Bicara tentang nasionalisme para buruh migran, ada tulisan yang cukup menarik
yang saya copy-paste dari milis sebelah. Sekedar wawasan, mudah2an bermanfaat.
Wass
Fuad H
"Why do you say that which you do not do?" (QS. As-Saff: 1)
From: Wahyudin Trisnawan <wahyudin.trisnawan@ yahoo.co. id>
Subject: [Oil&Gas] (OOT) Fwd: Naga dari Cina, Gajah dari India, Garuda dari
Indonesia
To: Migas_Indonesia@ yahoogroups. com
Date: Monday, September 8, 2008, 1:52 PM
Mohon maaf kalau sudah pernah diposting.
Regards,
Wahyudin Trisnawan
============ ========= ========= ========= ========= ===
pengantar:
di bawah ini asdalah tulisan seorg expat indonesia yg sudah melanglang
buana ke puluhan negara. Dalam perjalanannya dia selalu promosi ttg indonesia
dgcaranya sendiri. Sekarang beliau menjadi PR (permanent resident) Canada.
Banyak anggota milis yg mengkritiknya krn dituduh tidak nasionalis, bla, bla,
bla. Dan dia gantian menjawabnya dg panjang lebar.
============ ========= ========= ========= ========= ========= =
Sekedar melengkapi perang pena (mungkin istilahnya sekarang harus
diganti perang email) soal to be or not to be Indonesian dan membangun negeri
dari dalam atau dari luar, hal-hal ini memang akan terus menjadi dilema,
terutama bagi kita yang punya kesempatan untuk melihat dunia di luar Indonesia.
Teori brain drain memang ada benarnya. Secara kasat mata negara seperti
Australia dan Kanada memperoleh tambahan devisa yang sangat besar dari menerima
migran resmi seperti saya. Seorang calon migran membayar lebih dari 2000$ dan
menginvestasikan minimal 10000$ yang tentunya diambil dari aset mereka di
negara asal. Hampir tidak mungkin seorang migran tidak berpendidikan yang
artinya dia punya posisi cukup penting di negaranya.
Ambil contoh saya seorang dosen dan staf LSM spesifikasi bidang konflik dan
bencana. Kepergian saya jelas merugikan institusi tempat saya mengajar dan saya
tahu saya bisa memberi kontribusi cukup besar untuk industri dan bisnis konflik
dan bencana di Indonesia (tolong berhenti berpikir bahwa bidang LSM adalah
bidang sosial tanpa pamrih, karena pada kenyataannya itu adalah bisnis bernilai
jutaan dolar).
Tapi apakah Indonesia tidak memperoleh keuntungan ketika saya di luar negeri?
Dalam kurun waktu 8 tahun saya tinggal di luar negeri, saya
pernah jadi guru tari di KBRI Melbourne, Phnom Penh dan Madrid, pernah
mempromosikan kesenian Indonesia di lebih dari 12 negara. Selama 3 tahun saya
di Melbourne saya sudah melakukan lebih dari 300 workshop kesenian Indonesia
(meliputi memperkenalkan angkllung, gamelan, wayang, seni membatik, tarian
tradisional, bahasa, kehidupan agrikultur dst) ke ratusan sekolah di negara
bagian NSW dan Victoria), sehingga anak2 Australia tahu bahwa Indonesia is not
just Bali. Ketika saya melakukan riset bersama Ford Foundation di Cina, koran
dan televisi Cina mewawancara saya dan mereka sangat heran karena ada orang
Indonesia totok fasih berbahasa Cina.
Akhirnya nama Indonesianya kog yang dikenal orang karena bolak-balik dikenali
orang 'oh kamu khan orang Indonesia yang bikin penelitian itu khan?' Jadi kalau
ada orang mengatakan membangun dan mengharumkan nama Indonesia tidak bisa dari
luar, saya akan katakan, siapa bilang? Tolong anda mensurvey dahulu sebelum
berucap.
Apakah nasionalisme seseorang merosot ketika tinggal di luar negeri? ya dan
tidak. Banyak orang Indonesia keluar dari Indonesia karena frustrasi dan kecewa
dengan Indonesia dan itu tidak bisa disalahkan. Semakin sering saya keluar
negeri semakin saya anti pemerintah Indonesia dan menyadari betapa brengseknya
pemerintah kita, maka sejak dulu saya berikrar tidak akan pernah menjadi wakil
pemerintah dalam ajang apapun, tetapi itu tidak berarti saya tidak punya
nasionalisme karena kemanapun saya pergi, saya membawa
budaya saya. Separuh isi koper saya adalah baju tari yang selalu ikut kemanapun
saya pergi. Makanya saya tidak pernah mencat rambut, pakai kontak lens warna
biru, pakai dasipun tidak, karena pakaian resmi saya adalah batik. Pemerintah
mau berbuat apa, itu bukan urusan saya, yang menjadi beban saya adalah
mempertahankan eksistensi seni pertunjukan Indonesia dan perbaikan kualitas
pendidikan anak bangsa. Itulah kenapa meski sering di caci maki di milis ini
saya tetap sering menulis email karena saya tau milis ini banyak diakses oleh
mereka yang berpendidikan yang harusnya menjadi soko guru
tatanan berbangsa.
Soal brain drain dan brain gain, mari kita belajar dari Cina dan India.
Sama seperti Indonesia, India pernah galau karena banyak sekali warga negara
berpendidikannya yang keluar negeri, padahal secara kasat mata mereka lebih
miskin dari Indonesia (tapi mereka tidak punya hutang luar negeri lho). Tapi
India mengakui bahwa dengan kenyataan bahwa 60% dokter di Kanada dan Amerika
dan sebagian besar orang IT di Australia adalah keturunan India, hal ini sangat
memicu berkembangnya ilmu medis di negaranya (harap dicatat bahwa
jarang sekali orang India mengikuti ujian penyetaraan medical di Amerika tidak
lulus). Filipina pun maju dengan mengadopsi standar internasional untuk
pendidikan keperawatan sehingga perawat2 Filipina diterima di seluruh dunia.
Cina sendiri sangat bangga dengan kenyataan bahwa dua orang
walikotaAustralia (mungkin sekarang sudah ganti) adalah orang Cina
(mereka tidakbilang warga negara Aussie lho, dibilang orang Cina karena lahir
di Cina).Cina malah mendukung warga negaranya untuk expansi keluar, menetap di
luarkarena masyarakat CIna punya 'sense of business' yang kuat sehingga
ketikamereka berada di luar mereka akan mencari jalan untuk mengembangkan
bisnisdengan kerabatnya di Cina daratan. Perginya warga Cina artinya
jugamengurangi beban pemerintah untuk mengurus para manula karena
aturankeimigrasian biasanya mengijinkan imigran untuk membawa orang tua mereka.
Ketika saya masih aktif mensurvey program2 LSM tempat saya kerja dulu
dilapangan, yg menjadi kendala untuk peningkatan ekonomi masyarakat kecil
adalah distribusi dan pemasaran. Indonesia tidak punya link yang kuat di luar
negeri sehingga produk kita tidak bisa berkibar di pasaran internasional. Usaha
garmen India, periasan emas dan industri film Bollywoodnya tidak akan maju
kalau tidak ada migran2 mereka di negara asing. Siapa penguasa garmen dan
pertelevisian Indonesia? Bahkan sampai ke Afrika Selatan, Ethiopia, Qatar dan
Uganda, bisnis garmen dan perhiasan sangat dikuasai masyarakat India.
Keberadaan migran di luar negeri juga membuka bisnis makanan, makanya kemanapun
kita pergi (sampai saya pernah ke kota
kecil di pelosok Luxembourg) itu ada restoran Cina. Sama halnya dengan India
dan belakangan ini juga diikuti oleh Jepang dan Korea.
Apakah nasionalisme para migran ini rendah? Nyatanya tidak. Kemanapun kita
pergi akan bertemu orang India mengenakan sari. Ini yang membedakan India dan
Indonesia. Kolonial Inggris mengajarkan masyarakat India untuk bangga dengan
budaya mereka sendiri tetapi kolonial Belanda tidak. Saya sudah mengamati bahwa
nasionalisme masyarakat yang jauh dari kampung halamannya itu biasanya lebih
tinggi,kepedulian mereka terhadap kebudayaan etnisnya
juga lebih tinggi. Itulah kenapa saya justru tidak pernah pentas tari di
Indonesia, karena tidak ada yang nonton, sedangkan semua pagelaran tari saya di
luar negeri selalu sukses besar (padahal yang nonton sama-sama orang
Indonesia). Ketika saya di Belanda banyak bertemu dengan masyarakat keturunan
Ambon yang lari dari Indonesia pasca RMS, dan di Cina dengan masyarakat
keturunan CIna yang pulang ke Tiongkok pasca PKI. Mereka dan keturunannya (yang
tidak pernah menjejakkan kaki di Indonesia) kebanyakan tetap
mengidentifikasikan diri sebagai orang Indonesia, tetap punya hasrat untuk bisa
pulang. Kalau masyarakat yang pernah disakiti dan dibuang oleh Indonesia masih
punya rasa nasionalisme, kenapa orang-orang yang mau migrasi
masih dicerca tidak nasionalis?
Saya punya kepercayaan, ketika seorang Asia meninggalkan kampung halaman dan
negeri, dia tidak akan pernah memutuskan ikatan batinnya dengan tanah
kelahirannya (duh saya nulisnya sampai nangis nich). Masyarakat Asia punya rasa
persaudaraan dan keterikatan kekeluargaan yang sangat tinggi dan struktur
masyarakatnya menganut social security network. Semua orang Asia berada dalam
suatu 'kutuk' bahwa mereka terbeban untuk mendukung keluarganya. Sehingga
kemanapun mereka pergi, mereka akan mengirimkan uang
kembali ke tanah airnya, berusaha meningkatkan kesejahteraan kelluarga besarnya
dst. Sedurhaka apapun orang Asia saya yakin akan berusaha menolong saudaranya.
Ada saudara saya yang tinggal di spanyol akhirnya berhasil membuka usaha expor
impor mebel menghidupi lebih dari 20 keluarga, meningkatkan bisnis keluarga dst.
Pemerintah kita sering mengeluh derasnya arus westernisasi di Indonesia melalu
film, MTV dst. Padahal Asia adalah etnis terbesar di dunia (yang sayangnya juga
menyumbang jumlah masyarakat miskin terbesar juga). Ada tiga kekuatan besar di
Asia: Cina, India dan Indonesia yang dikenal dengan Naga dari timur, gajah dari
selatan dan Garuda dari tenggara (yang belakang pasti belum pada dengar). Cina
dan India sebenarnya melakukan Asianisasi dunia.
Implementasi dan ekspansi budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Suku
Hutu di Rwanda melakukannya dengan pembunuhan masal suku Tutsi, etnis Serbia
melakukan forced pregnancy melalui perkosaan masal terhadap suku Bosnia.
Amerika melakukan westernisasi melalui film, fast food culture, dst. India dan
Cina juga melakukan hal yang sama melalui bantuan para migrannya, dengan
mendirikan restoran, industri dan hiburan asli mereka. Sekarang siapa sich yang
belum pernah makan makanan Cina? di semua kota besar di dunia ada Chinatown.
Budaya minum teh Cina, akkupuntur, beef curry, yoga, taichi menjadi akrab di
masyarakat barat. Ini adalah bagian dari Asianisasi budaya
mereka di barat. Sayangnya Indonesia belum seprogresif India dan Cina, padahal
pencak silat itu sangat diminati, musik gamelan adalah musik tradisional asia
paling diminati di Melbourne (disana ada lebih dari 13 group gamelan lho,
sayangnya orang Indonesianya tidak sampai 5 orang), batik Indonesia dianggap
paling tinggi kualitasnya di Kamboja, jauh diatas batik Malaysia, Singapura dan
Vietnam
Naga dari timur dan Gajah dari selatan sekarang sudah menjadi kekuatan yang
dipandang dan ditakuti di barat. Banyak sekali orang Indiia dan Cina bisa
berbahasa Inggris tapi hampir tidak ada orang kulit putih bisa berbahasa Cina
dan Hindi. Hampir seluruh produk yang beredar di barat adalah buatan Cina.
(sampai ada joke, anak2 barat sekarang mengira St Claus yang dermawan itu sudah
pindah dari kutub utara ke Cina, soalnya hadiahnya buatan cina semua).
Pertanyaan saya sekarang, kapankah sang Garuda dari Asia akan mulai
mengembangkan sayapnya dan mulai terbang? Kog sampai sekarang masih sibuk
mengurusi kutu-kutu di dalam sarangnya?
[Non-text portions of this message have been removed]
___________________________________________________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.
Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang.
http://id.messenger.yahoo.com