bagi saya, Yang Terhomat Prof. Tja May On pantas menerima penghargaan itu. Yang tidak pantas adalah, ITB bangga atas prestasi Prof. Tja May On.
Mari kita lihat, perlakukan apakah yang telah diberikan ITB terhadap Prof. Tja May On? Sungguh perlakukan yang tidak pantas. Sebuah sumber dari salah satu dosen muda berbakat ITB mengatakan bahwa Prof. Tja May On pernah diusir dari ruang kerjanya. Tiba-2 ruang kerja beliau dikunci sehingga beliau harus pindah ke ruang sesak dan tidak terurus. Belum lagi tekan-2 lain yang diterima oleh Prof tua yang penuh dedikasi dan pengabdian itu. Untunglah idialisme dan dedikasi sang Prof. Tja May On berada dalam batas istimewa yang terlalu sulit untuk dicari bandingnya. Beliau tetap mengabdi pada ITB. Hanya betapa wagu-nya, tapi malu-2 njelehi ITB meng-klaim bahwa prestasi dan dedikasi tulus beliau itu adalah milik ITB. Apa yang telah ITB berikan pada Prof. Tja May On? Apa? Sebaliknya, sementara yang diberikan Prof. Tja May On adalah sebuah prestasi tulus tanpa pamrih dengan penuh dedikasi . ITB itu Institut Tidak-tahu Budi. Pantesan saja orang baik seperti Prof. Onno W. Purbo juga minggat dari kampus itu. ITB harus merubah kultur arogansinya. ITB itu besar karena pengabdian tulus dari tokoh-2 idialis model Prof. Tja May On atau Prof. Onno W. Purbo. Perlakuan tidak pantas terhadap mereka dari institusi sebesar ITB tidak hanya memalukan tapi juga membuat efek trauma terhadap intelektual-2 idialis lainnya yang ingin mengabdi pada ITB. Mereka pasti berpikir logis. Jika orang-2 sekaliber Prof. Tja May On diperlakukan tidak layak, atau Prof. Onno Purbo bisa tidak betah di ITB maka bagaimana nasib para intelektual muda? ITB memang harus berubah khususnya para pemegang kebijakan kampus. Salah satu cara berubahnya, ndak perlulah syarat untuk jadi Rektor ITB itu harus lulusan Lemhanas. Ini bukan jaman ORBA lagi bung! Semua sudah berubah. Fakta menunjukan sampeyan (ITB) saat ini bukanlah nomor satu seperti klaim sampeyan selama ini. Jika sampeyan tidak berubah maka sampeyan akan menjadi dinosaurus. Sejarah mencatat, betapapun besarnya kita, pasti akan masuk museum jika tidak berubah menjadi semakin baik Salam, Dari tepian lembah Sungai Spree Ferizal Ramli
