Maaf Kang Fuad..Quote Kang Fuad dari surat As Saff, sepertinya bukan ayat 1,
tapi ayat 3...

"Why do you say that which you do not do?" (QS. As-Saff: 1)

Dikoreksi jadi

"Why do you say that which you do not do?" (QS. As-Saff: 3)



2008/9/9 Fuad Hasyim <[EMAIL PROTECTED]>

>   Bicara tentang nasionalisme para buruh migran, ada tulisan yang cukup
> menarik yang saya copy-paste dari milis sebelah. Sekedar wawasan, mudah2an
> bermanfaat.
>
> Wass
> Fuad H
>  *"Why do you say that which you do not do?" (QS. As-Saff: 1)*
>
>   From: Wahyudin Trisnawan <wahyudin.trisnawan@ yahoo.co. 
> id<wahyudin.trisnawan%40yahoo.co.id>
> >
> Subject: [Oil&Gas] (OOT) Fwd: Naga dari Cina, Gajah dari India, Garuda dari
> Indonesia
> To: Migas_Indonesia@ yahoogroups. com <Migas_Indonesia%40yahoogroups.com>
> Date: Monday, September 8, 2008, 1:52 PM
>
> Mohon maaf kalau sudah pernah diposting.
>
> Regards,
>
> Wahyudin Trisnawan
>
> ============ ========= ========= ========= ========= ===
>
> pengantar:
>
> di bawah ini asdalah tulisan seorg expat indonesia yg sudah melanglang
> buana ke puluhan negara. Dalam perjalanannya dia selalu promosi ttg
> indonesia dgcaranya sendiri. Sekarang beliau menjadi PR (permanent resident)
> Canada.
> Banyak anggota milis yg mengkritiknya krn dituduh tidak nasionalis, bla,
> bla, bla. Dan dia gantian menjawabnya dg panjang lebar.
>
> ============ ========= ========= ========= ========= ========= =
>
> Sekedar melengkapi perang pena (mungkin istilahnya sekarang harus
> diganti perang email) soal to be or not to be Indonesian dan membangun
> negeri dari dalam atau dari luar, hal-hal ini memang akan terus menjadi
> dilema, terutama bagi kita yang punya kesempatan untuk melihat dunia di luar
> Indonesia.
>
> Teori brain drain memang ada benarnya. Secara kasat mata negara seperti
> Australia dan Kanada memperoleh tambahan devisa yang sangat besar dari
> menerima migran resmi seperti saya. Seorang calon migran membayar lebih dari
> 2000$ dan menginvestasikan minimal 10000$ yang tentunya diambil dari aset
> mereka di negara asal. Hampir tidak mungkin seorang migran tidak
> berpendidikan yang artinya dia punya posisi cukup penting di negaranya.
>
> Ambil contoh saya seorang dosen dan staf LSM spesifikasi bidang konflik dan
> bencana. Kepergian saya jelas merugikan institusi tempat saya mengajar dan
> saya tahu saya bisa memberi kontribusi cukup besar untuk industri dan bisnis
> konflik dan bencana di Indonesia (tolong berhenti berpikir bahwa bidang LSM
> adalah bidang sosial tanpa pamrih, karena pada kenyataannya itu adalah
> bisnis bernilai jutaan dolar).
> Tapi apakah Indonesia tidak memperoleh keuntungan ketika saya di luar
> negeri? Dalam kurun waktu 8 tahun saya tinggal di luar negeri, saya
> pernah jadi guru tari di KBRI Melbourne, Phnom Penh dan Madrid, pernah
> mempromosikan kesenian Indonesia di lebih dari 12 negara. Selama 3 tahun
> saya di Melbourne saya sudah melakukan lebih dari 300 workshop kesenian
> Indonesia (meliputi memperkenalkan angkllung, gamelan, wayang, seni
> membatik, tarian tradisional, bahasa, kehidupan agrikultur dst) ke ratusan
> sekolah di negara bagian NSW dan Victoria), sehingga anak2 Australia tahu
> bahwa Indonesia is not just Bali. Ketika saya melakukan riset bersama Ford
> Foundation di Cina, koran dan televisi Cina mewawancara saya dan mereka
> sangat heran karena ada orang Indonesia totok fasih berbahasa Cina.
> Akhirnya nama Indonesianya kog yang dikenal orang karena bolak-balik
> dikenali orang 'oh kamu khan orang Indonesia yang bikin penelitian itu
> khan?' Jadi kalau ada orang mengatakan membangun dan mengharumkan nama
> Indonesia tidak bisa dari luar, saya akan katakan, siapa bilang? Tolong anda
> mensurvey dahulu sebelum berucap.
>
> Apakah nasionalisme seseorang merosot ketika tinggal di luar negeri? ya dan
> tidak. Banyak orang Indonesia keluar dari Indonesia karena frustrasi dan
> kecewa dengan Indonesia dan itu tidak bisa disalahkan. Semakin sering saya
> keluar negeri semakin saya anti pemerintah Indonesia dan menyadari betapa
> brengseknya pemerintah kita, maka sejak dulu saya berikrar tidak akan pernah
> menjadi wakil pemerintah dalam ajang apapun, tetapi itu tidak berarti saya
> tidak punya nasionalisme karena kemanapun saya pergi, saya membawa
> budaya saya. Separuh isi koper saya adalah baju tari yang selalu ikut
> kemanapun saya pergi. Makanya saya tidak pernah mencat rambut, pakai kontak
> lens warna biru, pakai dasipun tidak, karena pakaian resmi saya adalah
> batik. Pemerintah mau berbuat apa, itu bukan urusan saya, yang menjadi beban
> saya adalah mempertahankan eksistensi seni pertunjukan Indonesia dan
> perbaikan kualitas pendidikan anak bangsa. Itulah kenapa meski sering di
> caci maki di milis ini saya tetap sering menulis email karena saya tau milis
> ini banyak diakses oleh mereka yang berpendidikan yang harusnya menjadi soko
> guru
> tatanan berbangsa.
>
> Soal brain drain dan brain gain, mari kita belajar dari Cina dan India.
> Sama seperti Indonesia, India pernah galau karena banyak sekali warga
> negara berpendidikannya yang keluar negeri, padahal secara kasat mata mereka
> lebih miskin dari Indonesia (tapi mereka tidak punya hutang luar negeri
> lho). Tapi India mengakui bahwa dengan kenyataan bahwa 60% dokter di Kanada
> dan Amerika dan sebagian besar orang IT di Australia adalah keturunan India,
> hal ini sangat memicu berkembangnya ilmu medis di negaranya (harap dicatat
> bahwa
> jarang sekali orang India mengikuti ujian penyetaraan medical di Amerika
> tidak lulus). Filipina pun maju dengan mengadopsi standar internasional
> untuk pendidikan keperawatan sehingga perawat2 Filipina diterima di seluruh
> dunia.
>
> Cina sendiri sangat bangga dengan kenyataan bahwa dua orang
> walikotaAustralia (mungkin sekarang sudah ganti) adalah orang Cina
> (mereka tidakbilang warga negara Aussie lho, dibilang orang Cina karena
> lahir di Cina).Cina malah mendukung warga negaranya untuk expansi keluar,
> menetap di luarkarena masyarakat CIna punya 'sense of business' yang kuat
> sehingga ketikamereka berada di luar mereka akan mencari jalan untuk
> mengembangkan bisnisdengan kerabatnya di Cina daratan. Perginya warga Cina
> artinya jugamengurangi beban pemerintah untuk mengurus para manula karena
> aturankeimigrasian biasanya mengijinkan imigran untuk membawa orang tua
> mereka.
>
> Ketika saya masih aktif mensurvey program2 LSM tempat saya kerja dulu
> dilapangan, yg menjadi kendala untuk peningkatan ekonomi masyarakat kecil
> adalah distribusi dan pemasaran. Indonesia tidak punya link yang kuat di
> luar negeri sehingga produk kita tidak bisa berkibar di pasaran
> internasional. Usaha garmen India, periasan emas dan industri film
> Bollywoodnya tidak akan maju kalau tidak ada migran2 mereka di negara asing.
> Siapa penguasa garmen dan pertelevisian Indonesia? Bahkan sampai ke Afrika
> Selatan, Ethiopia, Qatar dan Uganda, bisnis garmen dan perhiasan sangat
> dikuasai masyarakat India. Keberadaan migran di luar negeri juga membuka
> bisnis makanan, makanya kemanapun kita pergi (sampai saya pernah ke kota
> kecil di pelosok Luxembourg) itu ada restoran Cina. Sama halnya dengan
> India dan belakangan ini juga diikuti oleh Jepang dan Korea.
>
> Apakah nasionalisme para migran ini rendah? Nyatanya tidak. Kemanapun kita
> pergi akan bertemu orang India mengenakan sari. Ini yang membedakan India
> dan Indonesia. Kolonial Inggris mengajarkan masyarakat India untuk bangga
> dengan budaya mereka sendiri tetapi kolonial Belanda tidak. Saya sudah
> mengamati bahwa nasionalisme masyarakat yang jauh dari kampung halamannya
> itu biasanya lebih tinggi,kepedulian mereka terhadap kebudayaan etnisnya
> juga lebih tinggi. Itulah kenapa saya justru tidak pernah pentas tari di
> Indonesia, karena tidak ada yang nonton, sedangkan semua pagelaran tari
> saya di luar negeri selalu sukses besar (padahal yang nonton sama-sama orang
> Indonesia). Ketika saya di Belanda banyak bertemu dengan masyarakat
> keturunan Ambon yang lari dari Indonesia pasca RMS, dan di Cina dengan
> masyarakat keturunan CIna yang pulang ke Tiongkok pasca PKI. Mereka dan
> keturunannya (yang tidak pernah menjejakkan kaki di Indonesia) kebanyakan
> tetap mengidentifikasikan diri sebagai orang Indonesia, tetap punya hasrat
> untuk bisa pulang. Kalau masyarakat yang pernah disakiti dan dibuang oleh
> Indonesia masih punya rasa nasionalisme, kenapa orang-orang yang mau migrasi
> masih dicerca tidak nasionalis?
>
> Saya punya kepercayaan, ketika seorang Asia meninggalkan kampung halaman
> dan negeri, dia tidak akan pernah memutuskan ikatan batinnya dengan tanah
> kelahirannya (duh saya nulisnya sampai nangis nich). Masyarakat Asia punya
> rasa persaudaraan dan keterikatan  kekeluargaan yang sangat tinggi dan
> struktur masyarakatnya menganut social security network. Semua orang Asia
> berada dalam suatu 'kutuk' bahwa mereka terbeban untuk mendukung
> keluarganya. Sehingga kemanapun mereka pergi, mereka akan mengirimkan uang
> kembali ke tanah airnya, berusaha meningkatkan kesejahteraan kelluarga
> besarnya dst. Sedurhaka apapun orang Asia saya yakin akan berusaha menolong
> saudaranya. Ada saudara saya yang tinggal di spanyol akhirnya berhasil
> membuka usaha expor impor mebel menghidupi lebih dari 20 keluarga,
> meningkatkan bisnis keluarga dst.
>
> Pemerintah kita sering mengeluh derasnya arus westernisasi di Indonesia
> melalu film, MTV dst. Padahal Asia adalah etnis terbesar di dunia (yang
> sayangnya juga menyumbang jumlah masyarakat miskin terbesar juga). Ada tiga
> kekuatan besar di Asia: Cina, India dan Indonesia yang dikenal dengan Naga
> dari timur, gajah dari selatan dan Garuda dari tenggara (yang belakang pasti
> belum pada dengar). Cina dan India sebenarnya melakukan Asianisasi dunia.
> Implementasi dan ekspansi budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Suku
> Hutu di Rwanda melakukannya dengan pembunuhan masal suku Tutsi, etnis Serbia
> melakukan forced pregnancy melalui perkosaan masal terhadap suku Bosnia.
> Amerika melakukan westernisasi melalui film, fast food culture, dst. India
> dan Cina juga melakukan hal yang sama melalui bantuan para migrannya, dengan
> mendirikan restoran, industri dan hiburan asli mereka. Sekarang siapa sich
> yang belum pernah makan makanan Cina? di semua kota besar di dunia ada
> Chinatown. Budaya minum teh Cina, akkupuntur, beef curry, yoga, taichi
> menjadi akrab di masyarakat barat. Ini adalah bagian dari Asianisasi budaya
> mereka di barat. Sayangnya Indonesia belum seprogresif India dan Cina,
> padahal pencak silat itu sangat diminati, musik gamelan adalah musik
> tradisional asia paling diminati di Melbourne (disana ada lebih dari 13
> group gamelan lho, sayangnya orang Indonesianya tidak sampai 5 orang), batik
> Indonesia dianggap paling tinggi kualitasnya di Kamboja, jauh diatas batik
> Malaysia, Singapura dan Vietnam
>
> Naga dari timur dan Gajah dari selatan sekarang sudah menjadi kekuatan yang
> dipandang dan ditakuti di barat. Banyak sekali orang Indiia dan Cina bisa
> berbahasa Inggris tapi hampir tidak ada orang kulit putih bisa berbahasa
> Cina dan Hindi. Hampir seluruh produk yang beredar di barat adalah buatan
> Cina. (sampai ada joke, anak2 barat sekarang mengira St Claus yang dermawan
> itu sudah pindah dari kutub utara ke Cina, soalnya hadiahnya buatan cina
> semua).
>
> Pertanyaan saya sekarang, kapankah sang Garuda dari Asia akan mulai
> mengembangkan sayapnya dan mulai terbang? Kog sampai sekarang masih sibuk
> mengurusi kutu-kutu di dalam sarangnya?
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------
> Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas. Coba Y!
> Messenger 9 Indonesia 
> sekarang.<http://sg.rd.yahoo.com/messenger/mailtagline/beta2id/*http://id.messenger.yahoo.com>
>
>  
>



-- 
"lebih baik menyalakan lilin, daripada mencela kegelapan"

Kirim email ke